Series
154
Pintu utama aula Pradana terbuka.
Dimas Ardika melangkah masuk lebih dulu. Punggungnya berusaha tegak, dagu diangkat, seakan dia masih Tuan Ardika yang dulu. Di sebelahnya, Serena berjalan perlahan, tangan menggenggam tas kecil yang sudah terlihat ketinggalan zaman, bibirnya tersenyum kaku — senyum yang berusaha berkata kami termasuk bagian dari ini. Di belakang mereka, Larasati menatap sekeliling dengan mata terbelalak, mulut sedikit terbuka — terpesona sekaligus cemburu buta pada setiap pot kristal, setiap kain sutra, setiap bunga yang lebih mahal dari seluruh pakaian yang dikenakan ketiganya.
Tapi langkah mereka — semakin masuk, semakin kecil.
Bukan karena lantai tidak rata. Tapi karena semua mata berbalik bersamaan.
Suara percakapan perlahan mati. Gelas berhenti berdenting. Tawa terputus di tenggorokan. Ratusan pasang mata — dari orang-orang paling berpengaruh di negeri ini — menatap mereka. Bukan dengan hormat. Bukan dengan ramah.
Dengan tatapan yang menimbang. Menilai. Dan menemukan mereka — kurang.
****************
BISIKAN YANG MENYAKITKAN
Bisikan mulai bermunculan. Pelan di awal, seperti angin yang berhembus — lalu menyebar, keras, tajam, menusuk punggung mereka seperti jarum.
"Itu dia keluarga pengantin..."
"Pakaian mereka... kainnya buruk sekali. Bahkan bukan sutra."
"Pabrik mereka tutup minggu lalu, kau tahu? Hampir bangkrut."
"Pradana pasti tahu apa yang mereka lakukan. Mungkin mereka membeli gadis itu dengan harga murah."
"Lihat wajah ayahnya. Berusaha terlihat bangga. Sedih sekali."
"Mereka tidak datang untuk merayakan. Mereka datang memohon sisa makanan."
Dimas mendengarnya. Setiap kata menembus telinganya seperti pecahan kaca. Wajahnya memerah padam. Urat di lehernya menonjol. Tapi dia tidak berani berbalik. Tidak berani menatap siapa pun. Karena jika dia berhenti — dia runtuh.
Serena tersenyum semakin kaku, matanya melirik ke kiri dan kanan, berharap ada wajah yang mengenalnya sebagai teman. Tidak ada yang menatapnya kembali. Semua orang melihatnya — lalu memalingkan wajah seakan melihat sesuatu yang tidak layak diundang.
Larasati tidak mendengar bisikan itu. Matanya terpaku pada hiasan dinding, lampu gantung, pakaian tamu wanita — semuanya jauh lebih indah daripada yang pernah dimilikinya. Dan di tengah kekaguman itu, ada rasa pahit yang naik dari perut ke tenggorokan. Ini seharusnya milikku. Seharusnya aku yang berdiri di sana.
******************
DITERTawA OLEH MUSUH TERBESAR
Di sudut aula, dekat pilar marmer yang besar, berdiri Bagas Surya. Pemilik Surya Busana. Musuh bebuyutan Ardika selama dua puluh tahun.
Dia bersandar santai pada pilar, satu tangan di saku celana, gelas anggur di tangan lainnya. Dia tidak berbisik. Dia menatap mereka berjalan — dan tersenyum. Senyum yang lebar, terang, penuh kemenangan yang tidak disembunyikan.
Saat Dimas melewati jarak beberapa langkah darinya, Bagas mengangkat gelasnya sedikit — penghormatan yang mengejek.
"Selamat datang, Tuan Ardika. Sungguh... menyedihkan melihat pakaian terbaikmu hari ini."
Suaranya tidak terlalu keras — cukup untuk didengar orang-orang di sekitarnya, dan cukup untuk Dimas mendengarnya dengan jernih.
Wajah Dimas berubah merah menjadi ungu. Tangannya mengepal erat.
"Bagas..." suaranya bergetar tertahan amarah.
Bagas tertawa pelan, menyesap anggurnya, matanya menyapu pakaian Dimas dari atas ke bawah.
"Jangan marah, Tuan. Aku hanya berterus-terang. Kain yang kau pakai... bahkan kualitasnya di bawah standar terendah Surya Busana. Kau memakai sampahmu sendiri. Pantesan perusahaanmu jatuh."
Orang-orang di sekitar menahan tawa. Beberapa tidak bisa menahan dan terkikik. Dimas berdiri terpaku, tidak mampu bergerak maju, tidak mampu berbalik. Dia dihina di depan wajah tamu-tamunya sendiri — dan tidak ada yang membela.
Serena menarik lengan bajunya pelan, matanya berkaca-kaca — memohonnya untuk diam, untuk berjalan terus. Dimas menelan ludah pahit, dan melangkah maju. Bagas menatap punggung mereka menjauh — lalu tertawa lebih keras.
*******************
TEMPAT YANG DIA PIKIR MILIKNYA
Dimas tidak menuju baris belakang. Dia tidak melihatnya. Dia berjalan lurus — melewati tamu-tamu, melewati bisikan, menuju meja utama Pradana. Meja paling depan, paling dekat altar, tempat duduk keluarga tuan rumah.
Dia tersenyum bangga — senyum yang berkata kami adalah keluarga pengantin. Kami duduk di sini. Dia menarik kursi di sebelah kursi Haris Pradana, bersiap duduk. Serena dan Larasati berdiri di belakangnya, menunggu ikut duduk.
Satu detik. Dua detik.
Dimas baru saja menekan pinggiran kursi — ketika Haris Pradana, yang sedang berbicara dengan tetua klan, berhenti. Dia menoleh perlahan. Matanya jatuh pada Dimas yang sudah setengah duduk di kursi keluarganya.
Wajah Haris tidak berubah. Tidak marah. Tidak terkejut. Hanya datar. Seakan melihat lalat hinggap di meja makan.
Haris mengangkat satu jari. Pelayan Pradana segera berlari mendekat.
"Mereka duduk di baris paling belakang. Paling ujung."
Suaranya rendah, tenang, tidak meninggi — tapi seluruh aula mendengarnya.
Pelayan menunduk hormat, lalu menatap Dimas yang masih tergantung setengah duduk di kursi, wajahnya membeku.
"Tuan... silakan ikut saya. Tempat keluarga pengantin ada di belakang."
Dimas berdiri perlahan. Wajahnya terbakar. Darah mendidih di lehernya. Mulutnya terbuka hendak meledak — tapi kata-kata mati di tenggorokan. Dia menelan ludah. Ini pernikahan putrinya. Ini kontrak. Dia harus tenang.
Dia menggenggam tangannya hingga buku-buku jari memutih. Dia marah — tapi dia tidak berani membuat keributan. Karena di kepalanya masih tertanam kebodohan yang sama: ini pernikahan Kirana. Mereka masih setara. Mereka masih mitra.
Dimas berbalik perlahan. Langkahnya berat seperti menyeret rantai. Serena menunduk, berjalan di belakangnya. Larasati tidak berani mengangkat wajahnya. Seluruh aula menyaksikan — bukan sebagai keluarga yang dihormati, tapi sebagai orang asing yang hampir duduk di kursi raja.
Mereka sampai di baris paling belakang. Paling jauh. Paling dekat pintu keluar. Kursinya kayu polos, tidak empuk, tidak dihiasi kain. Mereka duduk — tiga orang — di sudut paling gelap, di mana bayangan hampir menelan mereka.
Dimas duduk tegak, tangan mengepal di lutut. Matanya terpaku pada punggung Haris Pradana.
Dia akan bicara padaku setelah upacara, pikirnya berusaha meyakini diri sendiri. Dia pasti akan bicara.
Dia tidak tahu — dia sudah tidak punya hak untuk berharap.
*******************
PINTU TERBUKA. DUNIA BERHENTI.
Hening.
Lalu — pintu di ujung lorong utama terbuka perlahan.
Cahaya dari ruang penyiapan menyelinap masuk, membingkai satu sosok yang melangkah keluar.
Aula terdiam.
Satu tarikan napas — serentak — dari ratusan orang.
Kirana melangkah masuk.
Gaun putih bersih, jatuh lembut dari bahu hingga ujung kaki, kain sutra yang berkilau lembut setiap kali dia bergerak — bukan kain sisa. Bukan kain murah. Ini kain yang bahkan Ardika tidak berani impor. Manik-manik kecil berkilau di sepanjang leher dan lengan seperti embun di kelopak bunga. Rambutnya ditata sederhana namun anggun, mahkota bunga putih kecil bertengger di atasnya — tidak berlebihan, tidak mencolok, tapi tidak bisa diabaikan.
Langkahnya tenang. Tegap. Tidak terburu-buru. Tidak menunduk. Matanya lurus ke depan — tidak mencari Dimas, tidak mencari Serena, tidak mencari Larasati. Dia tidak melihat mereka. Seakan mereka tidak ada.
Tamu-tamu berdiri tanpa sadar. Mulut ternganga. Bisikan mati sepenuhnya.
"Itu... gadis dari Ardika?"
"Tidak mungkin... tidak mungkin..."
"Dia bersinar..."
Di sudut aula — Arga Bayu berdiri tegak. Matanya menyipit. Napasnya tertahan. Dia mengenali tatapan itu. Cahaya di matanya. Itu bukan sekadar pengantin. Itu api yang bangkit dari abu.
Di sudut lainnya — Bima Sena menatap lurus. Tangannya mencengkeram sandaran kursi hingga kayunya berderit pelan. Matanya tidak berkedip. Dia melihatnya. Penjaga Perisai akhirnya melihat Phoenix-nya.
Di samping altar — Darma berdiri. Jantungnya berhenti berdetak sesaat. Dia tahu dia cantik. Tapi dia tidak tahu — dia akan memancarkan cahaya yang membutakan seluruh dunia.
Dan di baris paling belakang — Dimas, Serena, Larasati terpaku. Mata mereka membelalak. Mulut ternganga. Ini bukan gadis yang mereka kenal. Ini bukan gadis yang mereka beri kain sisa kemarin. Ini bukan gadis yang mereka kunci di kamar kecil.
Larasati menggenggam tepi kursi hingga kukunya patah. Matanya berkaca-kaca — bukan bangga. Cemburu yang membakar. Itu seharusnya aku. Itu seharusnya aku.
Kirana terus berjalan. Setiap langkah — satu denyut nadi di seluruh ruangan. Dia tidak tahu empat mata mengawasinya. Dia tidak tahu dua klan baru saja mengenali legenda. Dia hanya tahu satu hal — di ujung lorong itu, pria menunggunya. Dan di belakangnya — rumah yang tidak pernah menjadi rumahnya runtuh perlahan di bawah bayangannya.
Pintu tertutup di belakangnya. Cahaya tertinggal di sana. Tapi dia — dia membawa cahayanya sendiri.
Share this novel