49. Jejak Yang Terbalut Kegelapan

Romance Series 154

UTUSAN YANG HAMPIR TIADA
Tujuh hari. Tujuh malam Arga Bayu menunggu di menara yang selalu tertutup kabut. Setiap detik terasa seperti jam. Setiap angin yang berhembus membuatnya menoleh — berharap ada langkah kaki, berharap ada berita. Namun utusan yang dikirimnya untuk melacak jejak Sariya... tidak kunjung kembali.
Hingga malam ketujuh — pintu ruang kerjanya terbuka paksa. Bukan diketuk. Didorong terbuka dari luar.
Sesosok tubuh melangkah masuk, lalu terhuyung dan jatuh berlutut di lantai batu. Pakaiannya robek penuh luka bakar hitam. Darah menetes perlahan, berwarna merah gelap yang perlahan memudar menjadi kelabu. Napasnya terdengar seperti pisau yang mengiris tenggorokan sendiri.

Arga berdiri seketika, melangkah turun dengan wajah yang tak lagi tenang.
"Raka."
Itu Raka — pemimpin Pasukan Bayu, pengawal setia Klan Bayu, prajurit terkuat yang tak pernah jatuh. Bahkan di hadapan kematian sekalipun. Dan kini... dia berlutut, nyaris tak bernapas.
Raka mendongak. Matanya yang biasanya tajam kini sayu, penuh bayangan yang tak seharusnya ada di mata manusia. Tangan kanannya gemetar menyerahkan gulungan tertutup segel hitam — segel darurat yang hanya dipatahkan jika nyawa pengantarnya terancam.
"Tuan..." suaranya pecah, napasnya tersedak. "Kami menemukannya. Jejaknya... jejak Sariya."
Arga meraih gulungan itu dengan tangan yang jarang gemetar.
"Apa yang terjadi padamu? Siapa yang melukaimu?"
Raka menelan ludah, darah menetes dari sudut bibirnya.
"Bukan manusia yang melukai kami, Tuan. Kami melacak hingga ke ujung terjauh kerajaan... ke tempat yang dilarang didatangi. Gunung Suci — Tanah Terlarang. Di sana... di bawah gunung itu, ada gua yang tak tercatat di peta mana pun. Terkunci. Dikepung sihir yang memakan cahaya."
Matanya melebar seakan kembali melihat kengerian itu.
"Kami tidak sempat masuk. Namun kami mendengar suara. Dan kami melihat sekilas... wanita itu ada di sana. Tapi kekuatan yang menjaganya... bukan milik manusia biasa. Kami terpaksa mundur. Sebelum kami semua musnah. Maafkan kami, Tuan."
Arga mencengkeram tepi meja batu hingga retak halus muncul di permukaannya. Kepalanya terasa berdenyut sakit, seakan udara di ruangan itu tiba-tiba menekan pelipisnya. Ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari dugaan mereka. Dan jejak itu... berhenti tepat di gerbang yang tak bisa ditembus siapa pun.
"Istirahatlah. Sembuh. Kalian telah melakukan tugas dengan baik," ujar Arga pelan. Raka dibantu keluar. Ruangan kembali sunyi. Arga menatap gulungan itu, lalu berbalik menuju ruang terdalam menara.
 
BICARA DENGAN SESepUH
Arga melangkah turun ke ruang paling bawah. Pintu kayu tua terbuka tanpa ketukan. Bayu Agung duduk di tempatnya, matanya tertutup, namun seakan dia sudah mendengar segala hal sebelum Arga berbicara.
"Darah menetes di lantai..." suara Bayu Agung terdengar pelan. "Maka jejaknya... ditemukan, namun dijaga oleh sesuatu yang tak kau kuasai."
Arga berdiri tegak.
"Jejak Sariya berakhir di Gunung Suci, Tanah Terlarang. Dijaga oleh kekuatan yang tidak bisa dipatahkan dengan kekuatan biasa."
Bayu Agung diam lama. Napasnya berat.
"Itu bukan tempat yang kau pilih untuk dikunjungi dengan tergesa-gesa. Bawa temuan itu kepada mereka yang berhak mengetahui. Kepala Klan Pradana."
Arga mengangguk.
"Aku akan pergi sekarang."
 
PERTEMUAN DI HALAMAN PRADANA
Malam itu juga, Arga Bayu berangkat. Tidak menyembunyikan diri. Dia datang secara resmi.
Di halaman kediaman Pradana, pintu terbuka. Dan di sana — berdiri Kirana. Di sampingnya, berdiri Darma.
Darma melangkah setapak ke depan, melindungi sepenuhnya di samping Kirana, matanya menatap tamu tak dikenal itu dengan waspada namun tenang. Kirana berdiri di sampingnya, hatinya berdebar pelan namun aneh. Pria ini... dia belum pernah bertemu dengannya. Namun ada sesuatu yang akrab. Sesuatu yang terasa seperti angin yang pernah menyentuhnya dalam mimpi.
Di hadapan mereka berdiri sosok yang tinggi, tegap, mengenakan pakaian gelap yang menyerap cahaya seakan kain itu terbuat dari malam sendiri. Kulitnya pucat, rambutnya hitam pekat jatuh menyentuh bahu. Namun yang paling mencolok adalah matanya — gelap, tajam, seakan mampu menembus dinding, menembus rahasia hati, menembus masa lalu dan masa depan sekaligus.
Arga tidak menatap Kirana terlalu lama. Dia tidak menyebut nama Sariya. Tidak menyebut gua. Tidak menyebut sihir. Dia menatap lurus kepada Darma, dan suaranya rendah, tenang, namun membawa beban yang tak terlihat.
"Salam hormat. Aku Arga Bayu. Dari Klan Bayu."
Darma mengangguk pelan, tangannya tetap tenang di samping Kirana.
"Aku Darma Pradana. Selamat datang, Tuan Arga. Ada urusan penting yang membawamu ke sini malam-malam begini?"
Arga melirik sekilas ke arah Kirana — tatapan yang cepat, penuh pengakuan tanpa kata, lalu kembali menatap Darma.
"Aku datang membawa hasil penyelidikan yang diminta Kepala Klan Pradana. Masalah ini... sebaiknya disampaikan langsung kepada beliau."
Darma mengerti nada suaranya. Ini bukan urusan yang bisa dibicarakan di halaman terbuka.
"Ikutlah. Ayah sedang menunggu di ruang kerjanya."
Arga mengangguk sekali. Sebelum melangkah masuk, matanya kembali menyapu wajah Kirana sekilas — begitu cepat seakan bayangan yang lewat. Namun Kirana menangkapnya. Di balik tatapan tajam itu... tidak ada bahaya. Hanya pengakuan berat. Seakan dia sudah menunggunya sejak lama.
Arga melangkah masuk mengikuti Darma. Pintu tertutup pelan di belakang mereka. Dan di halaman yang mulai sepi kembali, Kirana berdiri diam — hatinya masih berdebar perlahan, penuh pertanyaan yang belum berani diucapkan. Siapa pria itu? Dan apa yang dia temukan... hingga wajahnya tampak begitu berat?

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience