119. Medan Yang Dahsyat Dan Kekuatan Leluhur

Romance Completed 202

Pagi itu, sinar matahari menyinari halaman belakang Pradana Mansion. Di tengah hamparan rumput hijau yang luas, Aran Aruna berdiri diam dengan kedua tangan terangkat perlahan. Cahaya keemasan keperakan mulai memancar dari telapak tangannya, membentuk lingkaran besar yang semakin melebar, perlahan menyelimuti seluruh area di hadapannya. Udara bergetar lembut, dan di depan mata semua orang yang hadir — Wira, Sariya, Kirana, Darma, Arga, Bima, Kesuma, dan Haris — pemandangan di balik lingkaran itu berubah seketika.
Rumput hijau dan pagar kayu lenyap, digantikan oleh hamparan tanah luas yang tak bertepi. Langit di sana berwarna biru jernih bercampur ungu lembut, tanpa matahari namun terang benderang. Tanahnya kokoh namun elastis, seakan mampu menahan hantaman apa pun tanpa retak. Di kejauhan, tebing batu dan hutan buatan berdiri tegak — tempat latihan yang sempurna, sepenuhnya terisolasi dari dunia luar.
"Selesai," ucap Aran pelan, menurunkan tangannya. "Medan ini sudah siap. Di dalam sini, satu hari di dunia luar sama dengan tiga hari di dalam. Tidak ada kekuatan apa pun yang bisa menembus ke luar, dan tidak ada yang bisa masuk tanpa izin. Kalian bisa melepaskan apa pun yang kalian miliki — tempat ini akan menahannya."
Semua orang terdiam terpaku memandang ke dalam gerbang cahaya itu. Udara di dalam terasa murni dan penuh energi.
"Luas sekali..." bisik Arga Bayu, matanya membelalak takjub. "Dan energi di sini... begitu murni dan kuat."
Mereka pun melangkah masuk satu per satu. Begitu melewati batas cahaya itu, sensasi berat dan penuh kekuatan menyambut mereka. Tanah di bawah kaki terasa kokoh namun hidup. Langit di atas begitu luas dan terbuka, seakan mereka berdiri di tengah dunia yang baru.
"Ini luar biasa," gumam Bima Sena, menekan telapak tangannya ke tanah. "Tanah ini bukan buatan semata — ia memiliki kesadaran sendiri. Ia menerima kekuatan kita tanpa menolaknya."
Namun di antara kekaguman itu, nada sedikit cemburu terdengar dari Arga. Ia melipat tangannya di dada, menatap Aran dengan tatapan setengah takjub, setengah bertanya-tanya.
"Aran..." ucapnya pelan namun terdengar jelas. "Kau menyembunyikan kemampuan sehebat ini selama ini? Mengapa tidak pernah kau tawarkan tempat seperti ini kepada Klan Bayu sebelumnya? Selama ini kami berlatih di gua-gua sempit dan hutan lebat, takut salah melanggar akan merusak apa pun. Dan ternyata... kau bisa menciptakan tempat seindah ini kapan saja?"
Bima Sena mengangguk setuju, ikut menatap Aran dengan tatapan yang sama.
"Benar. Klan Sena juga sering berlatih di pegunungan terpencil, jauh dari mana pun, hanya agar getaran kekuatan kami tidak merusak pemukiman. Jika tempat ini sudah ada sejak dulu... berapa banyak waktu dan tenaga yang bisa kami hemat?"
Aran tersenyum tipis, tidak tersinggung sedikit pun. Ia menatap kedua temannya dengan pandangan yang tenang dan bijaksana.
"Karena tempat ini tidak dibutuhkan sebelumnya," jawabnya lembut namun tegas. "Ancaman yang kita hadapi dulu belum sebesar ini. Kekuatan yang akan kalian lepaskan ke depannya — bukan lagi kekuatan biasa. Itu adalah kekuatan yang bisa merobek gunung dan mengubah sungai. Jika aku menciptakan tempat ini sebelum waktunya... itu hanya akan menarik perhatian yang tidak diinginkan. Dan sekarang... saat Phoenix telah bangkit, saat kegelapan semakin kuat... inilah waktu yang tepat. Bukan karena aku menyembunyikannya — tapi karena belum waktunya."
Penjelasan itu sederhana namun masuk akal. Arga dan Bima saling bertatapan, lalu tersenyum tipis sambil mengangguk memahami.
"Kau selalu punya alasan yang tak bisa dibantah, ya Aran," ucap Arga sambil tertawa pelan. "Baiklah — kami terima penjelasanmu."
Di sisi lain ruangan itu, Kirana berdiri di antara Wira dan Sariya, menonton percakapan itu sambil tersenyum hangat.
"Mereka seperti saudara yang saling mengeluh tapi saling peduli," bisiknya pelan kepada ibunya.
Sariya tersenyum lembut sambil mengangguk.
"Itulah ikatan antar klan penjaga, Kirana. Mereka berselisih pendapat, mereka berbeda cara pandang — tapi saat tiba waktunya, mereka berdiri bahu membahu tanpa ragu sedikit pun."
Belum sempat Kirana menjawab, tiba-tiba angin di tengah medan itu berhembus kencang. Cahaya keemasan dan ungu menyala bersamaan di udara, menarik perhatian semua orang. Di tengah hamparan luas itu, Wira dan Sariya berdiri berhadapan sekitar sepuluh langkah satu sama lain. Tidak ada kata yang terucap — namun aura mereka berdua berubah seketika.
Wira mengangkat satu tangannya perlahan. Api keemasan yang murni dan panas menyala di telapak tangannya, namun tidak membakar apa pun di sekitarnya — terkendali sempurna. Sementara itu, di sisi berlawanan, Sariya berdiri tegak. Cahaya ungu lembut namun memukau memancar dari tubuhnya, membentuk pusaran energi yang tenang namun tak tergoyahkan — kekuatan Klan Lembayung yang penuh kebijaksanaan dan keteguhan.
"Mereka..." bisik Arga tertegun. "Mereka akan bertarung?"
Belum sempat siapa pun menjawab, Wira bergerak. Tanpa lompatan yang berlebihan, tanpa teriakan — ia melesat ke depan dengan kecepatan yang luar biasa, tinjunya terbungkus api keemasan yang padat. Sariya tidak mundur. Dengan satu gerakan tangan yang halus namun tegas, ia menangkis serangan itu — cahaya ungu di tangannya bertemu dengan api keemasan, menciptakan gelombang udara yang mendorong rumput di sekelilingnya hingga bergerak hebat.
Pertarungan itu bukan pertarungan yang penuh amarah atau ledakan besar. Itu adalah pertarungan dua kekuatan purba yang saling mengenal satu sama lain dengan sangat baik. Setiap gerakan Wira — cepat, tegas, mematikan — selalu ditanggapi dengan gerakan Sariya yang tenang, luwes, namun tak pernah tertembus. Mereka bergerak berputar di tengah medan itu, seperti dua cahaya yang menari — satu api, satu cahaya — saling mendekat dan saling menjauh, saling menyerang dan saling menangkis.
"Gerakan mereka..." bisik Bima Sena dengan kagum. "Setiap langkahnya sudah dihitung sejak lama. Mereka tahu persis apa yang akan dilakukan pasangannya sebelum gerakan itu dimulai."
"Ini bukan pertarungan," ucap Aran pelan sambil terus memantau setiap sudut medan, memastikan tidak ada kebocoran sihir sedikit pun. "Ini adalah latihan yang telah mereka lakukan sejak muda. Sebelum perpisahan itu terjadi... ini adalah cara mereka saling mengasah kekuatan satu sama lain."
Kirana menatap kedua orang tuanya dengan mata terbelalak penuh kekaguman. Setiap gerakan mereka begitu indah, begitu kuat, dan begitu penuh rasa hormat satu sama lain. Wira tidak pernah menggunakan kekuatan penuh untuk melukai, dan Sariya tidak pernah menangkis dengan niat menjatuhkan. Mereka saling mengasah, saling menguji, dan saling mendorong untuk menjadi lebih kuat.
Saat Wira akhirnya melepaskan gelombang api yang lebih besar — api yang berbentuk burung yang melesat cepat — Sariya tidak menangkisnya. Sebaliknya, ia melambaikan tangan dan cahaya ungu menyelimuti burung api itu, mengubahnya menjadi ribuan percikan cahaya yang terbang ke segala arah sebelum perlahan lenyap.
Keduanya berhenti pada saat yang sama, napas mereka sedikit memburu namun wajah mereka tenang. Wira menatap istrinya, lalu tersenyum bangga.
"Kau masih sama kuatnya, Sariya. Bahkan lebih kuat dari sebelumnya."
Sariya tersenyum balik, menyeka keringat tipis di pelipisnya.
"Dan kau masih terlalu cepat. Hampir saja aku kalah."
Pemandangan itu membuat semua orang yang menonton terdiam. Bukan hanya karena kekuatan mereka yang luar biasa — tapi karena mereka melihat betapa tinggi tingkat yang harus mereka capai. Jika Wira dan Sariya yang sudah hidup ratusan tahun masih terus berlatih, masih terus mengasah kemampuan satu sama lain — bagaimana dengan mereka yang masih punya banyak hal untuk dipelajari?
Kirana mengepalkan tangannya erat di sisi tubuhnya, matanya bersinar penuh tekad yang membara. Darma di sampingnya menatap gadis itu, lalu mengangguk mantap — hatinya juga penuh semangat baru. Arga, Bima, dan Kesuma saling bertatapan, lalu mengangguk satu sama lain dengan tekad yang sama.
"Lihat itu..." bisik Arga pelan. "Itulah standar yang harus kita capai. Dan kita punya waktu tiga kali lipat di sini untuk melakukannya."
Bima menatap ke tengah medan, matanya penuh semangat bertarung yang baru saja bangkit.
"Maka kita tidak akan menyia-nyiakan waktu ini. Mulai hari ini... kita semua akan melatih diri kita masing-masing. Sampai kita setara dengan mereka."
Kirana melangkah maju selangkah, menatap kedua orang tuanya yang kini berdiri berdampingan sambil tersenyum bangga padanya.
"Aku juga..." ucapnya pelan namun tegas, suaranya terdengar jelas di keheningan medan itu. "Aku akan berlatih lebih keras dari sebelumnya. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua berjuang sendirian."
Wira dan Sariya saling bertatapan, lalu tersenyum bahagia. Di sisi lain, Aran menyelesaikan pemeriksaannya, mengangguk puas — tidak ada satu pun titik lemah yang terlewat. Semuanya siap.
"Maka mulailah," ucap Aran pelan namun penuh kekuatan. "Waktu ada di pihak kalian sekarang. Gunakanlah dengan bijak."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience