82. Di Lembah Batu Hitam

Romance Series 154

Langkah kaki Kirana memecah keheningan hutan yang lebat. Cabang-cabang pohon kering menjulur rendah seakan berusaha menahannya, menggores lengan dan pipinya yang terbuka. Setiap goresan terasa perih, namun ia tidak berhenti. Darah yang menetes dari luka kecil itu segera dikeringkan oleh angin dingin yang berhembus tanpa henti.
Semakin jauh ia melangkah, semakin gelap suasana di sekitarnya. Pohon-pohon berbatang gelap berdiri berjejer rapat, menutupi hampir seluruh cahaya matahari yang mulai turun. Tanah di bawah kakinya terasa lembap dan licin, berlumut tebal yang menyembunyikan akar serta batu tajam. Beberapa kali ia terpeleset, namun selalu berhasil menahan tubuh agar tidak jatuh sepenuhnya. Napasnya memburu, bukan karena lelah, melainkan karena udara di sini terasa berat dan menyesakkan, seakan ada sesuatu yang terus mengawasi setiap gerakannya dari balik bayangan pepohonan.
Setelah berjalan hampir dua jam, pepohonan mulai menipis. Di hadapannya terbentang sebuah lembah yang dikelilingi tebing batu hitam pekat. Kabut tebal berwarna abu-abu melayang rendah di permukaan tanah, berputar perlahan seolah memiliki nyawa. Di tengah lembah itu, di atas tanah yang tandus dan tidak berumput, berdiri tiga orang yang sedang menunggunya.
Dimas berdiri tegak di tengah. Wajahnya terlihat lebih tegas dari biasanya, namun ada bayangan gelap yang menyelimuti matanya. Di sebelahnya berdiri Serena, yang tampak gelisah sesekali menatap ke sekeliling dengan pandangan takut. Dan di sisi lain, Larasati berdiri dengan tangan mengepal erat, wajahnya penuh kemarahan yang tak bisa disembunyikan.
Kirana berhenti sekitar sepuluh langkah dari mereka. Napasnya sedikit teratur kembali, meski hatinya terus waspada. Ia menatap ketiga orang itu dengan tenang, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
"Kau datang." ucap Dimas. Suaranya terdengar berat dan asing, tidak seperti suara yang biasa ia dengar selama ini.
"Kalian mengirim surat memintaku datang." jawab Kirana pelan namun jelas. "Kau bilang kau tahu di mana Ibu berada. Di mana dia?"
Larasati tertawa sinis, suaranya menggema pelan di tengah lembah yang sunyi.
"Masih saja bertanya soal ibumu? Kau benar-benar tidak tahu malu! Setelah semua yang terjadi, kau masih berani muncul di hadapan kami!"
Kirana menatapnya lurus.
"Aku datang karena ada hal penting yang ingin diketahui. Jika kalian hanya ingin memaki, aku tidak akan berdiri di sini lebih lama."
Serena melangkah maju selangkah, suaranya meninggi.
"Kau pikir kau siapa? Gadis tak berguna yang kami besarkan dengan susah payah! Kau pikir kau bisa mengambil semuanya begitu saja? Rumah, harta, nama baik... semuanya kau rampas dari kami!"
"Aku tidak merampas apa pun." jawab Kirana tenang. "Semua itu adalah hak yang seharusnya kembali kepada pemiliknya. Kalian yang telah mengambilnya selama bertahun-tahun."
"Berani kau bicara begitu!" teriak Larasati, wajahnya memerah padam. "Kau selalu saja tampak suci dan baik di depan semua orang! Padahal kau hanya seorang anak yang tidak tahu asal-usulnya! Kau pikir dengan kembali ke sana, kau bisa menggantikan posisiku? Kau pikir semua orang akan memujamu?"
"Aku tidak pernah menginginkan posisi siapapun." balas Kirana. "Aku hanya ingin tahu kebenaran tentang ibuku. Itu saja. Jika kalian tidak memiliki informasi apapun, katakan saja. Aku tidak akan membuang waktu di sini."
Dimas mengangkat tangan, memberi isyarat agar Larasati dan Serena diam. Ia menatap Kirana dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kau memang teguh pendirianmu." ucapnya pelan. "Namun sebelum aku memberitahumu apa yang kau ingin tahu, ada beberapa hal yang harus kau jawab dulu."
"Apa yang ingin kau tanyakan?"
"Bagaimana hubunganmu dengan Klan Pradana? Mengapa mereka begitu melindungimu? Dan apa sebenarnya yang kau miliki hingga semua orang berebut ingin memilikimu?" tanya Dimas berturut-turut.
Kirana terdiam sejenak. Pertanyaan itu tidak berkaitan dengan ibunya. Ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Hubungan dengan Klan Pradana adalah urusan pernikahan yang telah disepakati." jawabnya singkat. "Dan apa yang aku miliki... itu bukan hal yang harus kau ketahui."
Larasati kembali bersuara dengan nada penuh cemoohan.
"Lihat saja, dia tidak berani menjawab! Dia pasti hanya menipu mereka semua! Gadis rendahan yang tidak tahu diri!"
"Apakah kau memanggilku ke sini hanya untuk bertanya hal-hal yang tidak penting?" tanya Kirana, suaranya mulai meninggi sedikit. "Kau bilang kau tahu di mana Ibu. Jika kau tidak memberitahuku sekarang, aku akan pergi."
"Tunggu." Dimas melangkah maju selangkah. "Aku belum selesai. Sebelum aku memberitahumu, kau harus berjanji akan melakukan apa yang aku minta."
"Janji apa?"
"Datanglah bersamaku ke tempat yang akan kutunjukkan nanti. Di sana kau akan bertemu ibumu." ucap Dimas dengan nada yang berusaha terdengar meyakinkan.
Kirana mengerutkan kening. Sesuatu terasa sangat keliru. Mereka terus berbicara tentang hal lain, menunda-nunda untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya. Mereka saling memotong pembicaraan, melemparkan pertanyaan yang tidak berhubungan, seakan sengaja menghabiskan waktu.
Ia menatap sekeliling lembah yang semakin gelap. Matahari hampir sepenuhnya hilang di balik tebing batu. Kabut semakin tebal, menyelimuti tanah hingga menyulitkan pandangan.
"Mengapa kalian menunda terus?" tanya Kirana tajam. "Mengapa tidak langsung memberitahuku di mana Ibu berada? Apa sebenarnya yang kalian rencanakan?"
Serena tampak sedikit gugup, menatap ke arah belakang Kirana seakan mencari sesuatu. Larasati diam tiba-tiba, senyum sinis di wajahnya perlahan berubah menjadi senyum yang penuh makna.
"Kau memang pintar." ucap Larasati pelan. "Tapi sayangnya, kau sudah terlambat menyadarinya."
Kirana merasa jantungnya berdegup kencang. Rasa waspada yang sedari tadi ada kini berubah menjadi peringatan yang kuat. Mereka tidak ingin memberitahunya apa pun. Mereka hanya ingin menahannya di sini, menunggu sesuatu atau seseorang yang sedang dalam perjalanan.
Ia mundur selangkah perlahan, tangannya menyentuh pinggang tempat terselip senjata yang dibawanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang tegas dan penuh ancaman.
Dimas tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata.
"Kau akan segera mengetahuinya."

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience