58. Tebasan Yang Mambangunkan

Romance Series 154

TEBASAN YANG MEMBANGUNKAN
Udara di halaman belakang terasa hangat di bawah sinar matahari siang. Kirana berdiri tegak, napasnya teratur, matanya memandang lurus ke arah Bima Sena. Beberapa hari latihan membuatnya semakin kokoh berdiri. Namun hari ini... hatinya terasa gelisah. Seakan ada sesuatu yang mengawasi dari balik bayang-bayang pohon. Seakan udara itu sendiri menyembunyikan pandangan yang dingin.
Kirana sedikit melamun. Matanya yang seharusnya waspada... perlahan kehilangan fokus. Tubuhnya yang seharusnya siap... sedikit melonggar.
Dan seketika... bayangan melesat.
SWISH!!!
Udara di depan wajahnya terbelah. Ujung pedang Bima melintas begitu dekat hingga angin tebasannya menyapu pipi Kirana, membelah udara tepat di tempat hidungnya berada. Kirana tersentak hebat, melompat mundur selangkah dengan napas tersedak, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak. Tubuhnya gemetar, keringat dingin seketika membasahi punggungnya.
Bima menghentikan serangan tepat di sana. Pedangnya tidak melukai sehelai kulit pun. Namun tatapan matanya begitu serius, begitu tajam.
"Kau lengah, Nona Kirana."
Suara Bima rendah namun tegas. Kirana menatapnya dengan napas memburu, masih belum pulih dari keterkejutan.
"Jika ini pertempuran sesungguhnya... kau sudah mati seketika. Satu celah saja... dan nyawamu hilang begitu saja tanpa sempat kau menyadari apa yang terjadi." Bima menurunkan pedangnya perlahan, namun tatapan matanya tetap serius. "Jangan pernah lengah, Nona Kirana. Terutama saat kau merasa aman. Karena itulah saat bahaya datang paling cepat."
Kirana menarik napas panjang, menenangkan dada yang masih berdebar kencang. Ia menunduk sedikit, penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku, Tuan Bima. Aku... aku tidak bermaksud lengah."
Ia mengangkat wajahnya kembali, matanya tampak bingung dan gelisah.
"Aku hanya... belakangan ini hatiku terus merasa tidak tenang. Seakan ada mata yang mengawasi. Seakan ada bayangan yang berjalan di belakangku. Namun setiap kali aku menoleh... tidak ada siapa-siapa." Kirana menghela napas pelan. "Selama beberapa hari ini... aku selalu merasa demikian. Kau sendiri... apakah kau tidak merasakan kehadiran apa pun di sekitar kediaman ini?"
Bima terdiam sejenak. Ia menutup mata, merasakan setiap getaran udara, setiap jejak kehadiran di dalam wilayah yang dijaganya. Lalu perlahan ia menggeleng.
"Tidak. Di dalam batas kekuatanku... tidak ada kehadiran asing yang tersembunyi. Mungkin... itu hanyalah perasaanmu yang terlalu waspada belakangan ini. Tubuhmu sedang berubah. Kekuatanmu sedang tumbuh. Terkadang... firasat menjadi lebih tajam dari kenyataan."
Kirana terdiam. Ia menatap ke arah pepohonan yang rindang. Mungkin memang benar. Mungkin dia terlalu cemas. Terlalu takut kehilangan. Terlalu waspada terhadap bahaya yang belum tentu datang.
"Mungkin kau benar. Maafkan kekhawatiranku yang berlebihan. Izinkan aku beristirahat sejenak."
Bima mengangguk pelan. Kirana berjalan pergi, namun hatinya... hatinya tetap merasa berat. Seakan bahaya itu bukan berada di sini... melainkan sedang berjalan mendekat dari tempat yang jauh.
 
LAPORAN DAN KEPUTUSAN KEJAM
Jauh dari kediaman Pradana, di dalam aula yang gelap dan dingin... dua bayangan melayang di hadapan singgasana batu. Mereka kembali membawa laporan yang telah disusun dengan teliti.
Durga berdiri mendengarkan. Matanya menyapu setiap baris tulisan — ciri-ciri wajah Kirana, sifatnya, kebiasaannya, serta gambaran garis keturunannya yang tercantum dalam catatan kuno yang mereka temukan. Semua yang dikatakan Sariya... ternyata BENAR.
Durga tertawa. Kali ini tawanya bukan tawa kemenangan yang riuh, melainkan tawa yang rendah, dingin, dan penuh kepuasan yang mengerikan.
"Hebat sekali... Sariya. Kau tidak berbohong. Putrimu... memang benar-benar ada." Durga melirik laporan itu sekilas lagi, lalu menatap ke arah bayangan yang melapor. "Namun... keberadaannya justru membuat rencanaku semakin jelas. Jika dia menjadi penghalang... maka singkirkanlah dia lebih awal."
Durga melangkah maju, suaranya berubah tegas dan kejam.
"Kirimkan lebih banyak bayangan. Lebih kuat. Lebih gelap. Tangkap gadis itu. Bawa ke sini. Segera. Sebelum kekuatannya tumbuh sepenuhnya. Jangan biarkan apa pun menghalangi. Dan jika Pradana melindunginya... hancurkanlah mereka juga."
Bayangan itu membungkuk dan lenyap seketika. Durga tersenyum sendiri di dalam kegelapan.
"Sariya... kau pikir dengan melahirkannya kau dapat menghentikanku? Tidak. Justru karena dia ada di dunia ini... aku akan memastikan dia tidak sempat melihat cahaya matahari lebih lama lagi."
 
MALAM YANG TENANG SEBELUM BADAI
Malam itu, di ruang makan utama kediaman Pradana, suasana terasa hangat dan tenang. Lampu-lampu gantung menyala lembut. Haris duduk di kursi utama, Darma di sebelahnya, Kirana dan Bima duduk berhadapan. Makanan tersaji dengan rapi, namun pembicaraan yang mengalir justru menjadi hidangan yang paling berharga.
Haris menatap Bima.
"Bagaimana perkembangannya beberapa hari ini, Tuan Bima?"
Bima meletakkan sendoknya perlahan, menatap ketiga orang di hadapannya dengan tatapan yang tenang namun tegas.
"Kemajuannya luar biasa. Nona Kirana belajar dengan sangat cepat. Keteguhan hatinya... sungguh jarang dimiliki orang lain. Jika dilatih dengan sabar... kekuatannya kelak akan menjadi benteng yang tak dapat diruntuhkan." Bima menoleh ke arah Kirana, matanya menunjukkan rasa hormat yang tulus. "Namun... dia masih harus belajar menguasai perasaannya sendiri. Itu saja."
Haris tersenyum puas. Darma pun menatap Kirana dengan pandangan yang lega.
"Itu sudah cukup baik. Terima kasih, Tuan Bima." Haris menatap Kirana dengan penuh kehangatan. "Kau telah bekerja keras, Kirana."
Namun Kirana hanya tersenyum tipis. Matanya kembali tampak gelisah.
"Terima kasih, Bapak Haris. Terima kasih, Tuan Bima." Kirana menunduk sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang pelan namun jelas. "Namun... ada satu hal yang terus menggangguku. Sejak beberapa hari yang lalu... hatiku terus merasa tidak tenang. Seakan bahaya sedang berjalan mendekat. Seakan udara di sekitar kita... perlahan berubah menjadi gelap."
Suasana di meja makan seketika menjadi hening. Haris dan Darma saling berpandangan. Wajah keduanya perlahan berubah serius.
Darma menatap Kirana dengan tatapan penuh perhatian.
"Kirana... perasaan itu... seberapa kuat?"
"Sangat kuat. Dan semakin lama... semakin terasa nyata."
Haris menghela napas panjang, raut wajahnya berubah menjadi cemas.
"Insting Phoenix... tidak pernah salah. Jika kau merasa demikian... maka bahaya itu sungguh ada." Haris menatap Darma dan Bima dengan tatapan tegas. "Mulai hari ini... perketat penjagaan. Jangan biarkan Kirana sendirian di mana pun. Kita tidak tahu dari arah mana bahaya itu datang... namun kita harus siap menghadapinya."
Darma mengangguk tegas.
"Baik, Ayah. Aku akan mengawasinya sendiri."
Mereka berbicara dengan serius, menyusun rencana, memperketat penjagaan. Namun tak satu pun dari mereka tahu... bahwa bayangan itu sudah bergerak. Bahwa bahaya yang mereka khawatirkan... kini sudah berada tidak jauh dari sana. Dan rencana kejam itu... baru saja dimulai.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience