Series
154
Suasana hangat masih menyelimuti ruang tengah Pradana Mansion. Namun perlahan, pandangan mata semua orang beralih ke arah dada Kirana. Saat gadis itu menunduk sedikit untuk menyeka sisa air mata, seberkas cahaya lembut berwarna ungu kebiruan memancar samar dari balik kerah bajunya, berkilau indah di bawah cahaya lampu ruangan.
Aran adalah orang pertama yang menyadari hal itu. Matanya melebar sedikit, lalu melangkah maju selangkah dengan tatapan takjub.
"Pusaka Klan Lembayung..." bisiknya pelan namun jelas. "Itu... benda itu nyata."
Semua mata kini tertuju pada liontin yang tergantung di leher Kirana. Batu permata yang berukuran sebesar kuku jari itu berdenyut lembut, seolah memiliki detak jantung sendiri. Cahayanya tidak menyilaukan, justru terasa menenangkan siapa pun yang menatapnya.
Kirana terkejut sejenak, lalu menyentuh batu itu dengan lembut.
"Kalian mengenalnya?" tanyanya pelan.
Haris mengangguk perlahan, wajahnya penuh kekaguman.
"Siapa pun yang mengenal sejarah kuno pasti tahu benda itu. Itu adalah tanda kebesaran garis keturunan Ibumu. Konon, batu itu menyimpan ingatan dan kasih sayang dari seluruh leluhur Klan Lembayung. Benda itu tidak akan pernah menyala jika tidak berada di leher pewaris sejatinya."
Sariya tersenyum lembut sambil menatap putrinya.
"Ibu baru saja memberikannya kepada Kirana di dalam dimensi. Itu adalah pusaka yang diwariskan dari ibu ke anak perempuan selama ribuan tahun. Batu ini akan melindunginya dari sihir jahat yang mencoba masuk ke dalam pikiran, dan akan selalu mengingatkannya bahwa ia tidak pernah sendirian."
Darma menatap liontin itu lekat-lekat, lalu pandangannya beralih ke wajah Kirana. Dan saat itulah ia menyadari sesuatu yang jauh lebih dalam.
"Kirana..." panggilnya pelan. "Ada sesuatu yang berbeda padamu."
Kirana menoleh, matanya bersinar jernih.
"Berbeda bagaimana?"
Darma melangkah mendekat sedikit, matanya menatap lekat ke mata gadis itu.
"Matamu... tidak lagi sama seperti dulu. Di dalamnya kini terlihat ada ketenangan yang tak tergoyahkan. Dan aura yang menyelimutimu... tidak lagi hanya berapi-api. Ada cahaya lembut yang menyertainya, membuatmu terasa lebih utuh, lebih kuat, namun juga lebih lembut."
Sariya tersenyum bangga mendengar kata-kata itu.
"Darma benar. Selama di dalam dimensi, aku mengajarkan Kirana cara menyatukan dua kekuatan yang mengalir di dalam darahnya. Api Phoenix dari garis Ayahnya, dan cahaya Lembayung dari garis Ibunya. Dua kekuatan yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan."
Ia menatap semua orang dengan tatapan serius namun tenang.
"Selama ini, Kirana hanya menggunakan kekuatan apinya. Kuat, membara, dan mampu membakar apa pun yang menghalanginya. Namun api tanpa arah yang benar bisa membakar dirinya sendiri. Itulah sebabnya aku mengajarinya cara menenangkan api itu dengan cahaya."
Kirana mengangkat telapak tangannya perlahan. Di udara di atas telapak tangannya, muncul dua bola cahaya — satu berwarna emas menyala terang, satu lagi berwarna ungu kebiruan yang lembut. Kedua bola itu berputar perlahan, lalu perlahan menyatu menjadi satu — cahaya keemasan yang lembut, hangat, namun memancarkan kekuatan yang luar biasa.
"Kekuatan ini..." bisik Arga takjub, matanya tak berkedip menatap cahaya itu. "Aku belum pernah melihat sesuatu seperti ini seumur hidupku."
"Ini adalah kekuatan Phoenix yang sesungguhnya." ucap Bima dengan suara rendah penuh rasa hormat. "Bukan sekadar api yang menghancurkan, melainkan api kehidupan yang menyatu dengan cahaya kebijaksanaan."
Haris menghela napas panjang, wajahnya penuh kebanggaan yang tak tersembunyikan.
"Jadi... inilah kekuatan yang dinanti-nantikan sejak ribuan tahun lalu. Dua garis keturunan bersatu kembali menjadi satu."
Kirana menutup telapak tangannya perlahan, menyembunyikan cahaya itu. Ia menatap semua orang dengan senyum tulus yang membuat hati siapa pun yang melihatnya merasa tenang.
"Aku masih harus belajar banyak hal." ucapnya pelan namun tegas. "Tapi sekarang aku tahu... kekuatan ini bukan untuk menghancurkan sembarangan. Kekuatan ini ada untuk melindungi. Untuk melindungi Ibu, untuk melindungi kalian, dan untuk melindungi semua orang yang tidak bersalah."
Kata-kata sederhana itu terasa begitu berat dan bermakna. Di ruangan itu, semua orang menyadari satu hal: gadis kecil yang dulu lemah dan tertindas, kini telah bangkit menjadi sosok yang tidak hanya kuat secara kekuatan, tetapi juga kuat secara hati.
Darma menatapnya dengan pandangan yang dalam dan penuh keteguhan. Di dalam hatinya, ia berjanji lagi — tidak peduli apa pun yang terjadi, ia akan selalu berdiri di samping gadis ini. Ia akan menjadi perisainya, agar cahaya keindahan ini tidak pernah padam.
Kesuma tersenyum lembut, matanya menatap Kirana dengan penuh harapan.
"Kau benar-benar luar biasa, Kirana. Seluruh kerajaan akan bersorak menyambut kembalinya kekuatan ini."
Aran mengangguk pelan, matanya masih menatap liontin di leher Kirana.
"Kekuatanmu baru saja dimulai. Dengan pusaka itu di lehermu, dan dua kekuatan yang menyatu di dalam dirimu... kau kini jauh lebih siap menghadapi apa pun yang akan datang."
Sariya memegang tangan putrinya erat, menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Ibu bangga padamu, Kirana. Ingatlah selalu — kekuatan terbesarmu bukanlah apa yang ada di tanganmu, melainkan apa yang ada di dalam hatimu."
Kirana mengangguk mantap, menatap ibunya lalu menatap semua orang yang ada di hadapannya. Di dadanya, liontin itu terasa hangat, seakan menegaskan bahwa ia tidak pernah berjuang sendirian.
Di luar sana, bahaya masih bersembunyi. Musuh masih menyusun kekuatan. Namun di ruangan itu, di tengah orang-orang yang menyayanginya, Kirana merasa siap. Siap untuk menghadapi apa pun yang takdir berikan. Karena kini ia tahu — ia adalah gabungan dari dua kekuatan terbesar, dan ia dicintai oleh banyak orang.
Share this novel