Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
202
Get the app for full experience
Aran Aruna melesat melintasi langit, sosoknya ringan seperti bayangan yang terbawa angin. Di tangannya kotak berisi kunci giok — satu untuk setiap Klan Penjaga. Perjalanannya hari ini panjang dan melelahkan, namun ia tahu ini adalah tugas yang tak boleh ditunda. Tanpa tempat yang aman untuk berlatih, kekuatan yang tumbuh justru bisa menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
BAGIAN I — KUNCI DAN SUMPAH SETIAP KLAN
Pertama, ia tiba di Klan Bayu. Ruang pertemuan kuno itu hening saat Aran masuk, diikuti para Tetua yang menunggu dengan penuh rasa hormat. Aran meletakkan sepotong giok hijau ke atas meja batu — di tengahnya lambang Phoenix, dikelilingi lambang klan mereka.
"Ini adalah Kunci Dimensi," ucapnya pelan namun tegas. "Hanya Tetua Klan yang boleh memegangnya. Simpanlah di tempat yang paling suci dan paling aman. Kunci ini bukan alat kekuasaan — ia adalah alat untuk kebaikan dan pertahanan semata. Di dalamnya tersemat sihir tertinggi dari Klan Aruna: jika pemegangnya berniat jahat, atau menggunakan dimensi untuk hal yang merugikan orang lain... kunci ini akan pecah sendiri, menjadi debu, dan tak akan bisa digunakan lagi."
Para Tetua saling bertatapan, lalu mengangguk hormat. "Kami bersumpah akan menjaganya dengan nyawa kami."
Aran mengangguk. "Ingatlah — hanya aku yang bisa menciptakan kunci pengganti. Dan aku tidak akan melakukannya tanpa alasan yang sangat kuat. Jadi jagalah baik-baik."
Kemudian ia ke Klan Sena, lalu ke Klan Ardika — kata-katanya sama di setiap tempat. Terakhir, ia kembali ke kediaman Klan Aruna, tempat di mana sihir itu berasal. Di sana, para Tetua menyambutnya dengan rasa hormat sekaligus tanggung jawab terbesar — karena merekalah yang menjaga pengetahuan tertua tentang dimensi dan sihir kuno. Mereka menerima kunci itu dengan tangan gemetar, menyadari bahwa beban ini akan diwariskan dari generasi ke generasi.
⏳ BAGIAN II — HITUNGAN WAKTU YANG SEMPIT
Sementara Aran menyelesaikan tugasnya, waktu terus berjalan di dunia luar. Rencana awal mereka: satu minggu di dunia luar = 21 hari di dalam dimensi. Namun kenyataannya berbeda. Haris dan Darma membutuhkan waktu 5 hari penuh untuk menyelesaikan urusan perusahaan — merapikan laporan, menyerahkan jabatan, dan memastikan semuanya berjalan lancar di bawah kepemimpinan Bagas Surya.
Itu berarti sisa waktu yang mereka miliki untuk berlatih bersama di dalam dimensi hanyalah 2 hari di dunia luar — setara dengan 6 hari di dalam sana.
Waktu itu sangat singkat. Terlalu singkat untuk semua hal yang harus mereka pelajari. Namun mereka tahu — ini semua pilihan yang tepat. Fondasi dunia nyata harus tetap kokoh agar mereka bisa fokus berjuang tanpa kekhawatiran di belakang.
BAGIAN III — KEMBALI KE MEDAN LATIHAN
Pada hari keenam, tepat setelah urusan kantor selesai, Haris dan Darma segera kembali ke Pradana Mansion. Di halaman belakang, Wira, Sariya, dan Kirana sudah menunggu di depan gerbang cahaya dimensi.
"Kita terlambat lima hari," ucap Haris pelan namun tanpa penyesalan. "Tapi itu harus dilakukan. Pradana Group sekarang berada di tangan yang tepat, dan kita tidak perlu lagi khawatir akan urusan dunia luar. Sisa waktu kita — dua hari di sini, setara enam hari di dalam. Tidak banyak, tapi cukup jika kita menggunakannya sebaik mungkin."
Darma memegang pedang latihannya. Tangannya lebih kuat dari sebelumnya, gerakannya lebih yakin. "Aku sudah siap. Setiap jam berharga sekarang."
Mereka pun melangkah masuk bersama — Haris, Darma, Kirana, Wira, dan Sariya. Cahaya keemasan menyelimuti mereka, dan seketika pemandangan berubah menjadi hamparan luas yang tak bertepi — langit biru bercampur ungu, tanah kokoh, dan udara yang penuh energi murni.
"Enam hari di dalam sini," ucap Wira, suaranya terdengar jelas di ruang terbuka itu. "Waktu yang sangat singkat untuk apa yang harus kita pelajari. Tapi kita tidak membuang waktu sedetik pun mulai sekarang."
Sariya melangkah ke samping suaminya, cahaya ungu lembut memancar dari dirinya. "Kita mulai sekarang. Tidak ada yang berdiri di pinggir menonton. Tidak ada yang dilindungi. Kita semua berjuang bersama — dari yang terkuat hingga yang baru mulai belajar."
Kirana merasakan energi di dalam dirinya menyala — siap untuk tumbuh, siap untuk dilatih, siap untuk menerima warisan dua klan terkuat. Darma berdiri tegak, pedang di tangan, matanya penuh tekad. Dan Haris — berdiri di antara mereka, siap untuk pertama kalinya membuktikan bahwa darah Pradana juga memiliki kekuatan yang tak terduga.
Mereka tahu — enam hari itu berlalu dengan cepat. Dan saat pintu dimensi tertutup nanti, pertempuran yang sesungguhnya akan dimulai. Tapi di sini, di tempat ini, mereka akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Bersama-sama.
