24. Pesan Yang Dilupakan Dunia

Romance Series 154

Kirana tidak berhenti. Setiap kali rasa lelah mulai menyelinap ke tubuhnya di dunia luar, setiap kali perutnya melilit lapar — ia menutup mata, menyentuh anting, dan kembali.
Di ruang perak yang tak berujung itu, tidak ada rasa sakit. Tidak ada rasa lapar. Tidak ada rasa dingin. Hanya cahaya yang lembut memeluknya, dan waktu yang berjalan begitu lambat seakan berhenti menunggunya.
Dia berlatih berulang kali.
Panas di dada → naik ke lengan → meluncur ke jari → mewujud menjadi nyala.
Setiap kali semakin lancar. Setiap kali semakin cepat. Setiap kali — semakin tidak membutuhkan pikiran. Tubuhnya sudah tahu. Darahnya sudah ingat.
Hari berganti malam, malam berganti fajar. Di luar, di dunia Ardika — hanya dua hari yang berlalu. Di dalam sini, dia sudah berlatih berbulan-bulan dalam waktu yang terasa.
Dan di setiap detik yang ia habiskan di sana, satu hal semakin jelas tertanam di hatinya:
Aku tidak akan lagi memohon. Aku tidak akan lagi menunggu belas kasihan. Aku punya waktu. Aku punya api. Dan itu lebih dari cukup untuk membakar neraka yang mereka bangun di atapku.
****************** 
KLAN BAYU: ANGIN YANG TERKEJUT
Matahari belum sepenuhnya terbit. Kabut tipis masih menyelimuti halaman kediaman Klan Bayu — bangunan rendah panjang, berwarna gelap, menyatu dengan bayangan hutan di belakangnya. Tidak ada lampu yang menyala berlebihan. Tidak ada penjaga yang berdiri tegak. Mereka adalah bayangan. Dan bayangan selalu tahu ketika ada sesuatu yang melintasi batas mereka.
Arga Bayu berdiri di ruang peta, jendela terbuka lebar, angin pagi menerpa wajahnya. Tangan masih memegang laporan — Kirana dikunci, tidak diberi makan. Urat di rahangnya masih menegang sejak kemarin.
Langkah terdengar — atau lebih tepatnya, tidak terdengar.
Pintu tidak diketuk. Pintu tidak didorong. Sosok itu hanya — ada. Di ambang pintu, seakan telah berdiri di sana sejak kabut pertama turun ke bumi.
Arga berbalik cepat. Tangan menyentuh gagang pedang di pinggang — lalu berhenti. Matanya melebar. Napasnya tertahan.
Pria itu berdiri tenang. Jubah biru malam yang menyerap cahaya, rambut hitam panjang berkilau perak, wajah awet muda namun matanya — cokelat keemasan, kuno, tak terukur. Aran Aruna.
Arga perlahan melepaskan gagang pedang. Suaranya serak, rendah, seakan kata-kata itu berat diucapkan.
"Mustahil... Kau tidak pernah meninggalkan menaramu."
Aran tersenyum tipis — senyum yang tidak menyentuh matanya, senyum yang telah ia berikan pada ribuan generasi sebelum mereka. Ia melangkah masuk, tidak bersuara, tidak meninggalkan jejak di lantai batu. Matanya menatap Arga lurus, menembus ke dalam — seakan melihat leluhur Arga berdiri di belakangnya.
"Lama tidak bertemu, keturunan Klan Bayu."
Arga menelan ludah. Dadanya terasa sesak.
"Kau... Kau mengenali kami?"
"Aku mengenali nama yang ditulis di darahmu sebelum kau lahir." Aran berhenti tepat di hadapannya. Tinggi sedikit di atasnya. Matanya berkilau tajam namun lembut. "Dan aku datang untuk mengingatkan — sumpah yang dilupakan ayahmu, yang dilupakan kakekmu, yang hampir dilupakan olehmu."
Arga menegang. "Sumpah apa?"
Aran mundur selangkah, menatap ke luar jendela, ke arah timur — ke arah kediaman Ardika yang jauh di balik kabut.
"Yang Terpilih Terakhir telah bangkit. Phoenix telah kembali dari abu."
Suaranya tenang, namun setiap kata bergetar di udara, membuat kaca jendela bergetar pelan. Arga mundur selangkah, wajah pucat.
"Itu... itu hanyalah dongeng pengantar tidur."
Aran menatapnya kembali — tatapan yang tidak bisa dibohongi, tidak bisa ditolak.
"Kau meragukan nubuat yang ditulis leluhurmu sendiri? Kau meragukan alasan mengapa Klan Bayu berdiri selama ratusan tahun?" Ia melangkah selangkah mendekat, suaranya menurun, namun semakin berat. "Dia bangkit. Dia hidup di bawah atap yang memperlakukannya seperti sampah. Dia sendirian. Dan tugasmu — tugas Klan Bayu — adalah melindunginya. Bukan karena perintah. Karena darahmu bersumpah demikian sebelum kau lahir."
Arga mengepal tangan begitu kuat hingga buku jarinya memutih. Matanya menyala — amarah dan kebanggaan bercampur menjadi satu.
"Siapa dia?"
"Kirana Ardika."
Arga ternganga. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara keluar.
"Gadis... gadis yang dijual Ardika ke Pradana?"
"Gadis yang kalian semua remehkan. Gadis yang kalian semua abaikan. Dia adalah api yang akan membakar dunia ini menjadi lebih baik — atau membiarkannya menjadi abu selamanya. Pilihan itu sebagian berada di tanganmu, Arga Bayu. Pilih dengan bijak."
Aran berbalik hendak pergi.
"Tunggu!" Arga melangkah maju. "Mengapa kau memberitahu ini padaku? Mengapa sekarang?"
Aran berhenti. Tanpa menoleh, suaranya lembut namun menggetarkan tulang.
"Karena waktu tidak lagi berjalan menurut keinginan manusia. Ia berjalan menurut cahaya yang telah kembali. Jangan terlambat, keturunan Bayu. Karena api tidak menunggu mereka yang lambat."
Dan ia lenyap. Bukan berjalan keluar pintu. Bukan melompat ke jendela. Kabut tipis menyelimuti tubuhnya sejenak — lalu kosong. Hanya udara pagi yang dingin menyapu ruangan.
Arga berdiri sendirian. Napas memburu. Tangan masih terangkat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya — dia berlutut. Bukan pada manusia. Pada takdir yang berdiri di hadapannya dan menyebut namanya.
**************** 
KLAN SENA: PERISAI YANG BERDIRI TEGAK
Matahari telah naik sedikit saat Aran berdiri di gerbang Klan Sena. Dinding batu tebal, kokoh, tak bergeming sejak ratusan tahun. Penjaga di gerbang melangkah maju, tombak terangkat — lalu berhenti. Matanya melebar. Tangannya gemetar.
Pria di hadapannya tidak bergerak. Tidak bernapas keras. Namun keberadaannya begitu kuat hingga terasa menekan dada.
"Siapa..." suara penjaga pecah.
Aran tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju. Penjaga mundur selangkah. Lalu mundur lagi. Tidak ada perintah yang diberikan. Tubuhnya tahu — ia tidak berani menghalangi jalan ini.
Bima Sena berdiri di aula utama — ruangan batu besar, lambang perisai di dinding belakangnya. Ia mendengar langkah — atau lebih tepatnya, ia merasakan perubahan udara. Ia berbalik.
Langkahnya terhenti. Tangan besarnya mengepal begitu kuat hingga urat di lengan menonjol. Wajahnya yang biasanya tenang seakan diukir dari batu — retak.
"Itu tidak mungkin..." bisiknya berat.
Aran berhenti di tengah aula. Cahaya matahari yang menembus jendela tinggi jatuh tepat di pundaknya. Ia menatap Bima — dari ujung kaki hingga ubun-ubun, lalu menatap matanya. Tatapan yang melihat leluhur Klan Sena berdiri di sana, di belakang Bima, selama dua puluh generasi.
"Lama tidak bertemu, keturunan Klan Sena."
Bima mundur selangkah. Punggungnya menyentuh meja batu di belakangnya.
"Kau... kau hidup..."
"Aku tidak pernah mati. Aku hanya menunggu mata kalian terbuka kembali." Aran melangkah maju, setiap langkah berirama, berat, tak terhindarkan. "Dan hari itu tiba. Sesuatu yang ditulis di batu fondasi kediaman ini telah terjadi. Yang Terpilih Terakhir telah kembali."
Bima mengerutkan dahi. "Phoenix? Itu legenda kuno..."
"Legenda adalah sejarah yang terlambat kau percayai." Aran berhenti tiga langkah darinya. Matanya menyala lembut, tegas, tak terbantahkan. "Kirana Ardika adalah pewaris api. Dia adalah alasan mengapa Klan Sena dibentuk — untuk melindunginya dengan nyawa kalian, dengan darah kalian, dengan seluruh kekuatan yang kalian miliki."
Bima menggeleng, meski wajahnya pucat.
"Ardika... mereka tidak lebih dari pedagang kain..."
"Dan kau tidak lebih dari batu yang sombong karena berdiri tegak sampai angin terkuat menerjangnya." Aran memotong tajam, suaranya naik, bergema di dinding batu hingga berdenting. "Jangan menilai berlian dari lumpur yang menempel padanya! Jangan menilai ratu dari kandang tempat dia dikurung! Dia adalah api kuno! Dan kalian — kalian ada untuk menjadi perisainya, bukan hakimnya!"
Bima terdiam. Mulutnya tertutup rapat. Kata-kata itu menembusnya lebih dalam dari pedang.
Aran melanjutkan, suaranya kembali tenang namun tegas seperti hukum alam.
"Dia sendirian. Dia terluka. Dia sedang belajar menjadi dirinya sendiri. Dan saat dia akhirnya berdiri — dia akan membutuhkan sekutu yang tidak akan membelanya hanya karena takut, tapi karena mereka tahu: tanpa dia, tidak ada masa depan yang layak dilindungi."
Ia menunjuk lantai batu di bawah kakinya — lambang perisai Sena yang terukir di sana.
"Klan Sena berdiri karena dia. Ingatlah itu. Jangan biarkan perisai melupakan siapa yang dilindunginya."
Bima menunduk perlahan. Dada naik turun. Hatinya berdebar kencang — bukan karena takut, tapi karena kesadaran yang menimpanya seberat gunung.
"Apa yang harus kulakukan?" suaranya rendah, penuh hormat.
Aran menatapnya lama, lalu mengangguk pelan — satu anggukan yang menjadi kehormatan terbesar yang pernah diterima Klan Sena.
"Tunggu. Amati. Dan saat waktunya tiba — berdiri di belakangnya, bukan di depannya. Dia tidak butuh pemimpin. Dia butuh mereka yang setia."
Aran berbalik. Langkahnya perlahan memudar, seakan tubuhnya melebur menjadi cahaya yang menembus dinding batu. Sebelum lenyap sepenuhnya, kata-kata terakhir bergema di aula — di setiap sudut, di setiap retakan batu, di setiap detak jantung Bima.
"Hanya ada satu Phoenix. Dan dia telah kembali. Jangan biarkan dia jatuh sendirian."
Keheningan kembali. Bima berdiri sendirian di aula batu yang tiba-tiba terasa terlalu luas. Ia menatap ke tempat Aran berdiri. Lalu berlutut — satu lutut, kepala menunduk, tangan mengepal di lantai batu.
"Sumpah Klan Sena..." bisiknya gemetar. "Darah dan nyawa untuk Phoenix."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience