113. Pertemuan Para Penjaga

Romance Completed 202

Malam itu, setelah hari kebersamaan keluarga berakhir, langit perlahan berubah menjadi kelabu pekat. Di ruang pertemuan khusus Pradana Mansion — ruangan yang dindingnya terbuat dari batu pualam hitam bercahaya lembut, dihiasi ukiran lambang-lambang kuno setiap klan — berkumpullah para Penjaga bersama para Tetua Klan yang telah datang memenuhi panggilan Wira. Suasana hening dan khidmat. Cahaya lilin berwarna keemasan menyala di keempat sudut ruangan, memantulkan bayangan mereka yang duduk melingkar.
 
ARGA BAYU — KETEPATAN DAN KETEGUHAN
Arga Bayu duduk tegak, wajahnya serius dan penuh tekad. Di hadapannya, Tetua Tertinggi Klan Bayu — Bayu Agung — menatapnya lekat-lekat dengan pandangan yang tenang namun tajam.
"Kau telah melihat kekuatan Phoenix yang bangkit," ucap Bayu Agung pelan namun berat suaranya. "Dan kau juga telah melihat kekuatan gelap yang berdiri di hadapannya. Bagaimana penilaianmu?"
Arga menunduk sejenak, lalu menjawab dengan tegas.
"Kekuatan Phoenix murni dan agung, namun masih belum sepenuhnya terbangun. Sedangkan kekuatan gelap yang melawannya... bukanlah kekuatan Durga semata. Ada sesuatu yang jauh lebih tua dan jauh lebih dahsyat melindunginya. Cahaya ungu yang kulihat saat itu... berasal dari masa yang jauh lebih purba dari catatan kita."
Bayu Agung mengangguk perlahan, matanya menatap ke lantai seakan melihat masa lalu yang jauh.
"Maka tugas Klan Bayu tetaplah sama seperti sejak ratusan tahun silam — menjadi mata dan telinga bagi mereka yang memegang harapan dunia. Mulai hari ini, perkuat pengawasan di seluruh penjuru kerajaan. Catat setiap kejanggalan, setiap bayangan yang bergerak tanpa alasan, setiap orang yang berubah sikap secara tiba-tiba. Jangan biarkan kegelapan menyusup tanpa jejak. Dan lindungi Putri Phoenix dari bayang-bayang yang tak kasat mata."
"Aku paham," jawab Arga mantap. "Tak ada tempat yang tersembunyi dari pengawasan kami."
 
BIMA SENA — TANAH, PERISAI, DAN KETEGUHAN HATI
Bima Sena duduk dengan tenang di hadapan Tetua Klan Sena. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak semakin teguh, seakan batu karang yang tak terguncang badai.
"Kekuatan pertahanan yang dimiliki musuh semakin kuat," ucap Bima perlahan. "Sihir penahan yang digunakan mampu menahan bahkan kekuatan Phoenix sejenak. Jika kita menghadapi pertempuran yang lebih besar nanti... kita membutuhkan pertahanan yang jauh lebih kokoh."
Tetua Klan Sena menatapnya dengan senyum bangga.
"Tanah tempat kita berpijak adalah perisai terkuat yang pernah ada. Ajarkanlah kepada mereka cara memohon kekuatan dari bumi itu sendiri. Bumi tidak akan pernah berpihak pada kejahatan. Selama kita memegang kebenaran... tanah akan bangkit melindungi kita. Perkuat benteng Pradana Mansion. Tanamkan kekuatan pertahanan di setiap jengkal tanah yang dilindungi. Jangan biarkan siapa pun melangkah masuk tanpa izin."
Bima mengangguk.
"Akan kulakukan. Bumi akan menjadi perisai yang tak dapat ditembus."
 
ARAN ARUNA — CAHAYA, SIHIR, DAN HIKMAT
Aran Aruna duduk dengan mata terpejam sejenak sebelum membukanya perlahan. Cahaya samar berkilat di matanya. Di hadapannya, Tetua Tertinggi Klan Aruna menatapnya dengan pandangan yang penuh wibawa namun lembut.
"Sihir yang digunakan musuh berasal dari sumber yang tak tercatat dalam kitab mana pun," ucap Aran pelan. "Ia memakan darah dan kebencian sebagai bahan bakarnya. Semakin kuat kebencian di sekitarnya... semakin kuat pula sihir itu. Ini sangat berbahaya bagi kita."
Tetua Aruna menghela napas panjang.
"Maka Klan Aruna harus menjadi cahaya yang membelah kegelapan. Pelajari setiap lembar kitab kuno yang tersimpan di perpustakaan besar. Cari cara mematahkan sihir darah itu. Cahaya murni adalah kelemahannya. Namun cahaya itu harus disucikan terlebih dahulu dari segala keraguan dan ketakutan. Ajarkan kepada mereka... bahwa ketakutan adalah pintu masuk bagi kegelapan. Hanya hati yang tenang dan murni yang mampu memancarkan cahaya sejati."
"Aku akan mencarinya," janji Aran tegas. "Aku tidak akan berhenti hingga cahaya itu kembali bersinar melampaui segala gelap."
 
KESUMA ARDIKA — KEBENARAN DAN KEWAJIBAN YANG TERTUNDA
Kesuma Ardika duduk dengan sedikit gugup namun berusaha menegakkan tubuhnya. Di hadapannya, Tetua Klan Ardika — Juragas — menatapnya dengan pandangan yang penuh penyesalan sekaligus harapan yang mendalam.
"Selama bertahun-tahun..." ucap Juragas pelan, suaranya terdengar berat, "Klan Ardika telah melupakan tugas sesungguhnya. Dimas yang memegang kendali... telah menyalahgunakan kepercayaan dan melupakan sumpah leluhur. Akibatnya... perlindungan terhadap garis keturunan Phoenix menjadi lemah. Dan kini... rantai itu hampir putus sepenuhnya."
Kesuma menunduk.
"Aku tidak meminta tahta, Tetua. Aku hanya ingin memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan keluargaku. Katakanlah... apa yang seharusnya dilakukan Penjaga Ardika?"
Juragas menatap pemuda itu lekat-lekat, lalu tersenyum tipis.
"Klan Ardika adalah pedang yang melindungi dari dekat. Klan Ardika bersumpah untuk melindungi nyawa garis keturunan Phoenix dengan nyawanya sendiri. Itulah sumpah yang terlupakan. Maka sekarang... kembalilah pada sumpah itu. Jadilah pedang yang setia. Jadilah perisai yang tak terlihat. Dan biarlah keberanian serta kesetiaanmu... menebus segala kesalahan masa lalu."
Kesuma berdiri perlahan, menatap Tetua itu dengan mata yang bersinar penuh tekad.
"Aku bersumpah... dengan nyawaku. Darah Ardika akan kembali menepati sumpahnya. Tak akan ada yang melukai Putri Phoenix selagi aku bernapas."
 
DARMA PRADANA — PENGHUBUNG DAN PELINDUNG
Terakhir, giliran Darma Pradana. Ia berdiri di hadapan Wira dan Haris yang menatapnya dengan pandangan penuh makna. Kalung peninggalan leluhur yang kini ia kenakan terasa hangat di dadanya.
"Kau bukan Penjaga Klan seperti mereka," ucap Wira pelan, suaranya tenang namun penuh wibawa. "Namun darah Pradana mengalir di nadimu — darah yang menjaga keseimbangan dan menyatukan segala perbedaan. Kekuatanmu bukanlah kekuatan sihir atau elemen alam. Kekuatanmu adalah kesetiaan, kebijaksanaan, dan kemampuan menyatukan hati yang berbeda."
Haris menambahkan dengan lembut namun tegas.
"Pradana Mansion akan menjadi benteng dan tempat berlindung. Kau akan menjadi penghubung antar klan. Pastikan tidak ada perpecahan yang terjadi di antara kita. Karena itulah kelemahan terbesar kita — jika kita terpisah, kita mudah dikalahkan. Tetaplah berdiri di samping Kirana. Lindungilah hatinya sebagaimana kau melindungi nyawanya. Karena di saat-saat tergelap... kekuatan hatilah yang akan menjaganya tetap berdiri tegak."
Darma mengangguk dalam, genggamannya erat.
"Aku mengerti. Selama napas ini masih mengalir... aku tidak akan membiarkan siapa pun berdiri sendirian. Dan aku tidak akan membiarkan apa pun melukainya."
 
Ketika semua pembicaraan selesai, ruangan itu kembali hening sejenak. Lima orang itu berdiri melingkar, saling bertatapan. Masing-masing kini memahami tugas dan kewajibannya. Masing-masing kini memahami bahaya yang datang.
"Musuh kita tidak hanya kuat," ucap Aran pelan, memecah keheningan. "Ia juga cerdik. Ia tahu kelemahan kita. Ia tahu cara memisahkan kita."
"Maka kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi," jawab Arga tegas. "Kita berdiri sebagai satu kesatuan. Satu tujuan. Satu harapan."
Bima menatap mereka satu per satu.
"Tanah, Cahaya, Bayangan, Pedang, dan Kesatuan. Jika kita bersatu... tidak ada kegelapan yang mampu mengalahkan kita."
Kesuma menarik napas panjang.
"Mulai hari ini... tidak ada lagi kesalahan yang akan dibiarkan berlarut-larut."
Darma menatap ke arah pintu ruangan, seakan melihat sosok Kirana yang sedang beristirahat di kamar jauh dari sana.
"Kita bersiap. Kita berlatih. Dan ketika hari itu tiba... kita akan melindunginya dengan segala yang kita miliki."
Malam itu, janji-janji itu terucap dan tercatat di dalam hati masing-masing. Perang belum datang. Namun persiapan telah dimulai. Dan kali ini... mereka tidak akan membiarkan kegelapan menang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience