Series
154
JALAN MENUJUI AIR TERJUN
Mereka berjalan berdampingan menuju taman belakang. Kirana memeluk buku itu erat di dada, matanya menatap ke depan namun pikirannya jauh melayang.
Haruskah aku bercerita? Bagaimana jika dia tidak percaya? Bagaimana jika Sariya bukan ibuku? Bagaimana jika aku salah melihat tulisannya?
Keraguan bergumul di dalamnya — satu sisi berteriak menyimpan rahasia, sisi lain menyadari dia tidak bisa menelusuri jejak ibunya sendirian. Tidak dengan begitu banyak pintu tertutup, begitu banyak kebohongan di Ardika.
Mereka tiba di sudut taman — sebuah kolam kecil, air terjun buatan yang jatuh lembut di atas batu, berkilau perak di bawah sinar matahari. Di sekelilingnya tumbuh bunga berwarna lembut, rumput hijau halus, bangku batu di bawah pohon rindang.
Darma duduk di bangku batu, menepati tempat di sebelahnya. Kirana duduk, buku masih di pangkuannya, jari-jemari menekan sampul kulitnya seakan mencari kekuatan.
Darma tidak bertanya. Dia hanya duduk di sana — tenang, hadir, siap mendengar kapan pun dia siap. Matanya menatap air yang jatuh, memberikan ruang sepenuhnya padanya. Dia tahu — rahasia besar tidak dipaksa keluar. Mereka diundang keluar dengan kesabaran.
Â
PERGULATAN HATI
Menit berlalu dalam keheningan. Hanya suara air yang jatuh, angin yang menyapa daun. Kirana menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia menatap Darma — profilnya tenang, rahangnya tegas namun matanya lembut. Dia tidak akan menertawakanmu. Dia tidak akan memanfaatkannya. Sesuatu di dalam dirinya berbisik itu.
Dia menelan ludah, suaranya pelan dan ragu namun jelas:
"Darma... bolehkah aku memintamu sesuatu?"
Darma menoleh, menatapnya lurus.
"Tentu. Apa pun yang kau butuhkan."
"Aku... aku butuh bantuan. Aku tidak tahu harus ke mana, siapa yang bisa dipercaya. Dan aku rasa... aku tidak bisa melakukannya sendirian."
Darma mencondongkan tubuh sedikit, tatapannya serius dan tulus.
"Kirana, dengarkan aku. Jika kau membutuhkan bantuan — Pradana akan membantumu. Tanpa pertanyaan. Tanpa syarat. Apa pun itu, seberat apa pun itu."
Kirana memejamkan mata sesaat, rasa syukur dan takut bercampur menjadi satu. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka matanya — tatapannya tegas, meski tangan di pangkuannya masih gemetar.
Â
KEBENARAN YANG DIBAGI
Dia meletakkan buku itu di antara mereka di atas bangku batu. Jari telunjuknya menyentuh nama di halaman depan — Sariya.
"Ini... buku ini. Saat aku membukanya... tulisan tangannya. Cara hurufnya terbentuk, cara katanya ditulis... sangat mirip dengan tulisan ibuku."
Dia berhenti, menelan ludah, lalu melanjutkan pelan namun pasti:
"Ibuku... namanya Sariya. Dia meninggalkan jurnal sebelum aku lahir. Aku hafal tulisannya. Dan ini... ini persis sama. Tapi yang membuatku terkejut... penulis buku ini juga bernama Sariya."
Matanya mencari reaksi Darma — bukan ketakutan, bukan keraguan. Dia menemukan perhatian penuh, serius, sepenuhnya terpusat padanya.
"Aku tidak tahu... apakah ini kebetulan. Apakah ada banyak wanita bernama Sariya dengan tulisan tangan yang sama persis. Atau... apakah ibuku yang menulis buku ini. Dan jika iya... mengapa bukunya ada di sini? Di rumahmu?"
Dia menatap Darma, matanya berkaca-kaca, penuh kerinduan dan ketakutan.
"Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Dan aku takut... jika aku salah, aku akan menaruh harapan pada hal yang tidak nyata."
Darma menatap nama Sariya di halaman buku itu, lalu kembali ke mata Kirana. Dia tidak terburu-buru menjawab. Dia membiarkan kata-katanya meresap, memahami beratnya — keraguan, harapan, ketakutan semuanya tertumpuk di pertanyaan itu.
"Kau tidak perlu memutuskan sekarang apakah itu benar atau tidak," ujar Darma lembut namun tegas. "Yang kita lakukan adalah mencari tahu. Kita akan menyelidikinya. Kita akan menelusuri siapa Sariya ini, kapan bukunya ditulis, dari mana dia berasal. Pradana punya catatan sejarah yang berusia ratusan tahun. Kita akan mencari setiap jejak."
Dia menatapnya dalam-dalam.
"Dan Kirana... tidak perlu khawatir. Tidak peduli apa yang kita temukan — itu tidak akan mengubah apa pun tentangmu. Kau tetap kau. Dan kami akan tetap berdiri di sisimu."
Kirana menatapnya, air mata jatuh perlahan — bukan karena sedih, tapi karena beban yang dipikulnya sendirian selama bertahun-tahun, kini terasa sedikit lebih ringan.
"Terima kasih, Darma. Terima kasih tidak menertawakan keraguanku."
"Aku tidak akan pernah menertawakan apa yang berarti bagimu."
Mereka duduk berdampingan kembali, menatap air yang jatuh ke kolam, berkilauan di bawah matahari sore. Buku Sariya berada di antara mereka — bukan lagi rahasia yang membebani, melainkan awal dari perjalanan yang akan mereka jalani bersama.
Share this novel