78. Kejatuhan Sang Pengkhianat

Romance Series 154

DARI BALIK TIRAI
Di balik tirai tebal di lantai atas, Kirana, Darma, Haris, Bima, dan Aran berdiri diam. Mereka tidak turun. Mereka tidak menampakkan diri. Mereka hanya menyaksikan segala sesuatu berlangsung di bawah sana, menyaksikan bagaimana kebenaran perlahan terungkap satu per satu.
Hanya Kesuma yang berdiri di sana, di tangga terakhir, menatap Dimas yang masih berlutut gemetar di lantai aula.
"Kau kira aku sudah mati?" suaranya terdengar lembut namun menembus hingga ke tulang sumsum. "Kau kira dengan mendorongku ke jurang gelap, kau bisa membuang semua dosamu begitu saja? Dan kau kira... dengan mengunci ingatanmu sendiri, kau bisa hidup tenang tanpa dihantui rasa bersalah?"
Dimas menggeleng kuat, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. Matanya melirik Juragas dengan pandangan memohon.
"Ayah... kau berjanji... kau berjanji tidak akan pernah membukanya..." suaranya pecah tak berdaya. "Mengapa kau ingkar janji? Mengapa dia kembali?"
Juragas menatapnya dengan mata basah namun tegas.
"Aku melakukannya karena aku masih berharap kau bisa berubah. Tapi kau malah mengambil segalanya. Dan sekarang... kebenaran harus berdiri tegak."
Serena berteriak histeris dari belakang Dimas, suaranya melengking memecah keheningan.
"Tidak mungkin! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami sudah hidup di sini puluhan tahun! Kalian tidak boleh mengusir kami begitu saja!"
Larasati berdiri di samping ibunya, matanya berkaca-kaca namun menatap tajam ke sekeliling.
"Siapa yang bisa membuktikan dia benar-benar Kesuma?! Siapa yang bisa membuktikan semua ini bukan rekayasa kalian?!"
Kesuma melangkah turun perlahan hingga berdiri di tengah aula. Ia membuka lengan bajunya, memperlihatkan tanda lahir berbentuk api berwarna merah keemasan di pergelangan tangan kirinya — tanda yang hanya dimiliki pewaris sah garis darah Ardika.
"Siapa pun yang lahir dari darah Ardika membawa tanda ini. Dimas tidak memilikinya. Dan semua yang kalian nikmati selama bertahun-tahun... itu adalah hakku. Dan hak waris yang seharusnya jatuh ke tangan Kirana."
Dari balik tirai, Kirana menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Darma meletakkan tangan di bahunya pelan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tidak ada yang turun. Tidak ada yang ikut campur. Biarlah Kesuma yang menyelesaikan apa yang telah dirampas darinya.
Serena terdiam seketika. Dimas menunduk dalam, tidak berani menatap siapa pun. Semua orang tahu — tidak ada yang bisa memalsukan tanda lahir warisan leluhur itu.
 
HUKUMAN YANG DIPUTUSKAN
Juragas melangkah maju, berdiri di samping Kesuma.
"Atas nama Dewan Tetua dan seluruh anggota Klan Ardika..." suaranya bergema. "Dengan ini, Dimas, Serena, dan Larasati dicoret dari silsilah keluarga. Segala hak, gelar, harta, dan kekuasaan yang pernah diberikan kepada kalian dicabut seketika. Kalian tidak lagi berhak menyandang nama Ardika."
"Aku tidak akan menjatuhkan hukuman mati padamu," lanjut Juragas dengan suara berat. "Karena aku pernah menganggapmu anakku. Tapi malam ini juga, kalian harus meninggalkan kediaman utama. Tidak boleh membawa apa pun selain pakaian yang kalian kenakan. Dan kalian tidak boleh lagi menginjakkan kaki di tanah leluhur Ardika selamanya."
Serena jatuh berlutut menangis, air matanya membasahi lantai marmer. Larasati menatap semua orang satu per satu dengan mata menyala penuh kebencian, namun tidak ada satu pun yang berani membelanya.
Dimas perlahan bangkit berdiri. Kakinya terasa lemas, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak. Ia menatap Kesuma sekali lagi — tatapan penuh rasa sakit, malu, namun juga dendam yang perlahan tumbuh menjadi api yang tak bisa dipadamkan.
"Kau menang kali ini..." bisiknya pelan, hanya terdengar di antara mereka berdua. "Tapi jangan berpikir ini berakhir begitu saja. Apa yang kau ambil dariku... akan kuambil kembali berkali-kali lipat."
Kesuma tidak bergerak sedikit pun.
"Pergilah. Sebelum aku mengubah keputusanku."
Dimas menarik tangan Serena dan Larasati yang masih menangis, lalu berjalan keluar dari aula besar itu. Pintu besar perlahan tertutup di belakang punggung mereka, memisahkan mereka dari dunia yang selama ini mereka anggap milik mereka sendiri.
Di lantai atas, Kirana perlahan menunduk.
"Mereka pergi..." bisiknya pelan. "Tapi aku rasa... ini belum berakhir."
Darma mengangguk pelan.
"Benar. Orang yang merasa dirugikan dengan cara yang salah... biasanya akan mencari jalan yang lebih gelap."

DI LUAR GERBANG
Pintu besar kediaman Ardika tertutup rapat di belakang mereka. Angin malam bertiup dingin, membawa rasa perih yang menusuk tulang. Dimas, Serena, dan Larasati berdiri di depan gerbang yang kini menjadi pemisah tegas antara mereka dan kehidupan yang selama ini mereka nikmati.
Namun tidak ada tangis yang meledak-ledak. Serena bahkan menyeka air matanya dengan napas lega.
"Akhirnya..." ucapnya pelan, seakan melepaskan beban berat dari dadanya. "Bantuan yang dijanjikan beberapa hari lalu... benar-benar datang tepat waktu. Kita tidak perlu khawatir soal uang, soal rumah, soal kemewahan. Semua keinginan kita... sudah terpenuhi."
Larasati mengangguk pelan, wajahnya kembali tenang.
"Benar. Selama kita punya dukungan itu... diusir dari sini tidak masalah. Hidup kita akan tetap mewah, sama seperti dulu. Itu yang dijanjikan, bukan?"
Dimas tidak tersenyum. Ia menatap gerbang tertutup itu dengan pandangan yang tajam dan gelap.
"Kalian hanya berpikir soal harta dan kenyamanan..." ucapnya pelan namun tegas. "Itu sudah kalian dapatkan. Tapi ada satu hal yang belum terpenuhi bagiku."
"Apa itu?" tanya Serena bingung.
Dimas mengepalkan tangannya erat hingga buku jarinya memutih.
"Nama. Aku ingin nama yang tidak akan pernah dilupakan siapa pun. Aku ingin menjadi orang yang paling dibicarakan, paling ditakuti, nama yang terukir abadi dalam sejarah. Bukan sekadar kaya... tapi menjadi legenda yang tak bisa dihapus oleh waktu."
 
DURGA DATANG
Saat itu juga, suara berat yang sudah mereka kenal terdengar dari balik bayangan pohon besar di samping jalan.
"Kau berbicara tentangku, Dimas?"
Dimas tidak terkejut sedikit pun. Ia hanya menoleh perlahan ke arah sumber suara.
"Aku tahu kau sudah menungguku, Durga." ucapnya tenang. "Kita sudah bersepakat beberapa hari yang lalu. Kau menawarkan bantuan saat aku mulai merasa cemas. Dan sekarang... aku datang menagih janji itu."
Dari kegelapan, sosok itu melangkah keluar. Wajahnya masih tertutup bayangan, namun sepasang mata merah menyala menatap mereka bertiga dengan tatapan yang seakan mengetahui setiap isi hati mereka.
"Aku tidak pernah ingkar janji. Keinginan Istrimu dan anakmu sudah terpenuhi. Mereka akan hidup nyaman dan berlimpah harta. Dan keinginanmu... nama yang abadi... akan terpenuhi jauh lebih besar dari yang kau bayangkan."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya menatap sosok itu dengan penuh harapan.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya.
"Ikutlah bersamaku. Saatnya kita melangkah ke tahap berikutnya."
Mereka bertiga mengikuti sosok itu masuk ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan kediaman Ardika yang kini tak lagi menjadi milik mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience