Series
154
DUA KLAN DAN DUA ANAK
Suara Wira bergema lembut di tempat itu, seakan terangkai menjadi bayangan masa lalu yang perlahan tampak di hadapan mata Kirana. Cahaya keemasan di sekelilingnya perlahan berubah menjadi gambaran masa lalu yang jernih.
"Dahulu kala... ada dua klan yang bersahabat dan bersumpah setia sejak ratusan tahun silam. Klan Ayahmu... bernama Klan Wirabuana. Klan yang menjaga api dan darah Phoenix sejak zaman kuno. Darah kami adalah api yang tak pernah padam. Darah kami adalah kekuatan yang diwarisi dari leluhur tertua."
Wira berhenti sejenak, menatap bayangan masa lalu yang berputar perlahan di udara.
"Dan klan Ibumu... bernama Klan Lembayung. Klan yang menjaga rahasia, kebijaksanaan, dan kekuatan jiwa yang tak terlihat. Cahaya mereka bukan cahaya yang menyilaukan mata... melainkan cahaya yang menyinari hati dan kebenaran."
Matanya tampak melembut seketika.
"Sejak ratusan tahun silam... kedua klan ini saling bersumpah — darah Wirabuana dan darah Lembayung akan bersatu selamanya. Tidak akan terpisah. Tidak akan dihancurkan. Itu janji nenek moyang kami. Itu takdir yang telah ditetapkan sebelum kami lahir ke dunia."
Gambaran di hadapan mata Kirana perlahan terbentuk. Di atas padang rumput yang luas dan hijau, di bawah langit senja yang berwarna merah lembayung... dua anak kecil berlari tertawa. Seorang anak laki-laki tegap dengan tatapan teguh dan mata yang menyala lembut — itu Wira. Dan seorang anak perempuan yang cantik dan lembut, rambutnya berkilau keemasan saat terkena cahaya matahari terbenam, matanya jernih dan penuh kebijaksanaan — itu Sariya.
"Sejak kami masih diayunkan di buaian... kami sudah ditakdirkan untuk bersatu. Sejak kami mulai melangkah... kami sudah saling mengenal wajah dan suara. Sejak kami mulai bicara... kami sudah tahu nama satu sama lain." Wira tersenyum tipis, senyum yang penuh kerinduan mendalam. "Kami tumbuh bersama. Bermain bersama. Belajar bersama. Tidak ada rahasia di antara kami. Tidak ada jarak."
"Kami tidak pernah mempertanyakannya. Karena sejak kecil... kami sudah saling menyayangi. Bukan karena perjodohan. Bukan karena janji klan. Tapi karena... hati kami sudah saling memilih sejak pertama kali bertatapan. Sariya... dia adalah senjaku. Dan aku... adalah perisainya."
Â
ORANG KETIGA YANG DATANG
Tahun-tahun berlalu. Anak-anak kecil itu tumbuh menjadi remaja. Wira tampak gagah dan berwibawa, tatapan matanya semakin teguh dan tenang. Sariya tumbuh menjadi wanita yang cantik lembut namun berwibawa, kecerdasannya dan kelembutan hatinya dikenal jauh melampaui batas wilayah klan mereka. Dan pada suatu hari... seseorang datang dari klan lain.
"Saat kami beranjak remaja... seorang anak laki-laki datang. Namanya Dimas Ardika. Dari Klan Ardika."
Kirana tersentak mendengar nama itu. Matanya membelalak tak percaya. Dimas?! Dimas yang selama ini ia kenal sebagai ayahnya... ternyata ada di sana, di masa lalu orang tuanya?!
Wira melanjutkan perlahan, suaranya berubah sedikit lebih berat.
"Awalnya... Dimas tampak takut. Ia pendiam. Sering berdiri di pinggir melihat kami. Seakan ia merasa bukan bagian dari dunia kami. Seakan bayangannya sendiri pun tak berani ia tatap. Namun Sariya... hatinya terlalu lembut untuk membiarkan siapa pun tersisih. Ia menyapanya. Mengajaknya ikut bersama kami. Perlahan... Dimas mulai berani mendekat. Mulai ikut tertawa. Mulai merasa diterima."
"Aku senang saat itu. Aku pikir... persahabatan kami bertambah satu. Kami bertiga berjalan bersama. Menjelajah hutan. Duduk di bawah langit senja. Berbagi cerita. Tidak ada yang merasa tersisih. Tidak ada yang merasa ditinggalkan." Wira menghela napas panjang. "Klan Wirabuana dan Klan Lembayung sudah bertunangan sejak sebelum kami lahir. Semua orang tahu itu. Dimas pun tahu itu. Jadi... kami tidak pernah ragu. Tidak pernah mencurigai apa pun."
"Namun..." Suara Wira merendah, penuh penyesalan yang mendalam. "Kami tidak pernah menyadari... apa yang tumbuh di hati Dimas. Karena bagi kami... Sariya adalah milikku. Dan aku adalah miliknya. Janji klan kami sudah terpatri sejak ratusan tahun silam. Tidak ada yang mengira... bahwa di hati Dimas... tumbuh benih perasaan yang kelak akan berubah menjadi api cemburu yang membakar segalanya."
Â
RACUN YANG DISEMBUNYIKAN
Gambaran masa lalu berubah perlahan. Langit senja yang indah perlahan tertutup awan kelabu. Tiga orang berjalan bersama seperti biasa. Namun kini... Kirana bisa melihatnya. Di mata Dimas yang menatap punggung Sariya... ada tatapan yang seharusnya tidak ada di mata seorang sahabat. Tatapan yang penuh keinginan yang tak terpenuhi. Tatapan yang perlahan berubah menjadi gelap dan dingin.
"Dimas selalu diam. Selalu tersenyum. Selalu menunduk patuh. Namun setiap kali Sariya menatapku dan tersenyum... aku melihatnya. Cahaya di mata Dimas perlahan padam. Dan digantikan oleh bayangan yang tak kusadari bahayanya." Wira menatap lurus ke mata Kirana. "Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak mengungkapkan perasaannya. Ia memilih menyimpannya sendiri... dan membiarkan perasaan itu membusuk di dalam hatinya, berubah menjadi racun yang perlahan merusak akal sehatnya."
"Cinta yang tidak terbalas... berubah menjadi kecemburuan. Kecemburuan berubah menjadi kebencian. Dan kebencian... perlahan menyusun rencana."
Wira melanjutkan dengan suara yang berat namun tegas.
"Kami terlalu tulus. Terlalu percaya. Kami pikir... persahabatan yang tulus akan selalu tetap suci. Kami tidak menyangka... bahwa orang yang kami terima dengan tangan terbuka... justru menyimpan pisau di balik punggungnya, menunggu waktu yang tepat untuk menghunusnya ke punggung kami berdua."
Kirana berdiri terpaku. Air mata perlahan mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Selama ini... ia mengira Dimas mengambil Sariya karena menginginkan kekuatan Phoenix. Namun ternyata... akar segala penderitaan keluarganya bermula dari perasaan yang Dimas sembunyikan sejak masa muda mereka. Cinta yang tak terbalas... berubah menjadi kebencian yang menghancurkan dua klan kuno.
"Itulah awal mula segalanya, Kirana. Persahabatan yang tulus... ternyata menyembunyikan luka yang tak terlihat. Dan kepercayaan yang kami berikan... ternyata menjadi jalan masuk bagi musuh yang tidak kami sadari."
Wira menatapnya lekat-lekat, matanya bersinar tegas.
"Dan kau... adalah buah dari cinta yang dijanjikan itu. Darah Wirabuana. Darah Lembayung. Darah Phoenix. Yang tak dapat dicuri. Yang tak dapat dipadamkan. Yang kelak... akan membakar semua kebohongan dan pengkhianatan itu menjadi abu."
Share this novel