79. Rahsia Dibalik Lingkaran Merah

Romance Series 154

Perjalanan berlangsung berjam-jam, melintasi hutan lebat dan tebing curam yang tak tercatat di peta mana pun. Udara semakin lama semakin dingin, hingga napas mereka tampak beruap putih di udara.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah lembah yang tertutup kabut tebal berwarna abu-abu. Di tengahnya berdiri bangunan kuno yang terbuat dari batu hitam pekat. Batu itu seakan menyerap setiap cahaya yang menyentuhnya. Tidak ada jendela, tidak ada tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Hanya kesunyian yang berat dan bau tanah basah bercampur sesuatu yang tajam dan amis.
Saat pintu batu berat terbuka, hawa dingin menyapu keluar seakan menyambut kedatangan mereka. Di dalamnya terdapat ruangan luas dengan dinding batu kasar yang menjulang tinggi hingga tak terlihat ujungnya. Cahaya hanya berasal dari empat puluh lilin yang menancap di sekeliling ruangan, menyala dengan api berwarna ungu gelap yang tak pernah bergoyang meski angin sama sekali tak terasa.
Dan di tengah ruangan itu tergambar sebuah lingkaran besar di lantai batu. Garis-garisnya berwarna merah tua, tampak basah dan berkilau lembut seolah terbuat dari darah segar. Di dalam lingkaran tertulis simbol-simbol kuno yang tak dikenal, berputar mengelilingi titik pusat yang kosong namun terasa berat seakan menunggu sesuatu.
Serena merangkul tubuhnya sendiri erat-erat, bulu kuduknya berdiri dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Tempat apa ini?" suaranya bergetar hebat, matanya tak lepas dari garis merah di lantai. "Mengapa terasa begitu berat di sini? Apa yang sebenarnya akan kita lakukan?"
Sosok yang memimpin mereka berbalik perlahan. Untuk pertama kalinya, bayangan di wajahnya sedikit terangkat. Terlihat wajah yang penuh garis tua dalam, kulit pucat seputih tulang, dan sepasang mata yang menyala merah terang. Senyumnya tipis namun terasa mengerikan sekaligus memikat, seakan bisa membaca setiap pikiran yang tersembunyi di kepala mereka.
"Ini adalah tempat di mana takdir baru akan ditulis." suaranya berat dan bergema di setiap sudut ruangan. "Ini adalah altar kekuatan yang sudah menunggu ribuan tahun. Dan di sinilah, Dimas, namamu akan terukir abadi, tidak akan pernah dihapus oleh waktu maupun kematian."
Ia melangkah maju perlahan, langkahnya tanpa suara seakan melayang di atas lantai batu.
"Kalian pasti bertanya-tanya, mengapa aku melakukan semua ini untuk kalian? Mengapa aku memberikan kekayaan yang tak habis-habis, perlindungan yang tak tertembus, dan kekuasaan yang kalian impikan?"
Larasati menelan ludah susah payah, matanya terus melirik ke arah lingkaran merah yang membuatnya merasa tidak nyaman.
"Karena kita punya tujuan yang sama?" tanyanya ragu, suaranya nyaris tak terdengar. "Kita sama-sama tidak disukai, sama-sama dikhianati..."
Sosok itu tertawa pelan, suara itu rendah dan bergetar seakan berasal dari dinding batu itu sendiri.
"Tidak. Aku tidak peduli pada rasa sakit atau dendammu. Aku membantumu karena kalian memiliki apa yang kubutuhkan. Kalian adalah kunci yang telah lama kucari."
Ia menunjuk jari telunjuk panjang ke arah lingkaran merah di lantai.
"Aku butuh seseorang. Seseorang yang darahnya paling kuat di seluruh dunia ini. Seseorang yang kalian kenal sangat baik, seseorang yang selama ini kalian anggap tidak berharga."
"Siapa?" tanya Dimas tegas, meski tangannya sedikit gemetar di sisi tubuhnya.
Sosok itu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi yang putih dan tajam.
"Kirana."
Seketika Serena mundur terhuyung hingga punggungnya membentur dinding batu dingin. Larasati melangkah mundur dengan mata terbelalak lebar, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar.
"Kirana? Gadis itu?" Larasati akhirnya bersuara, nada bercampur tak percaya dan rasa jijik yang masih tersisa. "Dia hanya anak yang tidak berguna! Lemah, penurut, tak pernah berani melawan kami! Kami besarkan dia sejak kecil, dia tidak punya apa-apa!"
"Dia tidak berharga bagimu." potong sosok itu dingin, matanya menyala lebih terang. "Karena kalian buta. Kalian tidak pernah melihat apa yang tersembunyi di dalam dirinya."
Ia melangkah selangkah lebih dekat, suaranya terdengar berat dan penuh kekuatan kuno yang membuat udara di ruangan itu bergetar pelan.
"Kirana adalah pewaris terakhir garis keturunan Phoenix. Darahnya adalah darah kuno yang paling murni dan paling kuat yang masih ada di dunia ini. Darah itu bisa membangkitkan kekuatan yang sudah hilang ribuan tahun. Darah itu bisa menghidupkan kembali yang mati, dan menghancurkan yang hidup. Darah itu adalah kunci untuk membuka gerbang dunia yang tak boleh dibuka oleh siapa pun."
Serena menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata tiba-tiba mengalir di pipinya bukan karena sedih, melainkan karena takut yang luar biasa.
"Phoenix... itu hanya dongeng, legenda kuno..." bisiknya gemetar. "Dia hanya anak biasa yang kami adopsi, tidak mungkin..."
"Kalian tidak pernah tahu siapa yang kalian pelihara di rumahmu selama bertahun-tahun." ucap sosok itu tajam, matanya menatap tajam ke arah mereka bertiga. "Kalian tidak pernah menyadari betapa beruntungnya kalian, dan betapa berbahayanya, hidup di dekat pembawa darah Phoenix. Dan sekarang keberuntungan itu akan menjadi milikku."
Larasati berdiri kaku di tempatnya, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Pikirannya berputar kacau. Selama ini ia selalu merendahkan Kirana, selalu menyiksanya, selalu memandangnya rendah seakan ia hanyalah debu di bawah kakinya. Dan ternyata gadis yang ia hina setiap hari itu adalah pewaris kekuatan terkuat yang pernah ada. Rasa ngeri bercampur rasa iri yang tajam dan rasa bersalah yang menyiksa menyelimuti hatinya.
"Lalu apa yang akan kalian lakukan padanya?" tanya Dimas pelan, matanya menatap lingkaran merah di lantai dengan pandangan yang sulit diartikan.
Sosok itu menatap lingkaran itu dengan tatapan penuh kerinduan dan keserakahan yang tak tersembunyi.
"Darahnya akan mengalir ke dalam garis-garis ini. Darahnya akan menjadi bahan bakar untuk membuka gerbang kekuatan terbesar yang pernah ada di muka bumi. Dan kalian akan menjadi saksi. Dan namamu, Dimas, akan tercatat dalam sejarah sebagai orang yang menyerahkan kunci itu kepadaku."
Dimas menatap lama ke arah lingkaran merah yang seakan berdenyut pelan. Di dalam hatinya secercah rasa bersalah sempat muncul, sedikit saja, teringat gadis yang tumbuh di bawah atapnya sendiri. Namun seketika itu juga rasa itu lenyap, digantikan oleh bayangan nama yang abadi, kekuasaan yang tak terbatas, dan pembalasan terhadap semua orang yang telah mempermalukannya malam ini.
Ia menarik napas panjang, lalu mengangkat wajah menatap sosok itu dengan mata yang kini berubah menjadi tajam dan tegas.
"Baiklah." ucapnya perlahan namun penuh tekad. "Kita akan membawanya ke sini. Aku akan memastikan dia datang tanpa curiga."
Serena dan Larasati saling pandang. Wajah mereka masih pucat pasi, mata mereka masih penuh ketakutan dan keterkejutan. Namun di tempat ini, di hadapan kekuatan yang begitu besar, mereka sadar bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Mereka sudah terlalu jauh masuk ke dalam perjanjian ini, dan jalan kembali sudah tertutup rapat.
"Bagus." sosok itu tersenyum puas, matanya menyala terang. "Mulai saat ini rencana kita dimulai."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience