62. Kebohongan Yang Dibuat Dengan Tangan Sendiri

Romance Series 154

PELUKAN YANG BELUM BOLEH DIBERIKAN
Air mata jatuh membasahi pipi Kirana tanpa henti. Ia melangkah gemetar, kedua tangannya terulur ingin memeluk lelaki itu erat-erat. Ingin merasakan kehangatan pelukan ayahnya yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Namun sebelum jari-jemarinya menyentuh dada lelaki itu... Wira tersenyum tenang. Tangannya yang memancarkan cahaya keemasan lembut itu perlahan menahan jarak di antara mereka. Tatapannya lembut namun teguh, penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.
"Tenanglah, anakku sayang... mudah saja, bayiku."
Suaranya begitu lembut, seakan sedang menenangkan bayi yang baru pertama kali menangis di buaian.
"Sihir dan kekuatan ini belum selesai kusalurkan ke dalam dirimu. Tahanlah sejenak. Pelukan itu akan kuberikan padamu... tepat saat semuanya selesai. Janji Ayah."
Kirana tertegun. Tangannya perlahan turun, namun air matanya masih terus mengalir. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak begitu dekat namun belum boleh disentuh. Hatinya bergetar hebat — ada rasa rindu yang mendalam, ada rasa sakit yang baru terkuak, dan ada rasa takut akan apa yang masih akan didengarnya.
Wira kembali menatapnya lekat-lekat. Matanya menyiratkan bahwa apa yang baru saja ia ceritakan... belum sepenuhnya kebenaran. Saat melihat mata Kirana yang masih membelalak penuh syok setiap kali nama itu disebut... Wira menghela napas panjang dan berat.
"Aku tahu... nama itu membuat hatimu terasa seperti dihantam batu. Dan kau berhak mengetahui semuanya."
 
PERSELISIHAN DUA SESepUH
Cahaya di sekeliling mereka berubah kembali menjadi bayangan masa lalu yang hidup dan bergerak. Tahun-tahun itu... saat persahabatan mereka masih utuh, namun di balik layar... perselisihan besar sedang pecah.
"Dahulu kala... Klan Ardika juga merupakan salah satu klan pelindung yang terikat perjanjian kuno dengan klan kita. Darah mereka juga diharuskan murni, tak boleh tercampur, karena tugas mereka adalah melindungi garis keturunan Phoenix dengan darah sejati." Wira mulai bercerita perlahan. "Namun Sesepuh Klan Wirabuana, Arjuna — lelaki yang tegas, berwibawa, tak pernah membiarkan pelanggaran sekecil apa pun lolos dari matanya — tiba-tiba menemukan sesuatu yang tak terduga."
Bayangan memperlihatkan sosok lelaki tua yang masih tegak berdiri meski berusia ratusan tahun. Rambutnya memutih namun matanya menyala tajam bagai api yang tak pernah padam. Wajahnya tegas, tak pernah tersenyum tanpa alasan, dan tak pernah memaafkan pelanggaran terhadap perjanjian leluhur.
"Arjuna menemukan... bahwa Dimas bukanlah keturunan sejati Klan Ardika. Darahnya bukan darah pelindung yang dijanjikan. Ia diambil dari luar, dibawa masuk, dan disembunyikan kebenarannya."
Kirana menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tak percaya. Dimas... bukan darah Ardika?!
"Saat kebenaran itu terungkap... Arjuna segera mendatangi Sesepuh Klan Ardika, Juragas." Wira menunjuk sosok lelaki tua yang tampak gemuk dan berwajah penuh kerut lelah, matanya selalu tampak gelisah dan tak tenang. Juragas tampak lemah, tak seimbang, seakan beban berat selalu memikul pundaknya. "Pertemuan itu yang memecahkan segala kesepakatan."
Bayangan memperlihatkan dua orang sesepuh berdiri berhadapan di ruang perjanjian kuno. Suara Arjuna bergema menggelegar bagai guntur.
"Kau melanggar perjanjian nenek moyang, Juragas!!!" bentak Arjuna. "Kau menempatkan orang asing sebagai pewaris pelindung?! Darah yang tak murni tak akan mampu melindungi Phoenix! Ia justru akan menghancurkannya! Apa yang kau lakukan ini adalah dosa yang tak bisa diampuni!!!"
Wajah Juragas pucat pasi. Ia mundur selangkah, suaranya bergetar namun tetap berusaha membela diri.
"Aku... tidak punya pilihan lain!" jawab Juragas. "Pewaris sejatiku... Kesuma... hilang bertahun-tahun lalu! Tak ada yang tahu ke mana ia pergi! Tak ada mayat, tak ada jejak! Klan Ardika akan runtuh jika tak ada pemimpin!"
"Itu bukan alasan untuk membawa orang asing dan melanggar sumpah darah!!!" Arjuna melangkah maju, amarahnya memuncak. "Kau berpikir leluhur tak melihat?! Kau berpikir kebohonganmu akan abadi?! Kau menaruh ular di pangkuan sendiri!!!"
Kata-kata itu berubah menjadi pertarungan. Cahaya kekuatan bertabrakan di antara mereka. Arjuna yang penuh kemarahan dan kekuatan murni mengalahkan Juragas dengan mudah. Juragas terjatuh, tak mampu berkata-kata lagi, tak mampu membela kebohongannya yang terbongkar.
"Juragas kalah. Dan dalam kelemahannya... ia tak mampu menyangkal apa pun. Karena ia tahu... tak ada yang bisa ia tunjuk sebagai pewaris sejati. Kesuma hilang tanpa jejak. Dan demi menyelamatkan jabatannya serta klannya... ia memilih Dimas sebagai pengganti."
 
INGATAN YANG DITULIS ULANG
Wira berhenti sejenak. Bayangan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Sesuatu yang membuat darah Kirana terasa membeku di dalam nadinya.
"Namun kebohongan itu belum selesai." Wira menatapnya berat. "Juragas sadar... Dimas sendiri tak tahu kebenarannya. Jika suatu saat ia mengetahui asal-usulnya... segalanya akan hancur. Maka... Juragas melakukan hal yang paling dilarang oleh leluhur."
Bayangan memperlihatkan Juragas berdiri di belakang Dimas yang masih muda. Cahaya gelap perlahan menyelimuti kepala Dimas. Cahaya itu meresap masuk, mengubah, menghapus, dan menuliskan ulang. Dimas berdiri diam, matanya kosong sejenak... lalu perlahan berubah kembali hidup. Namun ingatannya... telah diganti.
"Juragas menggunakan sihir kuno terlarang. Ia menuliskan ulang ingatan Dimas sendiri. Sehingga Dimas percaya sepenuhnya... bahwa ia adalah pewaris sejati Klan Ardika. Bahwa darahnya adalah darah pelindung. Bahwa ia berhak atas segalanya."
Air mata Kirana jatuh semakin deras. Tubuhnya terasa lemas seketika.
"Dimas tidak tahu... Ayah. Ia tidak pernah tahu... seumur hidupnya... ia hidup dalam kebohongan yang ditanamkan sendiri ke dalam kepalanya?"
Wira mengangguk pelan, matanya penuh kesedihan yang mendalam.
"Benar, anakku sayang. Dimas tidak pernah tahu. Ia tumbuh dengan keyakinan penuh bahwa ia berhak atas Sariya. Bahwa ia berhak atas kekuatan Phoenix. Bahwa semua yang terjadi... adalah ketidakadilan yang menimpanya. Padahal... sejak awal... ia tidak pernah memiliki hak apa pun. Bukan atas nama klan. Bukan atas darah pelindung. Dan bukan atas ibumu."
"Ia dicintai, diterima, dan dihargai sebagai sahabat. Namun hatinya yang merasa berhak atas segalanya... didorong oleh ingatan palsu itu... perlahan berubah menjadi racun. Dan Juragas... menanamkan racun itu sendiri ke dalam jiwa seorang anak... demi ambisinya sendiri."
Kirana gemetar hebat. Segala kemarahan Dimas, segala kecemburuannya, segala keinginannya mengambil alih segalanya... semuanya berakar dari satu kebohongan yang ditanamkan sendiri ke dalam pikirannya. Dimas bukan penjahat yang lahir jahat. Dia adalah korban kebohongan sesepuhnya sendiri. Dan korban itu... justru menjadi pelaku kehancuran terbesar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience