60. Mimpi Di Sebalik Kabut

Romance Series 154

TIDUR YANG TERLALU PANJANG
Hari berganti hari. Cahaya matahari terbit dan terbenam di balik jendela kamarnya. Namun Kirana... masih terbaring diam di atas tempat tidur. Napasnya lemah namun teratur, wajahnya pucat tanpa darah, kelopak matanya tak pernah bergerak. Hari pertama berlalu. Hari kedua. Hari ketujuh. Dan kini... hari kesepuluh telah tiba. Namun Kirana tetap belum membuka matanya.
Kekhawatiran perlahan merayap di hati semua orang. Bima Sena yang duduk di tepi tempat tidur siang dan malam tampak semakin cemas. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak berat dan gelisah. Di perpustakaan besar, Arga Bayu dan Aran Aruna menelusuri lembaran-lembaran kuno, satu per satu, mencari jejak.
"Menurut catatan kuno..." Aran membaca pelan, suaranya berat. "Sejak zaman leluhur... tidak pernah ada Phoenix yang terjatuh dan terbaring selama ini. Tidak ada dalam catatan. Tidak ada dalam naskah mana pun."
Arga menutup buku yang dipegangnya perlahan, napasnya terdengar berat.
"Artinya... apa yang dialaminya sekarang... belum pernah terjadi sebelumnya?"
Aran mengangguk pelan, matanya menatap ke arah jendela yang tertutup tirai.
"Kekuatannya sedang tumbuh. Atau... jiwanya sedang berada di tempat yang jauh. Di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh siapa pun di dunia ini." Aran berdiri tegak, cahaya lembut perlahan memancar dari tubuhnya, menyebar perlahan ke seluruh penjuru kediaman Pradana. "Maka aku tidak punya pilihan lain. Aku akan membentengi kediaman ini dengan sihir tertinggi yang kumiliki. Tidak ada bayangan kegelapan yang dapat melangkah masuk selama benteng ini berdiri."
Cahaya itu meluas, menyelimuti setiap batu, setiap pintu, setiap celah di kediaman Pradana. Perlahan berubah menjadi kubah cahaya yang tak terlihat namun begitu kokoh.
"Dan selama Kirana belum sadar..." Aran menatap Bima, Arga, dan Darma satu per satu. "Kita bergiliran menjaganya. Satu selalu di sisinya. Tidak ada yang dibiarkan sendirian. Sampai ia kembali membuka matanya."
Mereka semua mengangguk. Sepakat. Dan sejak saat itu... penjagaan tak pernah putus.
 
GUA YANG MEMANGGIL
Sementara itu... di tempat yang jauh, di tempat yang tak terjangkau oleh peta maupun mata... Kirana melayang. Tubuhnya tampak setengah transparan, seakan terbuat dari kabut tipis. Ia berjalan melayang di atas kabut putih yang tak berujung. Di depannya, jalan itu terbentang lurus, namun ia tidak tahu ke mana ia menuju.
Ia berbalik, ingin kembali. Ingin pulang. Namun kakinya terus melangkah maju. Seakan ada sesuatu yang menariknya. Seakan ada panggilan yang tak dapat ditolak. Semakin jauh ia melangkah... semakin terasa berat di dadanya. Hingga akhirnya... kabut itu perlahan menipis.
Di hadapannya terbuka sebuah gua kuno. Dinding-dindingnya gelap, penuh retak, namun di bagian paling dalam... ada cahaya redup yang berdenyut lemah. Dan di sana... diikat pada batu hitam yang dingin... terbaring sesosok wanita.
Darah terus menetes dari pergelangan tangan dan kakinya. Rantai-rantai hitam tebal melilit tubuhnya, rantai yang terbuat dari logam kuno yang tak dapat dipatahkan. Rantai itu perlahan menyedot darah wanita itu... tetes demi tetes, tanpa henti. Namun wanita itu... tetap bersandar tenang di batu itu, meski tubuhnya lemah dan pucat.
Kirana melangkah mendekat perlahan. Hatinya bergetar hebat. Ia ingin mengulurkan tangan. Ingin menolong. Ingin melepaskan rantai itu. Namun saat kakinya melangkah... wanita itu perlahan mengangkat kepalanya.
Mata itu... mata itu begitu jernih, begitu lembut... dan begitu mirip dengan matanya sendiri.
Wanita itu menatapnya. Air mata perlahan mengalir di pipinya yang pucat. Ia tersenyum — senyum yang penuh kasih sayang rindu yang mendalam.
"Anakku... Kirana..."
Suara itu... suara yang pernah ia dengar dalam mimpi. Suara yang ia rindukan seumur hidupnya.
"Ibu..." Kirana melangkah tergesa-gesa, air mata jatuh tanpa sadar. "Ibu... aku datang..."
Ia membentangkan kedua lengannya, ingin memeluk wanita itu erat-erat. Namun saat ujung jari-jemarinya hampir menyentuh... pemandangan itu perlahan memudar. Cahaya di gua itu berubah menjadi kabut putih yang menyilaukan. Tubuh ibunya perlahan lenyap dari pandangannya.
"Ibu!!!"
 
SANG PENJAGA DARI MASA LALU
Saat kabut itu menghilang... berdiri sesosok lelaki di hadapannya. Usianya sekitar paruh baya. Wajahnya tegas namun lembut. Matanya... matanya yang jernih dan teguh... seakan memancarkan kekuatan yang tak terukur. Cahaya keemasan samar menyelimuti tubuhnya. Bukan cahaya yang menyilaukan... melainkan hangat dan menenangkan.
Lelaki itu menatap Kirana dalam diam. Tangannya perlahan terangkat... dan dengan lembut... ia menepuk puncak kepala Kirana. Sentuhannya begitu hangat... begitu menenangkan... seakan semua lelah dan luka perlahan hilang.
Kirana menarik diri mundur sedikit, matanya berkaca-kaca, bingung dan marah sekaligus.
"Siapa kau?! Mengapa kau memindahkanku ke sini tepat saat aku hendak memeluk Ibuku?! Mengapa kau memisahkan kami?!"
Lelaki itu tetap diam. Matanya menatapnya — penuh kerinduan, penuh kebanggaan, namun juga penuh kesedihan yang dalam. Ia seakan ingin menjawab... namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Hingga akhirnya ia berbicara... suaranya rendah dan dalam, namun terdengar begitu jelas di setiap sudut tempat itu.
"Karena kau belum cukup kuat, anakku."
Lelaki itu mengulurkan tangan kembali. Cahaya keemasan perlahan mengalir dari telapak tangannya, menyelimuti tubuh Kirana, lalu meresap masuk perlahan ke dalam kulitnya, ke dalam darahnya, hingga ke jantungnya. Kirana merasakannya — kekuatan yang begitu kuno, begitu murni, begitu dahsyat namun lembut. Ia merasakan kehangatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Seakan... kekuatan itu... sejak awal memang miliknya.
Kirana ingin berteriak. Ingin bertanya. Namun suaranya terkunci di kerongkongannya. Ia tidak bisa mengeluarkan suara apa pun. Hanya bisa berdiri diam... merasakan aliran kekuatan itu... dan mendengar setiap kata yang lelaki itu ucapkan.
"Namaku Wira."
Kirana tersentak. Matanya membelalak. Wira. Nama yang tidak pernah ibunya sebutkan dalam journal. Nama yang tak pernah diketahui nasibnya. Adakah dia...Ayahku!?
"Dan sekarang... dengarkan ceritaku. Cerita tentang kami. Tentang Ibumu. Tentang masa lalu yang menyembunyikan segala kebenaran."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience