109. Jejak Emas Dan Lingkaran Kegelapan

Romance Completed 202

Darma berdiri di beranda, menatap mobil tua yang membawa Kirana dan Dimas perlahan menghilang di balik kelokan jalan. Punggungnya tegak namun tangannya terkepal erat di sisi tubuh, napasnya terasa berat. Kekhawatiran yang mendalam menyelimuti hatinya — ia tidak percaya pada kata-kata Dimas sejak awal, dan melihat Kirana memilih untuk ikut pergi sendirian membuat dadanya terasa sesak.
"Paman Wira..." Darma berbalik perlahan menuju tempat Wira dan Sariya berdiri. Matanya memancarkan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. "Kita tidak boleh membiarkannya pergi begitu saja. Ada sesuatu yang tidak benar. Dimas berbohong. Aku yakin sepenuh hatiku."
Wira menatap arah perginya mobil itu dengan pandangan yang tenang namun tajam, seakan matanya mampu menembus jarak dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam sana. Sariya berdiri di sampingnya, wajahnya tampak cemas namun tetap menahan diri, menunggu penjelasan suaminya.
"Aku tahu, Darma." Wira berucap dengan suara yang rendah namun menenangkan. "Dan kau tidak perlu khawatir. Sebelum Kirana melangkah melewati gerbang tadi... aku telah menandainya."
Darma tertegun sejenak.
"Menandainya?"
Wira mengangguk perlahan. Cahaya keemasan yang sangat samar berkilat di ujung jarinya seketika, lalu lenyap kembali secepat ia muncul.
"Aku meninggalkan jejak kekuatan di pundaknya — tak terlihat oleh mata biasa, tak terasa oleh siapa pun kecuali aku dan dirinya. Selama tanda itu melekat padanya, aku akan selalu tahu di mana ia berada, seberapa jauh pun ia pergi. Tidak ada tempat yang cukup tersembunyi dariku."
Mata Darma sedikit melebar, rasa lega perlahan menyelinap masuk ke dalam hatinya, namun kekhawatirannya belum sepenuhnya hilang.
"Kalau begitu... mari kita ikuti mereka sekarang juga. Siapa yang tahu ke mana Dimas membawanya? Dan siapa yang menunggu di sana?"
Wira mengangkat tangan sedikit, menahan langkah Darma.
"Belum sekarang. Kita tidak boleh bertindak terburu-buru. Dimas hanyalah alat. Di belakangnya ada kekuatan yang jauh lebih gelap dan jauh lebih berbahaya. Jika kita bergerak sendiri tanpa persiapan, kita mungkin justru terjebak bersama Kirana. Kita perlu kekuatan penuh para Penjaga di sisi kita."
Wira menatap Darma lekat-lekat, suaranya tegas dan penuh keyakinan.
"Percayalah pada jejak itu. Kirana aman untuk saat ini. Mari kita kumpulkan semua orang terlebih dahulu, menyusun rencana yang matang, lalu berangkat bersama-sama. Itulah cara terbaik untuk melindunginya."
Darma menarik napas panjang, menatap mata Wira yang tenang dan penuh keyakinan. Ia mengangguk perlahan.
"Baik. Aku mempercayaimu. Mari kita kumpulkan yang lain."
Mereka pun berjalan bersama menuju aula utama Pradana Mansion. Di sana, Haris Pradana telah menunggu, diiringi Aran Aruna, Arga Bayu, Bima Sena, dan Kesuma Ardika. Begitu melihat wajah mereka yang serius dan penuh kegelisahan, semua orang langsung menyadari bahwa sesuatu yang penting sedang terjadi.
"Mari duduk," ucap Wira pelan namun tegas begitu mereka berkumpul di ruangan utama. "Aku akan menjelaskan semuanya."
Wira menceritakan kedatangan Dimas, kebohongannya, dan bagaimana Kirana memilih untuk ikut pergi bersamanya. Semua orang mendengarkan dengan napas tertahan, wajah mereka perlahan berubah menjadi serius dan penuh kemarahan.
"Dimas berani..." Arga mengepalkan tangannya erat, rahangnya menegang. "Setelah semua yang telah dilakukan keluarganya... ia berani datang ke sini dan membohongi Kirana?"
"Ini bukan sekadar kebohongan biasa," tambah Bima Sena dengan suara berat. "Ia membawanya ke dalam jebakan. Tidak ada keraguan sedikit pun akan hal itu."
Aran Aruna berdiri diam di sudut ruangan, matanya terpejam sejenak seakan merasakan sesuatu yang jauh. Saat ia membuka matanya kembali, tatapannya tajam dan gelisah.
"Aku merasakannya... getaran kekuatan gelap yang kuat di arah barat daya, jauh di dalam hutan terlarang. Kekuatan itu belum lama muncul, namun semakin lama semakin pekat."
Wira mengangguk.
"Itulah tempat tujuan mereka. Jejak yang kuberikan pada Kirana menunjuk ke arah yang sama."
Kesuma Ardika yang sedari tadi mendengarkan dalam diam akhirnya berbicara dengan suara yang rendah namun penuh tekad.
"Dimas adalah pamanku. Darah mengalir di tubuhnya sama seperti darah yang mengalir di tubuhku. Namun aku tidak akan membelanya. Apa yang ia lakukan ini... tidak benar. Aku akan ikut bersamamu. Aku harus melihat sendiri... apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku."
Wira menatap pemuda itu dengan pandangan yang penuh pengertian.
"Terima kasih, Kesuma. Kehadiranmu sangat berarti."
Lalu Wira menatap Haris Pradana.
"Haris... aku memintamu tetap tinggal di sini. Pradana Mansion membutuhkan seseorang yang kuat dan bijaksana untuk menjaganya selama kami pergi. Siapa pun yang menyerang Kirana mungkin juga tahu betapa pentingnya tempat ini baginya. Jika kita semua pergi, mansion ini akan kosong."
Haris mengangguk mantap, meskipun matanya tampak berat hati untuk tidak ikut.
"Aku mengerti. Pergilah. Lindungi Kirana. Bawa dia pulang dengan selamat. Aku akan menjaga tempat ini dengan segenap kemampuanku."
Wira menatap semua orang yang berdiri di hadapannya — Darma yang matanya penuh tekad dan kekhawatiran, Arga yang siap berjuang, Bima yang tenang namun siap melindungi, Aran yang memancarkan kebijaksanaan dan kekuatan sihir, serta Kesuma yang baru saja menemukan kebenaran dan keberaniannya.
"Maka demikian," ucap Wira dengan suara yang terdengar berat namun penuh keyakinan. "Kita berangkat. Tetaplah bersatu. Tetaplah waspada. Dan apa pun yang terjadi... lindungi Kirana dengan nyawa kalian."
Semua orang mengangguk serentak. Tanpa menunggu lagi, mereka pun berangkat — melintasi hutan lebat, mengikuti jejak keemasan yang hanya bisa dilihat oleh mata Wira dan Aran, melangkah cepat namun tenang menuju tempat di mana kegelapan sedang menunggu.
 
Sementara itu, mobil tua yang membawa Kirana dan Dimas akhirnya berhenti di depan sebuah gua besar yang tersembunyi di balik tebing batu hitam yang menjulang tinggi. Udara di tempat itu terasa dingin dan lembap, berbau belerang dan sesuatu yang busuk. Kabut tebal melayang di mulut gua, menyembunyikan apa yang ada di dalamnya.
Dimas mematikan mesin, lalu duduk diam di kursinya sejenak, napasnya tersengal-sengal. Ia tidak berani menoleh ke arah Kirana.
"Kita... sudah sampai," ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
Kirana turun dari mobil perlahan. Seketika kakinya menginjak tanah di tempat itu, batu giok yang ia kenakan di dadanya tiba-tiba berubah — dari hijau tenang menjadi merah menyala, terasa panas hingga kulitnya. Kirana mengerutkan kening, tangannya menekan batu itu perlahan. Dan di pundaknya, tanda keemasan dari ayahnya terasa semakin hangat, seakan memberi peringatan yang sama.
Belum sempat Kirana melangkah lebih jauh, tiba-tiba cahaya merah gelap memancar dari tanah di sekelilingnya. Garis-garis bercahaya perlahan muncul dari permukaan tanah, membentuk lingkaran sempurna yang langsung mengurungnya. Kirana mencoba melangkah keluar, namun dinding tak kasat mata menghalanginya — dingin, keras, dan tak bisa ditembus.
"Itu..." bisik Kirana pelan. "Sihir penahan..."
Dimas berdiri tak jauh dari sana, memunggungi Kirana. Tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak berani menoleh. Ia tidak berani melihat wajah gadis itu.
"Maafkan aku..." suaranya pecah. "Aku benar-benar minta maaf, Kirana... Aku tidak punya pilihan..."
Dari kegelapan gua, suara itu terdengar — berat, parau, dan penuh kemenangan yang mengerikan.
"Selamat datang, Putri Phoenix... Aku sudah lama menantikan kedatanganmu."
Perlahan, sosok itu melangkah keluar dari kegelapan. Wajahnya masih tertutup sebagian luka yang belum sembuh, namun sepasang matanya yang merah menyala menatap Kirana dengan tatapan yang penuh keinginan dan kebencian yang mendalam. Durga berdiri tepat di tepi lingkaran sihir, menatap Kirana yang kini terperangkap di dalamnya.
"Dimas..." panggil Kirana pelan, matanya menatap punggung pria itu dengan pandangan yang sulit diartikan — bukan amarah, melainkan kesedihan yang mendalam. "Inilah yang kau sembunyikan dariku? Inilah kebohongan yang kau katakan?"
Dimas tidak menjawab. Ia hanya menunduk semakin dalam, bahunya bergetar hebat.
Durga tertawa rendah, suaranya bergema di dinding gua yang kosong.
"Lihatlah betapa berharganya dirimu, Kirana... Hanya dengan satu kebohongan sederhana, kau langsung datang ke sini sendirian. Kasih sayangmu kepada ibumu... ternyata adalah kelemahan terbesarmu."
Kirana menatap Durga dengan tenang, meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tidak mundur selangkah pun.
"Kau salah," ucapnya pelan namun tegas. "Aku tidak datang karena aku percaya kebohongannya. Aku datang karena aku ingin tahu sejauh mana seseorang bisa berbohong demi keinginannya sendiri. Dan sekarang... aku sudah tahu."
Kirana menatap Dimas sekali lagi, lalu beralih menatap Durga.
"Kau mengira aku terjebak di dalam sini? Kau mengira kau telah menang begitu mudah?"
Durga menyeringai.
"Apakah tidak begitu? Kau terkurung dalam sihir yang tak bisa kau hancurkan sendirian. Tidak ada yang tahu ke mana kau pergi. Tidak ada yang bisa menolongmu."
Dari balik pepohonan di kejauhan, di balik kabut tebal, mata-mata itu melihatnya. Wira, Darma, Aran, Arga, Bima, dan Kesuma berdiri diam di balik bayang-bayang tebing. Mereka melihat lingkaran sihir itu. Mereka melihat Durga. Dan mereka melihat Kirana yang berdiri tegak di tengah-tengahnya, menatap musuhnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Perang belum dimulai. Namun tarikan napas pertama telah diambil. Dan di kejauhan, di balik kegelapan itu, kekuatan-kekuatan besar perlahan bersiap untuk melangkah maju.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience