59. Bayangan Menyerang Dan Api Tak Terpadam

Romance Series 154

JEJAK BAHAYA DAN KETERLAMBATAN
Beberapa hari kemudian, surat buru-buru tiba di tangan Arga Bayu. Wajahnya seketika berubah gelap.
"Jejak bayangan gelap... berkumpul dan melayang di sekitar kediaman Pradana..." Arga membaca baris itu sekali lagi, lalu melesat berdiri. "Kirana baru saja membangkitkan kekuatannya. Belum matang. Jika mereka menyerangnya sekarang..."
Tanpa menunda sedetik pun, Arga memanggil pasukan terpilih dan bergegas menuju kediaman Pradana. Jarak yang biasanya memakan waktu sehari, ia tempuh dalam setengah hari. Namun saat ia tiba di gerbang... langkah kakinya terhenti. Jantungnya seakan berhenti berdetak.
Halaman luas yang biasanya bersih dan tertata rapi kini berubah menjadi medan kekacauan. Darah menetes di mana-mana — merembes ke tanah, membasahi rumput, mengering di batu. Beberapa pengawal Pradana tergeletak tak bergerak di tanah. Tubuh mereka terlihat utuh namun bengkok dengan cara yang tidak wajar. Tulang-tulang mereka seakan diremukkan dari dalam. Tidak ada bekas tebasan pedang. Tidak ada luka senjata biasa. Hanya keheningan yang mencekam dan bau besi yang menyengat di udara.
Arga berlari masuk, menerobos kepanikan yang meremas dadanya.
"Tuan Haris! Darma! Bima! Kirana!!!"
Suaranya memantul di dinding-dinding batu, namun tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menjawab panggilannya. Arga mencengkeram tangannya erat, kuku menancap hingga telapak tangannya memutih. Rasa bersalah seketika melanda hatinya — seandainya ia berangkat lebih cepat. Seandainya ia tidak menunda sedetik pun. Seandainya ia menyadari bahaya itu lebih awal...
"Jangan bersuara terlalu keras..."
Suara lembut tiba-tiba terdengar dari belakangnya. Arga berbalik seketika, tangan mencengkeram gagang pedangnya. Di sana berdiri sesosok lelaki dengan rambut perak yang jatuh hingga bahu, telinga yang sedikit runcing, dan mata yang bersinar lembut bagai bintang di malam gelap. Aran Aruna.
"Ikutlah bersamaku. Mereka masih hidup. Namun terluka cukup berat."
Aran menuntunnya melintasi lorong belakang yang sepi hingga tiba di ruang perpustakaan besar yang pintunya tertutup rapat. Di dalamnya... di atas hamparan kain tebal yang bersih... terbaring keempat orang itu.
Bima Sena terbaring paling dekat. Wajahnya pucat pasi, napasnya lemah dan teratur namun begitu berat. Luka di dada dan lengannya masih dibalut kain yang perlahan memerah kembali. Di sebelahnya... Kirana. Wajahnya tanpa darah, bibirnya pucat, matanya terpejam erat. Darah menetes perlahan dari luka di lengannya. Haris Pradana duduk bersandar di dinding batu, wajahnya pucat dan penuh kelelahan, luka di bahunya dibalut kain bersih. Dan di samping mereka... berdiri Darma. Tangan kanannya dibalut, darah masih merembes keluar. Namun luka yang paling dalam tampak di matanya — merah, berkaca-kaca, penuh rasa bersalah yang begitu berat hingga seakan menekan seluruh tubuhnya.
Aran berdiri di samping mereka, kedua tangannya perlahan memancarkan cahaya keemasan lembut yang menyelimuti luka-luka itu — menenangkan rasa sakit, menghentikan pendarahan, namun belum sanggup menyembuhkan luka sedalam itu.
Arga menatap Darma dengan napas tertahan.
"Apa... yang sebenarnya terjadi?"
 
PERTEMPURAN DAN PENYESALAN
Darma menarik napas panjang, suaranya terdengar berat dan pecah di setiap kata.
"Setelah latihan selesai... Kirana duduk beristirahat di bawah pohon besar yang rindang di halaman timur. Bima Sena berdiri tidak jauh darinya, tetap waspada meski Kirana menyuruhnya beristirahat. Udara begitu tenang. Tidak ada tanda bahaya. Namun tiba-tiba..." Darma menelan ludah, tangannya mengepal erat. "Langit di atas mereka seketika gelap. Bukan awan. Bukan mendung. Tapi kegelapan yang melahap cahaya. Bayangan muncul dari tanah, dari dinding, dari udara itu sendiri. Tanpa wajah. Tanpa wujud yang jelas. Mereka melingkari Kirana dan hendak merenggutnya pergi."
"Bima Sena melompat menghadang seketika. Pedangnya terhunus dan berkilat. Namun lawan yang ia hadapi... bukan manusia biasa. Senjata biasa nyaris tak berguna. Bima bertarung sendirian di awal, menahan puluhan bayangan demi melindungi Kirana. Saat salah satu bayangan meloloskan diri dan menyerang dari samping... Kirana tidak lari. Ia mengangkat tangannya. Api menyala di telapak tangannya — api yang begitu murni, begitu terang, hingga bayangan itu berteriak saat tersentuhnya."
"Mereka berdiri berpunggungan. Bima menahan serangan dari depan, Kirana membakar yang mendekat dari samping. Darah menetes dari luka Bima, namun ia tak mundur selangkah. 'Tetap di belakangku!' serunya kepada Kirana. Namun Kirana menjawab tegas, 'Kita bertahan bersama.' Kekuatan mereka saling melengkapi — bumi yang kokoh dan api yang membara."
"Namun jumlah mereka terlalu banyak. Bima Sena dihantam dari belakang. Ia jatuh berdarah, namun tetap berusaha merangkak kembali ke arah Kirana. Kirana sendiri terluka, namun tetap berdiri, menahan mereka dengan api yang semakin melemah. Saat Bima jatuh dan tak mampu bangun... mereka menyerbu Kirana. Mereka hampir membawanya pergi. Saat itulah... Tuan Aran muncul."
Darma menunduk dalam, suaranya pecah.
"Aku melihatnya dari kejauhan. Aku mengirim pengawal untuk memberi tahu Ayah dan memperkuat pertahanan mereka. Namun kami tiba sesaat terlambat. Pasukan Ayah pun tak mampu menahan kekuatan bayangan itu. Jika Tuan Aran tidak muncul tepat waktu... Kirana sudah dibawa pergi. Bima dan Kirana... keduanya jatuh bersimbah darah dan tak sadarkan diri. Dan Ayah..." Darma menatap Haris dengan mata berkaca-kaca. "Ayah terluka saat berusaha melindungi mereka."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Arga menatap Kirana yang terbaring diam, lalu Bima, lalu Haris. Dadanya terasa sesak.
Aran menyahut pelan.
"Cahaya kuno ku pancarkan. Bayangan itu berteriak kesakitan dan melarikan diri. Namun lukanya... racun dingin yang mereka tinggalkan... tidak mudah hilang. Mereka butuh waktu untuk pulih."
 
KEBONGSORAN DAN KEBOHONGAN
Sementara itu, bayangan-bayangan yang terluka dan ketakutan kembali melesat ke kediaman Durga. Tubuh mereka nyaris hancur, sisa-sisa wujudnya perlahan menghilang.
"Tuan... Tuan Durga..." suara mereka bergetar. "Kami hampir berhasil... namun seseorang muncul. Cahaya kuno... cahaya yang membakar kami. Itu adalah sihir kuno dari Klan Aruna. Aran Aruna... ia membantu gadis itu."
Durga berdiri terpaku. Matanya membelalak tak percaya.
"Aran Aruna?!"
Ia mundur selangkah, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Nama itu... seharusnya hanya tinggal legenda. Hanya dongeng kuno yang dituturkan para leluhur. Sosok yang seharusnya sudah lenyap ratusan tahun silam. Namun sekarang... ia muncul. Dan berdiri di sisi Phoenix.
Amarah seketika meledak di dadanya. Wajahnya berubah gelap, napasnya memburu. Tanpa menunggu lagi, ia melesat seketika ke kedalaman gua tempat Sariya dikurung.
Tanpa sepatah kata pun, ia melancarkan serangan ke arah Sariya. Kekuatan gelap menghantam tubuh Sariya. Sariya tersentak hebat, napasnya tertahan, dan untuk pertama kalinya... ia berteriak kesakitan. Namun teriakan itu hanya satu kali. Setelah itu... ia kembali diam. Wajahnya pucat dan berdarah, namun matanya tetap menatap Durga dengan tenang. Tidak memohon. Tidak menangis. Tidak takut.
"Berteriaklah! Mengapa kau diam saja?!" Durga menghantamnya lagi. Namun Sariya tetap diam. Rantai hitam di tubuhnya tidak menyedot apa pun. Karena tidak ada ketakutan yang bisa dimakan.
Durga menyadari itu. Dan kesadarannya membuatnya semakin gila. Ia berhenti sejenak, napasnya memburu. Lalu tiba-tiba... ia tersenyum. Senyum yang kejam dan penuh kebohongan.
"Kau tidak mau berteriak karena lukamu? Baiklah... mungkin kau akan berteriak karena putrimu." Durga melangkah mendekat, suaranya penuh tawa kejam. "Pasukanku baru saja menyerang Kirana. Melukainya parah. Darahnya mengalir deras. Kekuatan gelap mulai merambat di dalam tubuhnya. Perlahan... ia akan merasakan sakit yang kau rasakan. Dan perlahan... ia akan mati perlahan-lahan."
Sariya tersentak. Matanya melebar. Napasnya tertahan. Sesaat... keteguhannya retak. Hatinya bergetar hebat.
"Kau... berkata benar?"

Durga tertawa keras, suaranya bergema mengerikan di gua itu.
"Benar-benar! Setiap detik yang berlalu... rasa sakitnya semakin bertambah! Selamat menikmati rasa sakit itu, Ibu Phoenix! Hahahahahaha!!!"
Sebelum Sariya sempat bertanya lebih lanjut, Durga berbalik dan lenyap seketika. Pintu gua tertutup rapat kembali.
Sariya tertunduk, napasnya memburu. Tangannya mengepal erat. Amarah dan kecemasan membakar dadanya. Namun sesaat kemudian... ia menarik napas panjang. Perlahan... keteguhan kembali ke matanya.
Tidak... batinnya perlahan tenang. Jika Kirana benar-benar terluka parah... ikatan darah antara kami pasti akan merasakannya. Hatiku pasti akan merasakan sakit anakku. Namun yang kurasakan... hanyalah kecemasan, bukan rasa sakit yang sesungguhnya. Dia hidup. Dia terluka namun hidup. Durga... kau berbohong. Kau ingin aku takut. Kau ingin rantai ini memakanku. Namun aku tidak akan memberimu kepuasan itu.
Sariya mengangkat wajahnya perlahan. Matanya perlahan menyala dengan cahaya keemasan yang lembut namun tak terpadamkan. Rantai hitam di tubuhnya tetap diam — tidak menyedot, tidak menggerus. Karena di dalam hatinya... tidak ada ketakutan. Hanya api yang semakin berkobar.
"Kau tidak akan menang, Durga." Sariya berbisik pelan namun tegas. "Api Phoenix tidak akan pernah padam. Dan ketika putriku datang... kau akan membayar mahal untuk setiap kebohongan dan setiap tetes darah yang tumpah hari ini. Kau akan menyesal telah melahirkan niat jahat di hatimu."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience