102. Ketahanan Dan Kemunculan

Romance Series 154

Suasana hangat di ruang tengah perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang penuh keseriusan. Sariya tiba-tiba menegakkan tubuh, pandangannya menatap lurus ke arah jendela yang terbuka lebar, seakan menembus langit dan melihat sesuatu yang jauh di luar jangkauan mata biasa. Wajahnya yang tadi tersenyum kini berubah tegang, bibirnya terkatup rapat.
Kirana segera menyadari perubahan itu.
"Ibu? Ada apa?"
Sariya tidak langsung menjawab. Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan seakan sedang merasakan getaran halus yang datang dari tempat yang sangat jauh. Saat ia membuka matanya kembali, tatapannya berat dan penuh kekhawatiran.
"Dia belum pergi." ucapnya pelan namun jelas, suaranya membuat semua orang di ruangan itu menahan napas. "Dia tidak mati. Dia hanya mundur, menyembunyikan dirinya di tempat yang paling gelap dan paling jauh."
"Durga?" tanya Arga cepat, tangannya secara refleks menggenggam gagang senjata di pinggangnya.
"Ya." Sariya mengangguk perlahan. "Saat berlatih di dalam dimensi, aku merasakannya. Rasa dingin yang menusuk tulang, rasa benci yang tak berdasar, dan... kekuatan yang perlahan tumbuh kembali. Dia sedang memulihkan diri. Dan setiap detik yang berlalu, dia menjadi semakin kuat."
Bima mengerutkan kening dalam.
"Di mana dia bersembunyi? Apakah kau bisa merasakan lokasinya?"
"Terlalu jauh." Sariya menggeleng pelan. "Dan dia menyembunyikan jejaknya dengan sangat hati-hati. Namun aku bisa merasakan satu hal... dia sedang menunggu. Menunggu saat di mana kita merasa aman dan lengah. Saat itulah dia akan datang kembali."
Kesuma yang berdiri tenang di sisi ruangan perlahan melangkah maju, wajahnya serius namun tegas.
"Jika dia bersembunyi di tempat yang tersembunyi, maka kita harus memastikan tidak ada celah yang bisa dia gunakan untuk masuk kembali." ucapnya dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Wilayah Klan Ardika yang kini menjadi tanggung jawabku... aku akan memeriksa setiap sudut, setiap gua, dan setiap tempat tersembunyi di sana. Aku akan memastikan tidak ada jejak kegelapan yang tersisa."
Sariya menatapnya dengan pandangan penuh hormat.
"Terima kasih, Kesuma. Itu akan sangat membantu. Durga sering memanfaatkan tempat-tempat yang sudah lama terlupakan dan tidak dijaga."
Kirana menggenggam tangan ibunya erat, matanya bersinar tegas.
"Biarkan dia datang. Kali ini aku tidak akan lari. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang-orang yang kucintai."
Darma menatap gadis itu dengan pandangan dalam, lalu beralih kepada semua orang yang hadir.
"Maka kita tidak boleh lengah sedetik pun. Pengawalan akan diperketat kembali. Setiap jalan masuk akan dijaga. Dan kita akan terus mencari jejaknya sebelum dia sempat menyerang."
Haris mengangguk setuju.
"Benar. Kita tidak akan menunggu pasif. Arga, kirim pengintai terbaikmu ke setiap penjuru kerajaan. Bima, perkuat lagi perlindungan tanah di sekeliling mansion. Aran, periksa kembali jaring cahayamu. Kesuma, terima kasih atas tawaranmu — kerjasamamu akan sangat berharga. Dan Sariya... kami akan membutuhkan bimbinganmu untuk memahami kekuatan yang sedang kita hadapi."
Semua orang mengangguk mantap. Namun di tengah keseriusan itu, Sariya tiba-tiba tersenyum tipis, senyum yang penuh harapan namun juga sedikit haru.
"Namun... ada satu hal lagi yang aku rasakan."
"Apa itu?" tanya Kirana pelan.
Sariya menatap ke arah langit sore yang mulai berwarna jingga keemasan, matanya berkaca-kaca.
"Selama ini, ada satu ikatan yang terputus antara kami bertiga. Aku... Kirana... dan Ayahmu. Selama bertahun-tahun, ikatan itu terhalang oleh sihir gelap yang kuat. Tapi sekarang... dengan kekuatanmu yang bangkit, dengan pusaka Lembayung di lehermu... ikatan itu perlahan kembali menyambung."
Kirana terbelalak.
"Maksud Ibu... Ayah?"
"Ya, sayang." Sariya menatap putrinya dengan senyum lembut. "Ayahmu tidak pernah benar-benar pergi. Dia hanya terjebak di tempat yang terpisah dari dunia ini. Dan sekarang... pintu itu perlahan terbuka."
Di tempat yang jauh, di ruang yang dipenuhi cahaya keemasan murni yang tak pernah redup, Wira berdiri diam di hadapan sepasang pintu besar yang terbuat dari cahaya murni. Pintu itu tertutup rapat sejak ratusan tahun silam, menyekatnya dari dunia tempat keluarganya berada.
Namun hari ini, garis-garis kuno yang terukir di permukaan pintu itu mulai bersinar terang. Cahaya keemasan meluap dari celah-celah pintu, seakan menyambut kehadiran seseorang yang telah lama ditunggu.
Wira mengangkat tangannya perlahan, menyentuh permukaan pintu yang kini terasa hangat. Ia bisa merasakannya — getaran lembut dari putrinya, kekuatan yang bangkit, dan kasih sayang istrinya yang tak pernah pudar.
"Kirana..." bisiknya pelan, suara penuh harapan yang tak terlukiskan. "Sariya..."
Pintu besar itu perlahan terbuka, menampakkan pemandangan dunia luar yang telah ia rindukan selama ratusan tahun. Angin segar bertiup masuk, membawa aroma tanah, bunga, dan kehidupan yang nyata.
Wira melangkah keluar. Langkah kakinya yang pertama menyentuh tanah dunia luar setelah sekian lama terasa begitu berat namun penuh makna. Cahaya keemasan menyelimuti tubuhnya, seakan merayakan kebebasannya yang akhirnya tiba.
Ia menatap ke arah cakrawala, matanya menyala penuh tekad dan kasih sayang.
"Aku datang... anakku. Sariya... aku datang."
Di ruang tengah Pradana Mansion, Kirana tiba-tiba merasakan sesuatu yang luar biasa. Dadanya terasa hangat seketika, seakan ada pelukan tak kasat mata yang memeluknya erat. Liontin di lehernya berdenyut terang benderang, seakan menyambut kedatangan seseorang yang sangat ia rindukan.
Sariya tersenyum bahagia, air mata bahagia mengalir di pipinya.
"Dia bebas..." bisiknya pelan, suaranya bergetar penuh haru. "Wira... dia akhirnya bebas."
Kesuma tersenyum tulus di sisi ruangan, matanya memancarkan rasa syukur yang tulus.
"Kebaikan dan kesabaran akhirnya berbuah manis. Selamat... semoga kalian segera berkumpul kembali."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience