Series
154
BIMA SENA DAN SUMPAH TANAH
Perjalanan Arga Bayu kali ini tidak membawa darah dan luka. Hanya pesan yang lebih berat daripada seluruh beban yang pernah dipikulnya. Ia melangkah menuju wilayah Klan Sena — tanah yang kokoh, bangunan dari batu hitam yang tegak berdiri sejak ratusan tahun silam, seakan menolak waktu sendiri.
Di halaman utama kediaman Sena, seorang lelaki berdiri menatap langit. Tubuhnya tegap dan besar, bahu lebar, wajah yang tampak kasar namun matanya tenang seperti danau yang tak tergoyahkan. Bima Sena. Usianya yang tertua di antara empat penjaga terlihat dari ketenangannya — tak terburu, tak terkejut. Sejak pernikahan Kirana dan Darma, mereka belum berbicara. Namun pertemuan ini... bukan sekadar sapaan lama.
Bima berbalik saat langkah kaki Arga terdengar mendekat. Ia tidak terkejut melihat tamunya. Seakan sudah menunggu.
"Kau datang sendirian," ujar Bima pelan, suaranya dalam dan berat seperti batu yang bergeser perlahan. "Dan matamu membawa berita yang tidak ringan."
Arga berhenti di hadapannya, tidak berlebihan dalam salam.
"Aku datang membawa pesan dari Kirana. Dan hal yang selama ini dianggap dongeng... kini telah nyata."
Bima menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. Keduanya duduk di beranda batu yang teduh. Di sana, Arga bercerita — tentang jejak Sariya di Gunung Suci, tentang rantai sihir gelap yang tak dapat dipatahkan, dan tentang hal yang paling membuat napas Bima tertahan: Cahaya keemasan di telapak tangan Kirana.
"Dia tidak hanya mengetahuinya," ujar Arga pelan. "Kekuatannya telah bangkit. Api itu nyata. Namun masih lemah. Masih belum terlatih. Dan dia butuh belajar — bagaimana berdiri di tanah yang tak akan goyah, bagaimana menahan benteng agar tidak runtuh."
Arga menatap lurus ke mata lelaki itu.
"Maka aku datang memintanya. Kirana memintanya. Maukah kau datang? Maukah kau melatihnya? Agar dia mampu berdiri tegak di hadapan kegelapan yang menantinya?"
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Bima menatap ke kejauhan, napasnya panjang dan dalam. Lalu perlahan ia menoleh kembali.
"Itu bukan permintaan. Itu sumpah leluhur yang menunggu ditepati." Bima berdiri perlahan, matanya menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku akan datang. Aku akan melatihnya. Bukan karena perintah... tapi karena itu adalah tugasku sejak lahir."
Â
PERTEMUAN DENGAN SESepUH KLAN SENA
Bima melangkah masuk ke ruang sidang tertutup. Di sana, para Tetua Klan Sena telah menunggu. Wajah mereka penuh tanya, namun Bima tidak membiarkan keraguan tumbuh. Ia menyampaikan semuanya — kebangkitan Phoenix, permintaan Kirana, dan keputusannya untuk pergi.
Sesepuh tertua berdiri perlahan, tongkat kayunya mengetuk lantai batu tiga kali.
"Klan Sena tidak pernah mundur dari sumpah. Jika Phoenix telah bangkit... maka tugasmu telah tiba. Pergilah. Lindungilah dia. Latihlah dia agar tak goyah. Jangan khawatirkan klan ini. Tanah ini tetap kokoh selamanya. Sementara kau... pergilah ke tempat takdirmu berada."
Bima membungkuk hormat. Tidak ada keraguan. Tidak ada ragu. Jalan telah terbuka.
Â
ARAN ARUNA DAN PETUNJUK TERSEMBUNYI
Arga melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju wilayah yang berbeda — tempat di mana cahaya tampak lebih lembut, udara lebih segar, dan setiap sudut ruangan seakan menyimpan rahasia kuno. Menara Klan Aruna.
Aran Aruna sedang duduk di jendela perpustakaan luas, memegang gulungan tipis di jari-jemarinya yang lentik. Saat Arga melangkah masuk, Aran tidak menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang.
"Kau berjalan jauh, Arga Bayu," ujar Aran pelan, suaranya lembut namun tajam seperti cahaya yang menembus bayangan. "Dan matamu... penuh beban yang bukan milikmu sendiri."
Arga berdiri di dekatnya.
"Aku membawa pesan dari Kirana. Ibunya, Sariya... terpenjara di Gunung Suci. Dibelenggu sihir gelap tertinggi. Kirana memohon bantuanmu. Agar rantai itu dapat dipahami. Agar dapat diputus."
Aran terdiam. Tangannya berhenti memutar gulungan. Perlahan ia menoleh. Matanya yang jernih menatap Arga dalam-dalam.
"Aku tahu tempat itu. Dan aku tahu sihir yang mengikatnya." Aran berdiri perlahan, cahaya di ruangan itu seakan ikut berubah. "Aku akan datang. Dalam beberapa hari. Aku akan menemui Kirana. Dan kita akan mencari cara membebaskan Sariya."
Arga mengangguk lega. Namun sebelum ia berpamitan, pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya akhirnya terucap.
"Satu hal lagi..." Arga menatap lurus. "Klan Ardika. Catatan kuno menyebut mereka Penjaga. Namun sikap mereka terhadap Kirana... tidak pernah menyerupai penjaga. Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Apa yang mereka sembunyikan?"
Aran terdiam. Ia menatap Arga lama sekali, seakan menimbang sesuatu yang berat. Lalu perlahan ia tersenyum — senyum yang penuh arti, sedikit melengkung di sudut bibir, menyembunyikan lebih banyak daripada yang ditampilkannya.
"Arga..." suaranya lembut namun jelas. "Beberapa kebenaran... lebih menyenangkan jika kau menemukannya sendiri. Bukan karena aku takut mengatakannya... tapi karena ekspresi wajahmu saat mengetahuinya... pasti sangat menghibur hati yang lelah."
Arga terdiam.
"Maksudmu?"
"Selidikilah. Telusuri jejak yang mereka coba hapus. Dan kau akan menemukan... bahwa apa yang kau pikir kau ketahui... belum tentu benar sepenuhnya." Aran melangkah mundur pelan, kembali menatap tumpukan buku. "Itu saja yang akan kukatakan. Sisanya... biarkan kau temukan sendiri."
Arga menatapnya lama. Mengerti. Aran tidak akan memberi jawaban langsung. Namun petunjuk itu... sudah cukup. Terima kasih, pikirnya. Terima kasih atas petunjuk itu.
"Terima kasih," ujar Arga pelan. "Aku akan pergi."
Arga melangkah keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya. Aran tetap berdiri di tempatnya, menatap pintu yang kini tertutup. Lalu perlahan ia tersenyum sendiri — senyum yang semakin lebar, semakin tak dapat disembunyikan.
"Benarkah mereka Penjaga..." bisiknya pelan sendirian di ruangan luas itu. "Atau benarkah mereka... sesuatu yang lain sama sekali?"
Aran tertawa pelan, suara ringannya bergema lembut di antara rak-rak buku tua.
"Wajah mereka... saat kebenaran itu terungkap... pasti sangat menghibur. Aku tak sabar melihatnya."
Ia kembali menatap jendela, menatap arah di mana Arga pergi. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya yang tersenyum penuh arti.
"Selamat menyelidiki, Arga Bayu. Kebenaran... pasti sangat menyenangkan."
Share this novel