96. Ilmu Darah Lembayung

Romance Series 154

Pagi itu, cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai jendela, menyinari wajah Sariya yang perlahan terbuka. Ia mengedipkan mata beberapa kali, lalu menoleh perlahan ke sisi tempat tidur.
Di sana, Kirana sedang tertidur pulas dengan kepala bersandar di tepi kasur, tangan kanannya masih menggenggam erat tangan ibunya. Cahaya pagi menyentuh wajah gadis itu, memperlihatkan garis wajah yang semakin dewasa dan tegas, namun masih menyimpan jejak kelembutan yang sama seperti saat ia masih kecil.
Sariya tersenyum lembut, jari-jemarinya bergerak perlahan menyentuh rambut putrinya.
"Anakku..." bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca penuh kasih sayang.
Gerakan halus itu membangunkan Kirana. Ia segera terjaga, mata terbuka lebar menatap ibunya yang sudah tersenyum menatapnya.
"Ibu!" Kirana langsung bangkit duduk, wajahnya berseri-seri penuh sukacita. "Ibu sudah bangun! Apakah Ibu merasa sakit? Apakah Ibu haus? Aku panggilkan dokter sekarang!"
Sariya menahan tangan putrinya yang hendak bangkit.
"Aku baik-baik saja, sayang." ucapnya lembut sambil menarik Kirana ke dalam pelukan hangat. "Ibu hanya terbangun dan menyadari... betapa beruntungnya Ibu bisa melihat wajahmu lagi."
Kirana memeluk erat ibunya, air mata bahagia menetes di bahu Sariya.
"Aku rindu sekali, Bu... aku rindu sekali..."
"Aku juga, Nak. Setiap detik, setiap saat... Ibu selalu merindukanmu."
Mereka berpelukan lama di keheningan yang hangat. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Ikatan darah dan kasih sayang sudah menyampaikan segalanya.
Setelah perasaan sedikit tenang, Sariya menyentuh pipi putrinya dengan lembut.
"Kirana..."
"Ya, Bu?"
"Ibu melihat kekuatan yang ada padamu." ucap Sariya dengan tatapan lembut namun serius. "Kau sudah belajar banyak hal. Kau sudah berani melawan kegelapan dan menyelamatkan Ibu. Namun kekuatan yang kau miliki itu... masih ada sisi lain yang belum kau ketahui."
Kirana mengerutkan kening pelan.
"Sisi lain?"
"Ya." Sariya mengangguk. "Darahmu mengalir dari dua garis keturunan yang sangat kuat. Dari garis Ayahmu, Klan Wirabuana, kau mewarisi api Phoenix yang membakar segala kejahatan. Dan dari garis Ibumu, Klan Lembayung... kau mewarisi sesuatu yang berbeda."
Sariya tersenyum tipis saat melihat wajah putrinya yang penuh rasa ingin tahu.
"Klan Lembayung tidak terkenal dengan kekuatan yang menghancurkan. Kekuatan kami adalah ketenangan, kejernihan, dan kemampuan untuk melihat hal-hal yang tersembunyi. Ibu dulu belajar banyak hal dari Ayahmu juga — cara menggabungkan api dengan cahaya, cara membuat kekuatan menjadi lebih lembut namun jauh lebih kuat."
Ia menggenggam tangan Kirana erat.
"Dan sekarang... Ibu ingin mengajarkan itu kepadamu."
Mata Kirana berbinar penuh semangat.
"Benarkah, Bu? Ibu mau mengajariku?"
"Tentu saja." Sariya mengusap kepala putrinya. "Karena kau tidak hanya perlu tahu cara membakar musuhmu. Kau juga perlu tahu cara melindungi, cara memurnikan, dan cara memahami apa yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. Itulah yang akan membuatmu menjadi Phoenix yang sesungguhnya."
Kirana tersenyum lebar, senyum yang begitu tulus dan bahagia.
"Aku mau, Bu! Aku mau belajar dari Ibu!"
Sariya tertawa kecil mendengar semangat putrinya.
"Baiklah. Tapi ingat, ilmu ini membutuhkan ketenangan hati. Jangan biarkan amarah atau keserakahan mempengaruhimu. Karena kekuatan Lembayung akan terasa lemah jika hatimu gelap."
"Aku ingat, Bu."
Sariya bangkit perlahan dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa lemah, namun matanya bersinar penuh semangat.
"Sebelum kita mulai... ada satu tempat yang paling cocok untuk latihan ini."
Kirana mengerjap pelan.
"Tempat?"
Sariya menatap putrinya dengan senyum misterius namun lembut.
"Tempat yang kau buat sendiri. Ruang dimensi yang kau miliki."
Kirana terkejut sejenak.
"Ibu tahu soal tempat itu?"
"Bagaimana mungkin Ibu tidak tahu?" Sariya tersenyum. "Itu adalah bagian dari kekuatanmu yang paling murni. Ibu bisa merasakannya dari sini. Tempat itu tenang, bersih, dan terbebas dari gangguan dunia luar. Sangat cocok untuk kita."
Kirana tersenyum malu namun bahagia.
"Kalau begitu... mari kita pergi ke sana, Bu."
Kirana berdiri di samping tempat tidur, lalu memejamkan mata sejenak. Ia mengingat kembali perasaan itu — perasaan melayang, perasaan masuk ke ruang yang tak terlihat oleh mata biasa. Perlahan, cahaya keemasan mulai menyelimuti tubuhnya dan Sariya.
Saat mereka membuka mata kembali, suasana di sekitar mereka telah berubah. Tidak ada lagi dinding kamar. Tidak ada jendela. Mereka berdiri di atas tanah yang lembut berwarna keemasan, di tengah ruang yang luas dan tak bertepi. Langit di atas mereka berwarna biru muda yang lembut, diselimuti kabut tipis yang berkilauan seperti debu permata.
Sariya menatap ke sekeliling dengan mata berbinar kagum.
"Indah sekali..." bisiknya pelan. "Ini adalah duniamu, Kirana. Murni dan bersih."
Kirana tersenyum bahagia melihat ibunya menyukai tempat itu.
"Aku selalu merasa tenang di sini, Bu. Seolah-olah tidak ada yang bisa menyakiti kita."
"Itulah kelebihan dari tempat ini." Sariya berbalik menatap putrinya dengan senyum lembut. "Di sini, kau adalah penguasa. Di sini, kau bisa belajar mengendalikan kekuatanmu tanpa takut melukai siapa pun. Dan di sini... Ibu akan mengajarkanmu cara menyatukan dua kekuatan besar yang mengalir di dalam darahmu."
Sariya berjalan perlahan menuju sebuah dataran luas di tengah ruang itu, lalu berbalik menghadap putrinya.
"Mari kita mulai, anakku. Mari kita lihat seberapa jauh kekuatanmu telah tumbuh."
Kirana mengangguk mantap, berdiri tegak di hadapan ibunya. Di dadanya, terasa hangat dan penuh harapan. Ini bukan sekadar latihan. Ini adalah momen di mana seorang ibu mewariskan kebijaksanaan kepada putrinya, di dalam dunia yang lahir dari kekuatan putrinya sendiri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience