25. Bisikan Di Atas Tahta

Romance Series 154

Matahari telah condong ke barat. Cahaya keemasan membanjiri kediaman Klan Pradana — bangunan megah, berkilau marmer hitam dan emas, tiang tinggi menjulang seakan menantang langit. Di sini tidak ada kabut. Tidak ada bayangan yang dipeluk. Hanya cahaya yang dipaksakan, kemegahan yang dipamerkan, kekuasaan yang diumumkan ke seluruh dunia.
Aran Aruna berdiri di puncak tangga utama. Tidak ada penjaga yang menghalanginya. Tidak ada yang melihatnya. Dia melangkah di antara celah pandangan, di tempat di mana mata manusia tidak bisa menjangkau. Dia tidak menyusup. Dia hanya — ada, di mana pun dia kehendaki.
Aula utama luas dan dingin. Di ujung ruangan, di atas panggung marmer hitam, di singgasana yang diukir dari batu hitam berurat emas — duduk Haris Pradana.
Pria paruh baya, wajah tegas, rahang keras, rambut hitam mulai memutih di pelipis. Matanya tajam, cerdas, terbiasa diperintah — tidak, terbiasa diperintah orang lain. Di tangannya digenggam dokumen — kontrak, perjanjian, angka-angka yang ia yakini menggerakkan dunia. Napasnya teratur, tenang, puas. Dia berpikir dia memegang kendali.
Aran berhenti tepat di tengah aula. Jauh dari pintu. Jauh dari singgasana. Dia berdiri diam. Tidak melangkah maju. Tidak bersuara.
Hening.
Detik berlalu. Satu. Dua. Tiga.
Haris Pradana mengangkat kepala. Gerakannya lambat. Matanya menyipit. Jantungnya — yang biasanya tenang — tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Udara di ruangan itu berubah. Lebih berat. Lebih tenang. Seakan seluruh dunia menahan napas.
"Ada siapa di sana?" suaranya dalam, berwibawa, namun ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan.
Tidak ada jawaban. Sosok berdiri di tengah cahaya matahari yang miring, jubah biru malam menyatu dengan bayangan, wajah tenang, mata keemasan menatapnya — diam, namun menuntut perhatian lebih dari ribuan tentara.
Haris berdiri perlahan. Tangan menekan lengan kursi. Dia menatap pria itu. Tidak mengenali wajahnya. Tidak mengenali lambang apa pun di bajunya. Namun ada sesuatu — sesuatu yang membuat kata-kata tertahan di tenggorokannya. Sesuatu yang lebih tua dari namanya. Lebih tua dari klannya.
Mereka saling menatap.
Detik berlalu menjadi menit. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang membuka mulut. Aran hanya berdiri. Menatap. Seakan membaca setiap lembar sejarah Haris Pradana — setiap kemenangan, setiap pengkhianatan, setiap kesalahan yang ia yakini sebagai kebijaksanaan. Matanya tidak marah. Tidak menghakimi. Hanya memahami. Dan pemahaman itu lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Haris menelan ludah. Ia membuka mulutnya — hendak bertanya siapa, bagaimana dia masuk, berani apa — dan tepat saat kata pertama akan keluar, Aran mengangkat satu jari pelan.
Gerakan kecil. Lembut. Namun kata-kata Haris mati di udara seketika. Mulutnya tetap terbuka, tapi tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya kaku. Terbeku.
Aran melangkah. Satu langkah. Lalu berhenti. Suaranya rendah, namun memenuhi seluruh aula, berdenting di tiang marmer, bergetar di lantai batu.
"Jangan bertanya siapa aku. Tanyakan siapa KAU, saat kau berpikir kau bisa membeli api."
Haris mundur selangkah. Punggungnya menyentuh sandaran kursi. Wajahnya memutih.
"Siapa..." suaranya pecah, serak. "Apa maksudmu?"
Aran tidak menjawab segera. Dia menatapnya lama, seakan menilai apakah pria ini layak mendengar jawaban itu. Lalu dia melangkah maju lagi — dan tiba-tiba berdiri di kaki tangga singgasana, tanpa terlihat bergerak.
"Kau pikir kau menang. Kau pikir dengan satu perjanjian, satu pernikahan, satu nama di atas kertas — kau telah memperoleh harta terbesar di bumi." Aran menunjuk lantai di antara mereka, jari telunjuk tegak. "Kau tidak membeli harta. Kau menyewanya. Dan api tidak membayar sewa."
Haris mengepal tangan hingga buku jarinya memutih. Ia mencoba berdiri tegak, mencoba memulihkan wibawanya.
"Siapa kau untuk mengajari Klan Pradana? Gadis itu milik Ardika. Mereka menjualnya. Kami membelinya. Itu kesepakatan."
Aran tertawa — suara rendah, lembut, namun penuh kesedihan yang mendalam.
"Kesepakatan?" Ia melangkah naik satu anak tangga. Haris mundur selangkah. "Kau menyebut perbudakan kesepakatan? Kau menyebut pengorbanan gadis tak berdosa perdagangan? Haris Pradana... kau tidak membeli Phoenix. Kau membeli abu. Dan jika kau tidak berhati-hati — abu itu akan menjadi satu-satunya yang tersisa dari klanmu."
Wajah Haris memerah. Amarah bercampur ketakutan.
"Kau mengancamku?"
"Aku memperingatkanmu." Aran melangkah naik lagi. Sekarang mereka berdiri di ketinggian yang sama. Mata keemasan Aran menatap lurus ke mata Haris — dan Haris tidak bisa berpaling. "Aku tidak datang untuk melawanmu. Aku tidak datang untuk membatalkan pernikahan. Itu bukan urusanku. Urusanku adalah memastikan satu hal — KAU PAHAM APA YANG SEDANG MASUK KE DALAM RUMAHMU."
Aran mendekat. Suaranya turun menjadi bisikan — dan bisikan itu terdengar seperti batu besar jatuh ke dalam sumur yang dalam.
"Dia bukan istri yang kau pilih. Dia bukan menantu yang kau atur. Dia adalah kekuatan yang lebih tua dari namamu. Lebih tua dari tahtamu. Lebih tua dari tanah tempat kediaman ini berdiri."
"Kau bisa menyebutnya menantu. Kau bisa menyebutnya istri Darma. Kau bisa menyebutnya milik Pradana. Tapi jangan pernah — dalam sehari pun, dalam satu detik pun — berpikir bahwa kau memilikinya. Karena tidak ada yang memiliki api. Mereka hanya — dihangatkan... atau dibakar."
Haris terengah-engah. Tubuhnya gemetar. Kakinya lemas. Ia meraih sandaran kursi untuk menopang diri.
"Darma..." gumamnya. "Putraku..."
"Darma Pradana," potong Aran lembut namun tegas. "Dia adalah anak yang kau besarkan dengan aturanmu. Tapi dia akan mencintai Phoenix dengan cara yang tidak akan kau pahami. Dan saat dia memilihnya — kau akan tahu mana yang lebih kuat: darah dagingmu... atau darah kuno yang mengalir di bumi ini."
Aran mundur selangkah. Cahaya di sekelilingnya mulai memudar.
"Masih ada waktu. Persiapan masih bisa berjalan. Pernikahan tetap dilaksanakan. Tapi ingat kata-kataku, Haris Pradana — kau menyambutnya bukan sebagai pengantin. Kau menyambutnya sebagai Ratu. Dan nasib klanmu tergantung pada satu hal: APA YANG KAU PILIH — menjadi pelindungnya... atau bahan bakarnya."
Sebelum Haris bisa menjawab, sebelum dia bisa berteriak memanggil penjaga — Aran lenyap. Tidak melangkah mundur. Tidak berbalik. Dia hanya tidak ada lagi di sana. Seakan udara menelannya.
Hening kembali menyelimuti aula. Sama seperti sebelumnya — tapi tidak sama. Udara terasa lebih berat. Lebih panas.
Haris Pradana jatuh berlutut di singgasana emasnya. Tangan gemetar menutupi wajahnya. Jantungnya berdegup kencang, menyakitkan. Dia tidak tahu siapa pria itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya datang ke rumahnya. Tapi dia tahu satu hal — dia baru saja menandatangani perjanjian yang tidak pernah ia baca.
Dan jauh di kediaman Ardika, di kamar terkunci di lantai atas — Kirana tersentak terbangun dari tidur singkatnya. Menyentuh anting. Menyentuh dadanya. Dan untuk sesaat, dia merasa seakan seseorang — jauh, sangat jauh — baru saja menyebut namanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience