Series
154
Di dalam ruang dimensi yang tercipta dari kekuatannya sendiri, waktu seakan berjalan dengan irama yang berbeda. Cahaya keemasan lembut menyelimuti tanah dan langit, menciptakan suasana yang tenang dan damai sepenuhnya.
Sariya berdiri di hadapan putrinya, tangannya perlahan mengangkat ke udara. Di telapak tangannya, muncul cahaya yang berbeda dari api yang biasa dilihat Kirana — bukan menyilaukan dan membakar, melainkan lembut, berwarna ungu kebiruan yang tenang, persis seperti bayangan senja yang memeluk bumi.
"Ini adalah kekuatan Klan Lembayung." ucap Sariya lembut, matanya menatap putrinya penuh kasih sayang. "Ia tidak berteriak, tidak memaksa. Ia mendengarkan, memahami, dan melindungi. Ia adalah cahaya yang menyembunyikan keindahan, bukan yang memamerkannya."
Kirana menatap cahaya itu dengan takjub. Ia mencoba menirukan gerakan ibunya, dan perlahan dari telapak tangannya pun muncul cahaya serupa — meski masih samar dan bergetar.
"Bagus sekali, sayang." Sariya tersenyum bangga, lalu melangkah mendekat dan membetulkan posisi tangan putrinya dengan lembut. "Jangan gunakan amarah. Gunakan perasaanmu. Rasakan apa yang ada di sekitarmu, bukan hanya apa yang kau lihat."
Hari demi hari berlalu di dalam dimensi itu. Bagi Kirana, setiap detik yang dihabiskan bersama ibunya terasa seperti mimpi yang indah. Ia tidak lagi harus menahan rasa sakit hati, tidak lagi harus berhati-hati agar tidak dimarahi, tidak lagi merasa sendirian di tengah keramaian.
Saat ia lelah, Sariya akan menyeka keringatnya dan membelai rambutnya dengan lembut. Saat ia gagal menguasai teknik, Sariya tidak memarahinya, melainkan tersenyum dan berkata pelan, "Tak apa, sayang. Kita coba lagi bersama-sama." Saat ia tertidur pulas di atas rumput keemasan, ia terbangun dengan selimut hangat yang terbuat dari cahaya, dan ibunya duduk di sampingnya menatapnya dengan pandangan penuh cinta.
Kirana sering kali berhenti sejenak di tengah latihan, hanya untuk menatap wajah ibunya yang tersenyum. Kadang ia akan memeluk lengan ibunya erat, seakan takut jika melepaskannya, semua ini akan lenyap seperti mimpi.
"Ibu..." bisiknya suatu hari saat mereka duduk bersandar di bawah pohon yang daunnya berkilauan lembut. "Selama ini... aku tidak pernah merasakan kasih sayang seperti ini. Di rumah Ardika... tidak ada yang membelai kepalaku, tidak ada yang tersenyum padaku seperti ini. Aku selalu merasa... aku tidak diinginkan."
Sariya langsung menarik putrinya ke dalam pelukan hangat, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Itu bukan salahmu, anakku sayang. Itu adalah kesalahan mereka yang buta hati. Dan mulai saat ini... Ibu tidak akan pernah membiarkanmu merasa kesepian lagi. Ibu akan selalu ada di sisimu. Selamanya."
Kirana memejamkan mata, menahan air mata bahagia yang jatuh membasahi bahu ibunya. Rasa sakit di masa lalu perlahan terobati oleh kehangatan yang kini ia rasakan. Ia tidak memikirkan apa yang terjadi di luar sana. Ia tidak memikirkan musuh, tidak memikirkan bahaya, tidak memikirkan takdir yang menantinya.
Satu-satunya hal yang ia inginkan saat ini hanyalah tetap berada di samping ibunya, merasakan kasih sayang yang dulu tak pernah ia miliki.
Â
Sementara itu, di tempat yang jauh dan gelap, amarah terus membakar hati Durga tanpa henti.
Di kedalaman lembah yang tidak tertulis di peta mana pun, di tempat di mana cahaya matahari seakan tak pernah berani menyentuh tanah, berdiri sebuah gua gelap yang lebar dan dalam. Di dalamnya, udara terasa berat dan dingin, berbau belerang dan darah lama.
Di tengah gua itu, Durga duduk di atas singgasana yang terbuat dari batu hitam tajam. Tubuhnya yang besar tampak menyusut, kulitnya yang tadinya berkilau gelap kini penuh luka bakar yang masih mengeluarkan asap hitam. Setiap gerakannya disertai rasa perih yang luar biasa, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan amarah yang membakar hatinya.
Dia menatap telapak tangannya yang penuh luka. Cahaya keemasan yang membakar dagingnya masih terasa menyengat, seakan tak akan pernah hilang.
"Api sialan..." desisnya dengan suara parau yang bergema di dinding gua. "Api yang lemah... api yang tak seharusnya menyakiti aku..."
Dia bangkit perlahan, kakinya gemetar menahan beban tubuh yang terasa berat. Di hadapannya, dinding batu memantulkan bayangannya sendiri — sosok yang dulu gagah dan mengerikan, kini tampak menyusut dan penuh luka.
"Bagaimana mungkin..." teriaknya tiba-tiba, suaranya meledak memecah keheningan. "Bagaimana mungkin seorang gadis yang belum dewasa... yang baru saja membangkitkan kekuatannya... mampu melukai aku sehebat ini?!"
Dia meninju dinding batu di sebelahnya dengan kekuatan yang tersisa. Batu itu hancur berkeping-keping, namun rasa sakit di tangannya justru membuatnya semakin murka.
"Kau berani... Kau berani menodai tubuhku, Phoenix kecil!"
Durga berjalan mondar-mandir di dalam gua yang sempit itu, napasnya memburu dan penuh amarah.
"Selama ribuan tahun... aku menunggu. Aku menyusun rencana. Aku menahan diri... hanya untuk satu momen ini. Dan sekarang... saat itu hampir tiba... kau berani menghadangku?!"
Dia berhenti sejenak, menekan dada kirinya yang terasa panas dan perih. Luka yang dibuat Kirana belum sembuh. Kekuatan api Phoenix itu memiliki sifat yang terus membakar dari dalam, sulit untuk dipadamkan dengan cara biasa.
"Kekuatan itu..." gumamnya pelan, matanya menyala merah penuh nafsu. "Kekuatan itu... sungguh luar biasa. Jika aku bisa memilikinya... jika aku bisa menyerapnya sepenuhnya... maka luka ini bukan apa-apa. Seluruh dunia akan menjadi milikku!"
Dia kembali duduk di singgasana batu, menutup mata sejenak untuk menenangkan diri. Namun amarahnya tidak kunjung mereda.
"Kau pikir kemenangan itu milikmu, gadis bodoh?" ucapnya lantang, seakan berbicara kepada udara di hadapannya. "Kau pikir dengan sekali serangan kau sudah mengalahkanku? Itu baru permulaan! Aku belum benar-benar melawan dengan kekuatanku yang sesungguhnya!"
Durga membuka matanya kembali, tatapannya tajam dan penuh rencana jahat.
"Aku memang terluka. Aku memang harus bersembunyi untuk sementara waktu. Tapi jangan berpikir aku sudah menyerah. Luka ini akan sembuh. Kekuatanku akan kembali, bahkan menjadi lebih kuat dari sebelumnya."
Dia menatap ke arah langit-langit gua yang gelap.
"Aku akan mencari tempat yang lebih dalam, lebih gelap, dan penuh energi murni dari kegelapan. Di sana aku akan memulihkan diri. Di sana aku akan menumbuhkan kekuatan baru."
Senyum miring yang mengerikan terukir di wajahnya.
"Tunggu saja... saat aku kembali, kau tidak akan lagi hanya bermain-main dengan cahaya kecilmu. Aku akan menghancurkan segalanya yang kau sayangi. Termasuk ibumu. Termasuk semua orang yang melindungimu."
Durga berdiri perlahan, melangkah menuju bagian terdalam gua yang semakin gelap.
"Kau pikir kau aman di dalam duniamu yang indah itu? Kau pikir kasih sayang ibumu bisa melindungimu dari kegelapan? Tunggu saja... Aku akan datang. Dan kali ini... tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."
Suaranya perlahan menghilang di dalam kegelapan yang pekat, meninggalkan gua itu kembali sunyi. Namun di udara yang berat itu, masih tersisa niat jahat yang teguh dan tak tergoyahkan.
Share this novel