Completed
202
Malam itu, udara di Pradana Mansion terasa sejuk dan tenang. Sariya berdiri di balkon lantai atas, memandang langit yang bertabur bintang dengan pandangan yang sering kali menerawang jauh, seakan menembus batas ruang dan waktu. Sejak merasakan ikatan yang terhubung kembali beberapa hari lalu, hatinya tak pernah benar-benar tenang. Setiap detik yang berlalu terasa seperti selamanya, diiringi doa dan harapan yang tak pernah putus.
Tiba-tiba, napasnya tertahan.
Di kejauhan, di atas cakrawala yang gelap, samar-samar terpancar cahaya keemasan yang lembut namun sangat murni. Cahaya itu tidak menyilaukan mata, justru terasa begitu hangat di dada, seakan pelukan yang telah dirindukan perlahan mendekat. Sariya melangkah mundur selangkah, tangannya menekan dadanya, matanya berkaca-kaca menatap cahaya itu yang semakin mendekat, semakin terang, hingga akhirnya perlahan turun ke halaman depan mansion.
Wajah Sariya memucat, namun matanya bersinar terang benderang. Tubuhnya gemetar hebat — bukan karena takut, melainkan karena rasa syukur dan rindu yang meluap-luap hingga tak tertahankan.
"Dia datang..." bisiknya parau, air mata jatuh membasahi pipinya seketika. "Wira... dia akhirnya datang."
Tanpa menoleh ke belakang, Sariya berlari. Langkah kakinya yang biasanya tenang dan anggun kini melesat penuh kegelisahan dan kerinduan. Ia menuruni tangga dengan langkah terburu-buru, melintasi lorong-lorong yang sepi, hingga akhirnya pintu utama terbuka lebar di hadapannya.
Di halaman depan, di bawah sinar rembulan dan cahaya bintang, berdiri sesosok pria yang tampak lelah namun tegap. Pakaiannya lusuh dan penuh debu perjalanan yang jauh, namun punggungnya tetap lurus, dan sepasang mata keemasan yang menatap ke arah pintu itu tetap bersinar gagah. Wajahnya terlihat tidak banyak berubah — hanya terukir garis-garis perjuangan dan kesepian yang mendalam. Senyum yang perlahan terukir di bibirnya tetaplah senyum yang sama — senyum yang selalu meneduhkan hati Sariya.
Di belakang Sariya, Kirana, Haris, Darma, Arga, Bima, Aran, dan Kesuma telah berkumpul, menyaksikan pemandangan itu dengan napas tertahan. Mereka semua menyadari siapa sosok yang berdiri di sana.
Sariya berdiri terpaku di ambang pintu, napasnya tersengal, air mata terus mengalir tanpa henti. Kakinya terasa berat seketika, seakan takut melangkah lebih jauh, takut bahwa semua ini hanyalah ilusi yang akan lenyap dalam sekejap mata.
Pria itu melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, namun tak tergoyahkan. Hingga akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Sariya, jarak di antara mereka hanya sehamparan napas. Ia menatap wajah wanita itu lekat-lekat, seakan ingin menghafal setiap garis wajahnya yang kini terukir sedikit lebih banyak tanda kesedihan dan penantian.
"Sariya..." suaranya terdengar berat, namun penuh kelembutan yang tak terlukiskan.
Satu panggilan itu cukup untuk meruntuhkan seluruh keteguhan hati Sariya. Ia tak lagi peduli siapa yang melihat. Ia melangkah maju dan jatuh ke dalam pelukan pria itu, memeluknya erat seakan takut jika dilepaskan sedetik pun, pria itu akan hilang kembali. Bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tak tertahankan.
"Wira... Wira..." ia terus memanggil namanya berulang kali, seakan memastikan bahwa ini nyata. "Kau hidup... kau benar-benar hidup... Sudah sembilan belas tahun... Sembilan belas tahun kau menghilang..."
Wira membalas pelukan itu dengan segenap hatinya, memeluk erat wanita yang menjadi alasan kekuatannya selama ini. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak Sariya, menarik napas panjang, menghirup aroma yang selalu ia rindukan bahkan di dalam mimpi sekalipun. Air mata yang tak pernah ia biarkan jatuh selama terjebak di tempat asing itu kini mengalir perlahan di pipinya.
"Aku di sini... Sariya, aku di sini." ucapnya bergetar, tangannya mengusap punggung wanita itu dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak pergi. Aku tidak pernah meninggalkanmu dengan sengaja. Maafkan aku... membuatmu menunggu begitu lama."
Wira perlahan melepaskan pelukannya sedikit, lalu menatap wajah Sariya sekali lagi dengan pandangan yang penuh kerinduan dan rasa heran.
"Sembilan belas tahun..." bisiknya pelan. "Di luar sana... sudah sembilan belas tahun berlalu?"
Sariya mengangguk di sela-sela tangisnya.
"Sejak hari kau jatuh dari tebing... sejak hari kau hilang tanpa jejak... putri kita lahir dan tumbuh tanpa ayah di sisinya. Dan sekarang... dia sudah berusia sembilan belas tahun."
Wira menelan ludah perlahan, matanya membelalak tak percaya. Ia menoleh perlahan ke arah Kirana yang berdiri tak jauh dari sana, menatapnya dengan mata yang melebar penuh keharuan.
"Bagaimana mungkin..." gumamnya pelan. "Di tempatku terjebak... aku hanya merasa berlalu beberapa tahun saja. Mungkin tiga... atau empat tahun. Tidak lebih dari itu."
Ia menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang perlahan tenang namun penuh emosi.
"Saat pertempuran terakhir itu... aku terpojok di tepi tebing yang tertinggi. Musuhku menyerang dengan sihir gelap yang begitu dahsyat. Saat aku terdorong jatuh ke bawah, aku menyangka kematianlah yang menantiku. Namun sihir yang menghantamku ternyata tidak menghancurkan tubuhku. Ia justru melesatkan aku melintasi ruang dan waktu."
Wira menatap ke arah kejauhan, seakan kembali melihat kegelapan dimensi itu.
"Aku terlempar masuk ke dalam sebuah dimensi kuno yang terpisah dari dunia ini. Di sana... waktu berjalan dengan cara yang sangat berbeda. Satu hari di dalam sana mungkin setara dengan hampir satu tahun di dunia ini. Itulah sebabnya bagi diriku... aku hanya merasa hilang sebentar. Namun bagi kalian... sembilan belas tahun telah berlalu."
Ia kembali menatap Sariya dengan pandangan penuh penyesalan yang mendalam.
"Aku berjuang mencari jalan keluar setiap hari. Namun pintu itu tak pernah terbuka... hingga belakangan ini. Saat aku merasakan gelombang kekuatan yang begitu besar dan murni — kekuatan Phoenix yang menyatu dengan cahaya Lembayung — pintu itu akhirnya terbuka. Itu kekuatan Kirana... kekuatan darah kita... yang akhirnya membawaku pulang."
Sariya mendengarkan sambil terus menangis, tangannya menggenggam erat tangan suaminya.
"Jadi... kau tidak pernah meninggalkan kami dengan sengaja. Kau hanya terjebak di sana... sementara waktu terus berjalan di sini."
"Benar." Wira mengangguk pelan, lalu menatap putrinya yang berdiri terpaku dengan mata berkaca-kaca. "Dan lihatlah... putri kita tumbuh begitu cantik, begitu kuat, begitu dewasa... sementara di mataku, aku seakan baru kemarin melihatnya terbaring sebagai bayi di pelukanmu."
Perlahan, Wira melangkah mendekat ke arah Kirana. Setiap langkahnya terasa berat dan penuh haru. Ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat — mata jernih itu, raut wajah yang menggabungkan kelembutan ibunya dan ketegasan dirinya sendiri. Dadanya terasa sesak.
"Kirana..." suaranya bergetar penuh kasih sayang yang tak terlukiskan.
Kirana menatap pria itu, napasnya tercekat. Selama sembilan belas tahun ia tumbuh tanpa ayah. Selama sembilan belas tahun ia mendengar cerita tentang pria ini — pahlawan yang gugur, atau pria yang pergi meninggalkannya. Dan kini... pria itu berdiri tepat di hadapannya, menatapnya dengan mata yang penuh rindu dan bangga.
"Ayah..." panggilnya pelan, suaranya pecah.
Satu panggilan itu membuat hati Wira seakan luruh seketika. Ia melangkah maju dan memeluk putrinya erat, memeluknya seakan ingin menebus sembilan belas tahun yang hilang dalam sekejap pelukan itu.
"Maafkan Ayah... maafkan Ayah terlambat pulang." bisiknya di telinga putrinya dengan suara penuh penyesalan. "Maaf karena membiarkanmu tumbuh tanpa perlindungan Ayah. Sembilan belas tahun... sembilan belas tahun yang seharusnya kuhabiskan melihatmu tumbuh... dan aku melewatkan semuanya. Maafkan Ayah..."
Kirana memeluk ayahnya erat, air matanya membasahi bahu pria itu.
"Ayah sudah pulang... itu yang terpenting. Sekarang kita bersama lagi..."
Wira mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu menatap kedua wanita yang dicintainya itu. Sembilan belas tahun perpisahan yang terasa seperti selamanya bagi mereka... namun hanya sekejap mata baginya. Namun kini, tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi waktu yang terpisah. Mereka berdiri bersama — ayah, ibu, dan anak — bersatu kembali setelah penantian yang begitu panjang.
Di kejauhan, di balik kegelapan, Wira seakan merasakan getaran kebencian yang belum hilang. Musuh yang mendorongnya jatuh dari tebing itu ternyata masih hidup. Namun kali ini... ia tidak kembali sendirian. Ia kembali dengan kekuatan yang utuh, dengan keluarganya yang dicintai, dan dengan putrinya yang kini telah bangkit menjadi kekuatan yang jauh lebih besar dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Share this novel