127. Harapan Yang Dibuat Dari Kebohongan

Romance Completed 202

Pertempuran berkobar di dalam ruangan batu itu. Cahaya ungu dan keemasan membelah kegelapan, beradu dengan kilatan merah gelap yang datang dari segala arah. Kirana melesat maju, setiap serangannya membawa kekuatan gabungan Wirabuana dan Lembayung — api yang tak padam, cahaya yang tak tertembus. Durga tampak terdesak; setiap langkahnya mundur, setiap pertahanannya retak sedikit demi sedikit. Darah hitam menetes dari lengannya, dan setiap kali ia bergerak, napasnya terdengar berat dan kesakitan.
Dia kalah. Atau begitulah yang terlihat.
"Dia melemah!" seru Arga di tengah pertempuran. "Kirana, teruskan! Kita mendekati kemenangan!"
Kirana mengangguk, hatinya berdebar — bukan karena kesombongan, tapi karena harapan. Dia menyerang lagi, gelombang energi ungu-emas mendorong Durga hingga terpental ke belakang dan menabrak dinding batu. Darah hitam memercik ke lantai di antara mereka — jatuh tepat ke ukiran merah tua yang tersembunyi di bawah debu dan bebatuan. Kirana tidak menyadarinya. Tidak ada yang menyadarinya. Setiap tetes darah itu diserap oleh lantai, bercahaya semakin terang, semakin panas — ritual kuno itu perlahan-lahan bangkit, diberi makan oleh darah musuh yang mereka kira sedang kalah.
"Kalian... kalian menangis..." desis Durga, suaranya penuh kepahitan. Dia merangkak mundur, punggungnya menempel ke dinding. "Phoenix... Penjaga... semua klan... kalian memang kuat. Aku salah..."
Kata-kata itu memberi mereka harapan. Bahwa ini akan berakhir baik. Bahwa mereka bisa pulang. Bahwa penebusan sudah dekat.
Namun Kirana berhenti. Sesuatu terasa salah. Terlalu mudah. Terlalu cepat. Dan darah itu — darah itu jatuh tepat ke pola yang sekarang mulai menyala terang di sekeliling kaki mereka.
"Berhati-hati!" teriak Aran tiba-tiba, matanya melebar ngeri. "Lantai itu — itu bukan sekadar ukiran! Itu—"
 
PERANGKAP YANG SUDAH DITATA SEJAK AWAL
Sebelum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Durga tertawa. Bukan tawa kesakitan — melainkan tawa yang penuh kemenangan dan kegilaan. Dia berdiri perlahan, luka-lukanya menutup sendiri di depan mata mereka. Cahaya merah di matanya berkobar dua kali lipat lebih terang dari sebelumnya.
"Kalian benar-benar percaya?" suaranya bergema, bukan lagi suara yang tersiksa, melainkan suara yang penuh kuasa dan kebencian purba. "Bahwa aku — yang hidup dalam kegelapan ini ratusan tahun — akan jatuh hanya dalam beberapa serangan anak kecil?"
Lantai di bawah kaki mereka bersinar terang merah. Mereka semua terperangkap dalam lingkaran sihir yang tadi mereka kira sebagai dekorasi kuno. Darah Durga yang jatuh ke sana bukanlah tanda kekalahan — itu adalah kunci yang membukanya.
"Terima kasih, Phoenix," ucap Durga sinis. "Kemarahanmu, kekuatanmu, dan bahkan belas kasihanmu — semuanya telah membantuku menyempurnakan ritual ini. Sekarang... hadiah untuk kalian."
Dia mengangkat tangan kanannya perlahan. Dari bayangan di sudut ruangan, muncul sebuah sangkar besar yang terbuat dari logam hitam berkarat dan berukiran rune gelap yang berdenyut. Di dalamnya, terbaring tak sadarkan diri — Larasati dan Serena. Wajah mereka pucat, napas mereka lemah, dan tali energi gelap melilit tubuh mereka, perlahan-lahan menyerap sisa kehidupan yang ada di dalamnya.
Dimas berteriak. Langsung berlari ke depan, tak peduli pada sihir yang mengancamnya.
"LARASATI! SERENA!!"
Dia berhenti tepat di depan sangkar itu, tangannya meraba logam dingin itu, namun terpental mundur oleh perisai gelap yang melindunginya. Matanya memerah, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
"Jangan sentuh mereka..." desisnya, gemetar karena amarah dan ketakutan. "Apa yang kau lakukan pada mereka?! Mereka tidak bersalah!"
"Tidak bersalah?" Durga tertawa keras. "Mereka yang datang kepadaku dulu. Mereka yang memohon kekayaan dan kemewahan. Mereka yang rela menjual apa pun demi namanya. Dan sekarang — inilah harganya. Mereka adalah jaminanmu, Dimas. Agar kau tidak pernah berpikir untuk berkhianat lagi."
Dimas jatuh berlutut, tubuhnya terguncang tangis yang tak bisa ditahan. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta... aku sudah membawa mereka ke sini... lepaskan mereka! Lepaskan mereka sekarang juga!"
"Belum waktunya," jawab Durga dingin. "Dan sebenarnya... aku pun hanyalah alat."
 
TUAN DARI SEGALA KEGELAPAN
Suara itu tidak datang dari Durga. Itu datang dari mana-mana sekaligus — dari dinding batu, dari udara yang berhenti bergerak, dari bayang-bayang yang tiba-tiba terasa jauh lebih dalam dan jauh lebih gelap.
Dari tengah kegelapan di belakang Durga, sosok itu muncul perlahan.
Dia tidak berjalan — dia seakan menjadi kegelapan itu sendiri, yang perlahan membentuk wujud manusia. Tingginya melebihi manusia biasa, namun tidak menakutkan karena ukurannya — melainkan karena aura yang dipancarkannya. Dia mengenakan jubah hitam pekat yang tidak memantulkan cahaya sedikit pun, seakan dia adalah lubang di dunia itu sendiri. Wajahnya pucat, rambutnya hitam legam menjuntai ke bahu. Matanya — bukan merah seperti Durga, melainkan hitam murni, tanpa putih, tanpa pelangi, seakan menatap ke dalam jurang yang tak berdasar. Di dahinya terdapat tanda berbentuk bulan sabit yang terbalik — berwarna ungu gelap, berdenyut pelan seperti jantung.
Ini bukan sekadar makhluk gelap. Ini adalah kekuatan yang jauh lebih tua, jauh lebih murni, dan jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah mereka hadapi.
"Kau terlalu berisik, Durga," ucapnya pelan. Suaranya rendah, tenang, dan tanpa emosi — namun setiap kata itu membuat udara bergetar. "Kau hampir saja merusak permainan ini sebelum waktunya."
Durga menunduk dalam, tubuhnya gemetar hormat sekaligus takut. "Maaf, Tuan Arya Adikara... Aku hanya ingin menyempurnakan ritual seperti yang Kau perintahkan..."
Arya Adikara. Nama itu terasa kuno dan berat — nama yang bahkan Aran Aruna belum pernah dengar dalam catatan sejarah tertua Klan Aruna.
Sosok itu melangkah maju selangkah, dan di saat itu juga, semua orang merasakannya — kekuatan yang begitu besar sehingga mereka hampir tidak bisa bernapas. Bima Sena menggenggam tanah di bawah kakinya, berusaha menahan getaran yang datang dari kehadirannya. Wira dan Sariya saling bertatapan — ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya muncul di mata mereka.
Arya Adikara menatap Kirana. Bukan dengan amarah — melainkan dengan tatapan seolah dia sedang melihat benda, bukan manusia.
"Phoenix terakhir..." ucapnya pelan, suaranya bergema di seluruh ruangan. "Kau lebih kecil dari yang kubayangkan. Tapi apinya... apinya cukup panas. Mungkin kau memang layak menjadi bahan bakar untuk dunia baru."
Dia mengangkat tangan kirinya perlahan. Tanpa mantra, tanpa gerakan rumit — hanya satu gerakan tangan, dan semua orang di sana terdorong mundur, tertekan ke dinding seakan ada gunung yang menindih tubuh mereka. Darma terbatuk darah. Arga dan Bima berusaha menahannya, namun tidak bisa bergerak satu inci pun.
"Kalian tidak perlu takut," ucap Arya tenang, seakan sedang berbicara dengan anak-anak. "Aku tidak akan membunuh kalian hari ini. Aku hanya ingin memastikan — kalian tahu siapa yang sebenarnya memegang kendali di sini."
Dia menoleh ke Dimas yang masih berlutut di depan sangkar itu, tubuhnya gemetar.
"Dan kau... Dimas Ardika. Kau pikir perjanjian itu bisa diputus begitu saja? Kau pikir ada jalan keluar dari kegelapan setelah kau memasukkan kakimu ke dalamnya? Tidak ada penebusan bagi mereka yang melayani kegelapan. Hanya ada perbudakan abadi."
Dimas mendongak, matanya penuh kebencian sekaligus keputusasaan. "Kau iblis..."
"Aku bukan iblis," jawab Arya tenang. "Aku hanyalah kebenaran yang kalian sembunyikan selama ribuan tahun. Klan Wirabuana, Lembayung, Aruna, Sena, Bayu, Ardika... kalian semua bersekongkol untuk mengurungku. Dan sekarang — saat kekuatan Phoenix muncul kembali — inilah saatnya keseimbangan dikembalikan."
Dia melambaikan tangan sekali lagi, dan sangkar berisi Larasati dan Serena itu menghilang ke dalam bayang-bayang.
"Mereka aman... untuk saat ini," ucapnya dingin. "Jika Phoenix bersedia datang bersamaku dengan tenang — mungkin aku akan membiarkan mereka hidup. Jika tidak... maka lihatlah seberapa lama mereka bisa bertahan tanpa udara di dalam sangkar itu."
Kirana berusaha berbicara, namun suaranya tertahan. Dia merasakannya — kekuatan Arya Adikara bukanlah sesuatu yang bisa dikalahkan dengan api atau pedang. Itu adalah kekuatan yang berasal dari zaman sebelum zaman itu sendiri.
Namun di kedalaman hatinya, sesuatu mulai bangkit. Sesuatu yang selama ini dia sembunyikan. Sesuatu yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapa pun. Cahaya ungu-emas di dalam dirinya semakin terang, semakin panas — dan di belakang punggungnya, bayangan sayap mulai terbentuk, samar namun nyata.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience