Series
154
Di dalam ruang dimensi yang tercipta dari kekuatan Kirana, waktu seakan melambat hingga berhenti sepenuhnya. Langit berwarna ungu kebiruan lembut, disinari cahaya keemasan yang tidak menyilaukan mata. Di bawah pohon yang daunnya berkilau seperti kepingan permata, Kirana dan Sariya duduk bersandar pada batang pohon yang halus dan hangat.
Sariya memegang tangan putrinya di dalam kedua telapak tangannya. Matanya menatap jauh ke arah cakrawala yang tak bertepi, seakan menembus ruang dan waktu, melihat kembali masa lalu yang telah berlalu ratusan tahun silam.
"Kirana..." suaranya lembut, namun penuh beban kenangan yang mendalam. "Ibu belum pernah bercerita kepadamu... bagaimana Ayahmu dan Ibu bertemu, bukan?"
Kirana menggeleng pelan, matanya langsung berbinar penuh rasa ingin tahu sekaligus harapan.
"Belum, Bu. Aku selalu ingin tahu... bagaimana dua orang dengan kekuatan sebesar itu bisa bersatu? Apakah Ayah dan Ibu saling mencintai sejak awal?"
Sariya tersenyum tipis, senyum yang hangat namun juga sedikit menyayat hati. Ia mengusap punggung tangan putrinya perlahan.
"Kisah kami dimulai jauh sebelum kami lahir. Dua garis keturunan yang sudah saling bersumpah sejak ribuan tahun lalu. Klan Wirabuana — penjaga api Phoenix, kekuatan yang membara, berani, dan tak kenal takut. Dan Klan Lembayung — penjaga cahaya senja, ketenangan, dan kebijaksanaan. Dua kekuatan yang saling melengkapi, namun juga saling bertentangan."
Ia menatap mata Kirana lekat-lekat.
"Para leluhur berkata: api tanpa cahaya hanyalah kobaran yang membakar sembarangan, menghancurkan apa pun yang dilewatinya. Dan cahaya tanpa api hanyalah sinar lemah yang mudah padam oleh angin. Keduanya harus menyatu agar menjadi kekuatan yang utuh — kuat namun tidak semena-mena, lembut namun tidak mudah dihancurkan."
"Apakah Ayah dan Ibu bertemu karena sumpah itu?" tanya Kirana pelan.
"Sebagian ya." Sariya mengangguk pelan. "Namun takdir memiliki caranya sendiri. Saat pertama kali aku melihat Ayahmu... dia berdiri di puncak Gunung Terang, dikelilingi lautan api yang membumbung tinggi. Api itu begitu hebat hingga menyinari langit malam. Namun di matanya... ada kesepian yang begitu dalam. Seolah-olah dia ditakdirkan menjadi kuat sendirian, tidak boleh menunjukkan kelemahan kepada siapa pun."
Sariya tersenyum lembut, seakan melihat kembali sosok itu di hadapannya saat ini.
"Saat itu aku menyadari... dia tidak membutuhkan seseorang yang sekuat dia. Dia membutuhkan seseorang yang bisa menenangkan apinya. Seseorang yang bisa membuatnya merasa aman untuk tidak selalu kuat."
"Dan Ayah?" tanya Kirana tak sabar. "Apa yang Ayah pikirkan saat pertama kali melihat Ibu?"
Senyum Sariya melebar, pipinya sedikit merona.
"Dia berkata... bahwa di dunia yang penuh dengan api dan kekerasan, aku adalah satu-satunya cahaya yang tidak membakar matanya. Bahwa kehadiranku membuat apinya tenang seketika."
Air mata bahagia mulai menetes di pipi Sariya.
"Kami saling melengkapi, Kirana. Ayah memberikan kekuatan pada Ibu, dan Ibu memberikan ketenangan pada Ayah. Bersama-sama kami menjadi utuh. Itulah sebabnya darahmu begitu istimewa. Di dalam dirimu, api Phoenix dan cahaya Lembayung menyatu sempurna. Kau adalah perwujudan dari sumpah leluhur kami."
Kirana menahan isak tangis, dadanya terasa hangat dan penuh bangga yang tak terlukiskan.
"Jadi... aku adalah gabungan dari dua kekuatan besar itu?"
"Benar, sayang." Sariya mengangguk bangga. "Dan karena itulah, kekuatanmu jauh lebih besar dari yang kau bayangkan. Namun ingatlah — kekuatan terbesarmu bukanlah api yang membakar musuh. Melainkan hati yang tulus, kasih sayang, dan kemampuan untuk melindungi apa yang berharga."
Sariya kemudian merogoh saku gaunnya, dan mengeluarkan sebuah liontin kecil yang terbuat dari batu berwarna ungu kebiruan yang berkilau lembut seolah berdenyut hidup.
"Ini..." bisik Kirana takjub.
"Ini adalah pusaka Klan Lembayung." ucap Sariya dengan suara serius namun lembut. "Selama ribuan tahun, benda ini diwariskan dari ibu ke anak perempuan tertua. Batu ini menyimpan ingatan, kasih sayang, dan perlindungan dari seluruh leluhur kami."
Ia memakaikan liontin itu perlahan ke leher putrinya. Saat batu itu menyentuh kulit Kirana, terasa hangat dan nyaman, seakan memeluknya dengan lembut.
"Liontin ini akan melindungimu dari sihir jahat yang mencoba masuk ke dalam pikiranmu." ucap Sariya pelan sambil menatap mata putrinya. "Dan saat kau bingung, takut, atau merasa sendirian... peganglah benda ini. Rasakan kehangatannya. Ia akan mengingatkanmu bahwa kau tidak pernah benar-benar sendirian. Bahwa Ibu, Ayah, dan seluruh leluhur kita selalu bersamamu di dalam hatimu."
Kirana menggenggam batu itu erat di dadanya, air mata bahagia akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia segera memeluk ibunya erat, menyandarkan kepalanya di bahu yang hangat dan wangi itu.
"Terima kasih, Ibu... terima kasih..." isaknya pelan. "Selama ini aku selalu merasa tidak diinginkan. Tidak pernah ada yang memelukku seperti ini. Tidak pernah ada yang tersenyum padaku seperti ini."
Sariya membalas pelukan itu dengan segenap hatinya, mengusap rambut putrinya berulang kali dengan penuh kasih sayang.
"Jangan pernah berkata begitu, anakku sayang. Kau adalah anugerah terindah bagi kami. Setiap detik yang berlalu tanpa kehadiranmu... adalah penderitaan bagi kami. Sekarang kau sudah kembali. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu merasa kesepian lagi."
Mereka berpelukan lama di bawah pohon bercahaya itu. Di dalam hati Kirana, perlahan terukir sebuah kebenaran yang tak akan pernah ia lupakan: ia dicintai. Ia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya. Dan ia memiliki kekuatan yang lahir dari kasih sayang, bukan dari kebencian atau dendam.
Saat mereka melepaskan pelukan, Sariya mengusap air mata di pipi putrinya dengan senyum lembut.
"Dan satu hal lagi, Kirana..."
"Apa itu, Bu?"
"Kekuatan Lembayung bukan untuk melawan api. Ia untuk menjaganya agar tidak membakar dirimu sendiri." Sariya menatapnya dalam. "Jadi, mari kita lanjutkan latihan. Aku akan mengajarkanmu cara menggunakan cahaya ini, agar kelak kau bisa melindungi semua orang yang kau cintai."
Kirana mengangguk mantap, matanya bersinar penuh tekad dan kebahagiaan.
"Siap, Bu. Aku akan belajar sebaik mungkin."
Share this novel