43. Nama Yang Menggetarkan Dinding

Romance Series 154

PULANG BERSAMA
Cahaya matahari mulai meredup, berubah menjadi jingga dan merah keemasan yang menyapu langit. Bayangan memanjang di halaman taman, dan udara malam mulai membawa kesejukan. Kirana masih memeluk buku itu di pangkuannya — sepanjang jalan pulang, jari-jemarinya sesekali menyentuh sampul kulitnya, seakan memastikan itu tidak hilang.
Darma meliriknya sekilas, lalu menatap ke depan.
"Hampir matahari terbenam. Ayah sudah menunggu kita untuk makan malam. Hari ini hari pertamamu di sini — ia ingin makan bersama sebagai keluarga."
Kirana mengangguk pelan, menegakkan punggung sedikit.
"Baik. Terima kasih sudah mengingatkanku."
Dia menarik napas dalam-dalam, menyusun pikirannya. Malam ini bukan sekadar makan malam. Malam ini dia akan meminta bantuan kepala klan Pradana — untuk menelusuri jejak ibunya. Langkah besar. Langkah yang tidak pernah ia bayangkan berani melakukannya kemarin.
Mereka melangkah masuk ke dalam bangunan utama berdampingan. Pintu besar terbuka, cahaya hangat menyambut mereka, dan langkah kaki mereka berdua terdengar selaras di lantai marmer — tidak terburu-buru, tidak malu-malu.
 
MEJA MAKAN MALAM PERTAMA
Di aula makan utama, meja panjang dari kayu gelap berkilau lembut di bawah cahaya lampu gantung. Haris sudah duduk di ujung meja, punggung tegak namun tidak kaku. Saat melihat mereka masuk, wajahnya melembut — bukan senyum sopan santun, tapi senyum tulus.
"Silakan duduk," ujarnya lembut. "Hidangan baru saja siap."
Mereka duduk — Darma di sebelah kanan Haris, Kirana di sebelah kirinya. Pelayan menyajikan hidangan dengan tenang — sup harum, sayuran segar, daging yang dimasak empuk, roti hangat beruap. Tidak ada kemewahan berlebihan, tapi setiap hal menunjukkan perhatian dan kehormatan. Kontras tajam dengan meja makan di Ardika — tempat makan selalu diiringi tuntutan, cemoohan, dan ketegangan.
Haris mengangkat sendoknya, namun tidak langsung makan. Dia menatap Kirana, matanya ramah namun tajam — seakan ingin melihat apa yang tersembunyi di balik matanya.
"Kirana... ini hari pertamamu tinggal di sini. Bagaimana perasaanmu terhadap rumah ini? Apakah tempat ini terasa... layak untukmu?"
Kirana berhenti sejenak, meletakkan sendoknya perlahan. Dia menatap Haris dengan jujur, tanpa merendah, tanpa berlebihan.
"Terima kasih, Haris. Rumah ini... sangat besar. Megah. Tapi yang paling berbeda — tidak ada yang menundukkan kepala di sini karena takut. Tidak ada yang berbisik di belakang punggung. Dan pintu tidak pernah tertutup rapat seakan mengunci seseorang di dalamnya."
Dia tersenyum jujur, sederhana, mata berbinar tulus.
"Aku merasa... dihormati. Dan itu jauh lebih berharga daripada kemegahan apa pun. Terima kasih telah menerimaku."
Haris mengangguk perlahan, seakan puas mendengar jawaban itu — bukan jawaban yang diharapkan, tapi jawaban yang sejati.
"Kehormatan adalah fondasi Pradana. Dinding bisa runtuh, harta bisa habis — tapi jika seseorang dihormati, rumah ini tetap berdiri. Maka itulah yang akan kau dapatkan selama kau di sini."
Mereka melanjutkan makan. Percakapan ringan — Haris bertanya tentang taman, tentang perpustakaan, tentang apa yang ia lihat hari ini. Kirana menjawab dengan sopan dan terbuka, perlahan merasakan ketegangan di dadanya mencair sedikit demi sedikit. Untuk pertama kalinya, makan malam bukan ujian. Ini kebersamaan.
 
NAMA YANG MENGGUNCANG
Hidangan terakhir selesai. Pelayan membersihkan meja dengan tenang dan mundur, meninggalkan mereka bertiga sendirian. Cahaya lilin menari di permukaan meja kayu, bayangan lembut jatuh di wajah mereka.
Darma meletakkan sendok dan garpu perlahan, lalu menatap ayahnya.
"Ayah... ada hal yang ingin kubicarakan. Yang berkaitan dengan Kirana."
Haris mencondongkan tubuh sedikit, serius namun tidak tegang.
"Katakanlah."
Darma menoleh ke Kirana sejenak — memberi ruang, menanyakan dengan tatapan apakah dia siap. Kirana mengangguk pelan, tangannya saling bertautan di pangkuan, jari-jemari sedikit meremas satu sama lain. Dia siap. Tapi hatinya berdebar kencang.
"Hari ini di perpustakaan," Darma mulai, "Kirana menemukan sebuah buku. Tidak tebal, bersampul kulit cokelat keemasan, berukiran burung bersayap mekar. Saat ia membacanya... ia menyadari tulisan tangan di dalamnya sangat mirip dengan tulisan ibunya."

Haris mengernyit, menatap Kirana.
"Mirip? Atau sama?"
"Sama," jawab Kirana pelan namun jelas. "Setiap lengkungan huruf, setiap jarak antar kata... persis seperti jurnal yang ditinggalkan ibuku. Dan saat mencari nama penulisnya..."
Dia menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkannya — nama itu keluar dari bibirnya, ringan namun menggetarkan udara di dalam ruangan.
"Penulisnya bernama Sariya."
Detik berikutnya — Haris tersentak. Tubuhnya mundur sedikit ke sandaran kursi, matanya membelalak, napasnya tertahan. Wajah yang sedari tadi tenang dan berwibawa kini berubah — campuran antara takjub, ketidakpercayaan, dan sesuatu yang dalam, seakan nama itu baru saja membuka pintu yang sudah tertutup puluhan tahun.
"Sariya?"
Suara Haris pecah sedikit. Dia menatap Kirana seakan baru melihatnya untuk pertama kalinya.
"Kau yakin? Tidak salah dengar? Tidak salah baca?"
"Aku yakin," ujar Kirana mantap. "Namanya tertulis jelas. Dan tulisannya... aku hafal setiap goresannya. Itu ibuku. Atau seseorang yang menulis persis sepertinya."
Haris diam. Dia menatap ke meja, ke arah tangan yang mengepal kuat di atas kayu, lalu kembali ke wajah Kirana.
"Mengapa kau menyembunyikan hal ini selama ini?"
"Karena aku sendiri belum yakin," jawab Kirana jujur. "Aku takut... hanya kebetulan. Takut aku berharap pada hal yang tidak nyata. Tapi hari ini... melihat buku itu di perpustakaanmu... aku tahu aku tidak bisa mencari jawabannya sendirian."
 
KLAN BAYU & PANGGILAN BARU
Haris menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, berusaha menenangkan guncangan di dalam dirinya. Dia menatap Darma, lalu Kirana.
"Jika ini benar — jika Sariya memang penulis buku itu, dan ibumu — maka jejaknya tidak akan mudah ditemukan. Tidak oleh sembarang orang."
Dia menatap lurus ke mata Kirana.
"Tapi ada klan yang ahli dalam hal ini. Klan Bayu. Mereka dikenal sebagai Klan Bayang — tidak terlihat, tidak terdengar, tapi melihat segala sesuatu yang tersembunyi. Jika ada jejak Sariya, mereka akan menemukannya."
Darma mengangguk.
"Maka aku akan mengirim pesan pagi ini."
"Tidak," Haris menggeleng pelan. "Aku sendiri yang akan menulis surat resmi. Permintaan dari Kepala Klan Pradana membawa berat yang berbeda. Arga Bayu tidak menolak permintaan seperti ini — terutama jika namanya Sariya."
Kirana mendengarkan, matanya berkaca-kaca. Dia menunduk sejenak, lalu menatap Haris dengan penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Haris. Terima kasih mau membantu. Padahal... ini mungkin hanya kecurigaanku saja. Mungkin hanya kebetulan nama yang sama. Hanya sebuah buku..."
Haris menggeleng tegas, mencondongkan tubuh ke arahnya, tatapannya sungguh-sungguh.
"Jangan meremehkan kecurigaanmu, Kirana. Jangan meremehkan kesamaan yang kau lihat. Setiap keraguan, setiap tanda, setiap hal kecil yang membuat hatimu berdebar — itu adalah PETUNJUK. Jika kau mengabaikannya, kau mengabaikan jalan yang ditunjukkan kepadamu. Setiap kesamaan adalah petunjuk. Setiap petunjuk adalah langkah lebih dekat ke kebenaran."
Kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Kirana menelan ludah, mengangguk perlahan, air mata hangat jatuh satu butir — bukan kesedihan, tapi pengakuan bahwa keraguannya, ketakutannya, harapannya — semuanya berharga.
"Terima kasih, Haris. Terima kasih telah menganggap keraguanku berharga."
Haris tersenyum — senyum paling lembut dan hangat yang pernah ia tunjukkan malam itu. Dia merentangkan tangan sedikit, gerakan terbuka, penuh kasih sayang.
"Dan Kirana... satu hal lagi. Mulai sekarang — jangan panggil aku 'Haris'."
Kirana mengerjap, sedikit bingung.
"Lalu... apa yang harus kupanggil?"
"Panggil aku Ayah. Atau Bapak — kapan pun kau sudah siap. Sama seperti Darla memanggilku. Karena kau bukan sekadar menantu yang datang kemarin. Kau sudah menjadi putriku. Bagian dari keluarga ini. Selamanya."
Hati Kirana bergetar hebat. Matanya memanas, air mata yang baru saja diusir kembali menggenang — kali ini bukan karena sedih, bukan karena syukur semata, tapi karena diberi sesuatu yang ia pikir tidak akan pernah layak ia miliki: seorang ayah yang memilihnya.
Dia menatap mata Haris — tidak ada paksaan di sana. Tidak ada syarat. Hanya pintu yang terbuka lebar, menunggu langkahnya. Bibirnya bergetar saat kata itu keluar — pelan, sedikit gemetar, namun penuh makna yang tak terukur.
"Terima kasih... Bapak Haris."
Wajah Haris bersinar. Matanya berbinar lembap, dan ia mengangguk berulang kali, bahunya bergetar pelan.
"Bagus. Putriku. Selamat pulang."
Kirana menundukkan wajah, menyeka air mata dengan ujung jari, lalu tersenyum — senyum paling tulus, paling bebas yang pernah melengkungkan bibirnya. Bukan tamu. Bukan menantu. Putri.
 
ISTIRAHAT, PUTRIKU
Haris berdiri perlahan, menepati bahu Kirana dengan lembut — sentuhan ayah yang hangat dan kuat.
"Sudah larut. Aku tahu hari ini panjang — perpustakaan, taman, buku, nama yang mengguncang duniamu, dan sekarang... nama yang baru kau panggil. Kau tampak lelah, Putriku. Pergilah beristirahat. Biarkan kami yang menulis suratnya. Segala hal lain biar menunggu sampai pagi."
Kirana berdiri bersama Darma, kepala terasa ringan namun hati terasa penuh hingga meluap.
"Selamat malam, Bapak Haris."
"Selamat malam, Nak. Mimpi indah."
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju sayap kamar. Cahaya lampu dinding lembut, bayangan mereka berdua berjalan beriringan di lantai marmer.
"Ayah tidak mudah terkejut, dan tidak mudah terbuka seperti itu," ujar Darma pelan, suaranya lembut. "Tadi... dia membuka pintu yang sudah lama tertutup untuk orang lain. Dan dia memberinya kepadamu."
Kirana menatap ujung jarinya, jantungnya masih berdebar lembut.
"Karena nama Sariya... seberapa besar artinya?"
"Kita akan tahu segera. Istirahatlah, Kirana. Besok jawaban mulai datang. Dan kau tidak lagi menunggunya sendirian."
Mereka berhenti di depan pintu kamarnya. Kirana membukanya, lalu berbalik sejenak.
"Selamat malam, Darma."
"Selamat malam, Kirana. Istirahatlah."
Pintu tertutup. Kirana bersandar di belakangnya, menutup mata, menarik napas panjang. Buku Sariya masih di tangannya. Hari ini — dia menemukan nama ibunya. Hari ini — dia menemukan Bapak. Besok — jawaban mulai datang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience