2. Bangun Dari Masa Silam

Romance Series 17

Aku terbangun tersentak hebat, napas tersedak seakan ada tangan masih mencekik leherku erat-erat.
Jantung berdegup kencang bagai meledak dari rongga dada. Tubuh gemetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Keringat dingin membasahi seluruh tubuh, pakaian terasa lembap berat menempel di kulit. Aku terengah-engah, napas pendek terputus-putus, mataku terbelalak menatap langit-langit — dan seketika kesadaranku kembali.
Ini bukan aula pesta. Bukan lantai marmer berdarahku. Bukan tempat terakhirku bernapas di hadapan pengkhianat.
Yang kulihat langit-langit kamarku yang sederhana namun bersih. Cahaya matahari pagi menyelinap lewat celah gorden, jatuh lembut ke lantai kayu bersih. Udara kuhirup segar hangat, tak berbau darah, tak berbau kematian.
Aku terbaring diam lama. Tubuh masih gemetar. Setiap detik kematianku terasa begitu nyata, seakan aku baru saja mati dan membuka mata kembali. Masih terasa panas peluru menembus dada. Masih terdengar setiap kata kejam mereka. Masih terlihat tatapan dingin Darma saat berpaling. Masih terasa hancur saat Ayah berkata... aku bukan anak kandungnya.
Aku mengangkat tangan perlahan. Bersih. Kulit halus utuh. Tak ada luka. Tak ada darah. Tak ada tanda aku baru saja mati berdarah di lantai pesta.
Perlahan, napas masih berat terputus, aku bangkit duduk. Kaki menjuntai menyentuh lantai hangat kokoh. Aku duduk diam di tepi tempat tidur, menatap ruangan yang kukenal baik — satu-satunya tempat aman di rumah penuh kebusukan ini.
Kenangan menyerbu benak satu demi satu, tajam menyakitkan. Setiap kata pengkhianatan. Alasan mereka memilih hari pertunanganku untuk membunuhku — hari hak waris dikukuhkan, hari aku resmi menjadi tunangan Darma. Mereka tak bisa membiarkanku hidup dan berkuasa. Maka... mereka memilih hari itu untuk membunuhku.
Dan kalimat terakhir Ayah... terus berputar tanpa henti.
"Kau bukan anak kandungku."
Aku bukan anak kandungnya. Aku bukan siapa-siapa. Tak ada catatan. Tak ada jurnal. Tak ada pesan dari Ibu yang meninggal saat aku terlalu kecil untuk mengingatnya. Tak ada apa pun yang menjelaskan siapa aku sebenarnya. Satu kebenaran yang kumiliki hanyalah kalimat yang diucapkan pria itu sesaat sebelum membiarkanku mati.
Dan itu saja sudah cukup.
Cukup menghapus setiap kasih yang pernah kusimpan untuknya. Cukup membakar setiap hormat yang kuberikan keluarga ini. Cukup menetapkan satu tujuan yang begitu jelas, tajam, membara di dada — aku kembali hidup. Aku kembali berdiri di sini. Dan kali ini... aku kembali untuk menghancurkan mereka semua.
Aku melangkah perlahan menuju cermin besar di sudut kamar. Kaki terasa goyah, bukan karena takut — melainkan karena emosi yang meluap tak terkendali. Saat pantulanku tampak jelas... aku nyaris jatuh berlutut.
Wajahku. Masih muda. Pucat namun bersih. Matanya jernih, belum kusam oleh kematian. Kulit halus, tak ada lubang peluru di dada. Aku mengenakan pakaian tidur sederhana bersih. Aku terlihat persis seperti... tiga tahun sebelum malam itu.
Pandanganku jatuh ke kalender di dinding dekat cermin. Tanggal tertera jelas.
Darah seketika terasa membeku di nadiku.
Tiga tahun. Aku kembali hidup tepat tiga tahun sebelum malam pertunanganku — malam mereka membunuhku dengan begitu kejam.
Aku kembali. Membawa ingatan setiap pengkhianatan. Membawa rasa sakit kematian yang masih segar di tubuh dan jiwa. Kini tahu kebenaran pahit tentang siapa aku... atau setidaknya... siapa yang bukan Ayah kandungku.
Aku tak tahu siapa Ayah kandungku. Tak tahu siapa Ibu sebenarnya. Tak tahu mengapa mereka begitu takut padaku hingga memilih membunuhku sebelum dewasa. Tak tahu apa-apa. Namun aku tahu satu hal — mereka semua takut akan sesuatu yang ada padaku. Sesuatu yang bahkan aku belum ketahui. Dan ketakutan mereka... berarti aku memiliki kekuatan jauh lebih besar dari yang kubayangkan.
Sesuatu mulai berdenyut perlahan di dada — tepat di tempat peluru menembus. Rasa hangat lembut namun tak bisa diabaikan. Seperti bara tertimbun abu yang perlahan menyala kembali. Aku belum tahu apa itu. Belum mengerti. Namun merasakannya. Dan paham... kali ini... aku tak akan membiarkan siapa pun menginjak-injakku lagi.
Aku menatap pantulan diriku. Air mata perlahan jatuh membasahi pipi. Namun kali ini... tak ada isak tangis. Tak ada rintihan. Tak ada permohonan belas kasih. Hanya kesunyian dingin dan dalam, dan sepasang mata yang kini memancarkan kilatan belum pernah ada sebelumnya — kilatan kebencian, tekad, dan janji balas dendam yang tak akan pernah diingkari.
Pintu diketuk pelan lalu terbuka.
Seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah cemas, napas sedikit terengah. Itu Bu Sari — pelayan yang merawatku sejak kecil. Satu-satunya orang di rumah ini yang pernah menunjukkan kebaikan tulus. Di kehidupan lalu... ia satu-satunya yang menangis saat tubuhku dingin dibawa keluar aula.
"Nona Kirana..." suaranya pelan penuh kekhawatiran. "Kau sudah bangun? Syukurlah... tadi pagi tampak sangat pucat saat kulihat dari luar pintu. Aku hampir saja memanggil tabib."
Aku menatapnya lama. Wajah baik yang penuh risau. Di kehidupan lalu aku terlalu lemah melindunginya. Dan akhirnya... mereka menyingkirkannya karena terlalu setia padaku. Kali ini... aku akan melindunginya. Melindungi siapa pun yang masih punya hati nurani di rumah penuh iblis ini.
"Bu Sari..." suaraku berat parau, namun mataku menatapnya tenang dengan keteguhan yang baru kubangunkan. "Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Bu Sari mendekat, menyeka keringat di pelipisku lembut, menatapku lekat-lekat seakan memastikan aku benar-benar sehat.
"Syukurlah..." bisiknya pelan. "Namun... Nyonya Serena menyuruhku memanggilmu. Katanya... tamu dari Keluarga Pradana akan tiba sebentar lagi. Kau harus bersiap menemui mereka."
Jantungku berdegup kencang kembali.
Keluarga Pradana. Darma Pradana.
Pria yang berdiri diam menatapku mati. Pria yang berpaling saat aku memohon pertolongan. Pria yang hari ini... tiga tahun sebelum pertunangan resmi... datang melihat calon istrinya. Gadis lemah yang mereka pikir tak berdaya.
Aku menarik napas panjang, menghembus perlahan hingga sesak di dada berkurang. Menatap pantulan sekali lagi, lalu menatap Bu Sari dengan senyum tipis yang belum pernah kulihat sebelumnya — dingin, tenang, penuh janji tak akan diingkari.
"Aku tahu," jawabku pelan, suaraku tak lagi bergetar seperti dulu. "Katakan pada mereka... aku akan segera turun."
Bu Sari tertegun sejenak, menatapku bingung seakan ada sesuatu yang telah berubah. Namun tak bertanya, hanya menunduk hormat berbisik, "Baik, Nona. Aku akan menyiapkan pakaian terbaikmu."
Pintu tertutup. Aku kembali sendirian di kamar, menatap pantulan di cermin. Mataku kini memancarkan api yang tak bisa dipadamkan siapa pun.
Kau memilih hari pertunanganku untuk membunuhku, ya?
Baiklah.
Hari ini, tiga tahun sebelum hari itu... akulah yang memulai permainan.
Dan kali ini... akulah yang menentukan siapa yang mati.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience