Series
154
TERBANGUN DARI KEGELAPAN
Rasa sakit yang menjalar dari bahu hingga perut adalah hal pertama yang disadari Arga saat kesadarannya perlahan kembali.
Ia mencoba menggerakkan tangan, namun terasa berat dan kaku. Rantai besi dingin melilit pergelangan tangan dan kakinya, menahan tubuhnya agar tidak bisa bergerak jauh. Kepalanya terasa berat, seakan dipukul benda tumpul berkali-kali.
Arga membuka mata perlahan. Yang ia lihat hanyalah kegelapan pekat, di mana cahaya nyaris tak bisa menembusnya. Hanya ada seberkas cahaya merah redup yang menyinari ruangan batu yang lembap dan berbau tanah basah.
Ia mencoba berdiri, namun rasa nyeri di dada membuatnya tersedak. Darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Di mana aku?" batinnya. "Apakah ini akhir perjalananku?"
Ia menatap sekeliling. Ruangan itu berbentuk bulat, dindingnya batu kasar yang penuh corak kuno berwarna hitam pekat. Di tengah ruangan, berdiri sebuah altar batu yang memancarkan hawa dingin yang tak wajar. Dan di hadapan altar itu... ada sesosok wanita yang berdiri membelakanginya.
Â
SOSOK YANG TAK ASING
Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna kelabu gelap yang kusam dan penuh debu. Rambut hitamnya terurai panjang, sebagian menutupi wajahnya. Namun dari punggungnya, dari caranya berdiri... Arga merasa seakan hatinya tertusuk jarum tajam.
Ia mengenali sosok itu. Ia mengenali aura itu.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya serak dan berat.
Wanita itu perlahan berbalik.
Saat wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya merah redup... napas Arga tertahan seketika. Matanya membelalak tak percaya.
"Sariya..." bisiknya pelan, seakan takut suaranya akan memecah keheningan. "Ibu Kirana..."
Wanita itu — Sariya — menatapnya dengan mata yang indah namun penuh kesedihan yang tak terlukiskan. Matanya yang dulu bersinar hangat kini tampak lelah, namun masih menyimpan kelembutan yang tak bisa hilang.
"Kau... mengenaliku?" tanyanya pelan, suaranya terdengar lemah namun tetap jernih.
"Siapa yang tidak mengenal nama Sariya, pewaris garis keturunan Lembayung?" Arga mencoba duduk lebih tegak meski rantai menarik tubuhnya ke bawah. "Namun... bagaimana mungkin kau ada di sini? Semua orang mengira kau sudah tiada."
Sariya tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. Ia melangkah mendekat, namun berhenti pada jarak tertentu.
"Aku memang sudah lama terperangkap di sini. Di tempat yang tak terjangkau oleh siapa pun. Di tempat di mana cahaya tak pernah bisa sepenuhnya masuk."
Â
KENANGAN YANG TAK PERNAH LUPA
Arga menatapnya lekat-lekat. Di dalam hatinya, perasaan bercampur aduk — rasa hormat, rasa bersalah, dan rasa takut yang tak ia pahami.
"Aku... aku pernah melihatmu sekali." ucapnya tiba-tiba. "Dulu, saat aku masih kecil. Di kediaman leluhur Klan Bayu."
Sariya mengerutkan kening sedikit.
"Kau?"
"Aku ingat dengan jelas." Arga menatap lurus ke matanya. "Saat itu aku baru berusia sepuluh tahun. Aku sedang bersembunyi di balik tiang besar aula utama. Aku melihatmu datang bersama seorang pria... pria yang kemudian diketahui sebagai suamimu, ayah Kirana dari garis keturunan Wirabuana. Kau tersenyum ramah pada semua orang. Kau terlihat begitu bahagia."
Sariya menunduk perlahan, air mata menetes di pipinya yang pucat.
"Itu adalah masa-masa paling indah dalam hidupku." suaranya bergetar. "Saat itu aku belum tahu... bahwa takdirku telah ditentukan sejak lama. Bahwa kebahagiaanku hanya akan bertahan sesaat."
"Kau tahu sejak awal?" tanya Arga terkejut.
"Aku tahu." Sariya mengangkat wajahnya kembali menatapnya. "Aku tahu perjanjian leluhur. Bahwa darah Lembayung dan darah Wirabuana bersatu untuk menjaga api Phoenix. Aku tahu bahwa darahku akan menjadi sasaran bagi mereka yang haus kekuatan. Aku tahu... bahwa suatu hari nanti aku akan dikurung di tempat gelap seperti ini."
Ia menghela napas panjang, seakan membuang segala beban yang menumpuk selama bertahun-tahun.
"Namun aku tidak menyesal. Karena dari pernikahan itu... lahir Kirana. Cahaya terakhir yang tersisa."
Â
APA YANG TERJADI
Arga menatapnya dengan penuh tanya.
"Siapa yang melakukan ini padamu? Dan... kenapa kau tidak bisa keluar dari sini?"
Sariya menunjuk ke arah rantai di dinding, dan juga ke arah rantai yang melilit tubuh Arga.
"Kekuatan yang mengikatku bukan sekadar besi biasa. Itu adalah sihir kuno yang dibuat khusus untuk menahan darah Phoenix. Semakin kuat kekuatan yang ada di dalam diriku... semakin erat pula ikatan ini."
Ia menatap Arga dalam-dalam.
"Dan orang yang menahan kita di sini... adalah Durga."
Nama itu membuat Arga mengepal erat tangannya hingga buku jarinya memutih.
"Dia..." geramnya pelan. "Aku sudah mendengar nama itu. Dan sekarang... aku paham segalanya."
"Durga tidak hanya menginginkanku." Sariya melanjutkan dengan suara serius. "Dia menginginkan keturunan Phoenix. Dia menginginkan Kirana. Darah Phoenix adalah kunci yang dia cari untuk membuka gerbang dunia yang tidak boleh dibuka."
Arga terkejut.
"Lalu... kenapa kau tidak pernah memberitahu siapa pun di mana kau berada?"
Sariya tersenyum sedih.
"Karena selama aku di sini... dia tidak akan berani melakukan apa pun pada Kirana. Selama dia belum mendapatkan keduanya... dia akan menunggu. Dan aku berharap... Kirana tumbuh dengan selamat, tanpa mengetahui betapa kejamnya dunia ini."
Â
PERASAAN YANG TERSEMBUNYI
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak. Arga menatap wanita di hadapannya. Wanita yang rela mengorbankan kebebasannya demi keselamatan putrinya.
Tiba-tiba Sariya melangkah lebih dekat, matanya menatap Arga dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan.
"Arga..." panggilnya pelan. "Kau tahu... kenapa aku merasa tenang saat melihatmu?"
Arga terdiam.
"Karena sejak dulu... leluhurku selalu berkata bahwa Klan Bayu adalah mata-mata terpercaya bagi garis keturunan Phoenix. Bahwa di saat paling gelap... akan ada seseorang dari Klan Bayu yang berdiri di sisi Phoenix."
Ia menatapnya lekat-lekat.
"Dan sekarang... kau ada di sini. Bukan sebagai musuh. Tapi sebagai pelindung."
Hati Arga bergetar hebat. Ia merasa ada sesuatu yang terhubung di antara mereka — sesuatu yang lebih dari sekadar tugas atau perjanjian. Ia merasa seakan ia sudah ditakdirkan untuk bertemu wanita ini di tempat gelap ini.
"Aku berjanji..." ucap Arga dengan suara tegas dan penuh keyakinan, meski tubuhnya terikat. "Aku akan membawa kau keluar dari sini. Dan aku akan memastikan... Kirana tidak akan pernah jatuh ke tangan Durga."
Sariya tersenyum tulus, senyum yang menerangi wajahnya yang pucat.
"Aku percaya padamu, Arga Bayu. Dan tolong... sampaikan pesanku pada Kirana."
"Pesan apa?"
"Beri tahu dia... bahwa ibunya selalu mencintainya. Bahwa ibunya selalu menunggunya. Dan beri tahu dia... bahwa dia jauh lebih kuat dari yang dia kira."
Â
DURGA MENYAKSIKAN
Di balik bayangan di sudut ruangan yang paling gelap... Durga berdiri diam. Matanya menyala merah terang, menyaksikan setiap kata yang terucap.
Ia tersenyum lebar, senyum yang penuh kelicikan dan kepuasan.
"Luar biasa... Ikatan yang terjalin begitu kuat. Rasa hormat, rasa percaya... dan sesuatu yang lebih dari itu. Ini akan menjadi senjata yang sangat indah."
Durga melangkah mundur perlahan, menghilang kembali ke dalam kegelapan.
"Nikmati pertemuan ini, Arga Bayu. Karena ini mungkin pertemuan terakhir kalinya. Dan saat kau kembali... kau akan membawa kembali apa yang kuinginkan."
Share this novel