Completed
202
Durga melesat menembus pepohonan yang gelap dan rimbun. Tubuhnya terhuyung-huyung, napasnya tersengal-sengal berat seakan ada api yang membakar paru-parunya dari dalam. Darah hitam pekat terus menetes dari luka di bahu dan dadanya — luka bakar dari api Phoenix yang tak kunjung kering, terasa perih dan panas setiap kali ia bergerak. Ia menekan satu tangannya ke luka itu, mencoba menahan aliran darah, namun darah itu terus merembes, menetes jatuh ke tanah, membasahi dedaunan kering yang kemudian perlahan menghitam seketika saat terkena cairan itu.
"Sial..." geramnya parau, giginya terkatup rapat menahan rasa sakit yang luar biasa. "Api itu... api sialan itu..."
Ia terus berlari tanpa arah yang pasti, hanya tahu harus menjauh dari gua itu secepat mungkin. Setiap langkahnya meninggalkan jejak darah yang pekat dan berbau tajam — bau yang memikat, bau yang memanggil dari kedalaman kegelapan. Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak darah yang menetes, dan semakin pekat hawa dingin yang perlahan mengelilinginya. Namun dalam ketidaksadarannya, darah yang tumpah itu bukan sekadar darah biasa. Darah itu membawa jejak kekuatan gelap yang begitu murni dan kuat — jejak yang tak bisa diabaikan oleh makhluk-makhluk tertinggi yang bersemayam di kedalaman hutan terlarang.
Belum jauh ia melangkah, tiba-tiba udara di sekelilingnya berubah menjadi sedingin es. Kabut hitam yang lebih pekat dari biasanya perlahan menyelimuti hutan, menyembunyikan sinar rembulan sepenuhnya. Dari balik bayangan pohon-pohon raksasa, sesosok bayangan yang jauh lebih besar, jauh lebih gelap, dan jauh lebih menakutkan perlahan melayang keluar. Tubuhnya tersusun dari kabut gelap yang berputar perlahan, sepasang mata yang menyala ungu pekat menatap Durga dari atas ke bawah. Kehadirannya begitu dahsyat hingga tanah di bawah kaki Durga seakan bergetar ngeri.
Durga berhenti mendadak, napasnya tertahan. Ia mundur selangkah, menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Makhluk ini bukan sekadar bayangan biasa — ini adalah Penguasa Bayangan, makhluk tertinggi yang berdiri di puncak kekuatan kegelapan, yang bahkan ia sendiri tak berani panggil sembarangan.
"Darahmu berbau menyengat..." suara makhluk itu terdengar bergema dari segala arah sekaligus, berat dan menggetarkan jiwa. "Darah yang murni namun terluka... kekuatan yang agung namun hampir hancur. Kau kalah, Durga. Dan kalah oleh tangan seorang anak yang baru saja membangkitkan kekuatannya."
Wajah Durga memerah karena malu dan amarah. Ia menegakkan tubuhnya meskipun masih gemetar dan terluka.
"Ini belum selesai. Aku hanya belum pulih sepenuhnya. Beri aku waktu..."
"Waktu..." Bayangan itu tertawa rendah, suaranya terdengar seperti gemuruh guntur yang jauh. "Waktu adalah hal yang tak menunggu siapa pun. Namun kekuatan yang mengalir di nadimu... masih berharga bagiku. Aku tidak akan membiarkannya lenyap begitu saja."
Mata ungu itu menatap Durga lekat-lekat.
"Aku akan menawarkan sesuatu yang belum pernah kuberikan kepada siapa pun sebelumnya. Kekuatan yang akan menyembuhkan lukamu seketika. Kekuatan yang akan melipatgandakan kemampuanmu berkali-kali lipat. Namun sebagai gantinya... kau harus menandatangani perjanjian baru — perjanjian yang jauh lebih berat dari sebelumnya."
Durga menatap mata ungu itu, hatinya berdebar kencang. Kesembuhan. Kekuatan yang berkali-kali lipat. Itulah yang ia butuhkan saat ini. Namun ia juga tahu — perjanjian dengan Penguasa Bayangan harganya tak ternilai mahal.
"Apa yang kau minta sebagai gantinya?" tanyanya pelan namun tegas.
"Saat kau berhasil menangkap anak Phoenix itu..." Bayangan itu melayang semakin dekat, suaranya berbisik dingin tepat di telinga Durga. "Darahnya bukan milikmu. Tubuhnya bukan milikmu. Semua yang kau peroleh darinya... adalah milikku. Dan setelah tugasmu selesai... jiwamu menjadi milikku selamanya."
Jantung Durga seakan berhenti berdetak seketika. Namun rasa sakit di tubuhnya, rasa malu karena kalah, dan keinginan balas dendam yang membakar dadanya... semuanya mendesaknya untuk menyetujui. Ia mengangkat tangan kanannya. Darah hitam yang masih mengalir dari luka di telapak tangannya perlahan melayang naik, melayang di antara mereka.
"Aku setuju..." ucapnya pelan namun penuh tekad yang mengerikan. "Kekuatanmu milikku. Darah Phoenix milikmu. Dan jiwaku... menjadi milikmu selamanya."
Darah itu menyala merah menyala lalu lenyap diserap oleh bayangan itu seketika. Cahaya ungu pekat meledak menyelimuti tubuh Durga. Rasa sakit yang luar biasa seakan merobek tubuhnya, lalu seketika digantikan oleh kekuatan yang begitu dahsyat dan dingin mengalir dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lukanya menutup seketika. Kekuatannya kembali — bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.
Bayangan itu perlahan melayang mundur, matanya menyala penuh kepuasan.
"Pergilah... dan bawa apa yang menjadi hakku. Jangan mengecewakanku... atau kau akan menyesal telah dilahirkan."
Sosok itu lenyap seketika, menyisakan Durga yang berdiri tegak di tengah hutan yang kembali gelap. Matanya kini menyala bukan lagi merah, melainkan ungu pekat — sama seperti mata Penguasa Bayangan. Senyum miring yang mengerikan terukir di bibirnya.
"Kirana..." bisiknya pelan, suaranya kini terdengar lebih berat dan lebih dingin dari sebelumnya. "Kau membuatku jatuh hari ini... dan sekarang kau telah menarik perhatian yang seharusnya tak pernah kau temui. Bersiaplah... karena kali ini aku datang bukan untuk menangkapmu. Aku datang untuk menyerahkanmu kepada maut yang sesungguhnya."
Â
Sementara itu, jauh dari sana, Dimas berlari sekuat tenaganya menembus hutan yang gelap dan lebat. Napasnya tersengal-sengal, kakinya terasa berat seakan tertanam di tanah. Ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang, berharap semakin jauh ia meninggalkan gua itu, semakin jauh pula ia meninggalkan segala kesalahan dan perjanjian kelam yang telah ia buat.
"Aku bebas..." bisiknya berulang kali pada dirinya sendiri sambil terus berlari. "Aku meninggalkan tempat itu. Aku tidak lagi bagian dari perjanjian itu. Aku bebas..."
Namun tiba-tiba, langkah kakinya terhenti mendadak. Di depannya, di tengah jalan yang seharusnya kosong, udara berubah menjadi gelap pekat. Cahaya bulan seakan tak mampu menembus kegelapan di titik itu. Dan dari kegelapan itu, suara yang sama persis seperti suara Durga terdengar lembut namun mencekam — seakan berbisik tepat di telinganya.
"Kau pikir perjanjian bisa diakhiri begitu saja, Dimas Ardika?"
Dimas mundur terhuyung-huyung, wajahnya pucat pasi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Biarkan aku pergi..." suaranya gemetar hebat. "Aku sudah melakukannya apa yang kau minta! Aku sudah membawanya ke sana! Perjanjian kita selesai!"
Kegelapan itu perlahan membentuk bayangan wajah Durga — tersenyum miring dan mengerikan.
"Perjanjian baru saja dimulai, Dimas. Darah telah ditandatangani. Nama telah tercatat. Ke mana pun kau lari... ke mana pun kau bersembunyi... bayangan ini akan selalu menemukanku melalui dirimu. Kau tidak bisa lari dari perjanjian itu. Kau tidak bisa lari dariku."
Bayangan itu perlahan lenyap, namun seutas tali tak kasat mata yang dingin dan berat seakan melilit dada Dimas erat-erat. Ia terbatuk hebat, jatuh berlutut di tanah yang lembap. Tangannya mencengkeram tanah erat, matanya terbuka lebar penuh ketakutan yang tak terlukiskan. Ia menyadari kenyataan yang mengerikan itu — perjanjian yang telah ia tanda tangani dengan darah itu bukanlah perjanjian yang bisa ditinggalkan begitu saja. Di mana pun ia berada, apa pun yang ia lakukan... Durga akan selalu tahu. Durga akan selalu bisa menjangkaunya. Ia tidak pernah benar-benar bebas. Ia hanya berpindah tempat... namun tetap terikat dalam rantai yang tak terlihat.
Dimas menengadah ke langit yang gelap tanpa bintang, air mata jatuh membasahi pipinya yang kotor. Penyesalan datang terlambat. Dan kini... tak ada jalan untuk kembali.
Share this novel