Completed
202
Malam itu, ruang makan utama Pradana Mansion terasa hangat dan penuh tawa lembut — kehangatan yang sudah lama tak terasa di tempat itu. Di meja panjang yang terhidang penuh makanan lezat, duduklah Wira dan Sariya berdampingan, diapit oleh Kirana, Darma, dan Haris. Cahaya lampu gantung yang lembut menyinari wajah mereka, menghapus bayang-bayang kesedihan yang selama ini menyelimuti keluarga itu. Suasana begitu tenang, begitu damai, seakan segala bahaya dan ancaman telah lenyap bersama kegelapan malam.
"Kau benar-benar tidak tahu betapa rindunya kami mendengar suaramu, Wira," ucap Haris sambil tersenyum hangat, menatap sahabat lamanya yang kini kembali utuh di hadapannya. "Sembilan belas tahun... seakan waktu berhenti berjalan bagi kami."
Wira tersenyum tipis, lalu menatap putrinya yang duduk di hadapannya — Kirana yang kini telah tumbuh menjadi gadis cantik dan kuat.
"Bagi diriku..." suaranya terdengar lembut namun penuh makna, "Waktu berjalan dengan cara yang sangat berbeda. Di tempatku terjebak, siang dan malam tampak sama. Cahaya yang redup tak pernah berubah, dan udara di sana selalu dingin. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada bintang untuk menandai hari-hari yang berlalu."
Kirana menatap ayahnya lekat-lekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu sekaligus haru.
"Bagaimana suasana di sana, Ayah? Apakah tempat itu gelap sepenuhnya?"
"Gelap namun tidak buta," jawab Wira pelan. "Di sana, langitnya berwarna ungu gelap yang pekat, seakan langit yang terbalik. Tanahnya berwarna hitam dan keras, ditumbuhi tanaman-tanaman yang bercahaya samar dalam kegelapan. Tidak ada hewan, tidak ada suara burung. Hanya kesunyian yang mendalam, seakan tempat itu telah dilupakan oleh dunia."
Ia menatap Sariya sekilas, lalu melanjutkan dengan suara yang semakin lembut.
"Aku berjalan sendirian di sana selama bertahun-tahun. Mencari jalan keluar, memanjat tebing batu yang tak berujung, menyeberangi sungai yang airnya dingin hingga membekukan tulang. Namun pintu keluar tak pernah kutemukan. Hingga belakangan ini... tiba-tiba aku merasakannya. Sebuah getaran yang hangat, murni, dan begitu kuat. Itu kekuatanmu, Kirana. Api Phoenix yang membangkit. Darah yang mengalir di nadimu memanggilku pulang. Dan pintu itu akhirnya terbuka."
Sariya menggenggam tangan suaminya erat di atas permukaan meja.
"Kau tidak sendirian di sana, Wira. Doa kami selalu bersamamu. Setiap malam... setiap hari... aku selalu memintamu pulang."
Wira mengusap punggung tangan istrinya dengan lembut.
"Dan doamu didengar, Sariya. Aku kembali. Dan kali ini... tidak ada yang akan memisahkan kita lagi."
Percakapan itu berlanjut sepanjang malam — penuh tawa, penuh cerita, penuh kasih sayang. Mereka bercerita tentang masa lalu, tentang pertumbuhan Kirana, tentang segala hal yang terlewatkan selama sembilan belas tahun itu. Malam itu terasa begitu singkat, seakan waktu berlalu lebih cepat dari biasanya, tak ingin mengganggu kebahagiaan yang baru saja menyatukan mereka kembali.
Â
Keesokan harinya, udara pagi masih terasa segar dan sejuk. Kirana berdiri di beranda depan mansion, menikmati sinar matahari pagi yang lembut menyentuh wajahnya. Darma berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan senyum tenang yang selalu ia miliki.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Di gerbang depan, sebuah mobil tua melaju pelan lalu berhenti. Pintu terbuka, dan sosok yang turun dari sana membuat Kirana tertegun — Dimas.
Pria itu tampak lebih tua dan lebih kurus dari yang terakhir kali dilihatnya. Wajahnya pucat, matanya cekung dan merah, seakan tak tidur sepanjang malam. Langkahnya gontai, seakan berat sekali melangkah mendekat. Di balik pilar yang berdiri tak jauh dari situ, tersembunyi dari pandangan siapa pun, Wira dan Sariya berdiri diam. Mereka memilih tidak tampak, ingin melihat apa maksud kedatangan pria itu.
Dimas berhenti di hadapan gerbang, menatap Kirana dengan pandangan yang penuh air mata dan ketakutan yang tampak begitu tulus.
"Kirana..." suaranya bergetar hebat.
Kirana melangkah maju sedikit, diikuti Darma yang berdiri tepat di sampingnya, menjaga dengan waspada.
"Ada apa, Paman Dimas? Mengapa kau datang ke sini?"
Dimas menelan ludah, lalu menunduk sejenak sebelum mendongak dengan mata yang basah berkaca-kaca.
"Kirana... anakku..." suaranya terdengar pecah. "Maafkan kedatanganku secara tiba-tiba. Tapi ada sesuatu... sesuatu yang buruk telah terjadi."
Ia menarik napas panjang, seakan menahan tangis yang hendak meledak.
"Ibumu... Sariya..."
Kirana melangkah mendekat seketika, matanya melebar penuh kekhawatiran.
"Apa yang terjadi pada Ibu? Bukankah Ibu ada di dalam rumah?"
Dimas menggelengkan kepalanya dengan penuh kesedihan yang tak terlukiskan.
"Itu bukan Ibumu... Kirana. Yang ada di dalam rumah itu... bukan Sariya. Sariya yang asli... ibumu yang sebenarnya... ia jatuh sakit parah. Sangat parah. Ia terbaring lemah di sebuah tempat yang jauh, di ujung hutan yang terpencil. Ia memintaku datang menjemputmu. Ia ingin melihatmu... untuk terakhir kalinya sebelum semuanya terlambat."
Kirana terdiam. Hatinya berdebar kencang. Di satu sisi, ia tahu ibunya berdiri sehat di dalam rumah. Namun di sisi lain... kata-kata Dimas yang penuh air mata dan kesedihan itu membuat hatinya terasa sesak. Bagaimana mungkin? Dan mengapa ia berkata demikian?
Darma melangkah maju sedikit, menatap Dimas dengan pandangan tajam dan penuh kecurigaan.
"Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Sariya ada di sini. Kami semua melihatnya setiap hari."
"Itu bukan dia!" Dimas berteriak pelan namun penuh emosi, air matanya jatuh semakin deras. "Itu bukan Sariya! Aku tidak tahu apa yang terjadi... tapi wanita yang ada di dalam rumah itu bukan ibunya Kirana. Sariya yang asli... ibumu yang sebenarnya... ia menunggumu. Ia memanggil-manggil namamu setiap detik. Katanya... ia harus menyampaikan sesuatu yang sangat penting kepadamu. Sesuatu yang hanya boleh didengar olehmu sendirian."
Dimas menatap Kirana lekat-lekat, matanya memohon dengan penuh keputusasaan.
"Percayalah padaku sekali ini saja, Kirana. Aku tahu aku telah banyak bersalah kepadamu. Aku tahu aku telah bersikap kejam dan tidak adil. Tapi kali ini... aku tidak berbohong. Ibumu menunggumu. Pergilah bersamaku... hanya kau sendirian. Ia ingin bertemu denganmu berdua saja."
Kirana berdiri terpaku. Pikirannya berputar cepat. Ia tahu ibunya sehat. Namun mengapa Dimas tampak begitu tulus menangis? Mengapa kata-katanya terasa begitu menyedihkan? Dan di lubuk hatinya yang paling dalam... ada rasa takut yang perlahan merayap. Bagaimana jika... ada sesuatu yang tidak diketahuinya? Bagaimana jika ada kebenaran yang disembunyikan darinya?
Darma meremas bahu Kirana pelan.
"Jangan ikut bersamanya, Kirana. Sesuatu ini terasa tidak benar."
Kirana menatap Darma, lalu menatap Dimas yang berdiri gemetar menantinya. Napasnya terasa berat. Akhirnya, ia mengangguk perlahan.
"Aku akan pergi bersamanya."
"Kirana..." Darma menatapnya tak percaya.
"Aku harus tahu kebenarannya, Darma." Kirana menatapnya dengan mata yang teguh namun lembut. "Jika benar ada sesuatu yang terjadi pada Ibu... aku harus tahu. Aku tidak bisa berdiri diam di sini tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
Dimas menghela napas lega, seakan beban berat baru saja terangkat dari dadanya.
"Mari... kita pergi sekarang. Sebelum terlambat."
Kirana melangkah maju. Namun sebelum ia melangkah melewati gerbang, samar-samar ia merasakan kehangatan yang lembut menyentuh pundaknya dari belakang — seakan jari-jari ayahnya menyentuhnya tanpa terlihat. Cahaya keemasan yang sangat samar, tak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya sendiri, perlahan menyusup masuk ke dalam pakaiannya, meninggalkan tanda yang tak akan hilang. Ia tahu... ayahnya sedang melindunginya. Ia tahu... ayahnya mengikuti dari belakang.
Kirana menoleh sekilas ke arah tempat Wira dan Sariya bersembunyi. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya — senyum yang seakan berkata: Aku tahu. Aku tahu kalian ada di sana.
Lalu ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobil tua yang menunggu di sana.
Â
Perjalanan berlangsung dalam keheningan yang berat. Dimas menyetir dengan pandangan yang terus menatap lurus ke depan. Wajahnya tampak pucat dan tegang. Sesekali ia menarik napas panjang, seakan menahan sesuatu yang berat di dadanya. Kirana duduk di kursi penumpang, menatap ke luar jendela. Pikirannya berputar — ia tahu ibunya sehat. Ia tahu ayahnya mengikuti dari belakang. Namun mengapa Dimas melakukan hal ini? Ke mana sebenarnya mereka membawanya?
"Paman Dimas..." Kirana akhirnya memecah keheningan. "Di mana sebenarnya tempat itu?"
Dimas tersentak sedikit, lalu menjawab dengan suara yang terdengar berusaha tenang namun tetap bergetar.
"Tidak jauh lagi... di sebuah gua terpencil di dalam hutan. Tempat yang sepi... jauh dari siapa pun."
Kirana menatap profil wajah pria itu lekat-lekat.
"Dan Ibu... benar-benar ada di sana?"
Dimas terdiam sejenak. Jemarinya mencengkeram setir erat.
"Benar. Dia ada di sana."
"Apakah Paman Dimas..." Kirana melanjutkan perlahan, suaranya tenang namun tajam. "Apakah Paman Dimas menyerahkanku kepada seseorang? Apakah ada orang lain yang menungguku di sana?"
Tubuh Dimas menegang seketika. Ia tak berani menoleh ke arah Kirana.
"Apa yang kau katakan... tidak ada orang lain. Hanya ibumu."
Kirana terdiam kembali. Ia tidak mempercayainya. Namun ia juga tidak takut. Karena di dadanya, batu giok pemberian keluarga Surya terasa dingin namun tenang — belum berubah merah. Dan di pundaknya, tanda keemasan dari ayahnya terasa hangat dan teguh. Ia tidak sendirian.
Mobil itu terus melaju, semakin menjauh dari kota, semakin dalam memasuki hutan yang lebat dan sepi. Dimas menatap jalanan di depannya dengan mata yang berkaca-kaca. Di dalam hatinya, ia terus berbisik berulang kali: Maafkan aku... maafkan aku Kirana... aku tidak punya pilihan...
Namun kata-kata itu tak pernah terucap. Ia hanya terus menyetir, membawa gadis itu menuju tempat yang tak seharusnya gadis itu tuju. Sementara jauh di belakang mereka, melintasi pepohonan yang rimbun, dua sosok berjalan tenang namun cepat — Wira dan Sariya. Cahaya keemasan yang samar di ujung jari Wira berdenyut lembut, menunjuk ke arah mobil yang semakin menjauh di depan. Ia tahu persis ke mana mereka membawanya. Dan ia tahu... siapa yang menunggu di sana.
Share this novel