94. Kejatuhan Dan Pertemuan

Romance Series 154

Berita itu menyebar secepat kilat ke seluruh penjuru kota. Setelah Kesuma resmi mengambil alih kepemimpinan Klan Ardika, kebenaran akhirnya terungkap kepada semua orang: Dimas bukanlah pewaris sah klan. Ia adalah orang yang berusaha membunuh pewaris sejati demi merampas hak dan nama besar yang bukan miliknya.
Dimas berdiri di ruang kerjanya yang kini terasa sepi dan dingin. Telepon di atas meja berdering terus-menerus, namun ia tidak berani mengangkatnya lagi. Setiap panggilan adalah tuntutan, ancaman, atau ejekan. Perusahaan yang dulu berjalan lancar kini seketika runtuh. Mitra bisnis yang telah bekerja sama puluhan tahun tiba-tiba memutus hubungan dan menagih semua utang sekaligus. Pekerja menuntut gaji yang belum dibayar. Bank membekukan seluruh rekening dan aset mereka.
Di ruang tamu, Serena dan Larasati duduk diam di sofa yang dulu selalu terlihat mewah. Kini benda itu terasa seperti benda asing di rumah yang perlahan kosong.
"Bagaimana bisa begini..." gumam Serena berulang kali, tangannya meremas ujung gaun mahal yang kini terlihat tidak pada tempatnya. "Kita baru saja menerima uang dari pernikahan itu... bagaimana bisa semuanya hilang begitu saja?"
"Itu semua karena kau!" bentak Larasati tiba-tiba, air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Kau dan Ayah yang memaksa aku mengejar Darma! Kalian yang membenci Kirana! Sekarang lihatlah keadaan kita!"
"Jangan saling menyalahkan!" Dimas masuk ke ruangan dengan wajah pucat dan lelah. "Kita semua sama-sama salah. Tapi sekarang bukan waktunya bertengkar. Kita harus mencari jalan keluar."
Namun jalan keluar itu tidak ada. Keesokan harinya, mereka mendengar ketukan keras di pintu. Saat dibuka, berdiri di sana Bagas Surya bersama putrinya, Susanti. Wajah mereka penuh senyum kemenangan yang menyakitkan.
"Maaf mengganggu." ucap Bagas dengan nada yang penuh sindiran. "Kami hanya ingin melihat bagaimana keadaan teman lama kami. Ternyata benar, pohon yang tumbuh tidak pada tempatnya memang akan cepat tumbang."
Susanti tertawa pelan sambil menatap pakaian Serena dan Larasati yang mulai terlihat kusam.
"Katanya dulu kalian akan menjadi keluarga paling terhormat? Katanya Kirana hanya anak yatim piatu yang tidak berguna? Sekarang lihatlah... dia berdiri di puncak, sementara kalian tergeletak di tanah."
Serena gemetar menahan amarah dan rasa malu. Ia ingin membantah, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Bagas dan Susanti tertawa lebar sebelum pergi meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyakitkan.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi mereka. Uang habis, aset disita, dan tidak ada satu pun orang yang berani menolong. Mereka masih mencoba mempertahankan sedikit kebanggaan yang tersisa — menolak memakai pakaian sederhana, berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Namun perut yang lapar dan atap rumah yang hampir tidak menahan hujan perlahan menghancurkan harga diri itu.
Satu malam, saat mereka duduk di ruang makan yang gelap tanpa sepotong roti pun di meja, Dimas tiba-tiba teringat sesuatu. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Ada satu hal yang aku lupakan..." suaranya bergetar. "Perjanjian itu... janji yang kita buat dengan Durga."
Serena dan Larasati saling pandang dengan mata terbelalak. Rasa takut yang jauh lebih besar dari rasa lapar langsung menyelimuti hati mereka.
"Kita... kita belum menepati janji kepadanya..." bisik Serena.
"Dan dia pasti akan datang menagihnya." lanjut Dimas dengan suara berat. "Kita tidak boleh menunggu di sini lagi. Kita harus pergi."
Malam itu juga, mereka melarikan diri tanpa membawa apa pun selain pakaian yang menempel di tubuh. Mereka meninggalkan rumah yang dulu penuh kemewahan, menyusuri jalan sepi menuju ke dalam hutan yang gelap dan tidak berujung. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Bahkan mereka sendiri tidak tahu ke mana kaki akan membawa mereka.
 
Sementara itu, di Pradana Mansion, Sariya sudah tertidur pulas dengan napas yang tenang. Kirana menatap ibunya sejenak, lalu berjalan perlahan menuju balkon yang luas di lantai atas. Udara malam yang sejuk menyapu wajahnya, membuatnya merasa segar kembali.
Ia berdiri diam menatap langit yang penuh bintang. Di dalam hatinya, ada rasa rindu yang begitu kuat hingga terasa menyakitkan. Rindu kepada sosok yang belum pernah ia temui secara langsung, namun kehadirannya selalu ia rasakan.
"Ayah..." bisiknya pelan pada angin malam.
Seketika itu juga, cahaya keemasan yang lembut dan hangat muncul di hadapannya. Cahaya itu perlahan membentuk sosok seorang pria yang gagah dan berwibawa, dengan mata yang menyala lembut seperti matahari terbit. Ia berdiri di udara, seakan tidak memiliki berat badan sama sekali.
Itu adalah Wira.
Kirana menatapnya dengan mata terbelalak, air mata tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak ragu sedetik pun. Di dalam hatinya, ia tahu siapa sosok di hadapannya ini.
"Ayah..." suaranya pecah.
Wira tersenyum lembut, matanya penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.
"Anakku..." suaranya terdengar lembut namun jelas, seakan bergetar di seluruh udara. "Kau sudah tumbuh menjadi wanita yang sangat hebat."
Kirana melangkah maju, tangannya terulur seakan ingin menyentuh sosok itu. Namun tangannya hanya menyentuh cahaya hangat yang lembut.
"Ayah... di mana saja Ayah selama ini? Mengapa Ayah tidak pernah datang menemuiku?"
Wira menatapnya dengan tatapan yang penuh kasih namun juga penuh kesedihan.
"Ayah selalu ada di sini." Ia menunjuk dada kirana dengan senyum lembut. "Ayah selalu menjagamu dari jauh. Namun saat ini belum tiba waktunya bagi kita untuk bersatu sepenuhnya."
"Kenapa?" tanya Kirana dengan mata berkaca-kaca. "Apakah karena aku belum cukup kuat?"
Wira mengangguk pelan.
"Kau sudah sangat kuat, lebih kuat dari yang Ayah duga. Namun kekuatanmu belum sepenuhnya terbangun. Masih banyak hal yang belum kau ketahui tentang dirimu, tentang darahmu, dan tentang musuhmu."
Ia melangkah mendekat, meski jarak di antara mereka tidak berkurang banyak.
"Durga belum mati. Dia hanya terluka dan bersembunyi. Dia tahu sekarang seberapa besar kekuatanmu. Dan dia akan kembali dengan rencana yang jauh lebih kejam."
"Aku tidak takut padanya." ucap Kirana tegas, menyeka air matanya. "Aku akan melawannya lagi."
"Keberanianmu luar biasa." Wira tersenyum bangga. "Tapi ingatlah satu hal. Kekuatan Phoenix bukan hanya untuk menghancurkan musuh. Ia juga untuk melindungi orang yang kau cintai. Jangan biarkan amarah menguasai hatimu. Tetaplah menjadi dirimu yang tulus."
Kirana mengangguk, menatap ayahnya lekat-lekat seakan takut jika ia berkedip, sosok itu akan hilang.
"Ayah... apakah Ibu akan baik-baik saja? Apakah kita akan berkumpul kembali suatu hari nanti?"
Wira menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh janji.
"Ibumu akan baik-baik saja. Dan ya... suatu hari nanti, kita akan berkumpul kembali sebagai satu keluarga yang utuh. Namun sampai saat itu tiba... kau harus terus berjuang. Kau harus terus tumbuh."
Cahaya di sekitar tubuh Wira perlahan mulai memudar.
"Ayah harus pergi sekarang. Ingatlah... Ayah selalu bersamamu. Di dalam hatimu, di dalam darahmu, dan di dalam setiap nyala api yang menyala di dadamu."
"Ayah! Jangan pergi!" teriak Kirana pelan, tangan terulur namun tidak bisa menggapai apa pun.
Sosok Wira perlahan menyatu dengan cahaya bulan dan bintang, hingga akhirnya lenyap sepenuhnya. Hanya tersisa kehangatan yang lembut yang masih terasa menyelimuti tubuh Kirana.
Kirana berdiri diam di balkon itu lama sekali. Matanya menatap langit, namun hatinya kini terasa lebih tenang dan lebih kuat dari sebelumnya. Ia tidak sendirian. Ia tidak pernah sendirian.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience