56. Durga Dan Janji Yang Tidak Akan Pudar

Romance Series 154

BAYANGAN YANG MENAMPakkan WAJAH
Di kedalaman gua yang gelap dan dingin, di mana cahaya tak sanggup menembus hingga ke dasar... udara tiba-tiba berubah. Suara langkah terdengar — berat, pelan, seakan tanah di bawahnya gemetar ketakutan.
Di hadapan Sariya, yang terbelenggu di dinding batu dingin... bayangan itu perlahan membentuk wujud.
Lelaki itu berdiri tegak. Tubuhnya tampak biasa saja, namun setiap gerakannya membawa tekanan yang tak terlihat — seakan seluruh udara di gua itu menjadi berat hanya karena kehadirannya. Wajahnya tampak tenang, bahkan tersenyum samar. Namun matanya... matanya gelap pekat, tanpa kilau kehidupan, tanpa belas kasih. Seperti jurang yang tak berdasar.
Durga.
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di jangkauan tangan Sariya — cukup dekat agar Sariya dapat melihat senyumnya, cukup jauh agar rantai itu tetap tak terjangkau.
"Selamat malam, Sariya." Suaranya rendah, lembut, namun penuh racun yang tersembunyi di balik nada yang begitu tenang. "Atau sebaiknya... selamat tinggal?"
Sariya mengangkat wajahnya perlahan. Darah masih menetes dari luka di pelipisnya. Tubuhnya lemah, napasnya berat dan tersengal. Namun matanya... matanya tetap jernih. Tetap tegak. Tetapi menatap lurus ke mata lelaki itu tanpa sedikit pun rasa takut.
"Kau..." ujar Sariya pelan, suaranya lemah namun tak bergetar. "Aku tahu... kau akan datang sendiri."
Durga tertawa pelan. Tawa yang rendah, bergema di dinding batu, terdengar begitu menyenangkan namun begitu mengerikan.
"Tentu saja aku datang. Mengapa tidak? Segalanya telah berjalan sempurna. Ratusan tahun menunggu... dan akhirnya... hari itu hampir tiba." Durga melangkah selangkah lebih dekat, menatap lurus ke mata Sariya. "Kau adalah Phoenix terakhir. Dan saat kau mati... gerbang itu akan terbuka. Dunia baru — dunia yang akan berjalan di bawah bayanganku. Dan darahmu... akan menjadi kunci yang membukanya."
 
API YANG TIDAK PADAM
Sariya tersenyum. Senyum yang lemah namun begitu teguh, begitu menghina.
"Kau terlalu cepat bersorak, Durga."
Senyum Durga sedikit memudar.
"Apa maksudmu?"
"Kau menyebut dirimu pemenang? Kau menyebut kunci ini di tanganmu?" Sariya menegakkan tubuh sebisa mungkin, meski rantai itu menariknya kembali ke batu. Matanya menyala perlahan, seakan ada cahaya keemasan yang berusaha menerobos keluar. "Kau salah. Kau telah salah sejak awal. Api Phoenix tidak akan pernah padam. Bahkan jika tubuhku binasa... api itu akan kembali bangkit. Dan kau... kau tidak akan pernah melihat gerbang itu terbuka sesuai keinginanmu."
Durga terdiam sejenak. Lalu tawa meledak darinya — keras, panjang, penuh kemenangan yang tak tergoyahkan.
"Kau masih berani bicara begitu?! Di sini?! Di saat darahmu perlahan mengering?! Kau pikir aku tak tahu?!" Durga menunjuk dada Sariya dengan jari telunjuknya yang panjang dan pucat. "Ratusan tahun perencanaan. Ratusan tahun menyusun sihir. Ratusan tahun menunggu garis keturunanmu menipis... hingga akhirnya tinggal kau seorang. Dan sekarang... darah Phoenix yang terakhir mengalir di pembuluhmu. Dan saat darah itu berhenti mengalir... gerbang Kegelapan Agung akan terbuka lebar. Dunia ini akan menjadi milikku. Cahaya akan lenyap. Dan aku... Durga... akan mengambil alih takdir dunia ini!"
Sariya menatapnya dengan tatapan yang begitu tenang, begitu kasihan.
"Mimpi kosong."
"Mimpi?!" Durga tertawa lagi, kali ini lebih dingin. "Kau belum paham sepenuhnya, Sariya. Semakin kau takut... semakin hatimu gemetar... semakin cepat darahmu tersedot keluar oleh rantai ini. Rantai itu tidak hanya mengikat tubuhmu. Ia memakan ketakutanmu. Ia memakan keputus-asaanmu. Dan dari setiap tetes ketakutanmu... kekuatanku tumbuh semakin besar."
Durga mendekatkan wajahnya ke wajah Sariya, senyumnya begitu lebar, begitu mengerikan.
"Maka takutlah, Sariya. Takutlah sekuat hatimu. Karena semakin kau gemetar... semakin cepat kau mati. Dan semakin cepat pula... gerbang itu terbuka."
 
