54. Kemarahan Dan Langkah Pertama

Romance Series 154

KEMARAHAN DI BALIK PENYELIDIKAN
Arga Bayu berdiri di ruangannya, kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Napasnya yang biasanya tenang kini terasa berat, bergelombang oleh amarah yang perlahan meluap. Setiap langkah yang diambilnya, setiap nama yang dicatatnya... semakin meyakinkannya satu hal: ada yang busuk di dasar Klan Ardika.
Ia memanggil pengawal kepercayaannya, suaranya rendah namun penuh ketegasan yang tak terbantahkan.
"Pergilah. Selidiki Klan Ardika. Dari akar paling tua. Catat setiap catatan, setiap perjanjian, setiap jejak yang mereka coba hapus. Jangan lepaskan satu pun."
Pengawal itu membungkuk hormat, namun melihat raut wajah tuannya yang begitu gelap, ia bertanya pelan.
"Tuan... seberapa dalam harus kami melacaknya?"
Arga menatap ke arah jendela yang gelap, matanya menyala dingin.
"Sampai ke dasar kebohongan mereka. Sampai kami mengetahui... hak apa yang sebenarnya mereka miliki atas Sariya. Dan hak apa yang mereka renggut secara curang selama ini." Arga berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar tertahan amarah. "Mereka menyebut diri Penjaga... namun yang mereka jaga hanyalah keserakahan dan ketakutan. Jika ternyata mereka berdiri di sisi yang salah... aku tidak akan membiarkan mereka hidup dalam kedamaian satu hari pun lagi."
Pengawal pergi dengan perintah itu. Dan Arga tetap berdiri sendirian, kemarahannya perlahan menyatu dengan bayangan di sekelilingnya. Aran tersenyum saat menyebut mereka. Aran tahu. Dan kini... Arga juga mulai tahu — bahwa kebenaran itu mungkin jauh lebih mengerikan daripada yang dibayangkan siapa pun.
 
API DI DALAM RUANG SENDIRI
Sementara itu, di ruang yang terpisah dari dunia... di ruang yang tercipta dari cahaya dan kehendaknya sendiri.
Kirana berdiri di tengah ruang yang luas dan kosong. Tidak ada dinding. Tidak ada langit. Hanya cahaya keemasan yang lembut, dan udara yang terasa hangat menyentuh kulitnya. Ruang ini — ruang dari anting pemberian Aran — kini menjadi tempatnya melatih segala yang baru saja dimilikinya.
Namun hari ini... ia tidak melatih dengan tenang.
Ia melangkah maju seakan ada musuh di hadapannya. Tangan kanannya terangkat, dan seketika cahaya keemasan melesat keluar — terang, kuat, membakar udara di hadapannya seakan ada sasaran yang harus dihancurkan. Cahaya itu menghantam ruang kosong dengan kekuatan yang begitu dahsyat hingga gelombang panas menyebar ke segala arah.
Kirana terengah-engah, napasnya memburu, matanya menyala dengan api yang tak kunjung padam.
Marah. Ia begitu marah. Marah pada siapa yang mengurung ibunya. Marah pada kegelapan yang begitu kuat. Dan marah pada Ardika — pada mereka yang hidup tenang, yang menikmati kemewahan, yang tidur nyenyak di atas kebohongan, sementara ibunya menderita sendirian di dalam dingin dan gelap.
Jika mereka ada hubungannya dengan ini... jika mereka tahu dan diam...
Kirana mengepalkan tangan erat, kuku menancap ke telapak tangan hingga terasa nyeri. Wajahnya yang biasanya lembut kini tampak tegang, tajam, penuh ancaman yang nyata.
Aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang. Aku tidak akan membiarkan mereka bahagia. Jika mereka bersalah... maka kebahagiaan mereka akan hancur berkeping-keping, sama seperti yang mereka lakukan kepada ibuku.
Namun di balik kemarahan itu... ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lembut dan hangat, yang membuat matanya terasa panas namun bibirnya perlahan tersenyum samar.
Ibunya hidup.
Berbeda dengan kehidupan sebelumnya yang berakhir di tengah pesta darah... kali ini, ia tidak sendirian. Ibunya masih hidup. Masih menunggu. Masih ada harapan. Kabar itu... adalah kabar terbaik yang pernah didengarnya sejak ia terbangun kembali.
Kau hidup... dan aku akan datang menjemputmu. Tunggu sebentar lagi, Ibu. Aku sedang belajar. Aku sedang tumbuh. Dan aku akan menjadi cukup kuat. Cukup kuat untuk mematahkan segala rantai yang mengikatmu.
Kirana menarik napas panjang, mengumpulkan kembali cahayanya perlahan. Ruang itu kembali tenang. Namun di matanya... api itu masih menyala. Tidak lagi liar dan tak terkendali. Tapi terkendali. Terarah. Dan jauh lebih berbahaya.
Ia melangkah keluar dari ruang dimensi itu. Sekali lagi, hanya setengah jam yang berlalu di dunia luar. Namun di dalam sana... ia telah melewati waktu yang cukup untuk menata hatinya, menata kemarahannya, dan menumbuhkan tekad yang tak akan goyah.
 
LANGKAH TANAH YANG TEGUH
Malam berikutnya. Langit mulai gelap, dan bayangan senja menyelimuti kediaman Pradana. Di bawah pohon rindang di tepi kolam, Kirana berdiri diam. Air kolam tenang memantulkan wajahnya yang masih tampak teguh, matanya memandang ke arah cakrawala seakan menembus jauh melampaui batas pandangan mata.
Dan di saat itulah... langkah kaki terdengar.
Langkah yang berat, tenang, dan teratur. Seakan tanah di bawahnya ikut mengakui kedatangannya. Kirana berbalik perlahan.
Di sana, berdiri seorang lelaki yang tubuhnya tegap dan besar. Tinggi dan kokoh, seakan dipahat dari batu hitam yang paling kuat. Kulitnya berwarna hangat terpapar matahari, wajahnya memiliki garis-garis tegas yang menunjukkan keteguhan dan pengalaman. Rambut hitamnya sedikit memutih di pelipis — tanda usia yang lebih tua dari yang tampak, namun matanya... matanya jernih dan tenang, seakan danau yang tak pernah terguncang badai.
Pakaiannya sederhana namun tebal, berwarna cokelat tua dan hijau gelap — warna tanah dan hutan. Di pinggangnya terikat sabuk kulit yang sederhana. Tidak ada hiasan emas atau permata. Namun kehadirannya saja sudah cukup membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat, lebih kokoh, lebih aman.
Bima Sena. Penjaga Bumi dan Perisai. Yang tertua di antara mereka. Yang paling teguh.
Ia berhenti beberapa langkah di hadapan Kirana. Tidak menunduk. Tidak pula menatapnya dengan berlebihan. Hanya menatap lurus, tenang, penuh hormat yang tulus namun tidak merendah.
Kirana menatapnya, hatinya berdebar pelan. Ia belum pernah berbicara dengannya. Namun ia tahu siapa lelaki di hadapannya ini.
Bima memberi salam dengan anggukan kepala yang dalam dan hormat. Suaranya terdengar rendah, berat, namun lembut — seakan batu yang berbicara dengan lembut.
"Salam hormat, Nona Kirana. Aku Bima Sena."
Kirana mengangguk pelan, tangannya terlipat di depan.
"Selamat datang, Tuan Bima. Terima kasih telah datang."
Bima menatapnya sejenak — meneliti wajahnya, meneliti matanya yang masih menyisakan sisa api yang baru saja ia latih. Lalu perlahan ia berbicara kembali.
"Aku datang sesuai pesan yang disampaikan. Namun sebelum aku melangkah lebih jauh... izinkan aku menyapa tuan rumah terlebih dahulu. Ada hal yang perlu kusampaikan kepada Tuan Haris Pradana. Setelah itu... barulah aku siap memulai tugasku."
Kirana mengangguk setuju.
"Ayah... Tuan Haris ada di ruang kerjanya. Aku akan mengantarmu."
Bima mengangguk pelan. Sekali lagi matanya menyapu wajah Kirana — seakan menyadari sesuatu yang baru saja ia lihat. Api di matanya. Kemarahan yang tertahan. Dan tekad yang begitu kuat. Lalu ia berjalan mengikuti Kirana, langkahnya tetap tenang, tetap berat, seakan membawa beban yang telah dipikulnya seumur hidup.
Di belakang mereka, kolam air tetap tenang. Namun di kediaman itu... sesuatu telah berubah. Langkah pertama telah diambil. Pelatihan akan dimulai. Dan tanah yang akan menjadi pondasinya... akhirnya telah tiba.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience