Series
154
TEMPAT YANG PERNAH KUNJUNGNYA
Langit di atasnya bukan biru. Warnanya seperti api yang membakar kabut — jingga keemasan berpadu ungu lembut, seakan matahari baru saja terbit setelah berabad-abad tertidur. Udara di sini hangat, namun tidak panas; sejuk, namun tidak dingin. Dan tanah di bawah kakinya — rumput hijau berkilauan seakan setiap helainya menyimpan butiran cahaya sendiri.
Kirana berdiri diam, jantungnya berdebar perlahan namun dalam. Dia tahu tempat ini. Dia pernah berada di sini sebelumnya — dalam mimpi. Di tempat di mana bayangan tanpa wajah muncul, memberinya gulungan naskah kuno, dan mengajarkannya membaca tulisan yang seharusnya tidak diketahui oleh siapa pun di dunia ini.
Tempat ini... kembali lagi, pikirnya, matanya menyapu ke sekeliling. Mengapa? Apakah gulungan itu belum selesai mengajariku? Atau ada hal lain yang ingin ditunjukkan?
Saat pikiran itu melintas, suara terdengar — begitu dekat, seakan berdiri tepat di samping bahunya, namun tidak ada napas yang menyentuh kulit.
"Kau kembali."
Suara itu rendah, dalam, seperti guntur yang bergemuruh jauh di dalam gunung — tidak menakutkan, namun menggetarkan tanah tempat ia berpijak. Kirana berbalik perlahan.
Di sana, berdiri sesosok yang lebih tinggi dari manusia biasa. Tubuhnya diselimuti kabut merah dan emas yang perlahan menipis, memperlihatkan bentuk di baliknya. Matanya — bukan hitam, bukan cokelat. Itu adalah dua nyala api yang tenang, menyala namun tidak menghanguskan, menatapnya seakan ia adalah hal yang paling berharga di seluruh dunia.
Tidak ada kemarahan di tatapan itu. Tidak ada tuntutan. Hanya kerinduan yang begitu dalam, seakan ia telah menunggu kehadirannya selama ribuan tahun, dan setiap detiknya terasa seperti keabadian.
Sosok itu berdiri tegak, diam, membiarkan Kirana melihatnya. Perlahan, tinggi badannya menyusut hingga setinggi manusia biasa. Kabut di sekelilingnya menyatu menjadi pakaian sederhana berwarna merah tua bersulam benang emas. Di hadapannya kini berdiri seorang lelaki paruh baya — wajahnya tegas, rahangnya kuat, kerutan halus di sudut matanya bukan karena usia, melainkan karena kebijaksanaan yang diukir waktu. Rambutnya hitam bercampur beberapa helai perak, terikat rapi di belakang bahu. Matanya tetap menyala — api phoenix yang tak pernah padam.
Dia berdiri diam, tidak melangkah mendekat, tidak pula mundur. Hanya menatapnya.
"Siapa kau?" tanya Kirana, suaranya pelan namun jelas. "Kau yang memberiku gulungan naskah itu... yang mengajariku di sini."
Lelaki itu menggeleng perlahan. Senyum tipis melengkungkan bibirnya — penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.
"Belum waktunya kau mengetahui namaku, Kirana. Cukup kau tahu — aku telah menunggumu. Sejak sebelum kau lahir."
Kirana menatapnya, bingung namun hatinya terasa penuh hingga sesak. Ada sesuatu di hadapannya — ikatan yang tak terlihat, seperti tali cahaya yang menghubungkan dadanya ke dadanya. Dia tidak tahu siapa lelaki ini, namun dia merasa... pulang. Dia merasa aman. Dia merasa dicintai tanpa syarat.
"Mengapa kau memanggilku ke sini lagi?" tanyanya pelan.
Lelaki itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia mengangkat satu tangan. Cahaya emas mengalir dari telapak tangannya, lembut seperti debu bintang, dan menyebar ke sekeliling mereka.
"Lihatlah," ujarnya lembut. "Bukan ceritaku. Cerita yang harus kau ketahui."
Cahaya itu memekat, menyelimuti pandangan Kirana. Dunia berputar perlahan, dan ketika ia kembali dapat melihat dengan jelas — lelaki itu tidak lagi berdiri di sampingnya.
Â
DUNIA YANG LAIN
Kirana menunduk — dan napasnya tertahan. Tangannya... terlihat samar. Dia bisa melihat rumput hijau bersinar di balik telapak tangannya, seakan tubuhnya terbuat dari kabut tipis. Dia ada di sini, namun bukan bagian dari tempat ini.
Dia melangkah — kakinya tidak merasakan tanah, namun ia tetap bergerak. Hatinya berdebar kencang, namun bukan karena takut. Ini adalah melihat ke masa lalu. Berjalan di antara kenangan yang bukan miliknya, namun terasa lebih miliknya daripada hari ini.
Rumput di bawahnya hijau pekat, bunga-bunga berwarna lembut tumbuh berkelompok tanpa dipelihara. Langit di sini lebih cerah, lebih hidup, udara berbau manis seperti madu dan hujan pagi. Suasana tempat ini begitu agung, begitu tenang — seakan waktu sendiri berjalan lebih lambat di sini, menghormati keindahannya.
Di kejauhan, di tepi danau yang airnya jernih seperti cermin, Kirana melihat dua sosok.
Seorang gadis — seusianya. Rambutnya hitam panjang berkilau alami, matanya bersinar ceria, tawa yang keluar dari bibirnya begitu ringan, begitu bebas. Kirana menatapnya terpaku — karena wajah itu... wajah itu adalah wajahnya sendiri, namun lebih muda, lebih bahagia, lebih ringan. Tidak ada beban di bahunya. Tidak ada luka di matanya.
Di samping gadis itu berdiri seorang pemuda. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, namun ia berdiri lembut di sampingnya. Wajahnya tertutup bayangan dahan pohon yang menjuntai ke bawah — Kirana tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, namun postur tubuhnya membuat jantungnya berdebar aneh. Ada ikatan. Ada rasa akrab. Seperti dia pernah dipeluk oleh tubuh itu, seperti dia pernah mendengar suara itu membisikkan namanya.
Mereka berjalan beriringan di tepi danau, tangan mereka saling bertautan. Mereka tidak tahu ada yang menonton. Mereka hidup di momen itu, utuh dan bahagia.
Kirana melangkah mendekat — perlahan, seakan takut mengganggu udara di sekitar mereka. Dia berhenti di balik sebatang pohon lebar, berdiri diam, dan mendengarkan.
"Kau terlalu cepat berjalan, Sariya," candu pemuda itu. Suaranya dalam, hangat, membuat dada Kirana terasa hangat pula.
Gadis itu — Sariya — tertawa lembut, menoleh ke arahnya, dan mencubit pelan lengannya.
"Jika aku berjalan lambat, kau akan berpikir aku ragu untuk bersamamu. Dan aku tidak ragu sedetik pun."
Pemuda itu tertawa, menariknya lebih dekat, dan mencium ubun-ubunnya.
"Kau adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada klan kita. Dan pada diriku."
"Dan kau adalah tempatku pulang," jawab Sariya lembut, menatapnya penuh cinta. "Di mana pun aku berada, sejauh apa pun aku terbang — aku selalu kembali kepadamu."
Kirana berdiri terpaku di balik pohon. Sariya. Itu ibunya. Muda. Bahagia. Dicintai. Matanya memanas, namun air mata tidak jatuh. Dia tidak berani bergerak. Tidak berani bernapas terlalu keras.
Percakapan berlanjut — rencana masa depan, harapan, impian. Sariya bercerita tentang keinginannya melihat dunia luar, tentang ketakutannya bahwa suatu hari mereka tidak akan dibiarkan hidup dalam damai. Pemuda itu menenangkannya, berjanji akan melindunginya, apa pun yang terjadi.
"Apa pun yang terjadi, Sariya. Api kita tidak akan padam."
Hati Kirana bergetar hebat. Dia harus melihat wajah pemuda itu. Dia HARUS tahu siapa dia. Langkah kakinya bergerak — satu langkah ke depan, keluar dari balik pohon, berusaha melihat melampaui bayangan dahan itu.
"Siapa kau?" bisiknya. "Siapakah yang dicintai Ibuku?"
Saat tubuhnya bergerak, tanah di bawah kakinya bergetar. Air danau beriak hebat. Langit yang tadi indah mulai retak — seperti cermin yang dihantam batu. Cahaya terbelah. Suara mereka memudar, terdistorsi, seakan ditarik menjauh.
"TUNGGU!" teriak Kirana, mengulurkan tangan.
Dunia itu runtuh. Cahaya lenyap. Sosok mereka menghilang. Dan Kirana jatuh — jatuh ke dalam kegelapan yang lembut, namun membuat jantungnya melompat ketakutan.
Â
TERBANGUN DENGAN PERTANYAAN
Mata Kirana terbuka lebar. Napasnya tersedak, tubuhnya melengkung ke depan, keringat dingin membasahi dahi. Dia berada di kamarnya. Di tempat tidur Pradana yang lembut. Cahaya pagi menyelinap melalui celah tirai.
Dia duduk diam, napasnya perlahan teratur kembali. Jantungnya masih berdebar kencang, namun bukan karena ketakutan — karena rasa yang begitu nyata, begitu hidup, hingga sulit dipercaya itu hanya mimpi.
Sariya... Ibuku... dia bahagia. Dia dicintai. Dia berjanji akan pulang kepadanya...
Rasa bersalah menyelinap di dadanya — bukan kesalahan apa pun, melainkan rasa kehilangan yang tajam. Dia tidak pernah melihat ibunya muda. Tidak pernah melihatnya dicintai. Dan hari ini... dia melihatnya, namun tidak sempat melihat wajah lelaki yang dicintainya. Ayahnya.
Dan lelaki paruh baya itu — sosok Phoenix yang menunggunya. Dia tidak memberitahu namanya. Tapi ikatan di dadanya... rasa rindu yang tidak masuk akal terhadap seseorang yang baru pertama kali dilihatnya...
Apakah kau... kerabatku? Apakah kau kakekku? Atau sesuatu yang lebih tua dari hubungan darah?
Dia memeluk lututnya, menatap ke lantai. Percakapan itu terukir jelas di ingatannya — setiap kata, setiap nada tawa, setiap sentuhan. Dia tidak akan melupakannya. Dan dia akan menemukan siapa lelaki yang berdiri di samping ibunya itu. Wajah tertutup bayangan — tapi dia akan menemukan jawabannya.
Ketukan pintu memecah keheningan.
"Kirana? Sudah pagi. Aku membawakan sarapan."
Suara Darma. Tenang. Lembut. Kirana menarik napas panjang, menyeka sisa kelembapan di matanya, dan tersenyum — senyum yang sedikit lebih kuat, sedikit lebih bertekad.
"Masuklah, Darma."
Pintu terbuka. Darma berdiri di sana dengan nampan di tangan, namun matanya segera menangkap sesuatu di wajah Kirana — kegelisahan, cahaya baru, rahasia yang mulai terbentuk.
"Kau tampak... seakan kau telah pergi ke tempat yang jauh," ujarnya pelan, meletakkan nampan di meja samping tempat tidur.
Kirana menatapnya, lalu tersenyum samar — senyum yang menyembunyikan dunia yang baru saja ia tinggalkan.
"Mungkin memang begitu," jawabnya lembut. "Dan mungkin... aku baru saja mulai memahami siapa diriku."
Share this novel