YANG TIDAK BISA DIMAKAN OLEH KEGELAPAN
Sariya menatapnya lurus di mata. Dan perlahan... ia tersenyum. Bukan senyum ketakutan. Bukan senyum keputusasaan. Melainkan senyum yang begitu hangat, begitu lembut... dan begitu menakutkan bagi lelaki di hadapannya.
"Kalau begitu... kau akan kelaparan, Durga."
Durga terdiam.
"Karena ketakutan itu tidak ada di hatiku." Sariya menatapnya lurus, suaranya perlahan menguat, penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. "Aku tidak takut mati. Aku tidak takut padamu. Dan aku tidak takut pada kegelapan yang kau bawa. Karena aku tahu... api itu tidak akan pernah mati. Bahkan jika tubuhku menjadi debu... ia akan kembali bangkit. Dan anakku... putriku... ia akan datang. Ia akan menghancurkan segala yang kau bangun. Dan kau... kau akan binasa di hadapan apinya."
Wajah Durga perlahan berubah. Senyumnya masih terpasang... namun matanya mulai menyipit. Rasa tidak nyaman mulai merayap di dadanya.
"Putrimu?" gumamnya pelan. "Kirana?"
"Ya. Kirana." Cahaya di mata Sariya bersinar begitu terang. "Dan saat ia datang... kau akan menyesal telah lahir ke dunia ini."
Durga menatapnya lama. Lalu perlahan ia mundur selangkah. Tawa dingin kembali terdengar, namun kali ini ada nada yang dipaksakan.
"Biarlah. Katakanlah apa yang kau mau. Takut atau tidak... waktumu telah habis. Rantai itu akan terus memakanmu. Dan saat napas terakhirmu berlalu... gerbang itu akan terbuka. Selamat tinggal, Phoenix terakhir."
Durga berbalik perlahan. Bayangannya memanjang di dinding batu. Dan seketika... ia lenyap. Seakan terserap kembali ke dalam kegelapan.
 
TERIAKAN YANG TAK TERDENGAR
Sariya sendirian kembali di dalam kegelapan. Namun kali ini... ia berteriak. Bukan karena takut. Bukan karena sakit.
Ia mengangkat wajahnya ke arah langit gua yang gelap, dan berteriak — sekuat tenaga yang tersisa, seakan suaranya bisa menembus batu, menembus gunung, hingga sampai ke telinga putrinya yang jauh di sana.
"KIRANA!!! JANGAN TAKUT!!! API ITU ADA DI DALAM DIRIMU!!! JANGAN PERNAH BIARKAN DIA PADAM!!! KIRANA — ANAKKU — INGATLAH SIAPA KAU SEBENARNYA!!!"
Suaranya bergema di seluruh gua... namun tak ada yang mendengar. Hanya kegelapan yang diam. Hanya rantai yang dingin.
Namun di tempat yang jauh... di mana cahaya keemasan mulai tumbuh... seketika Kirana berhenti melangkah. Dadanya terasa berdenyut pelan. Hatinya bergetar. Seakan ada suara yang memanggil namanya dari tempat yang tak diketahuinya. Seakan ada janji... yang baru saja diperteguhkan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience