41. Jejak Tulisan Sariya

Romance Series 154

LANGKAH MENUJU PERPUSTAKAAN
Mereka berdiri di halaman dalam Pradana Mansion, angin lembut menyapu ujung gaun Kirana. Tatapannya melayang ke bangunan di ujung sayap timur — jendela-jendelanya tinggi, cahaya pagi menembus kaca berwarna, memancarkan kilauan hangat. Sesuatu di dalamnya seakan memanggilnya.
Kirana menoleh ke arah Darma, matanya berbinar lembut — antusiasme yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Darma... bolehkah aku pergi ke perpustakaan?"
Darma menatapnya sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hangat.
"Tentu. Ikut aku. Aku akan menunjuk jalannya."
Mereka melangkah berdampingan menyusuri lorong luas, menaiki tangga batu yang lebar dan halus — tidak berderit sedikit pun, dipoles oleh ratusan tahun langkah kaki. Di ujung lorong lantai atas, sepasang pintu kayu besar berdiri — berukir motif sulur halus, pegangan kuningan berkilau hangat.
Darma mendorong pintu perlahan.
"Pintu ini selalu terbuka untukmu."
Pintu terbuka. Dan napas Kirana tertahan.
 ***********
LAUTAN KATA
Perpustakaan itu bukan sekadar ruangan. Itu dunia sendiri.
Dinding-dindingnya dari lantai hingga langit-langit berkubah — dipenuhi rak kayu gelap yang menjulang hingga tak terjangkau mata. Ribuan buku berjejer rapi: kulit cokelat tua, merah marun, hijau zamrud, berhias emas di punggungnya. Cahaya matahari jatuh berkas-berkas lembut melalui jendela kaca patri di bagian atas, menari di atas punggung buku dan lantai kayu yang mengkilap.
Aroma di sana — kertas tua, kulit lembut, kayu cendana, dan sesuatu yang samar seperti dupa yang lama padam namun jejaknya tetap melekat. Aroma pengetahuan. Aroma rahasia yang menunggu dibuka.
Kirana melangkah masuk perlahan, seakan takut suaranya memecah kesunyian suci tempat itu. Matanya menyapu ke kiri, ke kanan, ke atas — tak tahu harus melihat ke mana, terlalu banyak keindahan, terlalu banyak cerita.
"Ini... luar biasa," bisiknya, suaranya bergema pelan. "Rasanya... aku bisa berenang di dalamnya."
Darma tersenyum — senyum kecil, tulus, matanya berkilau melihat kekaguman murni di wajahnya. Dia senang bukan karena kemewahan rumahnya, tapi karena gadis ini akhirnya melihat sesuatu yang membuatnya bersinar.
"Lalu berenanglah. Seluruhnya milikmu."

Dia menunjuk ke lorong kanan, lalu ke kiri.
"Kita bisa menjelajah dari sisi yang berbeda. Temukan apa yang kau cari. Jangan terburu-buru. Aku tidak akan pergi."
Mereka berpisah — Darma melangkah ke lorong kiri, Kirana ke kanan. Bukan ditinggalkan. Diberi ruang untuk menemukan apa yang miliknya.
***************** 
BUKU YANG MEMANGGIL
Kirana berjalan pelan di antara deretan rak. Ujung jarinya menyapu punggung buku — kulit halus, timbul nama-nama yang belum dikenalnya. Setiap langkahnya ringan, matanya menyapu baris demi baris.
Hingga jemarinya berhenti.
Di rak setinggi matanya, di antara buku tebal berwarna merah tua — ada satu buku yang lebih tipis, bersampul kulit berwarna cokelat keemasan, tidak mencolok, namun matanya seakan tertarik padanya seakan ada benang tak kasat mata menarik jantungnya mendekat.
Dia meraihnya perlahan. Kulitnya halus, hangat, seakan baru saja dipegang seseorang sebelum dia. Di sampul depan tidak ada judul besar — hanya ukiran halus burung yang sayapnya melebar.
Jantungnya berdebar kencang saat membukanya. Tinta berwarna cokelat tua, tulisan tangan yang rapi, mengalir, lembut namun tegas. Dan detik berikutnya, napasnya tertahan.
Bentuk huruf, jarak antar kata, cara setiap goresan diletakkan — sama persis dengan jurnal yang tersimpan di kamarnya. Sama persis dengan tulisan ibunya, Sariya.
Tangannya gemetar makin hebat saat membalik halaman judul. Di bawah simbol burung, tertulis jelas, ditulis tangan dengan tinta yang masih terasa hidup:
Ditulis oleh: Sariya.
Dunia seakan berhenti berputar. Ibunya. Sariya. Menulis buku ini. Buku ini ada di sini. Di perpustakaan Pradana.
Tanpa sadar, dia memeluk buku itu erat ke dadanya. Air mata jatuh — satu, lalu dua, menembus kelopak matanya sebelum sempat dicegah. Bahunya bergetar pelan, napasnya tertahan di tenggorokan. Dia tidak tahu harus merasa sedih, bahagia, atau takut. Satu hal saja yang dia tahu — dia tidak sendirian.
Langkah kaki mendekat — tenang, teratur, tidak mengejutkan.
"Kirana?"
Darma berdiri beberapa langkah di belakangnya. Dia tidak bertanya dengan tergesa-gesa. Dia melihat buku yang dipeluknya erat, melihat bahunya yang masih bergetar, dan memahami ada sesuatu yang sangat dalam terjadi.

Kirana buru-buru menyeka air matanya dengan punggung tangan, berusaha menenangkan wajahnya sebelum berbalik.
"Tidak apa-apa. Tidak ada apa-apa."
Suaranya bergetar meski dia berusaha menjaganya tetap tenang. Tatapannya jatuh ke lantai, tidak berani menatap matanya. Dia bingung. Haruskah dia bercerita? Haruskah dia mempercayainya? Atau rahasia ini terlalu besar untuk dibagi?
Darma melangkah maju selangkah, tidak terlalu dekat — cukup untuk didengar.
"Jika kau belum siap bercerita... tidak perlu memaksakan diri. Tapi udara di sini agak pengap. Bagaimana jika kita pergi ke taman? Menghirup udara segar."
Kirana mengangguk pelan, namun tangannya masih memeluk buku itu erat. Dia menatap Darma, lalu bertanya pelan, ragu-ragu:
"Bolehkah... aku membawanya bersamaku?"
Darma tersenyum lembut.
"Tentu. Buku itu memilihmu. Dan kau berhak membawanya ke mana pun kau pergi."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience