9. Retak Di Dinding Keluarga

Romance Series 17

Malam telah jatuh pekat, namun lampu di kamar utama Dimas dan Serena masih menyala terang, menyelinap keluar dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Suara bentakan samar merayap menyusuri lorong panjang, seakan kemarahan di dalam sana terlalu besar untuk dikurung di balik tembok.
Dimas berjalan mondar-mandir, langkahnya berat, tangan mengepal erat di sisi tubuh, wajahnya merah padam menahan amarah dan keputusasaan. Serena berdiri memunggunginya dekat jendela, bahu tegang, punggung lurus seperti tiang besi — tak satu pun ininya bergetar, namun suaranya dingin dan tajam seperti belati.
"Kau yang memaksanya!" bentak Dimas, suaranya pecah tertahan. "Kau yang bersikeras mengatur pertemuan itu, kau yang mendesak agar semuanya berjalan sesuai rencanamu! Dan sekarang — lihat apa yang terjadi!"
"Aku yang mengatur?!" Serena berbalik cepat, matanya menyala tajam. "Kau yang membawa dia ke rumah ini! Kau yang menyembunyikan kebenaran bertahun-tahun! Jika kau jujur sejak awal — jika Larasati satu-satunya pewaris sah — ini tidak akan pernah terjadi!"
Dimas berhenti melangkah. Menelan ludah dengan susah payah, rahangnya mengeras. "Itu bukan waktunya. Itu bukan cara yang benar—"
"Cara apa?!" Serena melangkah mendekat, menunjuk dadanya dengan jari gemetar. "Cara membiarkan anak kandungmu sendiri berdiri di bayang-bayang anak yang bukan siapa-siapa? Darma memilihnya! Dia memilihnya di depan wajah kita! Dan kau hanya berdiri diam, tidak berani membuka mulut!"
"Apa yang bisa kulakukan?!" Dimas membentak balik, suaranya meninggi, penuh keputusasaan yang mendalam. "Darma sudah memutuskan! Sekali keputusan diambil, tidak ada yang bisa mengubahnya! Bukan aku, bukan Tuan Haris sendiri! Aku tidak berani mempertaruhkan kerja sama ini — tidak berani mempertaruhkan seluruh yang telah kita bangun!"
"Maka kau harus mencari cara!" Serena mendesis, wajahnya mendekat, matanya dingin dan berbahaya. "Karena aku tidak akan membiarkan anak yang bukan darah dagingmu mengambil tempat yang seharusnya milik Larasati. Dan milik putri kita."
Dimas terdiam. Napasnya memburu, berat dan tidak beraturan. Ia berbalik, menatap kegelapan di luar jendela, cahaya lampu jalan memantul samar di kaca. "Setiap kali aku menatap matanya... aku takut. Matanya itu... bukan mata kita. Aku takut suatu hari dia tahu siapa dia sebenarnya. Dan jika itu terjadi... dia bisa menghancurkan kita semua."
"Maka pastikan dia tidak pernah tahu," Serena menjawab datar, tanpa ragu. "Sebelum dia sempat menemukan kebenaran... kita pastikan dia jatuh. Dan jatuh sedemikian rupa sehingga tidak ada yang mau menyelamatkannya."
Dimas menutup matanya. Di dalam hatinya, ketakutan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap — tekad yang kelam, yang ia tahu akan menyesakkan jiwanya, namun ia tidak lagi punya pilihan.
 
Kirana menaiki tangga perlahan, langkahnya lembut, seakan setiap langkahnya sengaja dibuat tidak bersuara. Ia hendak kembali ke kamarnya, berharap malam ini bisa berlalu tanpa suara lagi, ketika pintu kamar Larasati terbuka mendadak.
Larasati melompat keluar — matanya bengkak dan merah, bengkak karena menangis tanpa henti, rambutnya berantakan jatuh menutupi dahi, gaun sutra yang tadi megah kini kusut dan terlipat berantakan di tubuhnya. Wajahnya bercucuran air mata, matanya melotot menatap Kirana seakan ia adalah musuh terbesar yang pernah ada.
"KAU!" teriaknya, suaranya serak dan pecah, bergema di lorong yang sunyi. "Kau puas sekarang?! Kau senang melihatku hancur?!"
Kirana berhenti di tengah anak tangga. Tidak mundur selangkah pun. Tidak maju. Wajahnya tenang, mata jernih menatap adiknya tanpa kilat kemenangan, tanpa kilat kemarahan.
"Maksudmu apa, Adik?"
"Jangan pura-pura bodoh!" Larasati berlari menuruni beberapa anak tangga, menunjuk wajah Kirana dengan jari gemetar hebat. "Kau merencanakan ini semua sejak awal! Kau tersenyum manis, kau berkata hal-hal lembut, dan di belakangnya kau mencuri semuanya! Darma! Posisi! Masa depanku! Semua yang milikku kau ambil perlahan-lahan!"
"Aku tidak mengambil apa pun, Adik. Tuan Muda Darma membuat keputusannya sendiri. Aku tidak meminta dia memilihku."
"Kau memanipulasinya! Seperti kau memanipulasi Ayah dan Ibu! Semua orang bodoh di matamu! Kau pikir kau bisa menjadi Putri Ardika? Kau pikir kau pantas berdiri di samping pewaris Pradana?!" Larasati tertawa pahit, air mata jatuh deras membasahi pipi merahnya. "Kau bahkan bukan—"
Kata-kata itu terhenti di ujung lidahnya. Mulutnya terbuka, rahangnya bergetar hebat. Ia hampir mengatakannya — hampir melontarkan kebenaran yang selama ini ditahan di dalam dadanya. Hampir.
"Bukan apa?" tanya Kirana lembut, suaranya tidak meninggi, namun setiap kata terdengar jelas dan menembus. Matanya menatap lurus ke mata Larasati, tidak berkedip. "Bukan apa, Larasati?"
Larasati mundur selangkah, terpaku. Menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya pucat seketika, seakan darahnya tersedak ke dalam. "Bukan... bukan sepertiku. Kau tidak pantas. Dan aku tidak akan membiarkanmu. Aku akan memberi tahu semua orang siapa kau sebenarnya."
"Beritahu saja," jawab Kirana tenang, tanpa amarah, tanpa tantangan. "Jika itu kebenaran, biarkan mereka tahu. Jika itu kebohongan... mereka akan tahu siapa yang berbohong."
Larasati gemetar seluruh tubuh. Ia ingin menerjang, ingin mencakar wajah tenang itu, ingin menghancurkan ketenangan yang membuatnya terlihat gila. Di lorong yang sunyi itu, Larasati yang tampak liar dan tidak terkendali. Kirana hanya berdiri — diam, menunggu, tidak membalas satu pun hinaan.
"Aku benci kau!" jerit Larasati, suaranya pecah, lalu berbalik dan lari kembali ke kamarnya, membanting pintu sekuat tenaga hingga dinding bergetar pelan.
Kirana menghela napas pelan, mengembuskannya tanpa suara. Melanjutkan menaiki tangga. Dia tahu — Larasati hampir mengatakannya. Hampir. Dan hari itu, Kirana menyadari satu hal yang jelas dan menyakitkan: rahasia kelahirannya adalah senjata yang mereka simpan, tajam dan beracun, untuk suatu hari digunakan guna membunuhnya.
 
Pagi berikutnya, surat tiba lebih awal dari biasanya. Amplop krem, disegel dengan lilin bermotif bunga teratai — lambang keluarga Pradana. Dimas membukanya di meja makan, tangannya gemetar samar saat matanya menyapu baris demi baris tulisan rapi dan tegas. Serena berdiri di sampingnya, menatap kertas itu seakan bisa membakarnya dengan tatapan saja.
Pengumuman resmi pertunangan akan dilaksanakan di pesta pertemuan dua keluarga — empat belas hari dari hari ini. Undangan sudah disebar ke seluruh kenalan dan mitra bisnis. Seluruh kota akan hadir.
Empat belas hari. Bukan bulan depan. Bukan minggu depan. Dua minggu saja.
Dimas meletakkan surat itu perlahan, seakan kertas itu terasa berat. "Dia tidak membuang waktu. Dia memastikan tidak ada jalan mundur."
"Dia memastikan sebelum kita sempat mencari celah," Serena berkata dingin, matanya menatap ke depan tanpa berkedip. "Dia mengumumkan ke seluruh kota sebelum kita sempat menolak. Sebelum kita sempat mencari cara menghentikannya."
"Maka kita tidak punya waktu," Dimas menunduk, suaranya berat dan rendah. "Kita harus bertindak cepat."
"Ya." Serena menatapnya, matanya tajam dan tidak berbelas kasih. "Dan kita harus memastikan saat hari itu tiba... semua orang melihat siapa Kirana sebenarnya. Dan siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping Darma Pradana."
 
Malam itu, mereka tidak tidur. Dimas dan Serena duduk di ruang belajar yang remang, hanya lampu meja satu-satunya yang menyala, bayangan mereka memanjang di dinding.
"Kita tidak bisa membatalkan pertunangan," kata Dimas, suaranya pelan namun tegas. "Itu akan memutus kerja sama. Nama Ardika akan hancur. Kita kehilangan segalanya."
"Maka kita tidak membatalkannya," Serena menyeringai tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya. "Kita biarkan berjalan. Tapi kita pastikan sebelum hari pengumuman... Kirana tidak lagi diinginkan. Atau tidak lagi dihormati."
Dimas menatapnya, dahi berkerut. "Apa yang kau rencanakan?"
"Kita tidak menyakiti tubuhnya. Itu akan dicurigai. Tapi nama... nama bisa hancur tanpa menyentuh sehelai rambut pun." Serena bersandar di kursi, matanya menyala di bayang-bayang. "Kecurigaan. Keraguan. Sesuatu yang terlihat seperti kesalahannya sendiri, kecerobohannya sendiri. Jika dia jatuh karena dirinya sendiri... tidak ada yang bisa menyalahkan kita."
Dimas terdiam. Hatinya bergetar — antara takut dan ambisi. Dia tahu ini salah. Tahu ini kejam. Tapi lebih takut kehilangan segalanya yang telah ia bangun seumur hidup. Lebih takut Larasati kehilangan tempat yang ia yakini miliknya.
"Dan jika itu tidak cukup?" tanyanya pelan, hampir berbisik.
"Maka kita gunakan kartu terbesar kita," Serena menjawab dingin dan tenang. "Rahasia tentang siapa dia sebenarnya. Tapi itu langkah terakhir. Karena saat kebenaran itu keluar... kehancurannya tidak akan menyapu dia saja. Ia akan menyapu kita juga."
Mereka terdiam berdua. Di ruang yang sunyi itu, di bawah cahaya lampu yang redup, mereka bersekongkol melawan gadis yang tidur di lantai atas — gadis yang mereka pelihara, yang mereka beri nama, dan yang sekarang harus mereka hancurkan demi menyelamatkan diri sendiri.
 
Di kamarnya, Kirana terbangun karena haus. Saat berjalan melewati lemari kayu tua di sudut ruangan — lemari yang sejak ia kecil sudah ada di sana, namun tidak pernah ia perhatikan — ia melihat pintu laci bawah sedikit terbuka. Celah kecil, gelap, seakan menariknya.
Ia berhenti. Penasaran, ia berlutut dan menarik laci itu keluar. Di dalamnya tersimpan sebuah kotak kayu tua, berdebu, ukirannya sudah pudar. Tidak dikunci. Ia membukanya perlahan.
Di dalamnya terlipat selembar kain merah pudar, halus seperti sutra kuno, bermotif api yang melambung tinggi. Di sudut kain, ada tanda jahitan kecil — bentuk burung dengan sayap terbentang lebar, kepala menoleh ke belakang, seakan menatap ke arahnya.
Ia menyentuh kain itu dengan ujung jari. Hangat. Padahal kain itu tua, berdebu, seharusnya dingin. Tapi saat kulitnya menyentuh permukaannya, ia merasakan kehangatan merambat naik ke jari, ke pergelangan, hingga ke dada. Jantungnya berdegup kencang, napasnya tertahan. Sesuatu berdenyut di dadanya — tempat yang dulu pernah tertembus peluru. Rasa itu bukan sakit. Itu pengakuan.
Ia tidak tahu apa artinya. Tidak tahu dari mana kain ini berasal. Tidak tahu siapa yang menyimpannya di sini, di laci kamarnya, bertahun-tahun lamanya. Tapi ia tahu satu hal — kain ini miliknya. Dan ia tidak asing.
Kirana melipatnya kembali dengan hati-hati, menyimpannya di tempat semula, menutup laci hingga rapat. Ia berdiri di sana lama, menatap lemari kayu tua yang tertutup kembali.
Sesuatu sedang bangun di dalam dirinya. Bukan api yang menghancurkan. Tapi api yang tidak bisa dipadamkan.
Dan di rumah yang sama, di kamar yang berbeda, dua orang tua menyusun rencana untuk memadamkannya.
Mereka tidak tahu — api tidak takut ditiup. Itu justru membuatnya makin membara.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience