74. Kehadiran Kesuma Dan Rahsia Yang Tersembunyi

Romance Series 154

BENANG YANG HILANG DI BALIK CAHAYA
Kesuma berlari tanpa menoleh ke belakang. Hembusan napasnya memburu, keringat membasahi wajah yang penuh garis waktu dan lelah. Di punggungnya, benang merah tak kasat mata yang ditinggalkan bayangan itu perlahan memanjang, terus terhubung ke arah hutan tua.
Namun saat ia melangkah melewati batas tak terlihat yang melingkari kediaman Pradana — tempat yang dilindungi sihir kuno Aran Aruna — benang itu tiba-tiba menyala terang merah, lalu lenyap seketika bagai terbakar habis oleh cahaya keperakan.
Di dalam aula, Aran yang sedang berdiri diam tiba-tiba membuka mata. Matanya menyapu ke arah gerbang utama, seakan bisa melihat apa yang baru saja terjadi.
"Ada bahaya yang mencoba mengikuti seseorang ke sini..." batinnya. "Namun perlindungan ini sudah menyaringnya. Biarkan saja. Saatnya kebenaran mulai terungkap."
Ia tetap diam, tidak memberi tahu siapa pun. Hanya menunggu.
 
ORANG ASING DI DEPAN PINTU
Matahari mulai terbenam saat pengawal Pradana datang melapor dengan wajah bingung.
"Tuan Haris... ada seorang pria asing di depan gerbang. Dia berpakaian lusuh, penuh lumut dan debu. Dia bilang... dikirim oleh Tuan Arga."
Semua yang ada di ruang tamu — Haris, Darma, Kirana, Bima, dan Aran — saling pandang.
"Bawalah dia masuk." perintah Haris segera.
Tak lama kemudian, pria itu melangkah masuk. Tubuhnya tegap namun terlihat lelah luar biasa. Wajahnya tampan namun penuh garis keras, rambutnya sebagian sudah memutih, dan matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Ia menatap mereka satu per satu dengan pandangan yang penuh kewaspadaan namun juga harapan.
"Siapa kau?" tanya Haris lembut namun tegas.
Pria itu menarik napas panjang, lalu berlutut sedikit di hadapan mereka.
"Namaku Kesuma Ardika. Arga Bayu menyuruhku ke sini. Dia... dia tertinggal di hutan. Kami diserang oleh makhluk bayangan." suaranya berat dan serak. "Arga menyebut pemimpin mereka... Durga."
Nama itu jatuh ke lantai bagai batu berat.
Kirana menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tak percaya. Darma mengepal erat tangannya. Haris terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
"Durga..." bisiknya pelan. "Jadi dia benar-benar ada."
"Arga menyuruhku datang lebih dulu untuk memberi peringatan." lanjut Kesuma. "Dia berkata... jika aku selamat, aku harus menemui kalian. Bahwa aku adalah satu-satunya yang bisa menjelaskan masa lalu yang dikubur oleh Dimas."
Haris mengangguk perlahan.
"Kau lelah. Minumlah dulu. Istirahatlah. Kita tidak akan memaksamu bicara saat ini." Ia memberi isyarat pada pelayan. "Bawakan teh hangat dan makanan. Dan... kirim utusan ke kediaman Klan Utama Ardika. Panggil Waganda Ardika dan Juragas Ardika ke sini. Segera."
 
PERTEMUAN YANG MEMBUKA LUKA
Dua jam kemudian, dua orang tua berjalan masuk ke aula. Waganda berjalan tegak dengan wajah serius, sementara Juragas tampak bingung dan sedikit gugup.
"Haris Pradana... kau memanggil kami dengan tergesa-gesa?" tanya Waganda.

Namun kalimatnya terhenti di tengah jalan saat matanya jatuh pada pria yang duduk di kursi tamu.
Wajah Waganda seketika berubah pucat. Tangannya gemetar hebat hingga tongkat kayu di genggamannya hampir terjatuh.
"Kesuma..." bisiknya pelan, tak percaya. "Apakah itu benar-benar kau?"
Kesuma berdiri perlahan, menatap lelaki tua itu dengan mata berkaca-kaca.
"Paman Waganda... sudah lama sekali."
Juragas yang berdiri di sampingnya terbelalak. Ia melangkah mundur selangkah, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Tidak mungkin... kau sudah mati! Dimas bilang kau jatuh dari tebing dan hilang!" seru Juragas dengan suara gemetar.
Kesuma menatapnya tajam, namun tak ada kebencian di matanya — hanya kesedihan yang mendalam.
"Aku tidak mati. Aku hanya dikurung. Dimas yang menyuruh orang-orangnya menyerangku. Dia yang membiarkanku terjatuh... namun aku selamat. Hanya saja... aku tidak bisa kembali."
 
KENAPA DIA TIDAK PERNAH DITEMUKAN
Kesuma kembali duduk, dan mulai menceritakan semuanya dengan suara perlahan namun jelas.
"Dulu... aku adalah pewaris sah Klan Ardika. Aku adalah anak kandung Juragas. Semua orang tahu itu. Namun Dimas... dia bukan darah daging keluarga kita. Dia hanya anak yang diangkat dari keluarga jauh. Namun dia memiliki ambisi yang tak terkendali."
Ia menelan ludah, lalu melanjutkan.
"Dimas tahu perjanjian leluhur — bahwa Klan Ardika harus menjaga garis keturunan Phoenix. Dia tahu bahwa jika dia menjadi pemimpin, dia bisa menguasai segala sesuatu yang menjadi hak Phoenix. Maka dia merencanakan segalanya."
"Saat itu... aku baru saja berusia dua puluh tahun. Dimas mengajakku pergi ke perbatasan hutan untuk memeriksa tanah leluhur. Di sana... dia dan pengikutnya menyerangku. Aku terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Namun tidak sampai mati. Aku terperangkap di dalam gua tersembunyi yang dikelilingi sihir kuno — sihir yang membuat siapa pun yang mencari tidak bisa melihatnya."
Waganda menatap Juragas dengan mata berkaca-kaca.
"Kau mendengar itu, Juragas?! Kau percaya pada Dimas dan mengusir anakmu sendiri! Kau menuduhnya hilang tanpa jejak padahal dia dikurung!"
Juragas terdiam, air mata mulai menetes di pipinya yang keriput.
"Aku... aku percaya pada Dimas karena dia menunjukkan bukti palsu..." suaranya pecah. "Dia bilang dia melihatmu jatuh ke sungai deras... dan tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."
Kesuma tersenyum tipis, namun senyumnya penuh kepahitan.
"Aku tidak pernah bisa keluar dari tempat itu. Setiap kali aku mencoba, aku merasa tubuhku terasa berat bagai dipenjara. Seolah ada kekuatan yang mengikatku di sana. Hingga beberapa hari lalu... perlindungan itu melemah sedikit. Aku bisa berjalan keluar. Dan saat itulah... Arga menemukanku."
Ia menatap Kirana yang duduk diam mendengarkan dengan mata basah.
"Aku tahu siapa kau, gadis kecil. Kau adalah anak Sariya. Dan kau... adalah alasan mengapa Dimas melakukan semua kejahatan ini. Dia ingin mengambil kekuatan yang seharusnya melindungimu."
 
KEBENARAN YANG HARUS DIHADAPI
Suasana di ruangan itu hening sejenak. Hanya suara napas berat yang terdengar.
Waganda menatap Juragas dengan pandangan penuh kecewa namun juga sedih.
"Kita telah salah selama bertahun-tahun. Kita membiarkan Dimas memegang kendali... padahal dia adalah pengkhianat yang sesungguhnya."
Juragas menunduk dalam, tubuhnya gemetar menahan tangis.
"Aku minta maaf... Kesuma... anakku..." suaranya tak terdengar jelas. "Aku telah salah menilai. Aku telah mempercayai ular yang menyamar sebagai saudara."
Kesuma berdiri dan mendekati ayahnya perlahan. Ia meletakkan tangan di bahu pria tua itu.
"Sudah berlalu, Ayah. Yang penting sekarang... kita tahu kebenarannya. Dan kita tahu siapa musuh yang sebenarnya."
Kirana menatap Kesuma dengan mata penuh harapan.
"Paman Kesuma..." suaranya pelan. "Apakah kau tahu... di mana Ibu Sariya?"
Kesuma menatapnya dengan pandangan lembut namun sedih.
"Aku tidak tahu pasti, Kirana. Namun aku tahu satu hal... Dimas bekerja sama dengan kekuatan gelap. Dan kekuatan itu... sedang mencari Ibumu. Dan juga sedang mencari kau."
Haris berdiri tegak, wajahnya serius dan tegas.
"Mulai hari ini... Kesuma Ardika berada di bawah perlindungan Klan Pradana. Dan Juragas... Waganda... kalian sudah tahu kebenarannya. Sekarang... apa yang akan kalian lakukan terhadap Dimas?"
Waganda menatap mereka semua dengan mata yang berapi-api.
"Kita akan memanggil seluruh dewan tetua. Kita akan mencabut segala hak yang pernah diberikan kepada Dimas. Dan kita akan mengembalikan Kesuma... sebagai pemimpin sah Klan Ardika."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience