6. Amarah Dibalik Pintu

Romance Series 17

Pintu ruang tamu tertutup rapat di belakang Kirana. Langkah kakinya yang lembut perlahan menghilang di ujung lorong, menyisakan keheningan yang sesaat lalu pecah. Suara pintu kamarnya tertutup — dan seketika, topeng kesopanan di ruangan ini jatuh sehelai kain yang ditarik paksa ke bawah.
Mobil Tuan Haris dan Darma baru saja melaju keluar gerbang besi besar, namun di dalam ruangan yang megah itu, udara terasa lebih berat daripada sebelumnya. Serena sudah berbalik, wajahnya dingin membeku, matanya tajam menatap ke arah mana Kirana pergi.
Larasati mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. Napasnya memburu, dada naik turun. Ia menatap pintu, lalu membalikkan wajah ke arah pria yang berdiri di sisi lain ruangan — Dimas Ardika. Pria yang selama puluhan tahun memegang kendali bisnis keluarga Ardika, pria yang diam sepanjang pertemuan, kini melangkah maju, wajahnya kelam, rahangnya mengeras.
"Itu bukan yang aku inginkan," suara Dimas rendah, namun bergetar menahan amarah yang hampir meledak. Ia berhenti di tengah ruangan, tangan mengepal erat di belakang punggungnya. "Bukan sama sekali."
Serena membalasnya dengan suara yang setajam pisau, dingin dan mengiris. "Kau terlalu lembut padanya. Selalu. Dan hari ini kau lihat sendiri — dia tidak tahu diri."
"Lembut? Aku tidak pernah lembut padanya!" Dimas membalikkan badan, matanya menyala, napasnya memburu. "Aku mendidiknya patuh. Aku mendidiknya diam. Aku memastikan dia tahu tempatnya — di sudut, di bayang-bayang! Tapi hari ini — di hadapan Tuan Haris Pradana, di hadapan Darma — dia berbicara. Dia menatap mereka. Dia... dia berani berkata hal-hal yang membuat Tuan Haris berhenti, berpikir, dan menatapnya seakan baru melihatnya!"
Larasati melangkah maju, suaranya melengking, tidak lagi menyembunyikan kebencian. "Itu bukan kebijaksanaan! Itu kurang ajar! Siapa yang memberi haknya berbicara begitu? Dia hanya gadis yang tidak punya darah Ardika sejati — tidak punya akal, tidak punya keberanian, tidak punya apa-apa! Dan hari ini dia berani berdiri di sana, tersenyum manis, dan mengambil perhatian yang SEHARUSNYA MILIKKU!"
"Diam, Larasati!" Dimas membentak, suaranya menggelegar. Tapi amarahnya bukan pada putrinya — melainkan pada kenyataan yang menamparnya. "Kau pikir Tuan Haris tidak mendengar jika kau berteriak begitu? Lihat dirimu! Kau kehilangan kendali sebelum mereka melangkah keluar pintu! Kau terlihat... kecil. Dan cemburu. Dan pria seperti Darma — mereka tidak menginginkan wanita yang cemburu. Mereka menginginkan wanita yang membuat mereka takut kehilangan."
Larasati tertawa sinis, matanya berair karena marah dan sakit hati. "Aku terlihat kecil? Aku yang seharusnya berdiri di sana! Aku yang tumbuh di keluarga ini! Aku yang tahu cara berbicara, cara berdiri, cara memegang tangan pria seperti Darma! Kirana? Dia tidak lebih dari gadis yang kau angkat belas kasihan! Dan dia berani — dia berani mengambil tempatku!"
Serena melangkah di antara mereka, suaranya rendah namun memerintah, menegang setiap kata. "Cukup. Berteriak tidak akan mengubah apa pun. Tapi kau benar — Larasati, kau benar. Kirana melampaui batas hari ini. Terlalu tenang. Terlalu tepat. Seolah dia tahu persis apa yang harus dikatakan. Seolah dia tahu betapa menyakitkan kata-katanya bagi kita."
Dimas melangkah mendekat, langkahnya berat, wajahnya kelam, matanya menyala. "Siapa yang mengajarinya? Kau yang mengurusnya, Serena. Kau yang memastikan dia diam, patuh, tidak menonjolkan diri. Kau yang memastikan dia tidak pernah bertanya. Dan hari ini dia berdiri di hadapan Pradana dan berbicara seperti... seperti dia yang memegang kendali!"
"Aku tidak mengajarinya apa-apa!" Serena membalasnya tajam, menatap suaminya tanpa berkedip. "Aku membiarkannya hidup di sudut kamarnya. Aku membiarkannya belajar diam. Apa yang kau lihat hari ini — itu bukan didikan. Itu ada di dalam dirinya. Sejak hari pertama kau membawanya ke sini. Sejak hari pertama kau melihat matanya dan takut."
Dimas mundur selangkah, napasnya panjang dan berat. Ia memalingkan wajah, menatap jendela besar yang menampilkan halaman luas yang kini remang-remang. "Itulah yang aku takutkan. Sejak hari itu... aku tahu ada sesuatu di matanya yang tidak bisa aku hilangkan. Sesuatu yang tenang. Sesuatu yang tahu lebih banyak daripada yang ia katakan. Tapi aku pikir dia akan tetap diam. Aku pikir dia tahu siapa yang memberinya makan, siapa yang memberinya nama, siapa yang bisa menghancurkannya dalam sekejap mata."
"Dia tahu tempatnya — dan dia berani melangkah keluar dari sana hari ini," Serena dingin, tanpa belas kasihan. "Tuan Haris memperhatikannya. Darma memperhatikannya. Dan kau — kau diam saja sepanjang waktu, Dimas. Kau tidak membela Larasati. Kau tidak menyela. Kau membiarkan Kirana berbicara."
"Apa yang kau mau aku lakukan?!" Dimas membentak balik, suaranya bergema di ruangan luas itu. "Membentaknya di hadapan tamu? Menyeretnya keluar ruangan? Lalu apa yang Tuan Haris pikirkan tentang keluarga kita? Bahwa kita tidak bisa menjaga satu gadis saja? Bahwa kita tidak sopan? Bahwa aliansi ini dibangun di atas kekacauan?!" Ia mundur lagi, mengepal kedua tangannya. "Aku diam karena aku harus menjaga muka keluarga ini. Bukan karena aku bangga padanya. Bukan karena aku menginginkannya."
"Kita harus menjaga aliansi ini — tapi dengan putri kita yang sejati!" Larasati maju selangkah, matanya memohon namun penuh ambisi yang tak tersembunyikan. "Ayah, kau tahu aku lahir di sini! Aku tumbuh dengan nama Ardika! Aku tahu cara berbisnis, cara berbicara, cara berdiri di samping pria seperti Darma! Kirana tidak tahu apa-apa tentang dunia ini! Dia tidak punya darah kita! Dia tidak punya warisan kita! Dia hanya... dia hanya alat!"
"Dan itulah yang seharusnya dia tetap — alat!" Serena menegaskan, suaranya memotong udara. "Hari ini dia mendapat pujian. Sekali. Karena dia beruntung berkata hal yang Tuan Haris sukai. Itu bukan kepintaran. Itu kebetulan bodoh."
"Kebetulan?" Dimas menggeleng perlahan, wajahnya semakin kelam. "Kau tidak melihat matanya, Serena? Saat dia berkata tentang kepercayaan... dia tidak melihat ke arah Tuan Haris saja. Dia melihat ke arah kita. Satu per satu. Seolah dia tahu. Seolah dia tahu semuanya."
"Tidak mungkin," Serena menyangkal cepat, namun matanya berkedip ragu. "Dia tidak tahu. Dia tidak bisa tahu. Dia tidak pernah diberi tahu apa-apa. Dia tidak tahu siapa ibunya. Dia tidak tahu siapa ayahnya yang sebenarnya. Dia tidak tahu mengapa kau mengangkatnya."
"Lalu mengapa dia berkata begitu?" Dimas menatap istrinya tajam. "Mengapa hari ini, pertama kalinya dia berdiri di hadapan mereka, dia berkata hal yang paling menyakitkan bagi kita? Mengapa dia menyentuh titik paling lemah kita — penggantian, pengganti, kebohongan di dasar kesepakatan ini?"
Serena terdiam. Ia membalikkan badan, berjalan perlahan ke meja, jari-jemarinya menyentuh cangkir teh yang sudah dingin. "Tidak peduli apa yang dia tahu. Tidak peduli apa yang dia rasakan. Dia tetap tidak bisa menjadi istri Darma Pradana. Dia tidak memiliki darah yang benar. Dia tidak memiliki latar belakang yang benar. Dia tidak memiliki... posisi yang benar."
"Dia memiliki perhatian mereka hari ini," potong Dimas pelan, namun kalimatnya jatuh berat seperti batu. "Dan itu masalah. Masalah yang sangat besar."
Larasati meraih lengan ayahnya, matanya basah, suaranya mendesak. "Ayah... ubah kesepakatannya. Katakan pada Tuan Haris bahwa Kirana belum siap. Bahwa dia kurang pendidikan. Bahwa dia... dia tidak cocok. Katakan padanya — katakan padanya bahwa aku yang akan menggantikannya. Aku siap! Aku sudah siap sejak lama!"
Dimas menatap putrinya, matanya penuh keraguan dan ketidakpuasan yang dalam. "Kau pikir semudah itu mengubah kesepakatan dengan Pradana? Mereka tidak berbisik begitu saja. Mereka menilai. Mereka memutuskan. Mereka mempertimbangkan. Dan hari ini mereka melihat Kirana. Mereka mendengar Kirana. Dan mereka menyukai apa yang mereka lihat."
"Tapi mereka belum memutuskan!" Larasati menekan, suaranya pecah karena cemas. "Pertunangan belum diumumkan secara resmi! Masih ada waktu! Aku bisa — aku bisa belajar! Aku bisa bersikap lembut, sopan, apa pun yang mereka mau! Aku akan menjadi istri yang lebih baik, Ayah! Aku tidak akan mempermalukan keluarga kita! Aku tidak akan mempermalukanmu!"
"Dan kau tidak mempermalukan kami hari ini?" Dimas melepaskan pelan tangannya dari lengan putrinya. "Kau tertawa saat dia berbicara. Kau mengejeknya. Kau terlihat... terlihat kecil, Larasati. Di hadapan mereka. Dan pria seperti Darma — mereka mencari wanita yang berdiri tegak, bukan wanita yang menendang orang yang sudah jatuh."
Wajah Larasati memerah padam, lalu pucat. "Aku — aku hanya..."
"Itulah kelemahanmu," Serena menyela, berbalik menatap putrinya, matanya tajam namun dingin. "Kau terlalu cepat menunjukkan apa yang kau inginkan. Dan pria seperti Darma — mereka tidak suka hal yang mudah didapat. Mereka mengejar yang sulit dipahami. Yang penuh misteri. Yang tidak meminta." Ia berhenti, lalu menatap pintu di arah mana Kirana pergi. "Kirana hari ini... dia tidak meminta apa-apa. Dan itulah yang membuat mereka ingin memberinya segalanya."
Dimas menghela napas panjang, berjalan ke jendela, menatap ke luar tanpa melihat apa pun. "Ini salahku. Sejak awal aku seharusnya tidak melibatkannya. Tapi saat itu... tidak ada cara lain. Keadaan memaksa. Kirana adalah jalan termudah — gadis yang tidak akan menuntut, tidak akan bertanya, tidak akan menimbulkan masalah. Gadis yang bisa aku kendalikan." Ia memejamkan mata sejenak, rahangnya mengeras. "Dan sekarang justru dia yang menjadi masalah terbesar."
"Jangan biarkan dia menang, Ayah," suara Larasati rendah, penuh dendam yang tak tersembunyikan. "Dia tidak pantas. Dia tidak akan pernah pantas. Dia hanyalah bayangan — dan bayangan harus tetap di tempatnya."
"Dia tidak akan menang," Serena menjawab tegas. Ia berjalan berdiri di samping suaminya, menatap pantulan mereka berdua di kaca jendela. "Karena dia tidak tahu apa yang sedang ia hadapi. Dia tidak tahu dari mana dia berasal. Dia tidak tahu siapa yang memegang hidupnya di ujung jari. Dan dia tidak tahu — bahwa kita masih yang memegang kendali. Kita yang menulis ceritanya. Kita yang menentukan akhirnya."
"Tapi Tuan Haris mulai menyukainya," Dimas berkata pelan, dan kata-kata itu terasa pahit di lidahnya. "Itu yang membuatku takut. Jika Pradana memutuskan dia lebih cocok... apa yang bisa kita lakukan? Menentang mereka? Menghancurkan kesepakatan ini sendiri?"
"Kita pastikan dia tidak cocok," Serena menjawab tanpa ragu, tanpa belas kasihan. "Kita pastikan dia tetap gadis sederhana yang tidak mengerti dunia mereka. Kita pastikan Larasati berdiri cukup dekat sehingga mereka melihat siapa yang benar-benar milik dunia ini. Siapa yang benar-benar Ardika." Ia berbalik menghadap suaminya. "Kau harus berbicara dengan Tuan Haris. Besok. Sebelum dia terlalu yakin. Sebelum dia terlalu terkesan."
Dimas menatap istrinya lama, lalu ke putrinya yang menatapnya penuh harap dan ambisi yang membara. Ia mengangguk perlahan, namun matanya gelap, penuh ketidakpuasan yang tak terungkapkan sepenuhnya, dan sesuatu yang lain — ketakutan.
"Aku akan berbicara dengannya. Tapi jangan berharap terlalu cepat. Pradana bukan orang yang mudah diubah pikirannya. Mereka tidak terburu-buru. Mereka mengamati. Mereka menunggu." Ia berhenti, lalu menatap pintu di ujung lorong. "Dan Kirana... mulai hari ini, perhatikan dia. Setiap gerakannya. Setiap kata-katanya. Setiap tamu yang datang. Jangan biarkan dia mengejutkan kita lagi."
"Dia tidak akan mengejutkan siapa pun lagi," Larasati berjanji, namun senyumnya tidak menyentuh matanya. "Aku pastikan itu."
Serena melangkah mendekat ke putrinya, meletakkan kedua tangan di bahu Larasati, menatapnya dalam-dalam. "Ingat — kesabaran. Kau tidak bisa mengambilnya dengan paksa. Kau harus membiarkan Kirana jatuh sendiri. Kau harus membiarkan dia membuat kesalahan. Dan saat dia jatuh... kau akan berdiri tegak di tempatnya. Dan tidak ada yang akan menanyakan ke mana dia pergi."
Larasati mengangguk perlahan, giginya terkatup rapat, matanya membara. "Aku menunggu hari itu. Dan hari itu akan datang lebih cepat daripada yang dia kira."
Dimas menatap mereka berdua — istri dan putrinya. Ia melihat ambisi di mata mereka, ketegasan, keinginan untuk menang dengan cara apa pun. Dan di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang dingin merayap masuk. Kirana hari ini — dia tidak menang. Dia hanya berdiri. Tapi berdiri saja sudah cukup untuk membuat mereka gemetar. Dan itu... itu hanyalah permulaan.
"Mulai sekarang," Dimas berkata pelan namun berat, suaranya bergetar dengan tekad yang tak tergoyahkan, "jangan remehkan dia. Bahkan jika dia terlihat lembut. Bahkan jika dia terlihat patuh. Bahkan jika dia tidak bersuara. Dia punya sesuatu yang tidak kita ketahui. Sesuatu yang berbahaya. Dan sampai kita tahu apa itu — kita berhati-hati. Dan kita bertindak lebih cepat."
Ia berbalik berjalan pergi, langkahnya berat, meninggalkan Serena dan Larasati berdiri di ruangan yang masih berbau kemenyan dan teh dingin. Larasati menatap pintu di ujung lorong, matanya membara dengan dendam yang tak akan padam. Serena menatap suaminya pergi, lalu menatap ke arah pintu kamar Kirana, wajahnya tanpa ekspresi, namun di dalam matanya tersimpan keputusan yang tak akan diubah.
Di seberang lorong, di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Kirana duduk di tepi tempat tidur. Dia tidak mendengar percakapan mereka. Tapi dia tahu. Dia tahu mereka berteriak. Dia tahu mereka takut. Dan dia tahu — pertandingan baru saja dimulai. Dan mereka baru saja menyadari bahwa mereka tidak memegang semua kartu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience