73. Jejak Di Tanah Yang Tak Pernah Mengalir

Romance Series 154

HUTAN YANG TAK BERNAMA
Tiga hari setelah keberangkatan Arga...
Di pedalaman hutan tua yang jarang dikunjungi manusia, tempat di mana tanah menyerap air namun tak pernah terlihat mengalir keluar... suasana terlihat begitu tenang dan damai.
Pohon-pohon raksasa tumbuh berdesakan, dahan-dahannya saling bertaut membentuk kanopi tebal yang menyaring cahaya matahari menjadi pucat dan samar. Di tengah hutan itu, berdiri sebuah batu besar yang tertutup lumut tebal. Di permukaannya, masih samar terukir tulisan kuno yang hampir tak terbaca — nama-nama leluhur Klan Ardika.
Arga berdiri di depan batu itu, napasnya teratur. Matanya menyapu sekeliling dengan waspada.
"Di sinilah..." bisiknya pelan. "Tempat yang disebut Aran. Tanah yang menampung segalanya tanpa pernah melepaskannya."
Ia memberi isyarat pada pengawalnya yang bersembunyi di balik pepohonan. Lima orang pengawal terbaik Klan Bayu segera turun dari posisi mereka, bergerak senyap bagai bayangan.
"Periksa sekeliling. Jangan ada yang terlewat. Dia seharusnya ada di sini."
Mereka menyebar, memeriksa setiap celah batu, setiap gundukan tanah, setiap rimbunan semak. Namun jam demi jam berlalu... tak ada tanda-tanda siapa pun.
"Tuan..." salah satu pengawal kembali dengan wajah bingung. "Tidak ada jejak manusia yang tinggal di sini. Tidak ada bekas api unggun, tidak ada sisa makanan, tidak ada jejak langkah yang baru."
Arga mengerutkan kening. Ia melangkah mendekati batu besar itu, jari-jemarinya menyentuh permukaan berlumut.
"Petunjuk Aran tidak mungkin salah. Dia ada di sini. Hanya saja... dia tidak ingin ditemukan."
 
YANG MENUNGGU DI DALAM GELAP
Tiba-tiba, suara berat terdengar dari belakang batu besar itu. Suara yang serak, dingin, dan penuh kewaspadaan.
"Siapa yang mencari orang yang tak ingin ditemukan?"
Arga berbalik cepat, tangannya sudah berada di gagang pedang di pinggangnya.
Dari balik bayangan batu besar, muncul sesosok pria paruh baya. Pakaiannya lusuh dan berlumut, wajahnya penuh garis waktu, namun matanya tajam dan berwibawa. Ia berdiri tegak, meski rambutnya sudah memutih sebagian.
"Kau..." gumam Arga tak percaya. "Kesuma Ardika?"
Pria itu — Kesuma — menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Siapa kau? Dan dari mana kau tahu namaku?"
"Aku Arga Bayu. Dari Klan Bayu. Aku datang untuk membawamu kembali."
Kesuma tertawa pelan, suara tawanya penuh kepahitan.
"Kembali ke mana? Ke rumah yang sudah dirampas orang tak berhak? Ke klan yang sudah melupakan namaku? Tidak ada tempat bagiku di luar sana."
"Dimas bukan pemimpin sah Klan Ardika." Arga melangkah maju sedikit. "Kau adalah pewaris yang sebenarnya. Dan sekarang... kami sangat membutuhkanmu. Untuk melindungi satu-satunya keturunan yang masih tersisa."
Mata Kesuma menyipit tajam.
"Keturunan? Maksudmu..."
"Kirana Ardika. Anak Sariya. Dia telah kembali. Dan dia sangat membutuhkan perlindunganmu."
Wajah Kesuma berubah seketika. Tubuhnya yang tegak tadi seakan melemah. Ia mundur selangkah, matanya berkaca-kaca.
"Sariya... anaknya masih hidup?"
 
JEBAGAN YANG SUDAH MENUNGGU
Namun di saat itu juga... tanah di sekeliling mereka tiba-tiba bergetar hebat. Cahaya merah menyala dari celah-celah tanah, membentuk lingkaran sempurna yang mengurung mereka semua.
Suara tawa bergema di seluruh hutan, suara yang berat dan mengerikan.
"Luar biasa... Kau membawa dirimu sendiri ke dalam perangkapku, Arga Bayu."
Arga langsung menarik pedangnya. Pengawal-pengawalnya segera mengelilingi Kesuma untuk melindunginya.
"Siapa kau?! Muncul!" bentak Arga.
Bayangan hitam perlahan turun dari dahan pohon tertinggi, wujudnya samar namun aura kejahatannya terasa begitu kuat.
"Aku hanya penunggu tempat ini. Dan kau... Arga Bayu... kau telah menginjak tanah yang tidak boleh kau injak."
Kesuma melangkah maju, wajahnya kini penuh amarah.
"Kau... kau yang mengikutiku ke sini! Kau yang menyembunyikan dirimu di tempat persembunyianku!"
"Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Dan kau... Arga... kau datang tepat waktu. Sekarang... aku bisa mengambil dua hal sekaligus: pemimpin sah Ardika, dan mata-mata yang paling berbahaya."
Arga menyadari satu hal yang mengerikan.
"Kau... kau sudah tahu kami akan datang sejak awal..." bisiknya pelan.
"Tentu saja. Petunjuk yang diterima Aran... sebenarnya juga sampai ke telingaku. Aku hanya menunggu siapa yang akan datang. Dan kau... adalah hadiah terbaik yang bisa kuterima."
 
TERPENCERAIKAN
Bayangan itu melambaikan tangan. Dari tanah di sekeliling, muncul pasukan bayangan hitam yang jumlahnya tak terhitung. Mereka bergerak cepat dan ganas.
"Lindungi Kesuma!" teriak Arga.
Pertempuran meletus seketika. Pedang beradu dengan sihir, cahaya bertemu kegelapan. Namun musuh terlalu banyak. Pengawal Klan Bayu bertarung dengan gagah berani, namun satu per satu mereka jatuh terluka.
Kesuma yang sejak lama hidup di hutan itu juga ikut bertarung, kekuatannya jauh lebih besar dari yang terlihat. Namun mereka tetap terkepung rapat.
"Kita tidak bisa bertahan!" teriak salah satu pengawal. "Kita harus pergi!"
Arga menatap Kesuma.
"Pergilah! Bawa pesanku ke Pradana! Katakan pada Kirana... Durga sudah tahu! Dia sudah menunggu!"
Kesuma ragu sejenak.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku akan menahan mereka. Pergilah sekarang! Itu perintah!"
Dengan berat hati, Kesuma berlari menembus hutan. Arga dan pengawalnya bertarung menahan musuh hingga sosok Kesuma lenyap di balik pepohonan.
Namun... saat Kesuma berlari menjauh... ia tidak menyadari bahwa seutas benang tipis berwarna merah telah menempel di punggungnya. Benang yang tak terlihat mata biasa... namun bisa diikuti ke mana pun ia pergi.
Di atas dahan pohon tinggi, bayangan itu tersenyum lebar.
"Lari sejauh apa pun... kau tetap akan menuju ke tempat yang kutuju. Aku tidak butuh menangkapmu sekarang. Aku hanya butuh tahu... ke mana kalian akan kembali."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience