36. Tanpa Ikatan Lagi

Romance Series 154

TAMU PULANG, EJEKAN TERAKHIR
Musik berhenti. Lampu-lampu mulai dipadamkan satu per satu. Tamu-tamu berjalan berkelompok menuju pintu keluar — tertawa, berbicara, membawa pulang kesan megah Pradana. Di antara mereka, keluarga Ardika masih duduk di meja paling belakang, seakan dilupakan oleh waktu.
Sebelum Bagas Surya melangkah keluar, ia berbelok arah menuju meja Ardika. Tangan di saku celana, senyum melebar di bibir — senyum yang paling tulus sepanjang malam.

"Selamat malam, Tuan Ardika. Sungguh... malam yang tak terlupakan. Terutama untukmu. Menghadiri pernikahan putrimu — dan duduk di kursi paling belakang. Sungguh posisi yang pantas."
Dimas berdiri, tangan mengepal erat hingga urat di lehernya menonjol. "Bagas... kau—!"
"Jangan marah. Aku hanya datang untuk mengucapkan terima kasih." Bagas mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah namun penuh tawa.

"Terima kasih telah menjual hal paling berharga yang kau miliki — dan bahkan tidak menyadari harganya. Selamat berjuang, Dimas. Aku akan menonton dengan senang hati."
Bagas tertawa — keras, jelas, tanpa malu — lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Dimas gemetar menahan amarah. Kakinya melangkah maju, siap menerkam — tapi pelayan Pradana berdiri di sampingnya, menunduk hormat.
"Tuan Ardika. Silakan ikut saya. Tuan Haris dan Tuan Muda Darma sudah menunggu."
Dimas menelan ludah. Tinjunya terbuka perlahan. Amarah tertahan di tenggorokan, berubah menjadi harapan yang kembali menyala. Mereka memanggilku. Mereka ingin berbicara. Mungkin mereka akan membantu. Mungkin ini awal kerja sama yang lebih baik.
Dimas memberi isyarat pada Serena dan Larasati. Mereka berdiri, mengikuti pelayan — berjalan melewati lorong yang sepi, menuju sayap dalam kediaman Pradana.
 **************
KAMAR PENGANTIN & RUANG KERJA
Sementara itu, Darma mengantar Kirana menuju sayap paling tenang di kediaman itu — kamar pengantin. Pintu terbuka, dan di dalamnya segalanya lembut, hangat, cahaya lampu tidak menyilaukan.
Darma berdiri di ambang pintu.
"Istirahatlah di sini. Aku masih ada urusan dengan Ayah dan keluargamu. Jangan tunggu aku. Tidurlah jika lelah."
Kirana berdiri di tengah ruangan, menatapnya. Matanya tenang. "Baik. Terima kasih."
Darma mengangguk, lalu berbalik — langkahnya tegas menuju ruang kerja ayahnya. Pintu kamar pengantin tertutup pelan di belakangnya. Kirana duduk di tepi tempat tidur, menatap pintu tertutup itu — dan di keheningan, satu hal ia tahu: malam ini, nasibnya akan ditentukan bukan oleh dirinya sendiri. Tapi ia tidak lagi takut.
 **************
DI RUANG KERJA HARIS
Pintu ruang kerja Haris terbuka. Dimas, Serena, dan Larasati melangkah masuk. Udara di dalam ruangan itu berat, dingin, berbau kayu tua dan wewangian halus. Di seberang meja besar — Haris Pradana duduk di kursi kulitnya, wajah datar, tanpa senyum. Di sebelahnya berdiri Darma, tangan di belakang punggung, tatapan lurus.
Di tengah meja — selembar dokumen tertutup sebagian oleh cahaya lampu. Diam. Sunyi. Tapi kertas itu seakan memancarkan tekanan yang membuat dada Dimas sesak.
Dimas menarik napas, berusaha tersenyum. "Haris... terima kasih telah menerima kami. Aku yakin kita bisa membicarakan kelanjutan kerja sama, investasi, dan—"
"Duduk."
Satu kata dari Haris. Dan Dimas terdiam. Mereka duduk di kursi di seberang meja — tiga orang berdesakan, seakan kursi itu sengaja dibuat terlalu kecil.
Serena tidak bisa diam. Ia meluruskan roknya, lalu berbicara cepat, tajam, penuh keluh kesah.
"Haris! Darma! Kami datang dengan hormat hari ini — tapi bagaimana kalian memperlakukan kami? Di pesta itu, semua orang menatap kami. Kami duduk di belakang! Dan Darma... dia tidak membela Kirana, tidak membela kami! Seharusnya kami dihormati sebagai keluarga!"
Larasati menyambar pembicaraan, matanya merah, suaranya bergetar.
"Benar! Kirana bahkan tidak layak! Dia tidak sopan, tidak pandai! Dan Darma... Darma seharusnya—"
"Cukup."
Suara Haris tidak meninggi — tapi cukup untuk mematikan suara mereka seketika. Ia menatap Dimas lurus ke mata.
"Aku memanggil kalian bukan untuk mendengar keluhan. Aku memanggil kalian untuk menyelesaikan sesuatu yang seharusnya selesai bertahun-tahun lalu."
Haris mengulurkan tangan, mendorong dokumen di tengah meja hingga tepat di depan Dimas.
"Baca. Dan tanda tangani."
Dimas menunduk. Matanya menyapu baris demi baris. Wajahnya perlahan berubah. Pucat. Kemudian merah. Kemudian kosong.
— Kirana Ardika tidak lagi memiliki ikatan hukum maupun keluarga dengan Klan Ardika.
— Klan Ardika dilarang menghubungi, mengunjungi, atau meminta apa pun dari Kirana selama ia berada di bawah perlindungan Pradana.
— Pelanggaran atas perjanjian ini berarti penghentian seluruh hubungan selamanya.
Dimas melepaskan kertas itu seakan terbakar. Ia berdiri, gemetar.
"Tidak! Tidak mungkin! Dia putriku! Darah dagingku! Bagaimana bisa kalian memintaku memutuskan hubungan dengan anak kandungku sendiri?!"
"Putri yang kau perlakukan seperti pembantu sejak kecil?"
Haris mencondongkan tubuh sedikit.
"Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir Pradana tidak pernah mendengar bagaimana gadis itu hidup di atapmu? Kau datang ke sini berharap investasi, berharap kami menopang Ardika — tapi kau lupa satu hal. Kirana sekarang milik kami. Dan dia tidak akan kembali ke tempat yang menyakitinya."
Dimas menelan ludah. Ia masih tidak percaya. Mereka tidak memutus kerja sama. Mereka memutus Kirana. Tapi harapan belum mati.
"Aku... aku tidak akan menandatanganinya! Dia bernilai! Dia adalah penghubung kita! Tanpa dia, apa alasan kita bekerja sama?!"
Haris memberi isyarat pada Darma. Darma meletakkan sebuah amplop tebal di meja.
"Di dalamnya — jumlah yang cukup untuk menutupi biaya hidup Kirana sejak lahir hingga hari ini. Sesuai standar tertinggi. Anggap sebagai pembayaran penuh. Setelah ditandatangani — tidak ada lagi klaim apa pun."
Mata Dimas membelalak. Angka di sana... jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Napasnya tercekat. Ia menatap angka itu, lalu ke wajah Haris, lalu kembali ke angka. Bibirnya bergerak pelan.
"Itu... itu belum cukup."
Haris diam. Matanya menyipit sedikit. Ini pertama kalinya ia benar-benar melihat Dimas Ardika — bukan mitra bisnis, tapi pria yang menjual anaknya.
"Tambah dua puluh persen. Dan itu yang terakhir."
Dimas ragu sejenak — lalu mengangguk cepat. "Baik. Setuju."
Darma berbicara untuk pertama kalinya, suaranya dingin, peringatan tajam.
"Satu hal lagi. Jika aku mendengar satu kata pun — satu pesan, satu kunjungan, satu permintaan — kalian menyesalinya seumur hidup. Dia bukan aset kalian. Dia bukan milik kalian. Dia sudah lepas. Selamanya."
Dimas tidak mendengar peringatannya. Ia sudah memegang pena, tangannya gemetar — bukan karena sedih, tapi karena gugup melihat uang. Tanda tangannya jatuh di bawah nama — goyah, terburu-buru.
 ****************
RAHASIA TERUNGKAP
Larasati meledak. Ia berdiri, air mata mengalir deras, menunjuk Darma.
"Kenapa?! Kenapa dia?! Aku yang pantas! Aku dari darah asli Ardika! Kenapa kau memilih gadis yang bahkan—"
Ia berhenti mendadak. Tapi mulutnya sudah terbuka. Serena menyambar pembicaraan, panik namun tajam.
"Benar! Perjanjian awal menyebutkan darah asli Ardika! Kirana bukan anak kandung Dimas! Dia diadopsi! Kenapa dia yang menikah, bukan putri asli kami?!"
Darma menatap mereka — tatapan yang melihat serendah mungkin.
"Itulah alasan aku memilihnya. Karena Kirana — meski bukan darah kalian — memiliki keberanian, kecerdasan, dan martabat yang tidak satu pun dari kalian miliki. Aku tidak membutuhkan istri yang hanya tahu memakai perhiasan dan menangis saat keinginannya tidak terpenuhi. Aku membutuhkan pendamping yang bisa berdiri di sampingku, memikul beban klan, dan membuat keputusan yang benar di saat sulit."
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya menembus hati mereka.
"Aku tidak mencari seseorang yang hanya tahu bagaimana menghabiskan kekayaan. Aku mencari seseorang yang tahu bagaimana membangunnya kembali. Dan itu... bukan kalian."
Keheningan menyelimuti ruangan. Larasati membuka mulutnya — tapi tidak ada kata yang keluar. Serena menunduk, wajahnya terbakar. Kebenaran itu kasar, dan tidak ada yang bisa dibantah.
 ******************
MEREKA TIDAK SENDIRI
Dimas melipat kertas berisi uang itu, memasukkannya ke dalam saku seolah takut Haris berubah pikiran. Ia berdiri, memberi isyarat pada Serena dan Larasati. Mereka berjalan menuju pintu — tertunduk, diam, tidak ada yang mengucapkan terima kasih. Pintu tertutup di belakang mereka.
Di dalam ruangan itu, Haris dan Darma berdiri dalam keheningan sejenak.
"Mereka tidak tahu," ujar Haris pelan.
"Tidak tahu apa?" tanya Darma.
"Bahwa mereka tidak sendirian di sini malam ini."
Di balkon yang tersembunyi di balik tirai berat — dua bayangan berdiri berdampingan. Mereka telah mendengar setiap kata. Setiap pengakuan. Setiap penipuan. Setiap penjualan.
Arga Bayu bersandar pada pilar, matanya gelap seperti malam.
"Dia diadopsi. Dia tidak tahu siapa orang tuanya. Dan mereka... menjualnya seakan barang bekas."
Bima Sena mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Mereka tidak pantas bernapas di udara yang sama dengannya."
"Jangan khawatir," bisik Arga, melangkah pergi. "Mereka sudah menandatangani akhir mereka sendiri. Kita tidak perlu melakukan apa-apa selain menonton."
Mereka melangkah pergi — diam, tanpa suara, seakan tidak pernah ada.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience