124. Bayangan Yang Menunggu

Romance Completed 202

Matahari sore menyinari halaman belakang Pradana Mansion. Cahayanya hangat dan lembut, namun tidak mampu menghangatkan udara yang tiba-tiba terasa dingin. Kirana, Wira, Sariya, Darma, Haris, dan Kesuma berdiri bergerombol di ambang pintu cahaya yang perlahan lenyap. Napas mereka masih memburu setelah enam hari latihan tanpa henti di dalam dimensi itu — tubuh mereka penuh keringat dan lelah, namun mata mereka bersinar dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Namun kebanggaan itu seketika terhenti. Wira adalah orang pertama yang merasakannya — rambut di tengkuknya berdiri tegak, dan tangannya refleks menggenggam pergelangan tangan Sariya.
"Ada yang salah," bisiknya rendah, matanya menatap tajam ke arah hutan di kejauhan. "Kita diawasi."
 
BAGIAN I — DURGA: KEKUATAN BARU DAN KEBENCIAN LAMA
Di balik bayang-bayang pohon tua yang rimbun, tak jauh dari batas tanah Pradana, sosok itu berdiri diam. Tubuhnya masih terbungkus jubah hitam yang compang-camping, namun aura yang memancar darinya jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Durga. Luka-luka yang ia derita dalam pertempuran sebelumnya belum sembuh sepenuhnya — darah hitam masih merembes dari luka di dadanya — namun di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang baru tumbuh. Sesuatu yang jauh lebih gelap dan jauh lebih berbahaya.
Ia merasakannya. Gelombang kekuatan yang keluar dari dimensi itu — panas, terang, dan penuh kehidupan. Kekuatan Phoenix. Dan itu semakin kuat. Semakin besar.
"Kau tumbuh..." bisiknya, suaranya parau dan kasar, seakan digerogoti dari dalam. "Kau tumbuh semakin kuat sementara aku meringkuk dalam kegelapan. Itu tidak adil. Itu seharusnya milikku. Semuanya."
Tangan kanannya terangkat perlahan. Cahaya ungu gelap berputar di telapak tangannya — tidak murni, tidak alami, melainkan sesuatu yang dicuri dan dipaksa untuk tunduk. Kekuatan yang ia dapatkan dari perjanjian baru — kekuatan yang bukan miliknya.
"Tuanku..." suara berat dan menggelegar terdengar dari udara kosong di sebelahnya. Tidak ada siapa-siapa yang terlihat, namun kehadirannya membuat udara bergetar ketakutan. "Kau membiarkan mereka menjadi lebih kuat. Jika kau menunggu terlalu lama... Phoenix itu akan melampaui kekuatan yang bisa kau kendalikan."
"Aku tahu," jawab Durga, giginya gemeretak karena amarah dan rasa sakit. "Aku tidak butuh peringatanmu. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Lalu bertindaklah. Sebelum kekuatan itu menjadi terlalu besar bahkan untuk tuanku sendiri."
Suara itu lenyap seketika. Durga berdiri sendirian di antara pepohonan, napasnya memburu. Ia menatap ke arah Pradana Mansion dengan tatapan yang penuh kebencian — bukan hanya pada Kirana, tapi pada segala hal yang memiliki cahaya dan harapan. Ia merasakan bagaimana kekuatan gadis itu berkembang — bukan hanya Phoenix, tapi juga darah Wirabuana dan Lembayung yang menyatu di dalam dirinya. Itu adalah hal yang paling ia takuti sekaligus paling ia inginkan.
"Kau pikir kau sudah siap?" gumamnya sinis. "Kau bahkan belum tahu apa yang sebenarnya menantimu. Aku mungkin terluka... tapi aku bukan satu-satunya yang berburu. Dan mereka..." Ia tersenyum miring, matanya menyala merah gelap. "...mereka sudah lebih siap darimu."
 
BAGIAN II — DIMAS DAN KELUARGANYA: PENYESALAN DAN KETERIKATAN
Di sebuah gubuk tua yang reyap di pinggir hutan, jauh dari peradaban, Dimas, Larasati, dan Serena duduk di dalam kegelapan. Tidak ada api unggun. Tidak ada makanan yang layak. Hanya dingin, lapar, dan ketakutan yang tak kunjung berakhir. Sejak mereka melarikan diri — atau lebih tepatnya, diusir dari tempat yang dulu menjadi milik mereka — setiap hari terasa lebih berat dari sebelumnya.
Serena duduk di sudut ruangan, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar kedinginan. Pakaian yang dulu selalu mahal dan indah kini kotor dan sobek. Wajahnya pucat, matanya cekung.
"Dimas..." suaranya bergetar pelan. "Berapa lama lagi kita harus tinggal di sini? Uang yang kita bawa sudah habis. Tidak ada yang berani mempekerjakan kita. Tidak ada yang mau melihat wajah kita."
Dimas berdiri membelakangi mereka, menatap dinding kayu yang berlubang. Tangan kanannya mengepal erat — urat-urat menonjol di kulitnya. Ia merasakan sesuatu yang bergerak di bawah kulitnya sendiri — sesuatu yang bukan miliknya. Setiap kali ia berniat untuk pergi, setiap kali ia mencoba untuk lari sejauh mungkin, rasa sakit yang luar biasa akan menyerang seluruh tubuhnya. Perjanjian itu. Perjanjian dengan Durga. Itu bukan sekadar janji kata-kata. Itu adalah belenggu yang terikat pada jiwanya sendiri.
"Aku tahu," jawabnya pelan, suaranya terdengar lelah dan hancur. "Aku tahu semuanya. Tapi apa yang bisa kulakukan? Kita terikat. Selama dia masih hidup dan menginginkan sesuatu dariku... kita tidak bisa pergi ke mana pun."
Larasati yang sedari tadi diam di lantai tiba-tiba berbicara. Suaranya tidak lagi penuh kemarahan dan kesombongan seperti dulu. Ia terdengar lebih lembut, lebih rapuh — dan penuh penyesalan yang tak bisa diucapkan dengan kata-kata.
"Apakah ini... semua karena Kirana?" tanyanya pelan, matanya menatap lantai yang kotor. "Dulu aku membencinya. Aku berpikir dia yang mengambil semuanya dariku. Tapi sekarang... melihat ke mana kita jatuh... aku mulai berpikir. Mungkin bukan dia yang mengambil apa pun dariku. Mungkin akulah yang selalu berusaha mengambil apa yang bukan milikku."
Dimas berbalik perlahan, menatap putrinya itu dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
"Larasati..."
"Kau tahu, Ayah..." Larasati mengangkat wajahnya, air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. "Aku melihatnya sekali, dari kejauhan. Saat dia berdiri di halaman Pradana Mansion. Dia terlihat... kuat. Dan bahagia. Bukan karena harta, bukan karena nama besar. Tapi karena dia dikelilingi orang-orang yang benar-benar peduli padanya. Sementara kita... kita sendirian. Semua orang yang dulu mengelilingi kita pergi begitu saja saat kita jatuh. Dan sekarang... bahkan tidak ada satu orang pun yang peduli apakah kita hidup atau mati."
Serena menangis pelan di sudut ruangan. "Aku hanya ingin pulang... Aku hanya ingin semuanya kembali seperti dulu."
"Tidak bisa kembali," ucap Dimas tegas, namun air mata juga menetes dari matanya. "Kita sudah terlalu jauh melanggar ke jalan yang salah. Dan sekarang... jalan itu tidak membiarkan kita berbalik arah."
Tiba-tiba udara di dalam gubuk itu berubah. Bayangan di sudut ruangan memanjang dan bergerak sendiri, meski tidak ada angin yang bertiup. Suara berat dan dingin terdengar dari mana-mana sekaligus — suara yang membuat darah mereka membeku.
"Kau menyesal, Dimas?"
Dimas mundur selangkah, punggungnya menempel ke dinding kayu. "Durga..."
"Penyesalan adalah kemewahan yang tidak kau miliki," jawab suara itu dingin. "Perjanjian kita masih berlaku. Dan saat ini, aku butuh kau untuk melakukan sesuatu untukku. Sesuatu yang hanya kau yang bisa melakukannya."
"Aku tidak mau lagi..." bisik Dimas gemetar. "Kau sudah mengambil segalanya dariku. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Kirana," jawab Durga pelan namun mematikan. "Dia sudah keluar dari tempat persembunyiannya. Dia lebih kuat dari sebelumnya — dan itu berarti darahnya lebih berharga dari sebelumnya. Kau akan membawanya kepadaku. Atau... perjanjian ini akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan bagi ketiga kalian."
"Kau tidak bisa memaksaku—"
"Bisakah?" Suara itu mengeras, dan Dimas berlutut tiba-tiba, tangannya mencengkeram dadanya, napasnya tersengal-sengal karena rasa sakit yang luar biasa. Larasati dan Serena berteriak panik melihatnya.
"Ayah!"
"Pilih, Dimas..." ucap Durga dingin. "Bawa dia kepadaku... atau biarkan putrimu dan istrimu membayar harganya untukmu. Aku memberi waktu sampai matahari terbenam."
Keheningan kembali menyelimuti gubuk itu. Dimas terengah-engah di lantai, keringat bercucuran deras. Wajahnya pucat pasi. Larasati dan Serena berlutut di sampingnya, menangis tanpa suara.
"Apa yang harus kita lakukan..." bisik Larasati pelan, air mata jatuh ke tangan ayahnya. "Tidak ada jalan keluar..."
Dimas mengangkat wajahnya. Matanya penuh keputusasaan — namun di kedalaman itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang kecil dan samar, namun belum mati sepenuhnya.
"Kita tidak punya pilihan..." ucapnya pelan, namun suaranya bergetar karena pertentangan batin yang hebat. "Tapi... aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kalian. Apa pun yang terjadi... aku akan mencari cara untuk mengakhiri ini."
 
BAGIAN III — KEPULANGAN DAN PERINGATAN
Sementara itu, di halaman belakang Pradana Mansion, ketegangan perlahan mereda — namun tidak hilang. Wira menatap ke arah hutan itu lama sekali, seakan bisa menembus pepohonan dan melihat apa yang bersembunyi di sana.
"Dia sudah pergi," ucapnya pelan, namun wajahnya tetap serius. "Tapi dia tidak pergi jauh. Dia hanya menunggu waktu yang tepat."
Kirana menggenggam kedua tangannya erat-erat. Dia merasakannya juga — kebencian, rasa sakit, dan ambisi gelap yang mengarah tepat kepadanya. Namun kali ini, rasa takut tidak lagi mendominasi hatinya. Dia merasakan kekuatan di dalam dirinya — api dan cahaya yang menyatu — dan itu memberinya keyakinan.
"Dia tahu kita semakin kuat," ucap Kirana pelan namun tegas. "Itulah sebabnya dia belum menyerang. Dia takut."
"Dia takut bukan berarti dia lemah," peringat Sariya lembut namun tegas. "Dia memiliki sekutu yang jauh lebih gelap dan jauh lebih tua dari dirinya. Dan dia juga memiliki alat yang paling berbahaya — orang-orang yang pernah kau kenal."
"Dimas..." bisik Darma pelan, menyadari maksud Sariya. "Dia akan menggunakan Dimas dan keluarganya."
"Dan itulah yang paling berbahaya," kata Wira. "Bukan karena mereka kuat — tapi karena Kirana mungkin ragu untuk melawan mereka. Dan keraguan di medan pertempuran adalah hal yang mematikan."
Kirana menunduk pelan. Pikirannya melayang ke masa lalu — ke masa ketika dia masih tinggal di rumah Ardika, ketika Dimas adalah ayah yang pernah merawatnya, ketika Larasati adalah saudara yang pernah bermain dengannya. Semua itu sudah lama berlalu. Namun darah tetaplah darah. Dan hati tetaplah hati.
"Aku tidak akan membunuh mereka," ucapnya pelan, namun tegas. "Tapi aku juga tidak akan membiarkan mereka menyakiti orang-orang yang kucintai. Jika mereka datang... aku akan berusaha menyelamatkan mereka juga. Dengan cara apa pun."
Darma meletakkan tangannya di bahu Kirana dengan lembut namun mantap.
"Kita akan melakukannya bersama. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli siapa yang datang. Kita tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian."
Kesuma Ardika yang sedari tadi diam di sisi lain tiba-tiba berbicara.
"Biarkan aku yang menghadapi mereka," ucapnya pelan namun tegas. "Mereka adalah keluargaku — atau setidaknya, bagian dari klan yang sama. Jika mereka datang... mungkin aku bisa membuat mereka sadar sebelum terlambat. Sebelum mereka menjatuhkan diri ke jurang yang tak bisa kembali."
Wira menatap pemuda itu dengan tatapan penuh penghargaan.
"Itu berbahaya, Kesuma. Dimas mungkin tidak mau mendengarkan siapa pun."
"Aku tahu," jawab Kesuma mantap. "Tapi setidaknya aku harus mencoba. Demi nama Ardika yang sebenarnya. Demi masa depan klan ini. Dan demi mereka — jika masih ada sedikit kebaikan yang tersisa di hati mereka."
Haris yang sedari tadi mendengarkan dengan serius akhirnya berbicara.
"Maka kita bersiap. Malam ini kita berkumpul dan menyusun rencana. Karena Durga tidak akan menunggu lama. Dia tahu kita semakin kuat — dan itu berarti dia akan bertindak lebih cepat dari yang kita perkirakan."
Mereka pun berjalan masuk ke dalam rumah bersama — bukan sebagai sekelompok orang yang takut akan bahaya, melainkan sebagai satu kesatuan yang siap menghadapi apa pun. Di luar sana, kegelapan sedang merencanakan hal-hal yang mengerikan. Di dalam sana, di balik dinding Pradana Mansion, cahaya terus menyala — semakin terang, semakin kuat, dan semakin bersatu dari sebelumnya.
Namun di kejauhan, di dalam gubuk reyap itu, Dimas berdiri perlahan. Matanya kosong, namun langkah kakinya mantap — seakan ada sesuatu yang menariknya ke arah yang tidak bisa ia tolak. Larasati dan Serena menatapnya dengan tatapan penuh ketakutan.
"Ayah... ke mana kau pergi?"
Dimas berhenti di ambang pintu. Langit di luar sudah mulai gelap.
"Untuk menyelamatkan kalian," jawabnya pelan, suaranya penuh keputusasaan. "Dan untuk melakukan hal yang paling aku sesalkan seumur hidupku."
Ia melangkah keluar ke dalam kegelapan — menuju pertemuan yang akan mengubah segalanya. Dan di suatu tempat di antara cahaya dan bayangan, Phoenix muda merasakan bahwa pertempuran yang sesungguhnya sudah dimulai. Bukan dengan pedang atau sihir — melainkan dengan hati yang terbelah antara dendam dan kasih sayang, antara kewajiban dan belas kasihan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience