Series
154
PELUKAN YANG AKHIRNYA TERJADI
Cahaya keemasan perlahan menyusut, meresap sepenuhnya ke dalam kulit, darah, dan tulang Kirana. Rasa hangat itu tidak menyakitkan — justru terasa seperti pulang ke rumah yang tak pernah ia kenal namun selalu dirindukan.
Saat cahaya terakhir lenyap, Wira tersenyum lembut. Matanya berkaca-kaca, namun senyumnya begitu damai.
"Sudah selesai, anakku. Sekarang... kau boleh memeluk Ayah."
Tanpa menunggu sedetik pun, Kirana melesat ke depan. Ia memeluk erat pinggang ayahnya, wajahnya menekan dada bidang itu, dan air mata tumpah seketika.
"Ayah... Ayah... Ayah..."
Ia mengulang nama itu berkali-kali, seakan takut jika berhenti, sosok di pelukannya akan lenyap. Tangannya meremas pakaian Wira erat, seakan ingin memastikan ini nyata. Ini bukan mimpi. Ini bukan bayangan.
Wira mengusap punggungnya perlahan, lalu kedua lengannya melingkar erat di tubuh putrinya. Pelukan yang hangat, kokoh, dan penuh kasih sayang yang tertunda belasan tahun. Ia mencium ubun-ubun Kirana, suaranya bergetar tertahan.
"Aku di sini... Ayah di sini. Maafkan Ayah... maafkan Ayah baru bisa memelukmu sekarang."
Mereka berpelukan lama, di tempat yang tak terjangkau waktu. Tak ada yang mengganggu. Tak ada yang memisahkan. Hanya ayah dan anak yang akhirnya bersatu.
Namun perlahan... pelukan itu mulai terasa semakin jauh.
"Sudah waktunya kau kembali, Kirana."
Wira melepaskan pelukannya perlahan. Ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Tubuhnya mulai perlahan memudar menjadi cahaya kabut.
"Mereka di duniamu sudah cemas menunggumu berhari-hari. Kembalilah... dan bawa kekuatan ini bersama-sama dengan hatimu."
"Ayah... ikutlah bersamaku!" Kirana mengulurkan tangan, air mata semakin deras. "Jangan tinggalkan aku lagi!"
Wira tersenyum lembut, matanya penuh kerinduan namun teguh.
"Ayah akan selalu bersamamu. Di dalam darahmu. Di dalam api yang menyala di dadamu. Pergilah... anakku sayang."
Cahaya itu semakin terang hingga menyilaukan mata. Kirana mengerjap... dan saat pandangannya kembali jernih... sosok ayahnya telah lenyap. Hanya tersisa kehangatan yang masih terasa di pelukannya, dan rasa berat yang tak terlukiskan di dadanya.
Â
KEBANGKITAN DENGAN CAHAYA
Di kamar kediaman Pradana... suasana masih sunyi dan mencekam.
Hari-hari telah berlalu. Kirana terbaring diam di atas tempat tidur, wajahnya pucat, napasnya lemah namun teratur. Di sekelilingnya berdiri lima orang yang tak pernah pergi jauh. Wajah mereka semua penuh kelelahan dan kekhawatiran yang tak kunjung reda.
Tiba-tiba... air mata perlahan menetes dari sudut mata Kirana. Meski matanya masih terpejam, bulu matanya basah, dan air mata mengalir pelan turun ke pipinya.
"Kirana..." Darma melangkah mendekat, suaranya bergetar.
Namun sebelum ia sempat menyentuhnya... sesuatu terjadi.
Cahaya keemasan perlahan memancar dari dalam tubuh Kirana. Lembut di awal, lalu semakin terang, semakin hangat, hingga menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya itu bukan menyilaukan — ia memancarkan kehangatan yang menenangkan, namun begitu murni dan kuno hingga membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas.
Darma, Haris, Arga, Aran, dan Bima mundur selangkah serentak. Mata mereka membelalak tak percaya.
"Cahaya itu..." Arga berbisik tak percaya. "Itu bukan sihir biasa..."
"Itu adalah cahaya yang hanya dimiliki oleh garis keturunan tertua..." Aran menatap lekat-lekat, matanya memantulkan cahaya keemasan itu. "Api Phoenix yang sejati... akhirnya bangkit sepenuhnya."
Cahaya itu perlahan menyusut, menyelimuti tubuh Kirana seperti selimut hangat, lalu meresap kembali ke dalam dirinya sepenuhnya. Ruangan kembali tenang. Namun udara di dalamnya terasa berbeda — lebih ringan, lebih hangat, dan penuh kekuatan yang tak terlihat namun terasa jelas.
Perlahan... kelopak mata Kirana bergerak. Lalu terbuka.
Matanya yang jernih menatap ke langit-langit kamar. Ada air mata yang masih menetes, namun di dalam tatapan itu... kini ada sesuatu yang berbeda. Lebih teguh. Lebih dalam. Seakan ribuan tahun kebijaksanaan dan kekuatan kini mengalir di balik sepasang mata itu.
Ia menarik napas panjang, lalu perlahan duduk. Tangan kanannya meremas kain selimut yang menutupi tubuhnya. Ia menunduk, bahunya bergetar, dan tanpa suara... ia mulai menangis. Tangannya menutupi wajahnya, bahunya terguncang pelan, tangis yang tertahan namun penuh dengan segala rasa rindu, sakit, dan kelegaan yang tak terucapkan.
Â
RUANG UNTUK KIRANA
Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Tak ada yang berani bersuara. Tak ada yang berani melangkah terlalu dekat. Mereka semua hanya berdiri di sana, menatap gadis yang baru saja terbangun — dan kini terlihat berbeda dari sebelumnya.
Darma yang berdiri paling dekat, akhirnya melangkah maju perlahan. Ia tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di jarak yang aman, suaranya lembut namun penuh perhatian.
"Kau sudah kembali."
Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan basah, namun tatapannya menatap mereka satu per satu — Darma, Haris, Arga, Aran, dan Bima. Semua orang yang telah menjaganya siang dan malam.
"Maafkan aku..." suaranya terdengar serak namun tegas. "Membuat kalian cemas."
Haris maju selangkah, matanya tampak berkaca-kaca namun tersenyum lega.
"Kau tidak perlu meminta maaf. Yang penting... kau selamat. Kau kembali kepada kami."
Arga dan Bima mengangguk pelan, wajah mereka yang biasanya tegas kini tampak lembut dan lega. Aran tersenyum tipis, matanya seakan mengerti sebagian dari apa yang baru saja terjadi.
Darma menatapnya lekat-lekat, lalu perlahan berkata dengan lembut namun tegas.
"Kami tidak akan menanyakan apa yang terjadi padamu. Tidak akan memaksamu bercerita sekarang." Ia menatapnya tulus. "Kau butuh waktu. Dan kau butuh ruang. Kami akan pergi sebentar. Tapi ingatlah... kami semua ada di luar pintu ini. Jika kau siap... jika kau ingin bercerita... atau sekadar ingin ditemani... kami ada di sini."
Kirana menatap Darma, lalu mengangguk pelan. Air mata kembali menetes di pipinya.
"Terima kasih..."
Darma mengangguk. Ia memberi isyarat kepada yang lain. Satu per satu mereka melangkah mundur, lalu berjalan keluar dari kamar dengan tenang. Pintu tertutup perlahan, menyisakan Kirana sendirian di dalam ruangan yang hangat itu.
Ia kembali menunduk, memeluk lututnya erat. Di dadanya masih terasa hangatnya pelukan ayahnya. Di dalam nadinya kini mengalir kekuatan yang tak terbayangkan. Dan di hatinya... kini ia tahu segalanya. Asal-usulnya. Kebenaran masa lalu. Dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Air mata menetes perlahan di atas selimut. Namun kali ini... di balik air mata itu... ada api yang mulai menyala. Tak lagi lemah. Tak lagi goyah.
Share this novel