100. Kembali Dari Dunia Yang Tenang

Romance Series 154

Di dalam ruang dimensi itu, Kirana tiba-tiba merasa ada sesuatu yang berubah. Cahaya keemasan yang biasanya lembut dan tenang perlahan berdenyut lebih terang, seakan memberi tanda bahwa waktu untuk kembali telah tiba. Angin yang berhembus lembut tiba-tiba membawa getaran halus yang terasa akrab — getaran dari dunia luar, tempat mereka berasal.
Kirana menoleh ke arah ibunya, matanya sedikit sayu namun siap.
"Ibu... sepertinya mereka sudah menunggu kita."
Sariya mengangguk pelan, menatap sekeliling tempat indah itu dengan pandangan yang penuh kenangan namun juga tenang.
"Ya, sayang. Waktunya kita kembali. Namun ingatlah... apa pun yang terjadi di luar sana, ketenangan yang kita miliki di sini tetap ada di dalam hatimu."
Kirana menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan ibunya erat. Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada satu tujuan — kamar di Pradana Mansion. Cahaya keemasan perlahan menyelimuti tubuh mereka berdua, membungkusnya seperti selimut hangat. Dalam sekejap, pemandangan indah itu lenyap, berganti menjadi suasana kamar yang tenang dan akrab.
Mereka kembali berdiri di dalam kamar Kirana. Namun udara di sini terasa berbeda dari biasanya — lebih berat, lebih hangat, dan samar-samar terasa penuh dengan perasaan gelisah yang tersisa.
Kirana segera menyadari sesuatu.
"Ibu... ada banyak orang di luar. Mereka tampak sangat cemas."
Sariya mengangguk pelan, wajahnya serius namun tenang.
"Aku bisa merasakannya. Mereka menyayangimu, Kirana. Kekhawatiran mereka adalah tanda betapa berartinya kamu bagi mereka."
Mereka berjalan perlahan menuju pintu kamar dan membukanya. Di lorong dan ruang tengah di bawah, terlihat Darma, Haris, Arga, Bima, Aran, dan Kesuma sedang berkumpul. Mereka tampak sedang berbicara dengan serius, wajah penuh kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang. Saat pintu kamar terbuka dan kedua wanita itu muncul, semua orang langsung terdiam serentak dan menatap mereka dengan mata terbelalak.
Darma adalah orang pertama yang bergerak. Ia melangkah cepat mendekat, wajahnya penuh kelegaan yang bercampur dengan kekhawatiran yang belum hilang.
"Ke mana saja kalian?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Kami... kami hampir saja mencari ke seluruh penjuru kerajaan. Kami mengira kalian diculik, atau ada sesuatu yang menimpa kalian."
Kirana menunduk sedikit, wajahnya memerah karena malu. Ia menyadari betapa cemasnya mereka.
"Maafkan kami... kami tidak bermaksud membuat kalian khawatir. Kami pergi ke ruang dimensiku untuk berlatih dan beristirahat bersama Ibu. Kami... kami lupa memberi tahu kalian sebelumnya."
Ia menatap mereka satu per satu dengan mata yang tulus dan sedikit berkaca-kaca.
"Di dalam sana, waktu berjalan berbeda. Kami merasa hanya berlalu beberapa hari yang tenang, tapi ternyata di dunia ini... waktu berjalan lebih cepat. Kami tidak menyadari bahwa kalian akan khawatir sebegini rupa."
Haris tersenyum lembut, melangkah maju dan menepuk bahu Kirana dengan penuh kasih sayang.
"Kau tidak perlu meminta maaf, Nak. Yang terpenting adalah kalian kembali dengan selamat. Itu sudah cukup bagi kami."
Bima tersenyum lebar sambil menepuk pundak Arga di sebelahnya.
"Kami sebenarnya sudah menduga setelah Kesuma mengingatkan kami. Hanya saja... kami terlalu cemas sampai lupa hal yang paling jelas."
Aran tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
"Bayangkan saja... kami hampir saja mengerahkan seluruh pasukan pengintai Klan Bayu untuk mencari jejak mereka. Ternyata mereka hanya sedang menikmati waktu tenang di tempat yang paling aman."
Arga tersenyum tipis, rasa cemas yang tadi menyelimuti wajahnya perlahan hilang berganti dengan kelegaan.
"Syukurlah kalian aman. Itu yang paling penting."
Kesuma berdiri di belakang mereka, tersenyum tenang menatap Kirana.
"Kami hanya khawatir karena tidak tahu keberadaan kalian. Tapi sekarang setelah kalian kembali... semuanya sudah baik-baik saja."
Kirana menatap mereka semua dengan perasaan hangat yang menyebar di dadanya. Ia merasa begitu disayang dan dilindungi oleh orang-orang di hadapannya.
"Terima kasih..." ucapnya pelan namun tulus, air mata bahagia mulai menetes di pipinya. "Terima kasih karena selalu memikirkan keselamatan kami. Dan terima kasih karena membiarkan kami menghabiskan waktu yang berharga bersama."
Sariya memegang tangan putrinya erat, lalu melangkah maju dan menatap semua orang dengan senyum tulus dan penuh hormat.
"Terima kasih telah menjaga putriku selama aku tidak ada. Terima kasih telah memberikan kami waktu untuk berdua. Kalian tidak perlu khawatir tentang kami. Kami kembali lebih kuat dan lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang."
Darma menatap Kirana dengan pandangan lembut yang tak tersembunyikan, matanya seakan menyampaikan ribuan kata yang tidak perlu diucapkan.
"Selama kau aman dan bahagia... itu sudah cukup bagiku."
Suasana di ruangan itu perlahan berubah menjadi hangat dan penuh sukacita. Kekhawatiran yang tadi ada kini lenyap sepenuhnya, berganti dengan rasa syukur dan kebahagiaan yang tulus. Mereka menyadari satu hal: Kirana tidak lagi sendirian. Ia memiliki ibunya kembali, dan kini ia juga memiliki mereka semua — orang-orang yang akan selalu berdiri di sisinya, melindunginya, dan menyayanginya sepenuh hati.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience