44. Bulan, Buku Dan Nama Terlarang

Romance Series 154

KIRANA & BUKU SARIYA
Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya. Langkah kaki Darma perlahan menjauh, meninggalkannya sendirian — namun kesendirian ini berbeda. Tidak sepi. Tidak dingin. Hanya damai.
Kirana berjalan perlahan menuju tempat tidur. Kakinya terasa ringan namun berat — seharian penuh telah berlalu, dan begitu banyak hal berubah dalam satu hari. Dia duduk di tepi kasur, melipat selimut sedikit ke samping, lalu menatap ke jendela besar yang terbuka sedikit.
Di luar, bulan purnama bersinar terang di langit gelap, cahayanya jatuh lembut ke lantai kamarnya, memutihkan ujung lantai kayu, menyentuh sampul buku yang masih dipegangnya erat.
Dia menatap bulan, lalu ke buku di tangannya. Jari telunjuknya menyentuh nama di halaman depan — Sariya. Di bawah cahaya bulan, tinta itu tampak seakan bersinar samar.
Sariya... bisiknya dalam hati. Siapakah kau sebenarnya?
Dia menarik napas dalam, membuka halaman pertama, dan mulai membaca.
Tulisan di dalamnya mengalir lembut, seperti suara yang berbicara langsung kepadanya. Bukan catatan rahasia yang rumit, bukan kitab sihir — melainkan catatan hati.
"Aku menulis ini bukan untuk orang lain. Aku menulisnya agar aku tidak lupa siapa diriku, sebelum aku menjadi istri seseorang, sebelum aku menjadi bagian dari keluarga lain. Namaku Sariya. Aku berasal dari garis yang tidak tercatat di buku sejarah mana pun. Kami tidak mencari takhta. Kami menjaga api."

Kirana menelan ludah. Matanya menyapu baris berikutnya.
"Klan tempatku dibesarkan — tempat yang mengajarkan segalaku — mengajarkan aku untuk bersembunyi. Karena kami berharga, dan hal berharga selalu dicari. Aku diajarkan untuk tidak terlihat, tidak dibicarakan, tidak dicatat. Hanya ada di ingatan dan di darah."
Dia tersenyum tipis, air mata hangat menggenang di sudut mata. Ibunya juga diajarkan bersembunyi. Sama seperti dia.
Lanjut ke halaman berikutnya — nada tulisan berubah, lebih lembut, lebih malu-malu, seperti gadis muda yang menulis rahasia di buku hariannya.
"Hari ini aku bertemu seseorang. Tidak seharusnya aku memperhatikannya. Tidak seharusnya hatiku berdebar. Tapi matanya — ia melihatku. Bukan sebagai harta, bukan sebagai nama. Ia melihat Sariya. Dan itu menakutkan. Karena jika seseorang bisa melihatku... aku bisa terluka."
Jari Kirana menyentuh kalimat itu. Sariya juga takut. Sariya juga ingin dilihat. Sariya juga manusia.
Dia menutup buku perlahan. Tidak perlu membaca lebih malam ini. Hatinya sudah cukup penuh.
Semoga ini benar bukumu, Ibu. Semoga kau benar-benar ada. Semoga kau menulis ini untukku.
Dia memeluk buku itu erat di dada, menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur, menatap bulan yang masih bersinar. Perlahan matanya terasa berat. Beban di pundaknya — sebagian telah terangkat hari ini. Dia punya Bapak Haris. Dia punya Darma. Dia punya nama ibunya. Dan besok — jawaban mulai datang.
Dia memejamkan mata, buku Sariya dipeluk di pelukannya, dan perlahan tertidur — untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidur tanpa rasa takut akan hari esok.
 
HARIS & DARMA: NAMA TERLARANG
Di ruang kerja sayap barat, lampu meja menyala rendah, memancarkan cahaya kuning hangat di atas tumpukan dokumen tua. Haris duduk di kursi besar, punggung sedikit membungkuk, kedua tangan bertautan menutupi mulutnya. Dia tidak bergerak. Sejak Kirana meninggalkan ruang makan, dia tidak bergerak.
Pintu terbuka perlahan. Darma masuk, melangkah tanpa suara, dan duduk di kursi di hadapan ayahnya.
Keheningan membentang di antara mereka sejenak. Hanya suara detak jam dinding yang tua.
"Ayah," Darma memecah keheningan, suaranya rendah namun tegas. "Tadi saat Kirana menyebut nama itu... kau terkejut. Lebih dari yang pernah kulihat seumur hidupku. Mengapa?"
Haris menghela napas panjang, menurunkan tangannya, lalu menatap ke jendela yang gelap. Tatapannya jauh, seakan melihat masa puluhan tahun silam.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, Nak. Karena aku sendiri tidak yakin apa yang kutakutkan lebih — kebenaran yang mungkin terungkap, atau kebohongan yang selama ini melindungi kita."
Dia menatap lurus ke mata Darma.
"Tapi jika Sariya memang ibunya... maka ini bukan sekadar penyelidikan. Ini mungkin hal terbesar yang terjadi dalam hidup kita. Dalam hidup semua klan."
Darma mengernyit.
"Seberapa besar?"
"Sariya bukan sekadar nama, Darma. Itu nama yang hampir dilenyapkan. Dilarang disebut. Dilarang ditulis. Bahkan klan Bayu — yang tahu segalanya — enggan menyentuh nama itu."
Darma menegakkan punggung.
"Lalu mengapa kita meminta bantuan mereka?"
"Karena tidak ada yang lain yang mampu. Tapi ada hal yang harus kau pahami — Sariya bukan rahasia biasa. Ada alasan mengapa jejaknya begitu sulit ditemukan. Ada alasan mengapa dia bersembunyi. Jika Klan Bayu menyelidikinya... mereka akan menemukan hal-hal yang sebaiknya tetap tersembunyi. Dan hal itu bukan keputusan kita."
Haris mengambil selembar kertas berkualitas tinggi, pulpen emas, dan mulai menulis. Tinta mengalir di atas kertas — tulisan resmi, rapi, namun tangan yang menulisnya tidak sepenuhnya tenang.
"Maka biarkan Klan Bayu yang memutuskan. Apakah mereka akan melanjutkan... atau apakah mereka akan menutupnya kembali. Itu bukan hak kita untuk memaksakan."

Dia melipat surat itu, menyegelnya dengan lilin merah bermeterai lambang Pradana — pohon beringin yang dikelilingi api.
"Surat ini berangkat besok fajar. Dan apa pun jawaban Arga Bayu... kita terima. Karena dia tahu beban yang dibawa nama itu."
Darma menatap meterai merah yang menyala di bawah cahaya lampu.
"Dan Kirana?"
"Dia sudah bagian dari keluarga ini. Apa pun yang ditemukan... dia tetap putriku. Tidak ada yang berubah. Tapi dia berhak tahu siapa ibunya. Dan Sariya... berhak dikenali."
Haris meletakkan surat di meja, menatapnya lama.
"Semoga kita tidak menyesal membuka pintu ini."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience