3. Topeng Dibalik Pintu Emas

Romance Series 17

Aku berdiri diam di depan cermin, jari-jariku menyentuh permukaan kaca yang dingin seakan menyentuh wajah orang lain. Gadis yang menatapku balik itu masih lembut, masih muda, matanya belum berbekam luka kematian — namun di kedalaman sana, ada sesuatu yang telah mati dan digantikan oleh api yang tak bisa dipadamkan.
Tiga tahun. Tiga tahun sebelum neraka menelanku. Tiga tahun untuk membalikkan papan catur, mematahkan setiap pedang yang mereka arahkan ke dadaku, dan menghancurkan mereka satu per satu dari dalam.
"Aku tidak akan lagi berlari," bisikku pada pantulanku. "Aku tidak akan lagi memohon. Kali ini, merekalah yang akan gemetar."
Aku berbalik, melangkah keluar kamar. Setiap langkahku terasa berbeda — tegap, tenang, tanpa keraguan yang dulu selalu membayangi setiap gerak-gerikku. Di lorong yang luas dan remang, lukisan leluhur Ardika menatap dari bingkai emas, mata mereka tampak mengawasi, menilai, menunggu. Dulu aku akan menunduk lewat di bawah tatapan itu. Hari ini aku menatap balik, satu per satu, hingga aku melangkah melewati mereka tanpa menunduk sedikit pun.
Aula utama rumah Ardika tampak megah namun dingin, lantai marmer hitam berkilauan seperti permukaan danan beku. Langit-langitnya tinggi, dihiasi lampu gantung kristal yang menumpahkan cahaya keemasan ke setiap sudut — cahaya yang tak pernah benar-benar menghangatkan tempat ini. Saat aku melangkah turun tangga utama, suara sepatuku terdengar jelas, berirama, memantul dari dinding ke dinding.
Di bawah, di ruang tamu yang luas, mereka sudah berkumpul.
Serena duduk di kursi utama, punggungnya lurus, tangannya melipat di pangkuan, gaun sutra hijau zamrudnya tampak mahal dan kaku seakan terukir dari batu permata itu sendiri. Di sebelahnya, Larasati duduk bersandar, tersenyum manis — senyum yang dulu kupercaya, kini kulihat begitu mudahnya ia memasang dan melepasnya seperti topeng. Dan di sana, di kursi terhormat di seberang mereka, duduk seorang pria muda.
Darma Pradana.
Jantungku berdenyut sekali, keras dan tajam, namun wajahku tak berubah. Aku menatapnya — pria yang tiga tahun lagi akan berdiri di ambang pintu dan membiarkanku mati. Pria yang memilih tahta daripada nyawaku. Hari ini ia tampak lebih muda, lebih segar, belum terbebani ambisi yang kelak akan menelan hidupnya juga. Rambutnya rapi, setelan gelapnya pas di badan, wajahnya tampan dan tenang — tenang seperti wajah pembunuh yang belum menyadari korbannya tahu segalanya.
Ia menatapku saat aku tiba di lantai bawah, dan di matanya terpancar pengakuan yang biasa — sopan, sedikit tertarik, namun tak lebih dari itu. Baginya aku hanyalah calon istri yang dipilihkan keluarga, gadis yang lemah dan penurut, yang tak akan pernah menimbulkan masalah.
Jika saja ia tahu.
"Ah, Kirana," suara Serena terdengar, jernih dan dingin, seakan nada yang disusun dari es. "Kau akhirnya datang. Mari menyapa tamu kita."
Aku melangkah maju, berhenti di hadapan mereka. Aku tidak menunduk. Aku tidak tersenyum malu seperti dulu. Aku menatap Serena lurus ke mata, lalu beralih ke Larasati, dan terakhir ke Darma. Tatapan itu tenang, tak terbaca, dan cukup panjang untuk membuat mereka semua sadar — ada sesuatu yang berbeda.
"Selamat pagi," ucapku. Suaraku rendah, jelas, tanpa getar. "Maaf membuat kalian menunggu."
Serena sedikit mengernyit, seakan terkejut nada bicaraku. Larasati tersenyum lebih lebar, menyembunyikan kebingungannya di balik kedok kasih sayang.
"Kau terlihat cantik hari ini, Kak," ucapnya manis, melambaikan tangan seakan ingin memelukku. Namun kali ini aku tidak melangkah mendekat. Aku hanya mengangguk pelan, dan senyumku tipis, tak sampai ke mata.
"Terima kasih," jawabku singkat.
Larasati terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, seakan menutupi keanehan itu. Serena menegakkan punggung, menatapku tajam seakan mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik mataku.
"Ini Tuan Muda Darma Pradana," kata Serena, menunjuk pria itu dengan gerakan tangan yang anggun namun berwibawa. "Pewaris Keluarga Pradana. Ia datang hari ini untuk... mengenalmu lebih jauh."
Darma berdiri. Ia tinggi, berdirinya tegap, aura kekuasaan sudah mulai memancar dari dirinya meski masih muda. Ia menatapku, lalu mengulurkan tangan.
"Senang bertemu denganmu, Nona Kirana," ucapnya. Suaranya dalam, terlatih, sopan. Tak ada yang bisa disalahkan — kecuali aku tahu bahwa di balik kesopanan itu, ia tak akan ragu membiarkanku mati.
Aku menatap tangannya. Tangan yang dulu kupercaya akan melindungiku. Tangan yang kelak akan menggenggam tangan Larasati di atas makamku. Perlahan aku mengulurkan tanganku — bukan untuk digenggam lembut, melainkan untuk bersalaman singkat, tegas, dan segera ditarik kembali. Kulitnya menyentuh milikku sesaat, dan aku merasakannya — hangat, namun hatinya sedingin batu.
"Senang juga, Tuan Muda Pradana," jawabku, menggunakan sapaan yang formal, memberi jarak yang jelas.
Darma sedikit berkedip. Biasanya aku akan tersipu, menunduk, membiarkan tangannya menggenggam lebih lama. Hari ini aku berdiri tegak, menatapnya setinggi mata, dan suaraku seimbang dengan miliknya — bukan anak kecil yang diajari sopan santun, melainkan seseorang yang setara.
"Mari duduk," kata Serena, suaranya sedikit lebih tajam, seakan tidak menyukai perubahan kecil yang ia rasakan.
Kami duduk. Aku mengambil kursi terpisah, tidak di sebelah Larasati seperti yang biasa kulakukan. Posisi ini membuatku bisa melihat mereka semua sekaligus — Serena di tengah, Larasati di kanan, Darma di seberang. Tiga musuh dalam satu ruangan. Dan aku sendirian. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa lemah. Aku merasa penuh. Penuh api, dan janji yang tak akan terputus.
"Kami membicarakan pendidikanmu, Kirana," kata Serena, menatapku seakan menilai barang dagangan. "Dan persiapanmu untuk menjadi istri Tuan Muda Pradana. Perlu kau tahu, posisi ini bukan sekadar kehormatan. Ini adalah tanggung jawab berat. Seorang istri harus lembut, patuh, dan tahu tempatnya."
Kalimat itu — persis seperti yang dulu selalu ia ucapkan, menanamkan kerendahan hati ke dalam diriku agar aku tak pernah berani menuntut apa pun. Dulu aku akan menunduk dan berbisik "iya, Ibu". Hari ini aku menatapnya tenang, dan bibirku menyunggingkan senyum tipis yang membuatnya berhenti sejenak.
"Aku mengerti, Ibu Tiriku," jawabku pelan namun jelas. "Namun aku juga berpendapat, seorang istri harus dihormati. Dan agar dihormati, ia harus memiliki kecerdasan, pendirian, dan kekuatan — bukan sekadar kepatuhan."
Keheningan jatuh di ruangan itu. Berat dan tebal. Larasati membuka mulutnya sedikit, tak percaya. Serena menatapku, matanya menyipit, kilatan amarah cepat melintas namun segera ditahannya. Darma menatapku, alisnya sedikit terangkat, ada rasa penasaran yang mulai tumbuh di matanya — bukan minat romantis, melainkan rasa ingin tahu tentang perubahan yang tiba-tiba ini.
"Kau... memiliki pendapat yang menarik hari ini, Kirana," kata Serena, nada bicaranya kini dingin dan berbahaya. "Dari mana kau belajar bicara demikian?"
"Aku hanya berpikir, Ibu," jawabku lembut namun tak menyerah. "Dunia tempat kita hidup ini keras. Dan kepatuhan saja tidak akan melindungi siapa pun dari dunia yang keras itu. Bukankah begitu, Tuan Muda Pradana?"
Aku beralih menatap Darma, menantangnya untuk setuju atau membantah. Ia terkejut sejenak dipanggil tiba-tiba, lalu menatapku lebih lekat. Ada sesuatu di matanya yang berubah — rasa hormat kecil, atau mungkin waspada.
"Kebenaran yang sulit dibantah," ucapnya perlahan, matanya tak beralih dariku. "Kekuatan memang diperlukan. Namun kekuatan tanpa kendali adalah bahaya, Nona Kirana."
"Benar," jawabku. "Namun kelembutan tanpa kekuatan di belakangnya hanyalah kelemahan yang meminta diinjak-injak."
Darma terdiam. Sudut bibirnya bergerak, hampir tak terlihat — seakan ia tidak yakin apakah aku gadis yang sama yang diceritakan kepadanya. Larasati menyela, suaranya bernada cemas yang dibuat-buat.
"Kak Kirana pasti lelah, Ibu. Mungkin ia belum sadar apa yang dikatakannya. Kakak selalu begitu lembut, biasanya tak bicara sekeras ini." Ia menatapku dengan tatapan penuh perhatian — namun matanya menyuruhku diam.
Aku menoleh ke arahnya, dan kali ini senyumku sedikit lebih tajam.
"Aku hanya mulai melihat hal-hal dengan lebih jelas, Adikku. Terkadang hal yang lembut adalah yang paling dulu hancur. Dan aku tidak berniat hancur."
Kata-kataku menggantung di udara. Larasati memutihkan wajahnya, tak tahu bagaimana menanggapi. Serena berdiri tiba-tiba, gerakannya cepat, menandakan ketidaksabarannya.
"Cukup diskusi untuk hari ini," potongnya tajam. Ia menatap Darma. "Maafkan kami, Tuan Muda. Kirana sedang... dalam suasana hati yang aneh hari ini."
"Tidak masalah," jawab Darma, matanya masih tertuju padaku. "Aku justru terhibur. Ini jauh lebih menarik daripada yang aku duga."
Ia berdiri, meluruskan setelannya. Langkahnya tenang saat ia berjalan menuju pintu keluar, namun sebelum melangkah melewati ambang, ia berhenti dan menoleh padaku. Tatapannya dalam, meneliti, penuh pertanyaan.
"Sampai jumpa lagi, Nona Kirana. Aku berharap percakapan kita selanjutnya sama menariknya dengan hari ini."
"Aku akan berusaha, Tuan Muda," jawabku datar.
Ia pergi. Pintu tertutup di belakangnya. Dan seketika, udara di ruangan itu berubah menjadi lebih berat, lebih beracun. Serena berbalik menghadapku, langkahnya cepat, wajahnya gelap, dingin, dan kejam tanpa penyamaran.
"Apa yang kau lakukan tadi?" desisnya, suaranya rendah namun penuh amarah yang tertahan. "Siapa yang memberanikanmu bicara seperti itu di hadapan tamu?"
"Aku hanya menjawab pertanyaan, Ibu," jawabku tenang, tidak mundur walau ia berdiri hanya beberapa langkah di depanku.
Serena melangkah lebih dekat, menatapku dari atas ke bawah seakan aku hama.
"Jangan bermimpi kau bisa mengubah takdirmu dengan bicara berani, Kirana. Kau tetaplah gadis yang lemah, yang tak memiliki tempat di keluarga ini jika bukan karena belas kasihan kami. Ingat itu."
"Belas kasihan?" ulangku pelan, dan aku melihatnya — seketika itu, Serena terdiam, karena ada sesuatu dalam mataku yang membuatnya merasakan bayangan ancaman. "Kata yang indah. Namun aku bertanya-tanya... apakah belas kasihan yang sejati akan takut pada seseorang yang hanya berani berbicara?"
Wajah Serena memerah, tangannya terangkat hendak menamparku — gerakan yang dulu selalu ia lakukan setiap kali aku tidak menurut. Dulu aku akan menutup mata, menerima, tak berani melawan. Hari ini aku tidak mundur. Aku menatapnya lurus, dan bibirku sedikit terangkat, menantangnya.
Tangannya berhenti di udara. Gemetar. Dan ia menyadari — jika ia menamparku, ia mengakui ketakutannya. Dan ia tidak akan memberi kepuasan itu padaku. Ia menurunkan tangannya perlahan, matanya menyala penuh kebencian yang tak lagi disembunyikan.
"Kau mulai melupakan tempatmu, gadis kecil," desisnya. "Dan aku akan memastikan kau mengingatnya kembali."
"Aku menantikan itu, Ibu," jawabku dingin.
Aku berbalik, berjalan pergi — meninggalkan mereka berdua yang terdiam terpaku di ruang tamu. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tahu mereka menatap punggungku, penuh kebingungan, kemarahan, dan benih ketakutan yang mulai tumbuh. Biarlah mereka takut. Itu baru permulaan.
Saat aku kembali ke kamarku, kakiku gemetar — bukan karena takut, melainkan karena adrenalin yang meluap. Aku menutup pintu, bersandar di belakangnya, dan menarik napas panjang. Aku melakukannya. Aku menghadapi mereka. Aku tidak memohon. Aku tidak hancur.
Aku berjalan ke jendela, melihat ke halaman tempat kereta Darma baru saja melaju pergi. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja meninggalkan ruangan bersama musuh yang paling berbahaya yang pernah ia temui.
"Pertandingan dimulai," bisikku pada bayangan di kaca jendela. "Dan kali ini, aku yang memegang dadu."
Sesuatu berdenyut lagi di dadaku — hangat, lembut, namun kuat. Seperti hati yang kedua, yang baru saja mulai berdetak. Aku meletakkan tangan di dada, tepat di sana, dan untuk pertama kalinya aku tidak menolak perasaan itu. Aku menerimanya. Aku memeluknya.
"Siapa pun aku sebenarnya," bisikku, "siapa pun ayahku yang sebenarnya, apa pun kekuatan yang tersembunyi dalam darahku... gunakanlah. Karena aku akan membutuhkan semuanya untuk membakar dunia mereka sampai rata dengan tanah."
Malam turun perlahan, menutupi rumah Ardika dalam bayang-bayang. Namun di dalam kamarku, satu lilin menyala terang, dan di cermin, sepasang mata menatap balik — penuh api, penuh janji, dan tak lagi milik gadis yang mereka bunuh tiga tahun kemudian.
Mereka semua berpikir aku masih mangsa yang lemah.
Mereka salah.
Aku adalah pemburu. Dan mereka... adalah mangsaku.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience