117. Kembali Dan Menyadari Hati

Romance Completed 202

Cahaya keemasan perlahan memudar di sekelilingnya. Udara yang dulunya berbau bunga asing dan terasa murni kini berubah — terasa lebih segar, lebih hangat, dan sangat dikenali. Kirana membuka mata perlahan, napasnya teratur, tubuhnya terasa ringan namun penuh kekuatan yang padat. Ia berdiri di ruang tengah kamarnya di Pradana Mansion, tempat yang sama persis seperti saat ia masuk ke dalam dimensi pribadinya — namun sesuatu terasa berbeda. Cahaya matahari yang masuk dari jendela bukan lagi cahaya yang sama seperti saat ia pergi. Posisi bayangan di lantai sudah bergeser jauh.
"Aku sudah lama di sana..." bisiknya pelan, menyadari waktu yang berlalu di dunia luar.
Ia berjalan keluar kamar, menelusuri lorong mansion yang tenang. Langkah kakinya ringan, seakan lantai di bawahnya tak lagi terasa berat. Ia menuju ruang belajar, ruang makan, balkon — namun tak ada tanda-tanda Wira maupun Sariya. Hening menyambutnya di mana pun ia melangkah. Hingga akhirnya, langkah kakinya berhenti di pintu kaca yang menuju ke taman belakang.
Di sana, di tepi kolam ikan yang airnya jernih dan berkilau terkena cahaya matahari sore, berdiri sosok yang dikenalnya. Darma.
Ia berdiri membelakangi pintu, satu tangannya memegang wadah kecil berisi pelet ikan. Setiap kali ia menaburkan sedikit makanan ke permukaan air, ratusan ikan berwarna cerah berkerumun mendekat, melompat-lompat dengan riang. Punggungnya tegap namun tenang, bahunya tidak tampak tegang seperti biasanya. Cahaya matahari sore menyinari rambutnya yang berwarna gelap, menciptakan lingkaran cahaya lembut di sekelilingnya.
Kirana berdiri diam di ambang pintu, menatapnya dari kejauhan. Jantungnya berdebar pelan namun tak berhenti. Pikirannya kembali melayang — di kehidupan yang lalu, sosok yang berdiri di hadapannya ini selalu berdiri di samping orang lain. Selalu di samping Larasati. Selalu tampak begitu dekat, begitu milik orang lain. Namun di kehidupan ini... di masa kini... ia berdiri di sini. Di sampingnya. Sebagai suaminya. Sebagai orang yang memilihnya, bukan karena terpaksa, bukan karena perjodohan semata — tapi karena ia melihatnya.
Dia berbeda... pikirnya pelan, hatinya terasa hangat sekaligus canggung. Dia bukan Darma yang aku kenal di masa lalu. Dia tidak memandang orang lain. Dia tidak membiarkan siapa pun menyakitiku. Dan setiap kali aku melihatnya... aku merasa ada sesuatu yang berubah di dalam hatiku.
Darma perlahan berbalik, seakan merasakan kehadirannya. Saat matanya bertemu dengan mata Kirana, tangannya yang memegang wadah pelet berhenti bergerak. Senyum lembut yang selalu ia miliki tersungging di bibirnya — senyum yang hanya untuknya.
"Kau sudah keluar," ucapnya pelan, suaranya tenang dan hangat. "Aku sudah menunggu sejak pagi. Ayah dan Ibu pergi ke pertemuan klan sebentar. Mereka bilang kau sedang berlatih dan tidak boleh diganggu."
Kirana melangkah mendekat perlahan, kakinya terasa berat sekaligus ringan. Ia berhenti di tepi kolam, berdiri tak jauh dari pria itu — cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuhnya, namun cukup jauh untuk merasa canggung.
"Sudah berlalu berapa lama?" tanyanya pelan, matanya menatap permukaan air yang beriak lembut.
"Tiga hari di dunia luar," jawab Darma lembut. "Tapi kau terlihat... berbeda. Lebih kuat. Lebih tenang."
Kirana menunduk sedikit, ujung bibirnya tersenyum tipis tanpa sadar. Ada keheningan yang menyelimuti mereka — bukan keheningan yang canggung, tapi keheningan yang penuh dengan hal-hal yang ingin diucapkan namun tertahan. Ia menyadari betapa dekatnya mereka berdiri, betapa mudahnya ia bisa menyentuh tangannya jika ia mau. Dan kesadaran itu membuat pipinya perlahan memerah samar.
"Darma..." panggilnya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menahannya. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Darma menatapnya, matanya penuh perhatian.
"Tentu saja. Apa pun."
Kirana menarik napas panjang, lalu mendongak menatapnya — tatapannya jujur, terbuka, namun penuh keraguan yang tersembunyi.
"Sebelum pernikahan ini... sebelum perjanjian antara Pradana dan Ardika... semua orang tahu kau dan Larasati..." ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Ada banyak rumor. Banyak orang berkata kalian saling menyukai. Bahwa seharusnya kau menikah dengannya, bukan aku. Dan sekarang... setelah semuanya terjadi... apakah kau pernah menyesal? Apakah kau pernah berpikir bahwa seharusnya kau memilihnya saja, dan tidak perlu terikat pernikahan denganku?"
Keheningan menyelimuti mereka sejenak. Darma tidak langsung menjawab. Ia meletakkan wadah pelet di tepi kolam, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Kirana. Tatapannya lembut namun begitu teguh, begitu jujur sehingga Kirana hampir tidak sanggup menatapnya kembali.
"Kirana..." ucapnya pelan, suaranya rendah namun jelas. "Aku tidak akan berbohong padamu. Dulu... memang ada masa ketika aku mengenalnya. Kami tumbuh besar bersama. Orang-orang memang sering berbicara seperti itu. Tapi itu dulu. Dan itu hanyalah pendapat orang lain — bukan kebenaran di hatiku."
Ia melangkah selangkah lebih dekat, namun berhenti saat melihat Kirana sedikit menegang — memberi ruang, tidak memaksakan jarak.
"Saat aku melihatmu... saat aku memutuskan untuk menikahimu... itu bukan karena perintah Ayah. Bukan karena kewajiban klan. Itu karena aku melihat dirimu — gadis yang kuat, yang cerdas, yang meskipun diperlakukan buruk tetap memiliki hati yang lembut. Dan semakin aku mengenalmu... semakin aku menyadari bahwa apa yang kurasakan bukan sekadar kewajiban."
Darma menatap matanya lekat-lekat, suaranya melembut.
"Jika aku menyesal... aku hanya menyesal satu hal — bahwa aku tidak melihatmu lebih awal. Bahwa aku membiarkan orang lain mendikte perasaanku selama ini. Tapi menyesal menikahimu? Tidak, Kirana. Tidak pernah. Justru... aku bersyukur. Aku bersyukur bahwa takdir membawaku kepadamu."
Kirana menatapnya, matanya berkaca samar, hatinya berdebar begitu kencang hingga ia yakin pria itu bisa mendengarnya. Kata-kata itu — begitu sederhana, begitu jujur — namun menghapus semua ketakutan yang selama ini tersembunyi di sudut hatinya. Keraguan yang berasal dari kehidupan masa lalunya perlahan mulai luruh, digantikan oleh perasaan hangat yang baru tumbuh.
"Aku..." ia berbicara pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Aku hanya... kadang aku takut kau masih melihatnya. Bahwa di matamu... aku hanya pengganti."
Darma tersenyum tipis, senyum yang penuh kasih sayang dan sedikit kesedihan karena ketakutannya. Dengan sangat hati-hati, ia mengangkat tangannya perlahan — seakan menunggu izin — hingga punggung jarinya menyentuh pipi Kirana dengan lembut sekali. Sentuhannya hangat, lembut, dan penuh rasa hormat.
"Kau bukan pengganti, Kirana. Kau adalah Kirana. Satu-satunya. Dan di hatiku... tidak ada tempat untuk orang lain selain dirimu. Percayalah padaku."
Kirana menutup matanya sejenak di bawah sentuhan itu, napasnya terasa ringan kembali. Ia mengangguk perlahan, bibirnya tersenyum tulus — senyum yang malu-malu namun penuh kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
"Aku percaya..." bisiknya pelan. "Terima kasih, Darma."
Darma mengangguk pelan, tangannya tidak beranjak dari pipinya, namun juga tidak berlebihan — menjaga batas yang lembut di antara mereka. Cahaya matahari sore semakin miring, menyelimuti mereka berdua dalam keemasan yang hangat. Ikan-ikan di kolam itu kembali berenang tenang, seakan menghormati keheningan yang manis di antara dua orang yang akhirnya mulai menyadari isi hati masing-masing.
"Kau pasti lapar setelah berlatih selama tiga hari," ucap Darma pelan, menarik tangannya perlahan namun enggan berpisah. "Makan malam sudah siap. Ayah dan Ibu pasti akan segera pulang."
Kirana mengangguk, matanya masih menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya sebelum berbalik perlahan.
"Ya... mari kita masuk."
Langkah mereka beriringan menuju pintu kaca itu — berjalan berdampingan, jarak di antara mereka sedikit lebih dekat dari sebelumnya, dan hati yang tadinya penuh keraguan kini mulai tumbuh benih-benih perasaan yang baru, murni, dan tak terduga.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience