Series
17
Pintu depan tertutup di belakangku. Tidak ada yang memanggilku kembali. Tidak ada yang bertanya ke mana aku pergi. Serena sibuk memeriksa daftar tamu. Larasati sibuk mencoba gaun yang ia yakini akan miliknya. Bagi mereka, kepergianku tidak penting — selama aku kembali sebelum matahari terbenam, selama aku tetap Kirana yang penurut, tidak peduli ke mana aku melangkah.
Aku menarik napas dalam-dalam. Udara sore terasa segar, sedikit berbau debu jalanan dan aroma bunga dari taman depan. Ini baru langkah ketiga sejak aku melangkah keluar gerbang kediaman Ardika sendirian.
Karena aku baru saja terbangun kembali beberapa hari yang lalu.
Hanya beberapa hari sejak mataku terbuka lagi di kamar yang sama, di ranjang yang sama. Tubuhku masih terasa asing — kadang terasa berat, kadang terasa ringan. Ingatanku masih berputar di antara darah yang menutupi gaun pesta dan langit-langit kamarku yang pucat. Segalanya masih samar — sampai rasa sakit di dadaku saat kematian itu kembali terasa di tengah malam, dan aku tahu: ini nyata. Aku kembali.
Di kehidupan sebelumnya, aku hampir tidak pernah melewati gerbang ini kecuali di dalam mobil tertutup, dikawal ketat, diantar dari satu tempat ke tempat lain. Aku tidak pernah berjalan di trotoar. Tidak pernah melihat kota dari ketinggian mata manusia. Aku hanya tahu dinding rumahku, karpet di bawah kakiku, dan wajah-wajah yang tersenyum lalu menusuk dari belakang. Aku adalah burung dalam sangkar emas — dan sangkar itu tidak pernah terbuka.
Hari ini — hari-hari pertama kebangkitanku — untuk pertama kalinya, aku melangkah keluar sendirian.
Hanya satu hal yang kuingat dengan jelas, satu nama yang pernah kudengar terucap berbisik bertahun-tahun lalu: Pasar Seni Langit. Di lantai paling bawah, tersembunyi di balik pintu tanpa papan nama, diadakan lelang benda-benda dari zaman sebelum kerajaan berdiri. Dan di antara semua barang, ada satu yang membuat orang berbisik dengan napas tertahan — Simbol Tangan Api.
Batu merah berbentuk telapak tangan — jari telunjuk dan tengah lurus ke atas, sisanya terlipat menempel telapak. Konon itu adalah gerakan tangan kuno, dari zaman ketika api masih menjawab panggilan manusia. Tidak ada yang tahu cara menggunakannya. Tidak ada catatan. Namun harganya naik tanpa henti — puluhan juta, ratusan juta — dan orang berbisik: itu sisa zaman Phoenix.
Aku tidak punya uang untuk membelinya. Tapi aku harus melihatnya.
Aku berjalan menyusuri trotoar, tangan terlipat di depan perut, gaun sederhana berwarna krem. Orang lewat beriringan — terburu-buru, tertawa, menekan ponsel — tidak ada yang menatapku lebih dari satu detik. Dan itu terasa luar biasa. Aku hanyalah satu orang di antara ribuan orang lain.
Pasar Seni Langit berdiri di hadapanku — gedung kaca bertingkat yang memantulkan langit. Aku melangkah masuk, menuju lift paling belakang — yang tidak ada papan petunjuknya. Hanya mereka yang tahu yang akan menemukannya.
Pintu lift terbuka. Suara dunia luar lenyap. Di sini hening. Udara sejuk, berbau debu zaman. Lorong sempit, lampu kuning redup. Ruang lelang di ujung — pintu kayu terbuka, orang berbicara berbisik. Aku berdiri di barisan paling belakang, di bayang pilar. Tidak ada yang menoleh.
Lelang berjalan pelan — naskah kuno, piring keramik, belati berukir — hingga pembawa acara mengangkat kain beludru merah.
Napasku tertahan.
Di sana — batu merah padat, berbentuk telapak tangan seukuran telapak tangan wanita. Jari telunjuk dan tengah lurus tegak, menyatu. Ibu jari, jari manis, kelingking terlipat rapat. Garis di pergelangan batu itu berdenyut samar. Bukan lampu. Benda itu sendiri yang memancarkan panas halus.
"Simbol Tangan Api," ucapnya tenang. "Ditemukan di pegunungan utara. Usia lebih dari seribu tahun. Tidak ada catatan fungsinya. Tapi setiap yang memegangnya berkata sama — terasa hangat. Seperti memegang tangan yang memanggil api."
Harga mulai naik. Angka yang membuat kepala pening. Aku tidak mengangkat tangan. Tapi telapak tanganku sendiri terasa panas, menjawab batu itu. Gerakan tangan itu — aku mengenalnya.
Batu itu akhirnya jatuh ke seorang pria di barisan depan, wajahnya tertutup bayang. Ia menyelipkannya ke dalam jubah dan pergi. Aku tidak punya uang. Tapi aku menghafal setiap lekukan, setiap garis. Suatu hari — itu milikku.
Aku berjalan keluar. Matahari mulai terbenam, menyinari trotoar keemasan lembut. Aku berjalan santai, menikmati langkahku sendiri — langkah pertama yang benar-benar milikku sejak aku kembali.
Hingga suara dua pasang langkah kaki terdengar mendekat. Teratur. Mantap.
Aku menoleh.
Dan napasku sedikit tertahan.
Mereka.
Sudah pernah kita bertemu. Sudah pernah berbicara. Di kediaman Ardika. Di ruang tamu yang kaku, di atas karpet tebal, di hadapan ayah dan ibu tiriku. Saat mereka datang membicarakan pernikahan — saat Darma menatapku seakan memeriksa barang yang akan dibeli. Saat Haris mengamati dari jauh, sopan namun tak bisa disentuh. Kita sudah saling kenal wajah. Sudah saling sebut nama. Sudah sepakat soal pernikahan.
Tapi bukan di sini. Bukan di jalanan terbuka. Bukan saat matahari menyinari kita secara merata, tanpa karpet memisahkan kita, tanpa dinding melindungiku.
Darma Pradana. Dan di sampingnya — Haris Pradana.
Mereka berhenti. Beberapa langkah saja memisahkan kita.
Darma menatapku. Dan tatapannya bukan tatapan di ruang tamu kemarin. Kemarin ia melihat calon istrinya. Hari ini ia melihat manusia. Matanya menyapu perlahan — wajahku, tanganku yang tergantung bebas di sisi tubuh, sepatu sederhanaku yang menyentuh tanah yang sama dengan sepatunya. Tidak ada penghinaan. Tidak ada kekaguman. Hanya pengamatan yang dalam.
"Kirana..." ucap Darma. Nama itu keluar pelan, rendah, jelas — bukan sapaan resmi seperti di rumah Ardika. Panggilan. Seakan ia baru pertama kali benar-benar menyebutnya.
Haris tidak menyapa. Matanya jatuh lebih dulu ke dadaku — di mana di bawah kain krem ini, darahku masih berdenyut hangat dari ruang lelang. Tangan kanannya terangkat perlahan, menekan liontin di dadanya — yang kini terlihat begitu panas hingga jari-jarinya menegang. Matanya melebar samar. Napasnya tertahan.
Di rumah Ardika, jarak terlalu jauh. Dinding terlalu tebal. Hari ini — beberapa hari sejak aku kembali — sesuatu mulai menyala. Dan mereka merasakannya.
Riuh lalu lintas di sekitar kami seakan menjauh. Hening menyusut, menyisakan kami bertiga.
Aku tidak menunduk. Tidak tersenyum paksa. Aku menatap Darma lurus di mata.
"Selamat siang, Tuan Pradana. Tuan Haris." Suaraku tenang, tidak bergetar — sopan seperti yang mereka kenal.
"Kau..." Haris akhirnya bersuara, suaranya berat, serak. "Kau sendirian?"
"Ya." Jawabku sederhana. "Aku berjalan-jalan."
Haris tidak melepaskan tatapannya. Ia tahu — gadis yang berdiri di hadapannya ini, yang kemarin duduk diam di ruang tamu rumah Ardika, bukan orang yang sama.
Darma melangkah selangkah lebih dekat — tidak terlalu dekat, tidak menyinggung batas. Matanya menembus ke mataku.
"Kau jauh dari rumah," katanya. Nada bukan teguran. Pengamatan.
"Aku tahu." Aku menatapnya balik. "Aku tahu ke mana aku pergi."
Kalimat itu — begitu tenang, begitu pasti — membuat mereka berdua terdiam. Di rumah Ardika, aku menjawab ya dan tidak. Di sini, aku menyatakan.
Haris menarik napas pelan, menurunkan tangannya dari liontin. Wajahnya kembali tenang — tapi matanya berubah. Keraguan bercampur sesuatu yang belum siap ia sebut.
"Kembalilah sebelum gelap," ucapnya. Bukan perintah. Peringatan.
Aku mengangguk. "Akan."
Aku melangkah melewati mereka. Langkahku tetap tenang, tidak tergesa-gesa, tidak menoleh ke belakang. Aku tahu mereka menatap punggungku sampai aku menjauh. Aku tahu Darma tidak beralih. Aku tahu Haris bergumam sesuatu yang tidak kudengar.
Di dalam diriku, panas halus menyebar perlahan. Pertemuan pertama di rumah Ardika — perjanjian bisnis. Pertemuan kedua di sini — pengakuan.
Mereka mengira mereka yang memilihku. Padahal mereka baru saja berjalan masuk ke dalam apiku. Dan api itu baru saja mulai menyala.
Share this novel