Series
154
SUMPAH YANG MENGIKAT TAKDIR
Mereka berdiri di hadapan Haris Pradana. Tangan mereka masih bersatu, tidak terpisah sejak Darma menjemputnya di lorong. Haris memandang mereka — mata penuh wibawa namun lembut.
"Kalian berdiri di sini bukan hanya atas nama dua keluarga. Kalian berdiri atas nama takdir yang telah lama menunggu. Hari ini, ikrar kalian menjadi ikrar klan."
Darma menatap lurus ke mata Kirana. Suaranya tenang, namun bergema di seluruh aula.
"Aku, Darma Pradana, bersumpah — melindungimu dari angin dan badai. Mendengarkanmu di saat dunia membungkam. Menempatkanmu di tempat terhormat. Tidak ada yang berdiri di atasmu selama napas masih ada di tubuhku."
Kirana menatapnya. Di matanya masih ada keraguan — tapi di sumpah itu, ada kebenaran yang tidak bisa diragukan. Dia menarik napas pelan, suaranya jernih dan mantap.
"Aku, Kirana Ardika... aku bersumpah. Berjalan di jalan yang ditakdirkan. Menemukan kebenaran yang tersembunyi. Dan berdiri di sisimu selama kau tidak berbalik meninggalkanku."
Mereka saling menatap. Sumpah selesai. Tidak ada perhiasan mahal yang diperlukan. Hanya janji. Dan di saat itu, di bawah atap Pradana, janji itu terasa lebih berat dari emas.
 ***************
PESTA DAN JALAN MELALUI TAMU
Musik mengalir lembut. Meja-meja penuh hidangan. Cahaya lampu gantung berkilauan di gelas kristal. Tamu-tamu tertawa, bersulang, berbicara — semua merasa ini adalah penyatuan paling indah yang pernah disaksikan.
Darma dan Kirana berjalan berkeliling aula, menyapa tamu. Setiap pasangan yang mereka hampiri berdiri, tersenyum, bersulang.
"Selamat, Tuan Muda! Pengantin terindah!"
"Semoga panjang umur dan makmur!"
"Klan Pradana beruntung mendapatkan wanita sepertinya!"
Kirana tersenyum, mengangguk, menerima ucapan selamat. Tangannya tidak pernah lepas dari lengan Darma. Dia tidak tahu apakah ini kebahagiaan — tapi dia tahu, dia tidak lagi berjalan sendirian di antara ratusan mata yang menatapnya.
Mereka berjalan perlahan, berhenti di setiap meja — hingga langkah Darma melambat. Di ujung lorong, di meja paling belakang, di sudut paling redup — duduk keluarga Ardika.
*****************
MEJA PALING BELAKANG
Darma tahu. Dia tahu sambutan mereka tidak akan hangat. Dia tahu tatapan mereka tidak akan ramah. Tapi dia sudah memilih Kirana. Dan jika dia ingin dia dihormati di mana pun — dia harus berdiri di sisinya bahkan di hadapan mereka yang melukainya.
Mereka berhenti di depan meja Ardika.
Dimas berdiri lebih dulu, tersenyum berusaha bangga — senyum yang rapuh, seakan bisa hancur kapan saja. Serena menunduk sedikit, tangan meremas ujung gaunnya. Dan di sebelahnya — Larasati.
Larasati menatap Darma. Matanya berkilau basah. Air mata tertahan di ujung kelopak, tidak jatuh, tapi semua orang bisa melihatnya. Dia diam. Tidak menyapa. Tidak tersenyum. Hanya berdiri di sana, bibirnya gemetar, matanya berkata — kenapa bukan aku?
Darma melihatnya. Dan dalam detik itu, ingatan melintas cepat — dulu, sebelum dia mengenal Kirana, dia pernah berpikir Larasati cantik. Dia pernah berpikir mungkin perjodohan itu masuk akal. Tapi hari ini, berdiri di samping Kirana, melihat ketenangan, kecerdasan, dan kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya — dia tahu pilihannya adalah satu-satunya yang benar.
Dia menatap Larasati lurus, suaranya lembut namun tegas.
"Nona Larasati. Terima kasih telah hadir."
Larasati membibir terbuka, lalu tertutup lagi. Tidak ada kata yang keluar. Hanya satu air mata akhirnya jatuh, meluncur di pipinya.
Darma beralih ke Dimas.
"Tuan Ardika. Terima kasih telah mengantar Kirana hari ini. Dia sekarang adalah tanggung jawab Pradana. Dan dia akan dihormati sebagaimana mestinya."
Dimas mengangguk cepat, berusaha menyembunyikan kegembiraan yang kembali muncul.
"Tentu saja! Dia putriku! Keluarga! Kami... kami berharap bisa terus bekerja sama. Seperti yang disepakati."
Darma menatapnya sekilas — tatapan yang membuat Dimas ragu apakah itu persetujuan atau sekadar pengakuan.
"Semoga hari ini menjadi awal yang benar, Tuan Ardika."
Â
DUA PENJAGA MENGERTI
Di sudut yang tidak diperhatikan, Arga Bayu dan Bima Sena berdiri berdampingan untuk pertama kalinya malam itu. Mereka melihat pertukaran kata itu. Mereka melihat air mata Larasati. Mereka melihat tatapan Darma pada Kirana — tatapan yang penuh pengakuan dan perlindungan.
Arga berbisik pelan, tidak mengalihkan pandangan.
"Sekarang aku mengerti. Selama ini... dia bukan yang dipilih. Dia yang digantikan. Yang dikorbankan."
Bima Sena mengangguk perlahan, cengkeraman gelas di tangannya mengencang.
"Dan pria itu... dia hampir mengambil yang salah. Tapi akhirnya... dia memilih Phoenix. Entah sadar atau tidak — dia memilih api yang tidak akan pernah padam."
Mereka kembali diam. Tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya menonton. Dan memahami beban yang dibawa gadis itu sejak lama — beban yang bahkan tidak dia tahu seberat apa.
**************Â
TAWAN DARI MASA LALU
Sebelum Darma bisa berbalik, satu sosok melangkah mendekat. Tertawa pelan, tertawa yang tidak menyembunyikan penghinaan.
Bagas Surya.
Dia berdiri di samping meja Ardika, menatap Dimas dari atas ke bawah.
"Selamat ya, Tuan Ardika. Putrimu menikah dengan keluarga paling dihormati. Sungguh... tanpa Pradana... apa yang tersisa dari Ardika? Nama saja? Itu pun sudah pudar."
Dimas wajahnya memerah padam. Tangannya mengepal.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Bagas! Berita buruk di internet... komentar jahat... itu ulahmu! Kau yang menghancurkan nama baik Ardika!"
Bagas tertawa lebih keras, menggelengkan kepala.
"Ah, kau salah lagi, Dimas. Aku tidak perlu mengotori tanganku. Aku hanya duduk... dan menikmati pemandangan. Aku lebih suka melihatmu hancur dengan kepalamu sendiri. Itu jauh lebih manis daripada mendorongmu."
Dimas melangkah maju, dada membusung, amarah meluap di matanya.
"Kau—!"
**************Â
TANGAN YANG MENAHAN
Tapi sebelum kata berikutnya keluar — Darma berdiri di antara mereka. Satu tangannya terulur ke depan, tidak menyentuh siapa pun, cukup untuk menahan langkah Dimas. Gerakannya tenang, tidak tergesa-gesa — namun otoritasnya membuat keduanya terdiam.
"Cukup."
Satu kata. Dan pertengkaran itu mati seketika. Tamu-tamu di sekitar mereka melirik, lalu berpaling kembali — Darma memastikan ini tidak menjadi keributan.
Dia menatap Dimas lurus.
"Ayahku akan menemui Anda setelah upacara selesai. Ada hal-hal yang perlu dibicarakan secara pribadi. Silakan kembali duduk."
Dimas menelan ludah. Matanya berbinar — harapan kembali menyala, lemah namun hidup. Dia mengangguk cepat.
"Baik. Tentu saja. Terima kasih, Tuan Muda Darma. Terima kasih."
Dia kembali ke kursinya, duduk, lalu segera mengambil gelas anggur — meminumnya sekaligus, matanya menatap ke depan, pikirannya sibuk menyusun kata-kata yang akan diucapkan pada Haris. Dia masih percaya. Dia masih berharap. Dan itu yang paling menyedihkan.
Darma menatap Bagas. Bagas mengangkat gelasnya sedikit, senyum tipis di bibir — hormat musuh yang mengakui kekuasaan. Lalu berbalik dan kembali ke mejanya.
Darma berbalik pada Kirana. Mengulurkan lengannya lagi. Dia meletakkan tangannya di sana — tenang, mantap. Mereka berjalan pergi dari meja paling belakang, meninggalkan bayang-bayang Ardika, menuju cahaya di tengah aula.
"Mereka tidak akan menyakitimu lagi," bisiknya pelan.
Kirana tidak menjawab. Tapi dia menggenggam lengan Darma sedikit lebih erat. Dan di detik itu, dia tahu — perjuangan baru saja dimulai. Tapi untuk pertama kalinya... dia tidak sendirian.
Share this novel