Series
17
GERBANG PRADANA: DITOLAK DI DEPAN SEMUA
Mobil hitam Ardika berhenti mendadak di gerbang utama kediaman Pradana. Pagar besi setinggi dua orang tertutup rapat. Dimas melompat keluar, pintu dibanting keras. Ia berlari ke pos penjagaan, wajahnya berkeringat, rambut berantakan.
"Saya Dimas Ardika! Saya harus bertemu Haris Pradana! Sekarang!"
Penjaga Pradana berdiri tegak, tidak bergerak satu inci. Wajahnya tanpa ekspresi. Ia melihat Dimas dari atas ke bawah — seakan melihat debu di sepatunya.
"Atas nama apa?" suaranya datar.
"Atas nama Klan Ardika! Atas nama pernikahan yang akan terjadi dalam lima hari!" Dimas menunjuk dadanya sendiri. "Kami mitra bisnis Pradana selama sepuluh tahun! Pabrik kain Ardika menyuplai gaun untuk setiap acara Pradana!"
Penjaga tidak berkedip. Ia mengangkat selembar kertas.
"Perintah Tuan Haris — tidak ada pertemuan. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Untuk Dimas Ardika dan siapa pun dari keluarganya." Ia melipat kertas itu perlahan. "Pabrik kain tidak lagi menjadi alasan untuk mengetuk pintu ini."
Dimas mundur selangkah. Mulutnya terbuka, napasnya memburu. "Kalian... kalian tidak bisa begitu! Kami menyuplai kain sutra terbaik di seluruh negeri! Setiap gaun pesta Pradana — dari kami! Setiap tirai, setiap taplak meja, setiap seragam pelayan — semuanya Ardika!"
"Sudah tidak lagi." Penjaga berbalik. "Pulanglah. Sebelum gerbang ditutup dan kau tidak bisa keluar lagi."
Pagar besi berderit. Menutup perlahan, tepat di depan wajah Dimas. Ia berdiri di sana, di aspal panas, di depan kendaraan yang melintas. Semua orang melihat. Semua orang tahu — pemilik pabrik kain Ardika ditolak seperti pengemis.
Dimas kembali ke mobil. Membanting pintu. Wajahnya merah padam. Tangan mengepal begitu erat hingga kuku menancap di telapak tangan.
"Mereka akan menyesal..." geramnya di antara gigi. "Ardika bukan bisnis kecil! Kami punya pabrik di tiga kota! Ribuan pekerja! Kami yang mendandani kota ini! Kami yang membuat mereka terlihat mewah!"
Pengemudi tidak berani menoleh. Mobil melaju pulang.
***************
KEDIAMAN ARDIKA: KEBANGGAAN DARI BENANG YANG DIA TARIK
Pintu depan terbanting. Dimas masuk, Serena menyambutnya di aula. Wajahnya cemas.
"Bagaimana? Apa yang mereka katakan?"
Dimas melempar jasnya ke lantai. Berjalan mondar-mandir.
"Mereka menolak! Seolah Ardika tidak ada! Seolah sepuluh tahun kerja sama tidak pernah ada!" Ia berhenti, menunjuk ke langit-langit. "Siapa yang memberi mereka gaun pengantin? Ardika! Siapa yang menyulam lambang Phoenix di setiap taplak meja mereka? Ardika! Siapa yang menyediakan renda halus untuk pesta mereka? Ardika!"
Serena mencengkeram meja. "Mereka lupa posisi mereka tanpa kita. Tanpa pabrik kain Ardika, mereka tidak punya apa-apa untuk dipakai di pesta mereka. Mereka akan telanjang di depan tamu!"
Larasati berdiri di sisi tangga. "Mungkin... mungkin kita hentikan pengiriman. Tunjukkan pada mereka berapa banyak yang mereka butuhkan kita."
Dimas tertawa getir. "Kita hentikan — dan mereka akan menghancurkan kita sebelum matahari terbenam. Kita tidak punya pilihan. Kita bukan Pradana. Kita tidak punya tentara. Kita hanya punya pabrik. Dan pabrik itu — hidup dari pesanan mereka." Ia menunduk, napasnya berat. "Seluruh kerajaan kita dibangun di atas pesanan kain Pradana. Dan sekarang... mereka tarik pesanan itu."
Suara langkah kaki pelan terdengar di tangga.
Kirana berdiri di sana. Satu tangan memegang pegangan tangga. Mendengar semuanya. Tidak bergerak. Tidak bersuara.
Dimas menoleh. Dan amarahnya yang tertahan meledak. Ia melangkah ke bawah, menunjuknya dengan jari gemetar.
"Kau! Kau penyebabnya! Kau satu-satunya hal yang kita pertaruhkan! Dan kau bahkan tidak berharga cukup untuk membuat mereka menghormati nama Ardika!"
Serena menyusul ke tangga. Matanya menyala.
"Kau tahu apa ayahmu banggakan? Pabrik kain! Ribuan alat tenun! Kain sutra yang diimpor ke luar negeri! Nama Ardika tercetak di setiap label gaun mewah di kota ini! Orang membayar dua kali lipat hanya karena tertulis — buatan Ardika!" Serena mendekat, wajahnya merah. "Dan kau — kau tidak pernah menyentuh alat tenun sekalipun dalam hidupmu! Kau hanya makan hasil keringat kami!"
Kirana menatapnya. Tenang.
"Aku menyentuhnya," suaranya lembut, jelas. "Saat kalian tidur. Aku menyulam renda di gaun pengantinmu, Ibu. Aku menyisir benang sutra yang putus di pabrik saat libur. Aku yang menambal tirai di aula pesta Pradana saat kekurangan tenaga kerja. Kalian menjual kain itu. Tapi aku yang membuatnya."
Serena memukul bahunya. Tamparan keras bergema di tangga.
"Berani kau bicara! Kau makan roti dari pabrik itu! Kau tidur di atap yang dibangun dari uang kain itu! Kau milik Ardika! Selamanya!"
Kirana tidak menyentuh pipinya yang memerah. Ia menatap Serena lurus di mata.
"Benar. Aku milik Ardika. Sampai kain terakhir ditarik. Sampai pintu pabrik ditutup. Sampai nama Ardika tidak tertulis di mana pun lagi."
Ia berbalik. Melangkah kembali ke kamarnya. Menutup pintu. Tidak dibanting. Ditutup perlahan.
Di luar, Dimas dan Serena berdiri diam. Keheningan.
"Dia mengutuk kita..." bisik Serena.
Dimas tidak menjawab. Ia tahu — gadis itu baru saja menyebutkan kiamat mereka. Dan kiamat itu bukan datang dari Pradana. Itu datang dari dalam rumah ini sendiri. Dibangun dari benang. Dijahit dengan tangan. Dan akan dirobek oleh tangan yang sama.
******************
KLAN ARUNA: MATA YANG MELIHAT POLA
Di kediaman Klan Aruna — menara tertinggi, dinding dipenuhi gulungan naskah kuno — Aran Aruna duduk di meja panjang. Di hadapannya peta kekuatan kota, garis-garis menghubungkan nama-nama klan.
Ia menunjuk nama Ardika.
"Pabrik kain," ucapnya pelan. "Sutra, renda, gaun pesta. Mereka menjual penampilan. Mereka menjual keindahan yang dipakai lalu dibuang."
Matanya menyapu catatan di bawah nama itu. Jari-jarinya berhenti.
"Pendapatan tahunan — delapan puluh persen berasal dari kontrak dengan Pradana. Delapan puluh persen." Aran menggeleng pelan. "Satu pesanan ditarik — dan mereka jatuh berlutut."
Ia menatap nama di sampingnya — Kirana Ardika.
"Dan gadis ini..." Aran menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit tinggi, "...dia tumbuh di rumah yang mengukur harga manusia per meter kain sutra. Di mana nilaimu ditentukan oleh seberapa mahal gaun yang kau pakai. Dan dia — tidak pernah diberi kain yang layak."
Aran mengambil pena. Menulis di pinggir peta.
Klan Ardika — kekuatan: benang. Kelemahan: benang bisa putus. Gadis ini — dia bukan benang. Dia api.
Ia meletakkan pena. Menatap ke luar jendela, ke arah kediaman Ardika yang jauh di bawah.
"Lima hari lagi. Dan benang yang menahan mereka sudah putus. Mereka belum tahu. Tapi dia tahu."
Aran tersenyum tipis — senyum yang tidak menyentuh matanya.
"Api tidak takut kain. Api membakarnya."
Share this novel