Series
17
Sore itu, rumah Ardika berubah seperti istana yang akan menyambut raja. Pelayan berlari ke sana kemari, menyeka lantai marmer hingga berkilau memantulkan bayangan kaki, menyusun bunga melati segar di setiap sudut meja, menyalakan lilin beraroma cendana yang baunya perlahan memenuhi lorong-lorong panjang. Udara terasa padat, sarat dengan ketegangan yang tidak diucapkan — setiap orang tahu hari ini bukan kunjungan biasa. Hari ini nasib dua keluarga ditentukan.
Di kamar tamu utama, Serena berdiri di depan cermin tinggi, menatap pantulan putrinya. Larasati mengenakan gaun sutra merah menyala yang jatuh berlipat sempurna hingga pergelangan kaki, potongan bahu terbuka, permata rubi berkilat di leher dan telinga. Rambutnya ditata tinggi, menampakkan leher jenjang, wajahnya dibedaki sempurna, bibirnya merah menyala. Ia berputar perlahan, senyum melebar — hari ini adalah hari yang ia tunggu sejak bertahun-tahun lalu. Hari di mana semua orang akan melihat siapa yang sebenarnya pantas berdiri di samping pewaris Pradana.
"Dengar baik-baik," kata Serena, suaranya rendah dan tajam, matanya menatap Larasati lewat pantulan cermin tanpa berkedip. "Hari ini kau tidak akan menegur. Tidak akan menyela. Tidak akan terlihat cemburu atau mendesak. Kau akan tersenyum — lembut, hangat, seperti wanita yang sudah terbiasa dihormati. Kau akan tertawa pada waktu yang tepat. Kau akan menjawab pertanyaan sebelum dia sempat bertanya. Kau akan menjadi wanita yang layak berdiri di samping Darma Pradana."
Larasati mengangguk cepat, napasnya memburu, tangannya meremas ujung gaun. "Dan Kirana?"
"Kirana akan berada di tempatnya. Di belakang. Di bayang-bayang. Jika Darma bertanya tentang urusan keluarga, kau jawab dulu. Jika dia berbicara dengan Kirana... kau mengalihkan pembicaraan. Halus. Sopan. Seakan kau hanya membantu menuntunnya karena dia belum terbiasa." Serena berbalik perlahan, melangkah berdiri tepat di belakang putrinya, meletakkan kedua tangan di bahu Larasati, menatapnya dalam-dalam lewat cermin. "Hari ini kita tunjukkan siapa yang benar-benar Ardika. Siapa yang lahir untuk posisi ini. Siapa yang berdarah murni. Dan siapa yang hanyalah tamu yang kebetulan tinggal di atap ini."
Larasati tersenyum lebar, matanya berkilat penuh kemenangan yang sudah dirasakannya. "Hari ini dia tahu tempatnya."
Sementara di kamarnya, jauh dari keributan dan persiapan berlebihan, Kirana berdiri di depan cermin besar di sudut ruangan. Gaunnya sederhana berwarna putih gading, kain jatuh lurus dan lembut hingga menyentuh lantai, tanpa renda, tanpa sulaman, tanpa permata yang berkilau. Satu-satunya perhiasan yang ia kenakan adalah sepasang anting mutiara kecil kusam — pemberian Dimas bertahun lalu, hadiah yang diberikan bukan karena ia berharga, tapi karena ia murah dan cukup untuk membuatnya tampak sopan di acara resmi. Rambutnya terurai lembut di bahu, tanpa jepit, tanpa hiasan. Wajahnya tanpa bedak, tanpa lipstik. Murni. Sederhana. Tak berbahaya.
Ia menatap pantulannya lama. Tidak ada senyum. Tidak ada cemas. Matanya tenang, jernih, seakan ia sedang menonton pertunjukan yang sudah dilihatnya berkali-kali.
"Mereka menyusun panggung," bisiknya pelan, suaranya hanya berdesir di udara kamarnya. "Mereka menulis naskah, menata lampu, menempatkan aktor. Tapi mereka lupa — aku yang memegang pena."
Ia berbalik perlahan, berjalan menuju pintu. Langkahnya tenang, ringan, tidak terburu-buru.
Suara mobil terdengar dari halaman depan — mesin halus, mendekat, lalu berhenti tepat di tangga utama. Dimas, Serena, dan Larasati sudah menunggu di ambang pintu. Serena berdiri tegak, senyum paling anggun tersungging di bibirnya. Larasati berdiri paling depan, bahu ditarik ke belakang, dada sedikit maju, matanya berbinar menanti.
Pintu mobil terbuka. Darma melangkah keluar — setelan hitam yang dipotong sempurna, dasi rapi, rambut tertata, wajahnya tenang, tanpa ekspresi berlebihan. Matanya menatap lurus ke pintu utama, tidak menyapu halaman, tidak melirik pelayan yang menunduk di samping. Ia berjalan naik tangga — langkah tegak, mantap, tidak terburu-buru.
"Selamat datang, Tuan Muda Darma," sapa Serena hangat, suaranya merdu dan ramah. "Kami sangat menyambut kedatanganmu. Rumah ini terasa lebih terang sejak kau melangkah masuk."
"Terima kasih," jawab Darma singkat, sopan, namun tidak meleleh. Matanya menyapu mereka satu per satu — Serena, Dimas, lalu berhenti sejenak pada Larasati yang tersenyum paling manis — lalu bertanya langsung, tanpa basa-basi:
"Nona Kirana?"
Larasati tersentak. Senyumnya sedikit melorot di ujung bibir. Ia berdeham pelan, berusaha menutupi keterkejutannya. "Kak Kirana? Dia... dia mungkin masih bersiap. Dia butuh waktu lama untuk berdandan. Izinkan saya menemani Tuan Muda masuk dulu."
Darma menatapnya — diam, tenang, tidak berkedip. Detik itu terasa memanjang seperti satu menit penuh keheningan yang menyakitkan.
"Terima kasih atas tawaranmu, Nona Larasati," suaranya sopan, sangat sopan — namun dingin, tegas, tidak memberi celah untuk masuk. "Tapi saya ingin bertemu Nona Kirana."
Dimas berdeham pelan, memecah keheningan. "Dia akan segera datang. Silakan masuk dulu, Tuan Muda."
Mereka berjalan masuk ke ruang tamu utama — Dimas di sebelah Darma, Serena di sisi lain, Larasati berusaha menyusup tepat di samping Darma. Ia berbicara terus-menerus — menunjuk lukisan di dinding, menceritakan sejarah meja antik, bercerita tentang taman mawar di belakang rumah — tapi Darma berjalan lurus, sesekali mengangguk singkat, tidak menoleh, tidak bertanya balik. Matanya menatap ke depan, seakan menembus setiap pintu, setiap lorong, mencari seseorang yang belum muncul.
Larasati mempercepat langkah, menyamai langkahnya, menyentuh lengan jasnya dengan ujung jari. "Tuan Muda, izinkan saya menjelaskan—"
"Terima kasih, tidak perlu," potong Darma lembut — namun begitu tegas sehingga tangan Larasati terhenti di udara, lalu jatuh perlahan ke sisi tubuhnya. Wajahnya terbakar merah. Ia menunduk cepat, berharap tidak ada yang melihat. Tapi Serena melihat. Dimas melihat. Dan mereka berdua diam.
Mereka baru saja melangkah masuk ke ruang tamu utama ketika pintu di ujung ruangan terbuka perlahan.
Kirana berdiri di ambang pintu.
Semua mata beralih serentak kepadanya. Gaunnya sederhana, kainnya jatuh lurus tanpa hiasan — namun ketika ia melangkah masuk, ruangan itu terasa berubah. Cahaya matahari sore yang menyelinap lewat tirai seakan jatuh tepat padanya. Langkahnya lembut, tenang, tidak terburu-buru, tidak malu-malu. Matanya menatap Darma, lalu menunduk hormat — cukup dalam, punggung tetap lurus.
"Selamat datang, Tuan Muda Darma."
Suaranya jernih, lembut, tidak bergetar.
Darma berbalik sepenuhnya menghadapnya. Tidak menatap siapa pun lagi.
"Selamat sore, Nona Kirana."
Larasati melangkah maju cepat, berusaha mendahului, suaranya sedikit meninggi. "Tuan Muda, silakan duduk. Teh melati sudah disiapkan — teh favorit keluarga Pradana, saya ingat khususnya. Saya sendiri yang memilih daunnya."
"Sangat diperhatikan, terima kasih," Darma mengangguk singkat — lalu berjalan melewati Larasati, seakan ia tidak lebih dari bayangan di sampingnya, dan berhenti tepat di hadapan Kirana. "Nona Kirana, bolehkah kita berbincang sebentar? Secara pribadi?"
Keheningan.
Larasati membuka mulutnya — lalu menutupnya rapat. Matanya berkaca-kaca. Serena menatap Dimas. Dimas menunduk, tangannya mengepal di belakang punggungnya, tidak berani menatap mata siapa pun.
"Tentu saja," jawab Kirana lembut. "Silakan ke ruang tamu kecil di samping. Lebih tenang di sana."
Mereka berjalan berdampingan keluar ruangan — langkah sama tenangnya, tidak berbicara, tidak bersentuhan. Di belakang mereka, Larasati berdiri membeku di tengah ruangan yang luas. Napasnya memburu, dadanya naik turun, giginya terkatup rapat hingga rahangnya sakit. Serena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang dan berat. Dimas berjalan perlahan ke jendela, berdiri membelakangi mereka, menatap ke halaman tanpa melihat apa pun.
Di ruang tamu kecil, dinding berwarna krem, jendela terbuka menatap ke taman mawar yang mulai memerah diterpa matahari terbenam. Mereka duduk berhadapan di kursi berlengan kulit. Darma tidak membuang waktu dengan basa-basi.
"Suratku sudah kau terima?"
"Sudah. Terima kasih atas pesannya, Tuan Muda."
"Aku tidak menulis surat sembarangan, Nona Kirana. Aku menulis karena aku ingin mendengar jawaban yang jujur — bukan yang dilatih, bukan yang diharapkan orang lain darimu." Ia mencondong sedikit ke depan, menatap lurus ke matanya. "Kemarin kau berkata — kepercayaan tidak bisa digantikan. Mengapa begitu penting bagimu?"
Kirana menatapnya tenang, tidak memalingkan wajah, tidak menunduk. Ia berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati, seakan baru menyadari maknanya sendiri saat diucapkan.
"Karena... perjanjian bisa ditulis ulang. Harta bisa hilang. Tapi kepercayaan... sekali hilang, tidak bisa dibeli kembali. Tidak dengan apa pun. Jika dua keluarga bersatu bukan karena saling menghargai... tapi hanya karena saling membutuhkan... maka saat kebutuhan itu berubah, persatuan itu runtuh."
Darma menatapnya lama, matanya menyelidiki setiap inci wajahnya. "Kau pikir aliansi ini dibangun di atas sesuatu yang rapuh?"
"Saya tidak tahu," jawabnya lembut, jujur, tidak menuduh. "Saya hanya tahu — kalau dasarnya bukan kebenaran, tidak peduli seberapa megah bangunannya, suatu hari pasti runtuh. Bukan karena diinginkan. Tapi karena dasarnya lemah."
Darma tersenyum tipis — senyum pertama yang tulus, bukan sekadar sopan santun. "Kau berani berkata apa yang tidak berani mereka ucapkan."
"Saya hanya berkata apa yang saya lihat, Tuan Muda. Mungkin saya salah."
"Dan apa yang kau lihat saat melihat dua keluarga ini?"
"Saya melihat kebutuhan. Itu wajar. Tapi saya berharap... ada juga rasa hormat. Karena kebutuhan berubah seiring waktu. Penghormatan tidak."
Darma terdiam. Angin sore menggerakkan tirai sutra di samping jendela. Matanya melembut, penuh sesuatu yang mirip kekaguman. "Kau tidak takut? Berbicara begitu bebas kepada orang yang hampir tidak kau kenal?"
Kirana terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. "Saya tidak takut berkata apa yang saya pikir. Karena jika kebenaran menyinggung... mungkin bukan kebenarannya yang salah. Mungkin hatinya yang mendengarnya belum siap."
Darma tertawa pelan — suara yang dalam, jantan, tawa yang tidak sering ia keluarkan. "Kau luar biasa, Kirana. Kau tahu itu?"
"Saya hanyalah saya, Tuan Muda."
Ia berdiri. Pertemuan selesai — bukan karena ia bosan, tapi karena ia sudah menemukan apa yang dicari sejak hari pertama ayahnya membicarakan pertunangan ini.
Mereka kembali ke ruang tamu utama. Serena, Dimas, dan Larasati masih berdiri di tempat yang sama, seakan tidak bergerak semenjak mereka pergi. Wajah mereka tegang, menanti, cemas.
Darma berhenti di tengah ruangan. Berbalik menghadap mereka — dan menyisakan Kirana berdiri di sampingnya, sejajar, tidak di belakang.
"Terima kasih atas sambutanmu," ucapnya kepada Dimas dan Serena, suaranya tegas, berwibawa, tidak bisa dibantah. Matanya menyapu mereka satu per satu. "Saya telah memutuskan. Pertunangan ini akan berjalan. Dengan Nona Kirana."
Jeda. Detik yang mematikan.
Dimas ternganga. Mulutnya bergerak, tapi tidak ada suara keluar. Serena mundur selangkah, pucat seketika, tangannya mencengkeram sandaran kursi agar tidak jatuh. Larasati menahan napas, matanya membelalak, seakan tidak percaya telinganya sendiri.
Darma tidak berhenti. Ia menatap Kirana — lembut, penuh penghormatan.
"Dia bijaksana. Jujur. Dan dia memiliki keberanian yang tidak dimiliki siapa pun di ruangan ini. Dia adalah calon istri yang layak bagi saya. Dan calon yang layak berdiri di samping saya memimpin keluarga Pradana."
Ia berbalik kembali ke Kirana, suaranya sedikit melembut, namun setiap kata terdengar seperti janji yang tidak akan diingkari. "Saya akan datang lagi. Sering. Sampai hari pernikahan kita."
Lalu ia berjalan keluar ruangan — tanpa menoleh ke Larasati. Tanpa menanyakan pendapat Dimas. Keputusan diambil. Dan setiap orang di ruangan itu tahu — tidak ada yang bisa mengubahnya.
Mobil Darma melaju keluar gerbang dan menghilang di tikungan jalan. Keheningan yang memekakkan telinga menyelimuti rumah Ardika.
Larasati berbalik tanpa suara dan berlari — naik tangga secepat mungkin, menendang pintu kamarnya hingga terbuka, lalu membantingnya hingga dinding bergetar. Tangisan meledak di balik pintu tertutup — tangisan amarah, kecewa, hancur. Serena berdiri tegak, matanya kosong menatap pintu depan, wajahnya pucat tanpa darah. Dimas berjalan perlahan ke kursi terdekat dan jatuh duduk, menutup wajah dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Ia ingin protes. Ia ingin menegur. Tapi ia tidak berani — takut merusak kesepakatan, takut kehilangan segalanya. Kepatuhannya bukan kerelaan. Itu ketakutan.
Kirana berjalan perlahan menaiki tangga juga. Tidak ke kamar Larasati. Tidak menghibur. Tidak merayakan. Dia masuk ke kamarnya sendiri, menutup pintu perlahan, dan bersandar di belakangnya, menutup mata sejenak.
Dia tidak melompat kegirangan. Tidak tersenyum lebar. Hanya menghembus napas panjang — napas yang ditahannya sejak hari kematiannya di kehidupan sebelumnya.
Dia berjalan ke cermin, menatap pantulannya.
"Aku tidak merayakan," bisiknya pelan, suaranya lembut namun berat. "Hari ini mereka kalah. Tapi mereka tidak akan menyerah. Mereka akan mencari cara. Mereka akan berjuang kembali. Dan pertarungan sesungguhnya... baru saja dimulai."
Matahari terbenam sepenuhnya, cahaya terakhir memudar dari jendela. Kirana duduk di tepi tempat tidur, menatap kegelapan yang perlahan memenuhi kamarnya. Di seberang lorong, tangisan Larasati masih terdengar samar. Di bawah, Serena dan Dimas masih berdiam dalam keheningan yang menyakitkan.
Mereka menyusun rencana. Mereka menyusun strategi. Mereka berdebat siapa yang seharusnya berdiri di samping Darma Pradana. Tidak satu pun dari mereka menyadari — papan catur sudah tersusun ulang. Dan Kirana bukan bidak catur.
Dia yang memegang bidak.
Share this novel